Carline Darjanto Cotton Ink Bagaimana Go Internasional

Profil Pengusaha Carline Darjanto 


 
Konsep bisnis fashion masa kini yaitu nyaman dipakai, berkualitas, dan cocok buat semua. Artinya bahwa desainer harus membuat fashion lebih praktikal. Ria Sarwono dan sahabatnya, Carline Darjanto, memilih pakaian murah praktikal tetapi berkualitas. Secara teori berarti pakaian mereka akan nyaman dipakai.

Keduanya sudah mengenal sejak SMP. Dua sahabat ini memiliki pandangan sama tentang pilihan dress, accessorizes, pants, dll. Pandangan tersebut lantas tertuang dalam brand Cotton Ink. Itu loh salah satu brand yang masuk daftar pengusaha muda Forbes Indonesia.

Ria dan Carline sama- sama berkursus di London Collage of Fashion. Kursus singkat yang disusul dengan peluncuran Cotton Ink pada November 2008 akhir. Carline sendiri selepas SMP, masuk SMA, kemudian masuk jurusan desainer, Lasalle Collage of Fashion, Jakarta. Ketemu kembali dengan Ria, keduanya lalu berbisnis.

Momen bisnis mereka dimulai ketika mendapatkan satu kesempatan. Waktu itu keduanya mendapat satu kesempatan langka dengan Presiden Obama. Mereka membuat kaus sablon berwajah Obama tahun 2008. Dari sekedar kaus bersablon, lantas mereka merambah ready to wear, dari legging, shawl, serta aksesoris.

Produk shawl atau syal menjadi andalan. Ketika memulai produk mereka satu ini paling dicari. Untuk satu produk syal mereka menggunakan bahan langka. Bahan bernama tubular yang bahan kaus lingkaranya tanpa jahitan. Memang belum banyak penggunannya dan inilah momentum dibuka Cotton Ink.

Bisnis fasion


Produk bernama tabular shawl ini memang terkenal. Kreatifitas mereka menembus batasan. Alhasil dapat dipadu padankan dengan pakaian apapun. Desain multifungsi memang jadi andalan. Inilah yang penulis sebut sebagai pakaian praktikal. Cotton Ink sudah memiliki kelebihan dibanding produk fashion lain.

Carline menambahkan pelanggan mereka suka simple. Meskipun begitu harus memiliki detail di atas kain. Cotton Ink menggunakan katun dalam negeri. Harga jangkauan shawl produk mereka yakni Rp.69.000 dan Rp.349.000 buat jaket luaran dan outwear lainnya. Keuntungan sudah 80% dari omzet dicapai mereka loh.

Pemasaran fokus online dan offline. Cotton Ink sudah bekerja sama dengan The Good Dept, Pacific Place di Jakarta, ESTplus di Bandung, Widely Project, Happy-go-Lucky, dan di Surabaya ada butik ORE. Cotton Ink juga melayani pembeli asing seperti Singapura, Malaysia, Australia, dan Eropa.

Pemasaran memakai berbagai media, mulai di berbagai sosial media, Facebook, Twitter, Instagram, dan Pinterest. Kemudian juga melalui media blog Tumblr dan website toko cottonink-shop.com

Carline menyebut sukses mereka berkat ciri khas. Membedakan bisnis mereka dengan bisnis fashion asli Indonesia lain. Cotton Ink punya desain sendiri. Hal paling menantang menjadi pengusaha fasion: Bahwa orang selalu menuntut hal terbaru soal fasion. Mereka butuh terus mengembangkan bisnis mereka kelak.

"Kami dituntut selalu memiliki ide baru," jelasnya. Meski begitu produk karya lama mereka masih dapat diterima baik. Kekhawatiran mereka terbayar melalui kualitas bahan unggulan. Tidak ada desain baju baru setiap hari. Mereka cukup fokus memperluas pasar ke masyarakat lebih luas.

Diusia muda nama mereka memang menggema. Banyak sudah penghargaan diraih, mulai macam Most Favorite Brand di Brightshop Market, The Most Innovative Brand di Cleo Fashion Award (atau Jakarta Fashion Week), Best Brand Local oleh Free Magazine, serta merek loka terfavorit Style Magazine pada 2010.

"Industri fasion penuh tantangan. Kami harus bisa kreatif di segala hal," Carline menambahkan. Caranya sukses ya fokus solusi masalah bukan masalahnya.

