Carline Darjanto Cotton Ink Bagaimana Go Internasional

Profil Pengusaha Carline Darjanto 


 
Konsep bisnis fashion masa kini yaitu nyaman dipakai, berkualitas, dan cocok buat semua. Artinya bahwa desainer harus membuat fashion lebih praktikal. Ria Sarwono dan sahabatnya, Carline Darjanto, memilih pakaian murah praktikal tetapi berkualitas. Secara teori berarti pakaian mereka akan nyaman dipakai.

Keduanya sudah mengenal sejak SMP. Dua sahabat ini memiliki pandangan sama tentang pilihan dress, accessorizes, pants, dll. Pandangan tersebut lantas tertuang dalam brand Cotton Ink. Itu loh salah satu brand yang masuk daftar pengusaha muda Forbes Indonesia.

Ria dan Carline sama- sama berkursus di London Collage of Fashion. Kursus singkat yang disusul dengan peluncuran Cotton Ink pada November 2008 akhir. Carline sendiri selepas SMP, masuk SMA, kemudian masuk jurusan desainer, Lasalle Collage of Fashion, Jakarta. Ketemu kembali dengan Ria, keduanya lalu berbisnis.

Momen bisnis mereka dimulai ketika mendapatkan satu kesempatan. Waktu itu keduanya mendapat satu kesempatan langka dengan Presiden Obama. Mereka membuat kaus sablon berwajah Obama tahun 2008. Dari sekedar kaus bersablon, lantas mereka merambah ready to wear, dari legging, shawl, serta aksesoris.

Produk shawl atau syal menjadi andalan. Ketika memulai produk mereka satu ini paling dicari. Untuk satu produk syal mereka menggunakan bahan langka. Bahan bernama tubular yang bahan kaus lingkaranya tanpa jahitan. Memang belum banyak penggunannya dan inilah momentum dibuka Cotton Ink.

Bisnis fasion


Produk bernama tabular shawl ini memang terkenal. Kreatifitas mereka menembus batasan. Alhasil dapat dipadu padankan dengan pakaian apapun. Desain multifungsi memang jadi andalan. Inilah yang penulis sebut sebagai pakaian praktikal. Cotton Ink sudah memiliki kelebihan dibanding produk fashion lain.

Carline menambahkan pelanggan mereka suka simple. Meskipun begitu harus memiliki detail di atas kain. Cotton Ink menggunakan katun dalam negeri. Harga jangkauan shawl produk mereka yakni Rp.69.000 dan Rp.349.000 buat jaket luaran dan outwear lainnya. Keuntungan sudah 80% dari omzet dicapai mereka loh.

Pemasaran fokus online dan offline. Cotton Ink sudah bekerja sama dengan The Good Dept, Pacific Place di Jakarta, ESTplus di Bandung, Widely Project, Happy-go-Lucky, dan di Surabaya ada butik ORE. Cotton Ink juga melayani pembeli asing seperti Singapura, Malaysia, Australia, dan Eropa.

Pemasaran memakai berbagai media, mulai di berbagai sosial media, Facebook, Twitter, Instagram, dan Pinterest. Kemudian juga melalui media blog Tumblr dan website toko cottonink-shop.com

Carline menyebut sukses mereka berkat ciri khas. Membedakan bisnis mereka dengan bisnis fashion asli Indonesia lain. Cotton Ink punya desain sendiri. Hal paling menantang menjadi pengusaha fasion: Bahwa orang selalu menuntut hal terbaru soal fasion. Mereka butuh terus mengembangkan bisnis mereka kelak.

"Kami dituntut selalu memiliki ide baru," jelasnya. Meski begitu produk karya lama mereka masih dapat diterima baik. Kekhawatiran mereka terbayar melalui kualitas bahan unggulan. Tidak ada desain baju baru setiap hari. Mereka cukup fokus memperluas pasar ke masyarakat lebih luas.

Diusia muda nama mereka memang menggema. Banyak sudah penghargaan diraih, mulai macam Most Favorite Brand di Brightshop Market, The Most Innovative Brand di Cleo Fashion Award (atau Jakarta Fashion Week), Best Brand Local oleh Free Magazine, serta merek loka terfavorit Style Magazine pada 2010.

"Industri fasion penuh tantangan. Kami harus bisa kreatif di segala hal," Carline menambahkan. Caranya sukses ya fokus solusi masalah bukan masalahnya.

Dinobatkan sebagai salah satu 30 Under 30 Asia oleh Forbes. CEO sekaligus Creative Director Cotton Ink ini mengaku tidak bereaksi berlebihan. Wanita 28 tahun ini memandang justru inilah tolak ukur bagi mereka masuk ke pasar global Asia.

Dia cuku kaget ketika mendapatkan email dari Forbes. Ternyata tidak mudah loh, dia harus ditanyai dahulu sebalum akhirnya mendapatkan jawaban masuk atau tidak. Cotton Ink membanggakan karena 100% hasil karya Indonesia. Dia berharap kawan- kawan pengusaha muda retail dan desain tetap semangat ya.

Bermimpi Mewarisi Penginapan Kecil Eksotis

Profil Pengusaha Lei Andre


  
Bermimpi besar itulah Lei Andre Hofman. Tidak banyak diketahui dari sosok cantik belia ini. Hanya saja dia merupakan sosok pengusaha muda. Andre menurut entrepreneur.com.ph, berumur 19 tahun, mewarisi satu usaha penginapan kecil nan- elok di sebuah kota kecil.