Dinobatkan sebagai salah satu 30 Under 30 Asia oleh Forbes. CEO sekaligus Creative Director Cotton Ink ini mengaku tidak bereaksi berlebihan. Wanita 28 tahun ini memandang justru inilah tolak ukur bagi mereka masuk ke pasar global Asia.

Dia cuku kaget ketika mendapatkan email dari Forbes. Ternyata tidak mudah loh, dia harus ditanyai dahulu sebalum akhirnya mendapatkan jawaban masuk atau tidak. Cotton Ink membanggakan karena 100% hasil karya Indonesia. Dia berharap kawan- kawan pengusaha muda retail dan desain tetap semangat ya.

Orang Sukses Sukolilo Kaya Berkat Kaleng Bekas Rokok

Profil Pengusaha Himawan Suripto


 
Mantan pemilik counter hp ini tidak pernah menyangka. Pasalnya sesuatu terlihat sepele malah menjadi satu bisnis menguntungkan. Bayangkan Bapak Himawan Suripto kaya gara- gara kaleng bekas rokok. Pria asal Klampis Ngasem ini bahkan mampu mengantungi omzet puluhan juta.

Pengusaha asli Sukolilo menyulap kaleng bekas rokok menjadi moge. Alias motor gede, miniatur detail yang dia buat kemudian dipasarkan melalui sosial media.

Berawal dari rasa ingin menyenangkan cucu. Ia pengen membuatkan mainan buat cucunya. Namun cucunya kurang suka. Butuh waktu cukup lama buat dia mendapatkan bentuk sekarang. Butuh trial and error hingga Suripto mampu membuat moge. Beruntung "ejekan" tetangga Suripto dengarkan baik- baik dan diperbaiki.

Bisnis UKM


"Kritik tetangga, teman, dan orang sekitar, saya mulai mencontoh bentuk roda...," kenangnya. Yang awalnya Suripto tidak pernah tau bentuk moge sesungguhnya.

Dia meniru bentuk roda, tangkinya, dan stang persis. Suripto memanfaatkan kabel antena tv bekas menjadi rangka. Dibentuk, dililitkan, dirangkai pakai kaleng hingga mirip moge (motor gede). Pemasangan disusul guntingan tangki, stang, sedel, knalpot, dipasang menyusul.

Kesulitan terbesar ialah membentuk tangki. Karena bahan kaleng rokok susah ditekuk. Kadang- kadang ia malah bikin penyok. Untuk menyiasati dibikinlah agak lonjong dibanding aslinya. Kalau dicermati benar satu hal ini kurang menyerupai motor gede asli, namun tidak menghentikan minat konsumen kok.

Dalam sebulan dia mengaku mampu menjual 25 unit. Harga termurahnya dijual Rp.200 ribu karena sudah masuk barang seni. Tidak berhenti berjualan sendiri, dia diangkat menjadi suplier sebuah toko aksesoris lokal yang berkonsep franchise di Jalan Sulawesi, Surabaya.

Bayangkan menjadi suplier harga miniaturnya jadi Rp.475 ribu, bahkan Rp.550 ribu tanpa tawar. Maka ia sengatlah bersyukur atas usahanya sekarang. Walau tidak punya karyawan, Suripto selalu mampu selesai mengerjakan target produksi.

Ia membutuhkan 10 kaleng buat satu moge. Harga perkaleng Rp.200 diambil dari para pedagang kaki lima. Dalam dua hari jadilah satu moge. Paling malah adalah moge dengan tingkat kedetailan tinggi. Dia jual Rp.550 ribu atau setara satu gram emas.


Meski sudah sukses Suripto masih bertekat. Apalagi kalau bukan membesarkan usahanya. Disisi lain jadi pembuka lapangan pekerjaan baru di daerah. Bantuan pelatihan pemasaran oleh pemerintah daerah begitu dia syukuri. "Sejauh ini tidak ada kendala dalam pemasaran," paparnya.

Pemerintah Kota memberikak yang terbaik kepada UKM lokal. Berkat bantuan pemesanan meningkat. Akan tetapi kendala lain muncul soal sumber daya manusia. Suripto keteteran merekrut karyawan yang berkualitas. Ia menjelaskan banyak pekerja kapok ketika mencoba membuat kerajinan.

Terdengar lucu, tetapi betulan, menurut Suripto kebanyakan kapok karena jari terluka kena seng kaleng bekas. Dari itulah Suripto selalu turun tangan membantu karyawannya. Ia akan sangat senang jika ada orang mau belajar. "Akan saya ajari sampai mahir," sambutnya.

Padahal pesanan membludak bahkan dari asing. Pesanan terpaksa ditolak karena dia tidak sanggup. "Ya mau gimana lagi, orangnya terbatas," tutup Suripto.

Dihina Juri Pengusaha ini Malah Jadi Lebih Kaya

Profil Pengusaha Shaun Pulfrey 



Di tahun 2007, juri- juri acara reality show pengusaha, Dragon's Den menyebut produknya aneh. Tidak akan laku dijual. Peter Jones menyebutnya "otak rambut". James Caan menyebutnya membuang waktu. Duncan Bannantyne menyebut itu mau membuatnya melepas rambut. Dan lagi, Deborah Meaden menyebutnya "sisir kuda".

Sebuah produk bernama Tangle Teezer. Produk sisir rambut mutakhir untuk rambut kusut mu. Bagaimana sih kita bisa menata rambut kita cepat. Tanpa lagi takut membuat rasa sakit layaknya dijambak. Apalagi jika kita akan menyisir rambut anak kita, tentu tidak mau ada rambut yang rontok tertarik.

Diawal mempresentasikan produk sudah ditolak. Bahkan oleh Deborah Meaden, seorang wanita yang tentu membutuhkan produk kecantikan ini. Cuma menunjukan didepan juri langsung dikomentari buruk. Pria yang bernama Shaun Pulfrey ini dikatai bahwa produk kecantikannya tidak akan menjual.

Tidak mau menyerah oleh hinaan tersebut. Coba bayangkan diri kamu dihina di depan acara televisi live. Ia segera membenahi diri dan semakin ambisius. Dia memperbaiki produknya. Dan hasilnya, nilai produknya kini sudah bernilai 200 juta Pound, nilainya lebih tinggi dibanding kekayaan Deborah Meaden yang 40 juta.

Bisnis masa depan


Mungkin jika melihat produknya kasat mata. Di tahun 2007 maka pantas jika Shaun mendapatkan hinaan. Tapi ide dibalik produk Tangle Teezer bernilai masa depan. Orang yang dulu haruslah berhati- hati menyisir anak, agar tidak menjambak, membuat sakit, membuat rambut bercabang, dan sebagainya.

Kini, berkat Tangle Teezer semuanya akan aman terkendali. Meski memiliki nilai masa depan, tidak pernah terpikir oleh juri Dragon's Den. Karena sejujurnya apa dipikirkan Shaun bukanlah hal baru. Juga bukan salah juri karena ketika memprentasikan produknya, Shaun gagal membuat mereka tertarik.

Tetapi masa lalu tinggal lah masa lalu. Shaun telah meninggalkan presentasi kacaunnya. Bayangkan ketika juri bertanya dari 350 orang mencoba, Shaun mengaku 20 orang memberikan timbal balik jujur. Ditambah ketika memberikan demo -kepala patung terlihat rusak rambutnya lengket- ditambah produknya rusak ditengah jalan.

"Saya tidak kecewa tidak mendapatkan uang (modal). Karena saya bisa mendapatkannya dari bank," ia menjawab.

Bagi Shaun, dia hanya ingin mengatakan bahwa produknya benar, merupakan produk masa depan apapun bentuk prototipenya. Dan dia kecewa karena juri tidak melihat apa dibalik Tangle Teezer. Hingga sebuah perusahaan menjualkan produknya sampai beraset 200 juta Pound.

Bisnis dari hinaan


Mungkin karena Shaun mengomentari rambut Deborah. Kala itu, Shaun mengomentari rambutnya diwarnai -padahal itu tidak, tetapi natural. Alhasil dia mungkin kesal dan mengatakan produknya "sampah". Padahal mungkin saja wanita pengusaha satu ini tertarik berinvestasi ke bisnis Shaun.

Shaun awalnya adalah bekerja sebagai hair- stylist. Lebih tepatnya dia jago dalam hal mewarnai rambut pada 1978. Berjalanannya waktu dia bekerja untuk Pierre Alexandre,  Tony&Guy, Nicky Clarke, dan Richard Ward salons. Tahun 2002, dia meluncurkan buku, berjudul Saya Mau Menjadi Pirang.