Sebuah penginapan sekaligus butik, merupakan sebuah warisana usaha ditempat strategis, sebuah kota yang kecil terkenal akan pusat olah raga surving. Sekitar utara Kota Dingalan, Filipina, "Jika kamu naik kapal, itu akan membutuhkan beberapa jam untuk sampai di Baler (tempatnya)," singkat Andre.

Butuh waktu karena kota itu diputari gunung. Namanya Fil- Dane Inn terkenal bahkan ketika kamu mengetik namanya di Google. Merupakan warisan kedua orang tuanya didirikan sejak 1990-an. Merupakan tempat pemberhentian sehari. Merupakan tempat menginap semalam backpacker, atau bertraveling sekeluarga.

Untuk menjalankan bisnis, Andre bekerja sendiri bersama satu krew ketika hari biasanya. Kalau musimnya liburan maka dia akan sangat kerepotan, dan bahkan akan mengajak keluarganya bekerja.

Bisnis lokal


Andre tau bisnis tempat wisata butuh sentuhan lokal. Bayangkan mempekerjakan orang bukan orang asli di daerah. Apakah mereka mengetahui segala tentang keindahan tempat itu. Inilah kenapa dia selalu memilih untuk mengajak pekerja asli daerah. Semua hasilnya kan kembali ke kota itu sendiri sebuah kegiatan sosial.



Dia menjadikan modal nilai kearifan lokal. Semua didapatkan dari pelatihan internasional dan tinggal bersama di tempat multi- kulturan. Bagi anak muda 19 tahun merupakan pencapaian luar biasa. Cewek cantik yang berdarah campuran Filipinan- Denmark, ini adalah mahasiswa manajemen Enderun Collage.

Dia bekerja dulu menjadi internship di Kota Denmark. Tempat kelahirannya ini menjadi awal baginya sadar bahwa Filipina memiliki nilai. Dulu dia pernah tinggal di Iran, China, Spanyol, bahkan Saudi Arabia, lalu ia tinggal di Filipina menetap ketika umurnya 16 tahun.

Kembali ke Filipina, dia sudah mengantungi pelajaran informal, bagaimana menghadapai beragam etnis dan kulutran. Tetapi kalau berbicara tentang uang masalah lain.

Di Denmark persamaan kedudukan mencolok. "Itu hal tentang Danish. Kami menyebutnya Jante Law," ia menjelaskan. Di Filipina adanya hirarki kedudukan dalam berbisnis. Perusahaan pastilah tidak akan memberi kemudahan buat karyawan biasa ngopi sama General Manager.

"...dan hanya untuk makan malam dengan mereka, dan diduk disana, dan minum bersama?"

Mulailah dia memperlakukan pekerja sebagai keluarga. Dia bahkan menutup penginapan cuma buat makan bersama mereka.

Dia menyebutkan juga orang Filipina butuh batasan. Nilai profesionalisme butuh garis lurus antara berlaku sopan santun dengan terlalu nyaman bersama pendatang. Meski begitu dia tetap melakukan pendekatan sopan santun asli Filipina, dengan beberapa sentuhan.

Praktiknya daerah penginapan miliknya masih perawan. Jadi dia mengajak pengunjung berkeliling sendiri. Ia juga menciptakan perasaan seperti di rumah sendiri. Makanan dapat disiapkan sendiri di dapur. Kalau bicara koneksi Wi- Fi sudah sudah bagus, tetapi prasarana tempat gym baru akan disediakan mendatang.

Untuk aliran listrik berterima kasih dengan panel surya. Beruntung tempatnya benar- benar banyak sinar matahari panas.

Pengusaha muda


Mengambil alih bisnis keluarga tiga tahun lalu adalah sulit. Bagi pengusaha muda satu ini tidak ada kata jadi. Dia bahkan tidak tau marketing bisnisnya. Butuh waktu buat mendapatkan perhatian dunia. Yah sekarang dia waktu itu langsung menstabilkan pendapatan penginapan.

"Satu pengunjung dalam semalam bagus karena permulaan," ujarnya. Maka targetnya lima tahun kedepan adalah 70% sampai 80%.

Mimpi Andre mengubah kota kecilnya menjadi terbaca di peta. Merupakan tempat nyaman buat mereka yang mau melepaskan rutinitas di kota besar. "Tetapi aku tidak mau merubahnya menjadi tempat hiburan malam," tandasnya.

Jangkauan seorang Andre bahkan mencapai sepuluh tahun kedepan. Dia mengajak pengusaha mudah buat mengikuti petanya. Ia mengajak anak muda buat tetap belajar atau mengikuti karir. Berbisnis dibidang ini memang latar belakang keluarganya, dan dia sangat peduli akan hal tersebut.

Dia sejak dulu memang sudah berwirausaha. Dari usaha produk fasion ketika masa sekolah menengah, lalu dia berbisnis produk kecantikan pas kuliah. Tetapi dia kini mengerjakan bisnis keluarga. Yang dia lihat akan memiliki prospek panjang. Dia melihat bisnis tersebut dengan kecintaan akan tempat asalnya.

"Semua pengunjung adalah raja dan ratu... kamu mau melayani mereka untuk kepuasan sendiri dan kepuasan mereka," tutup Andre.

Jadi Penemu Kopi Biji Salak Resign Kerja di Bank

Profil Pengusaha Eko Yulianto 



Anak muda satu ini sudah kenal salak sejak dulu. Pasalnya salak merupakan hasil komditas wilayahnya. Dia akhirnya sukses tetapi bukan karena buah salak. Eko Yulianto sukses justru karena kopi biji salak. Pemuda 27 tahun ini bermula dari sering membaca literatur tentang biji kopi.