Opsesinya tentang rambut dimulai sejak 2003. Dia melakukan serangkaian penelitian tentang sisir. Tujuannya adalah menciptakan alat penata rambut profesional. Bertahap dia membiyai untuk pengembangan produk sederhananya dulu.

Dia lalu masuk acara berani menjadi pengusaha Dragon's Den. Dia menawarkan saham 15% atau senilai uang 80.000 Pound. Ketika banyak juri menghina justru keajaiban terjadi. Banyak orang penasaran dan masuk ke website Tangle Teezer. Alhasil situs tersebut crash karena terlalu banyak pengunjung datang.

Sebuah viral tersendiri, pembelian naik jadi 1.500 buah seketika itu. Masuk tahun 2008, perusahaan yang bernama Boots, yang mulai menyetok produk tersebut. Tahun 2009 keuangan perusahaan kecilnya mulai menunjukan kemajuan. Brand Tangle Teezer mulai menghasilkan keuntungan dan memasuki pasar global.

Bisnis Tangle Teezer dalam setahun menghasilkan nilai balik 23,4 juta Pound. Banyak selebriti menjadi fans produknya mulai Victoria Beckham dan Cara Delevinge.

Sembilan tahun kemudian sejak acara Dragon's Den 2007. Dia telah mengekspor sampai 60 negara. Dibantu perusahaan retail Boots nama produknya naik pamor. Kemudian, nama perusahaan besar seperti Exponent, Inflexion, dan Bridgepoint membantu penjualan lebih banyak, dimana nilai asetnya jadi 200 juta Pound.

Uniknya dia merupakan pemegang saham tunggal, atau bisa dibilang, dia mendapatkan untung 100% dari kerja kerasnya.

Bermimpi Mewarisi Penginapan Kecil Eksotis

Profil Pengusaha Lei Andre


  
Bermimpi besar itulah Lei Andre Hofman. Tidak banyak diketahui dari sosok cantik belia ini. Hanya saja dia merupakan sosok pengusaha muda. Andre menurut entrepreneur.com.ph, berumur 19 tahun, mewarisi satu usaha penginapan kecil nan- elok di sebuah kota kecil.

Sebuah penginapan sekaligus butik, merupakan sebuah warisana usaha ditempat strategis, sebuah kota yang kecil terkenal akan pusat olah raga surving. Sekitar utara Kota Dingalan, Filipina, "Jika kamu naik kapal, itu akan membutuhkan beberapa jam untuk sampai di Baler (tempatnya)," singkat Andre.

Butuh waktu karena kota itu diputari gunung. Namanya Fil- Dane Inn terkenal bahkan ketika kamu mengetik namanya di Google. Merupakan warisan kedua orang tuanya didirikan sejak 1990-an. Merupakan tempat pemberhentian sehari. Merupakan tempat menginap semalam backpacker, atau bertraveling sekeluarga.

Untuk menjalankan bisnis, Andre bekerja sendiri bersama satu krew ketika hari biasanya. Kalau musimnya liburan maka dia akan sangat kerepotan, dan bahkan akan mengajak keluarganya bekerja.

Bisnis lokal


Andre tau bisnis tempat wisata butuh sentuhan lokal. Bayangkan mempekerjakan orang bukan orang asli di daerah. Apakah mereka mengetahui segala tentang keindahan tempat itu. Inilah kenapa dia selalu memilih untuk mengajak pekerja asli daerah. Semua hasilnya kan kembali ke kota itu sendiri sebuah kegiatan sosial.



Dia menjadikan modal nilai kearifan lokal. Semua didapatkan dari pelatihan internasional dan tinggal bersama di tempat multi- kulturan. Bagi anak muda 19 tahun merupakan pencapaian luar biasa. Cewek cantik yang berdarah campuran Filipinan- Denmark, ini adalah mahasiswa manajemen Enderun Collage.

Dia bekerja dulu menjadi internship di Kota Denmark. Tempat kelahirannya ini menjadi awal baginya sadar bahwa Filipina memiliki nilai. Dulu dia pernah tinggal di Iran, China, Spanyol, bahkan Saudi Arabia, lalu ia tinggal di Filipina menetap ketika umurnya 16 tahun.