Sejak kuliah, Eko sudah gemar menjajakan salak asal daerahnya, yang mana jika dibeli buah saja cuma laku Rp.500 per- kilo. Dia mulai berpikir bagaimana merubah salak menjadi aneka olahan. Eko lantas mengajak empat orang teman, bernama kelompok Cah Bagus. Mulailah mengolah salak menjadi anaka produk kuliner andalan.

Namun seiring berjalan kelompok tersebut bubar. Seiring waktu hasrat Eko akan salak masih kuat. Juga didukung seperti penulis ceritakan diatas "keprihatinan". Prihatin karena petani salak menjual salaknya murah meriah. Butuh inovasi berbeda agar buah salak tidak cuma tergeletak di Wonosobo.

Pemuda kelahiran 15 Juli 1987 ini kemudian membuat kerupuk salak. Iseng sambil membuka- buka aneka literatur tentang kopi, lahirlah kopi biji salak. Ia ingat komoditi 80% desanya adalah salak. Sambil dijadikan kerupuk bijinya juga diolah kembali jadi kopi.

Inovasi unik


Diantara mencari olahan biji salak terbaik. Dia sibuk bekerja menjadi pegawai bank. Sementara teman yang lainnya ada yang jadi pegawai percetakan, berwirausaha sewa tenda, pegawai koperasi. "...ada juga yang masih kuliah," tutur dia.

Tidak mau berhenti ditengah jalan. Ia terus mengembangkan eksperimen berdasarkan pengalaman. Dari jadi kerupuk salak kemudian diolah menjadi biji kopi. "Hasil kreasi limbah biji salak jadi kopi, aneka kerajinan, bolu, stik, kerupuk, bahkan dodol," imbuhnya. Beruntung sejak kuliah Eko ini gemar membaca buku di perpustakaan.

Begitu usahanya terlihat berkembang: Eko memutuskan keluar dari pekerjaanya di Bank. Padahal pekerjaan tersebut sudah berjalan 3,5 tahun. Memang tidak mudah bagi Eko sampai bisa menemukan kopi biji salak. Dia begitu menemukan memilih kembali ke desanya.

Disanalah hasil eksperimennya dijalankan. Disana salak begitu banyak, dia mulai aktif mengajak masyarakat membantu usahanya. Tidak sia- sia masyarakat menyambut kesuksesan Eko. Jadilah Eko menaikan derajat desa melalui aneka olahan salak, termasuk kopi biji salak.

Dimulai di tahun 2012, kopi biji salak dibuat sedemikian rupa, hasilnya bubuk seperti kopi jika diseduh akan larut. Tekstur diolah sedemikian rupa seperti kopi. Bahkan nih baunya tercium aroma khas seolah kopi. Dia memang sudah bosan menjadi pegawai.

"...bosan cuma duduk- duduk doang," jelas Eko tentang menjadi pegawai.

Awal percobaan tentu gagal. Rasa kopi biji salak tidak enak. Namun berkat kesabaran serta percobaan tidak berhenti rasanya lain.

Sejak seruputan pertama kopi sudah kayak Arabika. Rasanya pahit tetapi bercampur asam. Inilah yang kita sebut kopi biji salak, Dibawah bendera bisnis Kie Bae mencoba merambah pasar Indonesia. Dari rasanya enggak mungkin ada yang mau minum, sekarang omzet bisnisnya mencapai Rp.5- 6 juta per- bulan.

Eko berbisnis dari daging sampai biji salak. Tahun pertama mampu meraup omzet Rp.47 juta per- tahun. Di tahun 2014 bersyukur mampu mencapai Rp.82 juta per- tahun. Berbekal jaringan ketika menjadi pegawai bank, ditambah pasar online yang menjanjikan. Eko pun giat memasarkan ke toko oleh- oleh Wonosobo.

Aneka percobaan dilakukan untuk memasak biji. Komentar taster pertama ya kurang sedap di lidah. Satu bulan penuh percobaan dilakukan. Semua diulang dari menjemur, menyangrai, dan menumbuk. Pengaturan waktu menjadi alasan perbedaan mencolok. Ini pula kunci sukses bisnis Eko sampai menjadi sekarang.

Akhirnya dia menemukan berapa jam lamanya dijemur. Berapa lama disangrai sampai akhirnya layak buat kita minum. Dia bahkan sudah memilik mesin giling sendiri, pengering sendiri, dan mesin sangrai sendiri. Total aset pabrik kecil- kecilannya sudah mencapai Rp.60 juta.

Dia memberdayakan 20 ibu- ibu kampungnya. Juga memberdayakan pemudanya lewat gerakan bernama Gardu Beriman. Tujuan dari gerakan tersebut buat memperindah kampung. Usaha dijalankan juga tidak monoton. Dia menemukan cara membuat bros kulit salak, permen salak, dan sudah masuk pasar Bali.

Sebagai pengusaha muda, Eko memberikan wejangan, "Jadi pengusaha itu yang penting yakin dan paling penting harus ada ridho dari orang tua, itu wajib."

Nama Pengusaha Tas Berbahan Dasar Daun Pandan

Profil Pengusaha Ucok Adi Setiawan dan Natalia Indri


 
Pengusaha ini bernama Ucok Adi Setiawan. Pemuda ini memilih berbisnis tas berbahan daun pandan. Dia lalu bercerita bagaimana bahan pandan sangat banyak di Jawa Tengah. Kreatifitasnya tergelitik untuk menjadikan daun pandang yang sekedar bahan baku kue.