Kembali ke Filipina, dia sudah mengantungi pelajaran informal, bagaimana menghadapai beragam etnis dan kulutran. Tetapi kalau berbicara tentang uang masalah lain.

Di Denmark persamaan kedudukan mencolok. "Itu hal tentang Danish. Kami menyebutnya Jante Law," ia menjelaskan. Di Filipina adanya hirarki kedudukan dalam berbisnis. Perusahaan pastilah tidak akan memberi kemudahan buat karyawan biasa ngopi sama General Manager.

"...dan hanya untuk makan malam dengan mereka, dan diduk disana, dan minum bersama?"

Mulailah dia memperlakukan pekerja sebagai keluarga. Dia bahkan menutup penginapan cuma buat makan bersama mereka.

Dia menyebutkan juga orang Filipina butuh batasan. Nilai profesionalisme butuh garis lurus antara berlaku sopan santun dengan terlalu nyaman bersama pendatang. Meski begitu dia tetap melakukan pendekatan sopan santun asli Filipina, dengan beberapa sentuhan.

Praktiknya daerah penginapan miliknya masih perawan. Jadi dia mengajak pengunjung berkeliling sendiri. Ia juga menciptakan perasaan seperti di rumah sendiri. Makanan dapat disiapkan sendiri di dapur. Kalau bicara koneksi Wi- Fi sudah sudah bagus, tetapi prasarana tempat gym baru akan disediakan mendatang.

Untuk aliran listrik berterima kasih dengan panel surya. Beruntung tempatnya benar- benar banyak sinar matahari panas.

Pengusaha muda


Mengambil alih bisnis keluarga tiga tahun lalu adalah sulit. Bagi pengusaha muda satu ini tidak ada kata jadi. Dia bahkan tidak tau marketing bisnisnya. Butuh waktu buat mendapatkan perhatian dunia. Yah sekarang dia waktu itu langsung menstabilkan pendapatan penginapan.

"Satu pengunjung dalam semalam bagus karena permulaan," ujarnya. Maka targetnya lima tahun kedepan adalah 70% sampai 80%.

Mimpi Andre mengubah kota kecilnya menjadi terbaca di peta. Merupakan tempat nyaman buat mereka yang mau melepaskan rutinitas di kota besar. "Tetapi aku tidak mau merubahnya menjadi tempat hiburan malam," tandasnya.

Jangkauan seorang Andre bahkan mencapai sepuluh tahun kedepan. Dia mengajak pengusaha mudah buat mengikuti petanya. Ia mengajak anak muda buat tetap belajar atau mengikuti karir. Berbisnis dibidang ini memang latar belakang keluarganya, dan dia sangat peduli akan hal tersebut.

Dia sejak dulu memang sudah berwirausaha. Dari usaha produk fasion ketika masa sekolah menengah, lalu dia berbisnis produk kecantikan pas kuliah. Tetapi dia kini mengerjakan bisnis keluarga. Yang dia lihat akan memiliki prospek panjang. Dia melihat bisnis tersebut dengan kecintaan akan tempat asalnya.

"Semua pengunjung adalah raja dan ratu... kamu mau melayani mereka untuk kepuasan sendiri dan kepuasan mereka," tutup Andre.

Jadi Penemu Kopi Biji Salak Resign Kerja di Bank

Profil Pengusaha Eko Yulianto 



Anak muda satu ini sudah kenal salak sejak dulu. Pasalnya salak merupakan hasil komditas wilayahnya. Dia akhirnya sukses tetapi bukan karena buah salak. Eko Yulianto sukses justru karena kopi biji salak. Pemuda 27 tahun ini bermula dari sering membaca literatur tentang biji kopi.

Sejak kuliah, Eko sudah gemar menjajakan salak asal daerahnya, yang mana jika dibeli buah saja cuma laku Rp.500 per- kilo. Dia mulai berpikir bagaimana merubah salak menjadi aneka olahan. Eko lantas mengajak empat orang teman, bernama kelompok Cah Bagus. Mulailah mengolah salak menjadi anaka produk kuliner andalan.

Namun seiring berjalan kelompok tersebut bubar. Seiring waktu hasrat Eko akan salak masih kuat. Juga didukung seperti penulis ceritakan diatas "keprihatinan". Prihatin karena petani salak menjual salaknya murah meriah. Butuh inovasi berbeda agar buah salak tidak cuma tergeletak di Wonosobo.