Dari mencoba membuat dompet, hingga membuat tas daun pandan. Kekreatifan ditambah rasa penasaran ternyata membuahkan hasil. "...nyoba- nyoba bikin tas dan dompet ternyata laku," unggahnya.

Pengalaman menggunakan pandan menghasilkan kesimpulan. Ada dua jenis daun pandan yakni pandan dari gunung dan pandan pantai. Soal bahan terbaik ya pandan gunung ceritanya. Memasuki tahun kedua semakin dia semakin bersemangat memasarkan produknya.

Harga dompet daun pandan dikisaran Rp.20 ribu. Kemudian tas wanita dijual sampai Rp.200 ribu. Memang mahal tetapi cita rasa pandang menggugah selera. Jangan tanyakan omzet, dia mengaku mampu mengantungi Rp.30 jutaan meski naik turun.

Dia sendiri masih kekurangan SDM. Tenaga ahli buat membesarkan bisnisnya kedepan. Dia cuma dibantu tiga orang setiap tempat. Tenaga pembuatan masih dilakukan swadaya saja.

Pengusaha lain


Lain ceritanya Natalia Indri yang juga berbisnis sama. Didukung statusnya sebagai wanita, membuatnya jadi lebih ekspresif berbisnis tas wanita dari anyaman pandan. Alhasil nama brand INSSOO -kepanjangan dari Indonesia Woven Craft- mampu melejit keras.

Pengusaha wanita asal Yogya berawal dari tahun 2010. Ia berawal memikirkan mau buka usaha menambah penghasilan. Berawal dari iseng kemudian mengkreasikan bahan alami ini. Nama tas clutch merupakan usaha anyaman modern berbahan tidak lagi cuma pandan, mulai daun agel, sampai eceng gondok.

Memang banyak tanaman belum dieksplorasi. Hobinya memang membuat kerajinan. Dan melalui hobi lah, dia membuka usaha pertamanya dan langsung melejit. Untung karena dia didukung kedua orang tuanya. Ia bahkan mendapatkan dukungan berupa materi dan tenaga.

Bisnis keluarga kecil tersebut terdiri lima orang. Dia, papa, mama, adik, suami dan Natalia sendiri. Semuanya membantu Natalia. Bisnis ini ternyata cuma bermodal Rp.500 ribuan loh. "Banyak kok yang tidak percaya modal (Rp.500 ribu) saya segitu," ceritanya kepada Money.id

Harga pandan kan Rp.6- 7 ribu perkilonya. Murah, jadi Natalia bisa dapat banyak bahan, dari bahan segitu menjadi 6- 7 buah tas. Hasil penjualan tersebut kemudian diputar kembali. Lambat laun usahanya semakin membesar sejalan modal digunakan. "Ya, sampai sekarang begini deh keterusan, haha," ucapnya senang.

Ia mengungkapkan omzetnya bisa mencapai Rp.100 juta. Bahkan nih sampai Rp.150 juta, tidak percaya memang bahkan dia sendiri masih tidak percaya. Dia sendiri tidak fokus uang. Bagianya keuntungan nomor sekian. Hal terpenting bagaimana kualitas bagus membuat pembeli tidak akan kecewa.

Ada kebanggan ketika orang mau membeli tas daun sampai Rp.150 ribu. Disana ada kebanggaan karena usahanya dihargai. "Intingnya harus gembira," semangatnya. Memang tampaknya seperti usaha anyaman lainnya. Namun kualitas bahan tidak bohong. Ditambah selera fasion pemiliknya sendiri menjadi andalan.

Dua tahun berjalan tetapi bisnisnya menghasilkan ratusan juta. Proses pembuatan juga dibukanya gamblang. Pertama dimulai pemilihan bahan terbaik. Kemudian diwarnai dengan dicelupkan ke warna dasar. Kemudian dia akan memastikan apakah warna merata atau tidak.

Barulah masuk ke tahap penganyaman dan pengeleman. Wanita berkacamata ini lalu melanjutkan prosenya ke desain. Biasanya tahap ini akan butuh banyak orang. Untuk pewarnaan dengan cat akrilik dikerjakan oleh ayah. Teknik decopage dan sulam dikerjakan dia dan ibunya. Ide desain datang begitu saja sesuai dengan mood -nya.

Tidak jarang dia membuat produk berlukis limited edition. Hanya dua tas yang memiliki desain sama. Ini juga tergantung mood -nya, terkadang mendadak. Penggunaan teknik decopage serta anyaman memberikan kreasi berbeda.

Warna menggunakan bahan alami bukan pewarna tekstil. Banyak sih meminta warna gold atau silver, maka dia harus mengecat dua kali nih. Dalam seminggu menghasilkan 300 buah dibantu 20 pengrajin sekarang. Ia menyebut masalah utamanya adalah soal cuaca.

Kalau datang musim hujan maka proses pengeringan lama. Proses produksi bisa diundur sampai dua minggu. Jika pengeringan tidak jadi maka diangin- anginkan. Alhasil produk tidak dipaksakan harus lah tersedia saat itu juga.

Biografi Pemilik Gerobak Lumpia Mas Miun

Profil Pengusaha Rizki Ananda 



Namanya pengusaha memiliki jalannya sendiri. Tidak semua datang dari kesengajaan. Dimana kebanyakan nih datang karena "keterpaksaan". Ada istilah karena kepepet menjadi pengusaha sukses. Inilah kisah dari pemilik usaha lumpia Mas Miun. Alkisah dia kesulita biaya kuliah maka berusaha menjadi solusinya.

Dulu, waktu Ospek mahasiswa baru Universitas Padjajaran, entah kenapa pemuda bernama Rizki ini malah dipanggilnya Miun. Pembawa acara memanggil si miun naik ke panggung. Sejak saat itulah teman- teman kampus terbiasa memanggilnya begitu. Ia pun mengamini nama Mas Miun menjadi ikonik bagi dirinya.

Identitas tersebut lantas menjelma menjadi brand. Sebuah nama produk kuliner menjual lumpia basah. Dia masuk Unpad karena beasiswa mahasiswa kurang mampu, Bidikmisi. Maka kesimpulan orang pastilah dia bukan anak orang mampu. Menjadi sosok mandiri sudah biasa mengurangi beban orang tua adalah tujuan.

Dia langsung nyeplos agar orang tua tidak kirim uang lagi. Alasannya beasiswa sudah termasuk uang kos dan biaya kuliah. Sayangnya diluar prediksi bahkan sampai dia telat bayar kuliah. Tiga bulan uang dari beasiswa malah tidak cair. Pusing Rizki menghadapai masalah didepannya seketika.

Bisnis basah

Kepusingan tersebut membawa dilema besar. Apakah akan memberi tahu, atau tidak masalah yang dihadapi pemuda kelahiran 15 Oktober 1991 ini. Awalnya dia sangat senang karena dapat beasiswa. Tetapi kini, ia malah kepusingan karena tidak berjalan lancar.

Padahal setiap harinya ada saja pengeluaran sebagai mahasiswa. Disisi lain dia sadar bahwa ayahnya hanya seorang buruh dan ibunya cuma ibu rumah tangga biasa asal Sumedang. Ibunya terkadang ikutan kerja keras agar menambah biaya lagi.

Dia berpikir tidak mau membebani. Dia yang kalau di rumah akrab dipanggil Nanda, kemudian mendadak, nekat memilih membuka usaha sendiri. Dia iseng jualan gorengan ibu kos. Nanda menjajakan gorengan ke penjuru kampus. Lumayan lama dia jualan gorengan milik ibu kos.

Ketika jualan gorengan muncul ide tentang lumpia basah. Ide terbersit karena di Jatinangor makanan lumpia basah tengah digemari mahasiswa. Pangsa pasar dipikirnya masih belum sesak, terutama di daerah bernama Jatinangor. Seketika dia belajar bagaimana membuat lumpia basah lewat You Tube dan Google.

Agar beda dibanding lumpai lain: Nanda meracik lumpia basah aneka rasa. Dia membulatkan tekat menjadi pengusaha lumpia basah. Dana dibutuhkan kira- kira Rp.6 jutaan, digunakan guna membeli gerobak, bahan baku, aneka peralatan. Tetapi dia tidak memiliki dana cukup, yah jadinya memakai uang seadanya.

Dia memberanikan diri meminjam uang ke teman Rp.2 jutaan. Ditambah uang tabungan dari berjualan aneka gorengan Rp.2 juta. Kebutuhan kurang modalnya Rp.2 jutaan lagi. Ia nekat menego kepada pemilik gerobak agar dikurangi. Beruntung dia mendapatkan diskon dan mulai lah perjalanan seorang mahasiswa jualan.

Sialnya, ketika awal merintis usaha, eh... malahan dia bangkrut total! Hidup sebagai pengusaha sekaligus jadi mehasiswa susah ya. Telisik ternyata tidak cuma karena waktu luang. Rasa lumpia basah menurut pembeli tidak terlalu enak. Tekanan menghampirinya menguji mentalnya sebagai pengusaha agar sukses kelak.

Dia langsung banting stir menjadi pengusaha pakaian. Ia meminta waktu kepada temannya. Dari berjualan itu dia mendapatkan uang Rp.7 juta. Uang Rp.5 juta dijadikan modal kembali berbisnis. Sementara uang Rp2 juta dikembalikan ke temannya. Kemudian dia mulai mengevaluasi kesalahan dalam lumpia basah miliknya.

Bisnis pantang mundur

Dia mulai meracik bumbu yang cocok di lidah. Eksperimen kembali dilakukan dan akhirnya membuahkan hasil. Lumpia basah miliknya mulai mendapatkan pembeli. Lambat tetapi pasti, usahanya berkembang semua berkat lumpia basah seafood, sosis, spesial, baso,dsb.

Dari sebelumnya hanya memiliki satu gerobak. Dia memiliki 6 gerobak lain tersebar di Jatinangor. Promosi mulut ke mulut menjadi andalan Nanda. Tidak cukup, dia juga merambah dunia sosial media, melalu alat berupa aplikasi chatting merambah sampai ke Bandung. Dia pun mendapatkan tantangan dari lumpia lokal disana.

Namun rasanya berbeda memberikan varian. Justru menjadi kuliner favorit mahasiswa dan masyarakat. Ia membuat nama lumpia Mas Miun bergema di Bandung. Target memasuki kawasan pendidikan terbukti ampuh. Ia belajar dari pengalaman ketika berjualan di Jatinangor.

Salah satu gerobak miliknya terparkir di kawasan Fakultas Pertanian Unpad. Ia mengaku pendapatan dari usahanya per- 7 gerai pribadi mencapai Rp.40- 85 juta per- bulan. Kemudian ketika memutuskan membuka kemitraan, dari berjualan bumbu saja sudah untung Rp.20 jutaan.