Pemuda kelahiran 15 Juli 1987 ini kemudian membuat kerupuk salak. Iseng sambil membuka- buka aneka literatur tentang kopi, lahirlah kopi biji salak. Ia ingat komoditi 80% desanya adalah salak. Sambil dijadikan kerupuk bijinya juga diolah kembali jadi kopi.

Inovasi unik


Diantara mencari olahan biji salak terbaik. Dia sibuk bekerja menjadi pegawai bank. Sementara teman yang lainnya ada yang jadi pegawai percetakan, berwirausaha sewa tenda, pegawai koperasi. "...ada juga yang masih kuliah," tutur dia.

Tidak mau berhenti ditengah jalan. Ia terus mengembangkan eksperimen berdasarkan pengalaman. Dari jadi kerupuk salak kemudian diolah menjadi biji kopi. "Hasil kreasi limbah biji salak jadi kopi, aneka kerajinan, bolu, stik, kerupuk, bahkan dodol," imbuhnya. Beruntung sejak kuliah Eko ini gemar membaca buku di perpustakaan.

Begitu usahanya terlihat berkembang: Eko memutuskan keluar dari pekerjaanya di Bank. Padahal pekerjaan tersebut sudah berjalan 3,5 tahun. Memang tidak mudah bagi Eko sampai bisa menemukan kopi biji salak. Dia begitu menemukan memilih kembali ke desanya.

Disanalah hasil eksperimennya dijalankan. Disana salak begitu banyak, dia mulai aktif mengajak masyarakat membantu usahanya. Tidak sia- sia masyarakat menyambut kesuksesan Eko. Jadilah Eko menaikan derajat desa melalui aneka olahan salak, termasuk kopi biji salak.

Dimulai di tahun 2012, kopi biji salak dibuat sedemikian rupa, hasilnya bubuk seperti kopi jika diseduh akan larut. Tekstur diolah sedemikian rupa seperti kopi. Bahkan nih baunya tercium aroma khas seolah kopi. Dia memang sudah bosan menjadi pegawai.

"...bosan cuma duduk- duduk doang," jelas Eko tentang menjadi pegawai.

Awal percobaan tentu gagal. Rasa kopi biji salak tidak enak. Namun berkat kesabaran serta percobaan tidak berhenti rasanya lain.

Sejak seruputan pertama kopi sudah kayak Arabika. Rasanya pahit tetapi bercampur asam. Inilah yang kita sebut kopi biji salak, Dibawah bendera bisnis Kie Bae mencoba merambah pasar Indonesia. Dari rasanya enggak mungkin ada yang mau minum, sekarang omzet bisnisnya mencapai Rp.5- 6 juta per- bulan.

Eko berbisnis dari daging sampai biji salak. Tahun pertama mampu meraup omzet Rp.47 juta per- tahun. Di tahun 2014 bersyukur mampu mencapai Rp.82 juta per- tahun. Berbekal jaringan ketika menjadi pegawai bank, ditambah pasar online yang menjanjikan. Eko pun giat memasarkan ke toko oleh- oleh Wonosobo.

Aneka percobaan dilakukan untuk memasak biji. Komentar taster pertama ya kurang sedap di lidah. Satu bulan penuh percobaan dilakukan. Semua diulang dari menjemur, menyangrai, dan menumbuk. Pengaturan waktu menjadi alasan perbedaan mencolok. Ini pula kunci sukses bisnis Eko sampai menjadi sekarang.

Akhirnya dia menemukan berapa jam lamanya dijemur. Berapa lama disangrai sampai akhirnya layak buat kita minum. Dia bahkan sudah memilik mesin giling sendiri, pengering sendiri, dan mesin sangrai sendiri. Total aset pabrik kecil- kecilannya sudah mencapai Rp.60 juta.

Dia memberdayakan 20 ibu- ibu kampungnya. Juga memberdayakan pemudanya lewat gerakan bernama Gardu Beriman. Tujuan dari gerakan tersebut buat memperindah kampung. Usaha dijalankan juga tidak monoton. Dia menemukan cara membuat bros kulit salak, permen salak, dan sudah masuk pasar Bali.

Sebagai pengusaha muda, Eko memberikan wejangan, "Jadi pengusaha itu yang penting yakin dan paling penting harus ada ridho dari orang tua, itu wajib."