"Saya buka pas libur panjang, jalan 3 bulan saya bangkrut karena modal banyak dibuat untuk membayar operator," jelasnya, meski sudah membuka cabang, tetap kegagalan tetap menghantui dan menguji mentalnya sebagai pengusaha.

Memiliki usaha berbasi waralaba bukan sembarangan. Dia terus belajar fokus mengembangkan manajemen sendiri. Yakni usaha berbasis kemitraan binaan. Dia juga bekerja sama dengan petani toge asal Cileles. Dia mendapatkan kiriman toge sampai 25kg setiap hari.

Selain sibuk menjadi pengusaha muda, mahasiswa Teknik dan Manajemen Industri Pertanian, Universitas Padjajaran ini juga sibuk menjadi pembicara, motivator, pelatih wirausaha. Ia juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa berbentuk modal usaha. Program Jika Aku Menjadi Mas Miun sudah memiliki 30 kemitraan usaha.

Dari mereka pengusaha keripik, fashion, atau bisnis online binaanya. Uang Rp.300 ribu sampai Rp.3 jutaan diberikan sebagai modal usaha. Total hingga Rp.20 juta digelontorkan membantu pengusaha lain. Dia juga tidak memberikan sebagai pinjaman. Tetapi modal berputar buat dijadikan kesempatan orang lain berusaha.

SMK Sukses Budidaya Pepaya Calisa Terpadu

Profil Pengusaha Muhammad Tono 



Menjadi pengusaha tidak berpatokan dengan latar pendidikan. Siapa saja, berlatar pendidikan setinggi mana saja, bisa menjadi pengusaha sukses kelak. Perlu dibutuhkan ialah fokus dengan tujuan. Bob Sadino telah membuktikan hal tersebut lewat dirinya.

Contoh lah Muhammad Tono seorang lulusan SMK. Jangan diliat latar pendidikannya, tetapi usaha pepaya miliki Tono maju. Pola pikir dikembangan bisnis Tono unik. Dia menganalisa bahwa Tuban kekurangan buah pepaya. Stoknya yang tipis sementara permintaan besar dari masyarakat.

Jadi tidak salah jika dia memilih pepaya Calina IPB-9. Ia mengembangkan bibit. Budidaya buah pepaya ini menghasikan buah pilihan. Untuk satu toko buah paling tidak dibutuhkan 20 buah pepaya. Di Tuban sendiri banyak sekali toko buah sampai puluhan.

"Saya berpikir untuk mengembangkan budidaya pepaya Calina," jelasnya. Dimana dikesempatan bersama Detik.com menyebutkan omzet sampai Rp.11 jutaan.

"...itu belum dikurangi gaji pegawai," celetuknya.

Pemuda kelahiran Julia 1991 ini memang tahan banting bertani. Tidak cuma jualan buah juga berjualan bibit pepaya. Ia setidaknya mampu meraih Rp.10 jutaan per- bulan. Usaha dibawah bendera CV. Negeri Hijau terus mengembangkan pepayanya.

Bisnis agrari


Belum genap setahun bisnisnya sudah lumayan. Ada dua tempat usaha dijalankan Tono. Pertama ada pusat pembibitan pepaya di Kelurahan Mondakan. Kemudian perkebunan pepaya ada di kawasan Desa Tuwiri. Ia mengatakan tempat pembibitan kecil tetapi menghasilkan empat ribu bibit.

Kebun pepaya Tono memiliki seratus pohon. Karena tempatnya kecil Tono tidak memaksa. Ia mengakali dengan memberikan konsep kerja sama. Yakni masyarakat mitra menjadi pemilik tanah, nanti bibitnya beli dari Tono, setelah berbuah maka akan dibeli Tono.

Ia sendiri tidak memaksa kok. Kalau sudah bisa memasarkan sendiri tidak masalah. Setiap dari mitra, Tono biasanya membeli dikisaran harga Rp.3.500 per- kg. Meski berbekal pendidikan SMK, Tono tidak mau kehilangan akal, langsung saja mencari reverensi dari mana saja cara membudidaya pepaya Calina.

Kelebihan pepaya Calina justru dari kecilnya. Karena buah pepaya cenderungnya tidak habis. Disisi lainnya buah Calina lebih manis. Soal produktifitasnya juga termasuk tinggi. Dalam enam bulan pertama sudah siap berbuah. Kalau sudah begitu buah dapat berbuah tiap 1 minggu. Seminggunya cuma boleh diambil sebuah saja ya.

Kenapa tidak memilih buah impor. Tono menjelaskan bermain buah lokal justru jarang pesaing. Yang kamu butuhkan hanyalah bagaimana membaca kebutuhan pasar. Tono menyebut Tuban merupakan daerah sejuk. Cocok buat menanam buah pepaya dan ternyata buah pepaya cukup digemari di masyarakat.

Mitra petani Tono mencapai 35 orang tersebar di wilayah Tuban. Total laha dikelola mitranya mencapai 13 hektar. Satu hektarnya dia menyebut ditanami 1.300 pohon. Jarak antar pohonnya 2 x 2,5 meter. Lalu ia mengingatkan pepaya tidak berkayu jadi jangan terendam air.

Meski tengah sukses Tono tidak berhenti. Jika dia mendapatkan kesempatan belajar. Maka Tono akan siap mengerjakan termasuk pelatihan wirausaha PT. Semen Gresik. Dapat pinjaman modal sampai 20 juta. Udah begitu Tono mendapatkan pelatihan kewirausahaan Wirausaha Muda Kokoh.

Sebagai pengusaha muda Tono siapkan ekspansi. Dia mengaku beternak kambing dan kotorannya. Kotoran dapat dijadikan pupuk buat pepaya Calina miliknya. Dalam sehari mengantungi 10 kantung kotoran. Ini jadi cara efekif mengurangi biaya budidaya pepaya Calina Tono.

Berawal dari prihatin dengan keadaan petani peternak Indonesia. Mereka punya ternak tetapi tanah mereka tidak terurus terawat. Padahal menurutnya peternakan dan pertanian dapat digabungkan. Tahun 2010, sejak lulus Wirausaha Muda Kokoh, uangnya digunakan juga buat membuka usaha ternak kambing.

Usaha dimulai dari 13 ekor kambing beranak pinak. Pola bagi hasil digunakan Tono kembali. Berbekal uang serta kepercayaan masyarakat sudah memiliki 400 ekor. Kambing titipan tersebut sudah termasuk 30 ekor sapi di kandang. Konsep pertanian terpadu menjadi andalan pengusaha muda 22 tahun tersebut.

Air kencing dan kotoran dijadikan pupuk. Ia kemudian menanam terong di lahan 1.000 meter. Sementara pepaya Calina mencapai luas tanah 1,5 hektar. Kambing akan dijual setelah gemuk setelah tiga bulan. Tono mengantungi Rp.150 ribu sampai Rp.200.000 per- ekor. Dia dibantu tujuh orang karyawan warga setempat.

Karyawan Tono mendapatkan Rp.35 ribu per- hari dibayar perbulan. Untuk petani yang lahannya digunakan juga sudah termasuk uang sewa lahan.

Pengusaha Produk Menyusui Bayi Urban Mom

Profil Pengusaha Edric Eng Cha dan Kristine Gonzales 



Apa dibayangkan kamu tentang ibu menyusui. Sebuah kerepotan tetapi sangat penting untuk dilakukan. Oleh karena itu bisnis dijalankan sepasang pengusaha ini berhasil. Mereka, Edric Eng Cha dan Kristine Gonzales, memulai usaha berkaitan dengan ibu menyusui.

Semua produk dijabarkan mereka sebagai jalan. Bagaimana seorang ibu menjaga tumbuh kembang bayi. Ini tidak cuma produk mempermudah menyusui. Tetapi juga produk makanan ramah bayi. Apakah kamu akan terkejut mendengar roti susu ibu ataupun selimut menyusui?

Roti susu ibu merupakan produk bebas susu buatan. Bukan susu sapi bukan pula susu bubuk kemasan. Keduanya memulai bermodal 100.000 peso. Menjual aneka produknya lewat toko online sendiri. Gonzales menyebutkan semua bermula dari inspirasi sepupu Edric. Dan kemudian berlanjut menjadi satu thesis kuliah mereka.

"Kami melihat bagaiman dia takutnya tentang anak terakhirnya," ujar Gonzales. Ini semua karena sepupunya mengalami kesulitan hamil -jadi hanya punya satu anak.

Bisnis serius


Ia melanjutkan mereka lantas membuat penelitian. Mereka bergabung dengan grup online. Tujuannya adalah mengobservasi dan meneliti ibu muda sekarang. Wanita sekarang, sebagai ibu, lebih memilih memegang anak mereka sendiri. Kalau dulu sih ibu memilih meninggalkan anak ke pengasuh.

Sebuah kesadaran mengenai ibu harus merawat anak sendiri. Oleh karena itulah, mereka menyiapkan cara mudah merawat putra- putri mereka sendiri. "Urban Mom fokus ke produk buatan lokal," imbuh Gonzales. Ia menyebutkan produk mereka mempermudah hidup ibu mudah dan gampang.

Mereka fokus ke produk ibu merawat bayi. Lebih fokusnya ke produk menyusui bayi. Produk andalan yang mereka suguhkan seperti Milking Treats: Produk jajan yang meningkatkan jumlah asi dikeluarkan ibu. Ini sangat populer bagi ibu yang keluar susunya sedikit.

Untuk penjualan Urban Mom menjual online. Mereka aktif mengikuti banyak bazar seperti Baby and Family Expo, Ustepreneur, dan Babypalooza. Kedepan produk Urban Baby masih memilik masa depan buat lebih tumbuh.

"Produknya masih terbatas terdistribusi, perusahaan menginginkan satu cara memperluas distribusi," tutur ia kembali.

Tidak ada agen penjualan lebih hebat dari ibu sendiri. Karena mereka tau tentang kehamilan mereka sendiri. Mereka tau tentang apa terbaik buat anak mereka. Meski mereka berdua belum menjadi pasangan ibu dan ayah. Bisnis mereka menjadi bisnis pertama layaknya anak butuh perhatian ekstra.

Mereka bahkan membolos kuliah buat mengikuti bazar. Justru kesulitan kuliah mereka menjadi cara unik melampaui batas mereka sendiri. Mereka mendapatkan tekanan nyata ketika berbisnis nyata. Namun masih dianggap pengalaman berharga bagi mereka dan bisnis mereka, Urban Mom.

Bisnis berlanjut mereka membuka toko khusus ibu. Ketika teman sekuliah bingung mengerjakan skripsi atau thesis. Maka keduanya sudah mengaplikasikan dan membuka usaha sendiri.