Batok Kelapa Dirubah Menjadi Tas Berharga

Profil Pengusaha Emy Erawati



Tempurung kelapa memilik potensi tidak terbayangkan. Seperti kisah wanita asal Belitar berikut. Namanya adalah Emy Erawati. Dulunya hanya lah warga Dusun Seduri, Desa dan Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang kemudian dikenal sebagai pengusaha batok kelapa.

Tidak mudah karena butuh kreatifitas. Untung karena Emy dibantu suami mengembangkan. Usaha dijalankan sejak 1995 -an. Produk primadona ya tas batok kelapa, yang mana bahkan sudah sampai ke pasar ekspor. Dari cuma coba- coba bekerja bersama keduanya berusaha tampil beda.

Memang kerajinan tas lebih primadona dari sekedar pajangan. Emy melihat ini sebagai peluang tersendiri. Dan ia mulai mencari berbagai macam model tas kegemaran sekarang. Kemampuan melihat pasar kemudian didukung pasar memadai yakni Bali.

Bisnis spesifik


Berbisnis kerajinan memang gampang- gampang sukses. Pengalaman orang lain dijadikan Emy contoh. Ya seperti memasarkan ke pasar orang asing. Kecenderungan orang Indonesia yang lebih meminati merek asing. Tidak dipungkir sedikit banyak membuatnya berpikir berhati- hati.

Berawal dari melihat banyak batok kelapa bertumpuk. Ia membuka aneka kerajinan tidak cuma tas, seperti dompet, dan beragam aksesoris.

Banyaknya wisatawan asing di Bali membawa berkah. Hampir pasti wisatawan asing akan membawa oleh- oleh pulang. Dan produk alami seperti buatan Emy menjadi pilihan. Ditambah krisis ekonomi 1998, membawa dollar naik dan makin banyak permintaan ekspor menjadi baik.

Produksi Emy sampai 50% dijual di pasar Bali. Memasarkan sampai Eropa, nama produk Emy lebih lagi terdengar ke permukaan. Produk Emy terkenal unik dan berkualitas tinggi. Alhasil omzet sampai ratusan juta rupiah sudah ditangan, menjual dari Swiss sampai Belanda, juga beberapa negara tetangga kita.

Tingkat kesulitan tinggi dianggapnya nilai jual. Proses pembuatan memang sangat panjang. Oleh karena itu ia rela merogoh kocek untuk memodifikasi peralatan produksi. "Menurut saya masih sedikit yang melirik bisnis ini," imbuhnya. Sudah lagi proses pemasaran yang tidak bisa semalam- dua malam.

Berkat bisnisnya sudah mengangkat derajat banyak orang. Pegawai Emy sudah mencapai angka 200 orang. Proses pembuatan bisa dibawa pulang ke rumah. Harga kerajinan batoknya mulai dari Rp.10.000 sampai Rp.200.000.

Bisnis yang dirintis bermodal uang Rp.1 juta. Kemudian uang tersebut dibelikan dua mesin produksi. Dia terinspirasi ketika bekerja di Bali. Dan berkat usahanya, kembali ke daerah asalnya, Emy mengangkat para warga desanya bekerja bersama mengukir tempurung menjadi aneka produksi.

Nama Pengusaha Tas Berbahan Dasar Daun Pandan

Profil Pengusaha Ucok Adi Setiawan dan Natalia Indri


 
Pengusaha ini bernama Ucok Adi Setiawan. Pemuda ini memilih berbisnis tas berbahan daun pandan. Dia lalu bercerita bagaimana bahan pandan sangat banyak di Jawa Tengah. Kreatifitasnya tergelitik untuk menjadikan daun pandang yang sekedar bahan baku kue.

Dari mencoba membuat dompet, hingga membuat tas daun pandan. Kekreatifan ditambah rasa penasaran ternyata membuahkan hasil. "...nyoba- nyoba bikin tas dan dompet ternyata laku," unggahnya.

Pengalaman menggunakan pandan menghasilkan kesimpulan. Ada dua jenis daun pandan yakni pandan dari gunung dan pandan pantai. Soal bahan terbaik ya pandan gunung ceritanya. Memasuki tahun kedua semakin dia semakin bersemangat memasarkan produknya.

Harga dompet daun pandan dikisaran Rp.20 ribu. Kemudian tas wanita dijual sampai Rp.200 ribu. Memang mahal tetapi cita rasa pandang menggugah selera. Jangan tanyakan omzet, dia mengaku mampu mengantungi Rp.30 jutaan meski naik turun.

Dia sendiri masih kekurangan SDM. Tenaga ahli buat membesarkan bisnisnya kedepan. Dia cuma dibantu tiga orang setiap tempat. Tenaga pembuatan masih dilakukan swadaya saja.

Pengusaha lain


Lain ceritanya Natalia Indri yang juga berbisnis sama. Didukung statusnya sebagai wanita, membuatnya jadi lebih ekspresif berbisnis tas wanita dari anyaman pandan. Alhasil nama brand INSSOO -kepanjangan dari Indonesia Woven Craft- mampu melejit keras.

Pengusaha wanita asal Yogya berawal dari tahun 2010. Ia berawal memikirkan mau buka usaha menambah penghasilan. Berawal dari iseng kemudian mengkreasikan bahan alami ini. Nama tas clutch merupakan usaha anyaman modern berbahan tidak lagi cuma pandan, mulai daun agel, sampai eceng gondok.

Memang banyak tanaman belum dieksplorasi. Hobinya memang membuat kerajinan. Dan melalui hobi lah, dia membuka usaha pertamanya dan langsung melejit. Untung karena dia didukung kedua orang tuanya. Ia bahkan mendapatkan dukungan berupa materi dan tenaga.

Bisnis keluarga kecil tersebut terdiri lima orang. Dia, papa, mama, adik, suami dan Natalia sendiri. Semuanya membantu Natalia. Bisnis ini ternyata cuma bermodal Rp.500 ribuan loh. "Banyak kok yang tidak percaya modal (Rp.500 ribu) saya segitu," ceritanya kepada Money.id

Harga pandan kan Rp.6- 7 ribu perkilonya. Murah, jadi Natalia bisa dapat banyak bahan, dari bahan segitu menjadi 6- 7 buah tas. Hasil penjualan tersebut kemudian diputar kembali. Lambat laun usahanya semakin membesar sejalan modal digunakan. "Ya, sampai sekarang begini deh keterusan, haha," ucapnya senang.

Ia mengungkapkan omzetnya bisa mencapai Rp.100 juta. Bahkan nih sampai Rp.150 juta, tidak percaya memang bahkan dia sendiri masih tidak percaya. Dia sendiri tidak fokus uang. Bagianya keuntungan nomor sekian. Hal terpenting bagaimana kualitas bagus membuat pembeli tidak akan kecewa.

Ada kebanggan ketika orang mau membeli tas daun sampai Rp.150 ribu. Disana ada kebanggaan karena usahanya dihargai. "Intingnya harus gembira," semangatnya. Memang tampaknya seperti usaha anyaman lainnya. Namun kualitas bahan tidak bohong. Ditambah selera fasion pemiliknya sendiri menjadi andalan.

Dua tahun berjalan tetapi bisnisnya menghasilkan ratusan juta. Proses pembuatan juga dibukanya gamblang. Pertama dimulai pemilihan bahan terbaik. Kemudian diwarnai dengan dicelupkan ke warna dasar. Kemudian dia akan memastikan apakah warna merata atau tidak.

Barulah masuk ke tahap penganyaman dan pengeleman. Wanita berkacamata ini lalu melanjutkan prosenya ke desain. Biasanya tahap ini akan butuh banyak orang. Untuk pewarnaan dengan cat akrilik dikerjakan oleh ayah. Teknik decopage dan sulam dikerjakan dia dan ibunya. Ide desain datang begitu saja sesuai dengan mood -nya.

Tidak jarang dia membuat produk berlukis limited edition. Hanya dua tas yang memiliki desain sama. Ini juga tergantung mood -nya, terkadang mendadak. Penggunaan teknik decopage serta anyaman memberikan kreasi berbeda.

Warna menggunakan bahan alami bukan pewarna tekstil. Banyak sih meminta warna gold atau silver, maka dia harus mengecat dua kali nih. Dalam seminggu menghasilkan 300 buah dibantu 20 pengrajin sekarang. Ia menyebut masalah utamanya adalah soal cuaca.

Kalau datang musim hujan maka proses pengeringan lama. Proses produksi bisa diundur sampai dua minggu. Jika pengeringan tidak jadi maka diangin- anginkan. Alhasil produk tidak dipaksakan harus lah tersedia saat itu juga.