Bisnis Urban Mom lebih dari sekedar menjual kue. Hari ini, mereka menjual selimut menyusui, botol buat menyusui, dan lainnya membantu ibu merawat bayi. Inspirasi mereka adalah ibu sekarang yang mulai sadar merawat bayinya sendiri lebih utama.

Berawal dari sepupu Erick yang susah punya anak. Selepas delapan tahun akhirnya memiliki anak bayi. Lalu kita diamkan saja anak satu- satunya. Tentu tidak. Oleh karena itulah, Urban Mom melahirkan banyak hal buat membantu ibu muda, inilah kisah pengusaha produk ibu menyusui anak.

Profesional Muda Belia Venture Capitalist 19 Tahun

Profil Pengusaha Patrick Finnegan


 
Umurnya sih baru 19 tahun, tetapi Patrick Finnegan merupakan salah satu venture capitalist ternama. Nama pemuda kece ini menjadi buah bibir banyak media besar seperti CNBC dan CNN. Dia lah contoh wujud generasi Z, generasi termuda dari milenia.

Berawal dari keinginan mendirikan startup sendiri. Ia mulai fokus mengejar mimpinya menjadi pemodal. Dia pindah ke Manhattan dengan segala kesuksesan.

Drop out sekolah


Anak muda kelahiran Connecticut, dan tumbuh besar di kawasan Willaimstown, Mass -sebuah kota kecil di Berkshire. Dia bersekolah di sekolah asrama bernama Eaglebrook School. Itu merupakan sekolah khusus laki- laki sampai kelas enam. Sebuah pengalaman menyenangkan ujarnya. Selepas lulus hingga sampai kelas delapan dia berjalan dalam kebosanan perjalanan akademis.

Finnegan memiliki pandangan masa depan. Di umur 14 tahun, contohnya, bisnis pertama Finnegan dimulai dan ini tentang startup kupon. Itu loh, bisnis online yang menawarkan kupon aneka diskon baik makan atau traveling. Untuk mengakali umurnya dia terpaksa membuat identitas palsu.

Tidak buruk karena dia mengantungi untung $80.000, mengerjakan aneka proyek online. Dan banyak bisnis dijalankan tetapi tidak selalu berhasil. Ia tidak menjelaskan detailnya kenapa. Yang pasti membuat identitas palsu membuat Finnegan kecil khawatir.

Memang sampai lulus dia tidak pernah tertangkap guru. Tetapi ketika itu ibunya yang memergoki KTP palsu miliknya.

Semua bisnis dijalankan dari balik pintu kamar asrama. Selepas sekolah menengah pertama, Finnegan malah drop out ditengah jalan ketika menengah atas. Mungkin bagi orang tua atau orang tidak mengenalnya, ini menjadi keputusan paling menyedihkan, tetapi salah besar.

Beruntung dia diterima kerja di perusahaan periklanan, Wieden+Kennedy. Dimana merupakan perusahaan agensi yang menangani iklan terbaik Nike. Tidak cuma itu Finnegan juga mendirikan perusahaan sendiri yang bernama WorldState.

Perbedaan terbesar dari generasi milenia adalah brand. Dimana brand "kesusahan" mengenali demografi dari anak- anak jaman sekarang. Inilah kenapa bermunculan anak muda seperti Finnegan. Perjalanan karirnya kemudian melangkah dari satu firma, perusahaan marketing, dan pendanaan startup.

"Saya memiliki beberapa orang saya panggil, dan berkata, "bisakah kamu menaruh (investasi.red) $50 ribu?" atau beberapa $1 juta, sewaktu $2juta," ujar Finnegan bangga.

Meski membangun perusahaan kebanyakan berakhir gagal. Finnegan menemukan karirnya dibidang venture capital. Pengalaman bekerja dibidang periklanan dan diajari oleh para veteran. Nama Finnegan dipercaya oleh perusahaan bernama Studio.VC, untuk memahami bagaimana generasi baru kita dapat dipahami.

Alhasil dia menjadi yang termuda diantara VC di New York. "Patrick adalah networker yang menakjubkan, dan dia sangat cepata belajar mengenai apa orang akan sukai," puji Liam Lynch, pemilik Studio VC.

Pengusaha muda belia


Dia tidak menyebut berapa gajinya. Hanya Finnegan disebutkan mengerjakan proyek senilai $5 juta. Dia cuma menyebutkan pendapatan konsultasi antara $3.000 sampai $7.000. Totalnya dia mengaku sudah dapat mengantungi enam digit angka nol.

Kelebihan Finnegan adalah kegagalan terus menerus. Dari sinilah dia belajar bagaimana memahami tentang generasi kekinian.

"Saya sangat naif. Menjadi muda, kamu bisa memanfaatkan saya," ujarnya. Ia mencontohkan ketika umurnya 16 tahun dia pernah bekerja. Sebuah perusahaan bernama MetricsHub yang kemudian dibeli Microsoft. Dan sebagai pegawai pertama perusahaan, dia tidak dapat apa- apa.

Pelajaran terpenting dalam hidupnya. Kekurangan pendidikan formal bukanlah masalah. Ini terjadi delapan bulan lalu ketika dia bertemu dengan salah satu mentornya di New York. Kehidupan sosial kota besar dan bekerja di banyak perusahaan membawanya bertemu orang hebat.

Waktu itu sang mentor sangat mempercayainya. Sayangnya, dia gagal, mengecewakan mentor padahal dia dianggap lebih tau tentang generasi sekarang. Karena orang telah percaya dengan dia, maka tidak ada waktu berpesta sekarang.

"Saya harus memberikan 150% saya setiap saat," jelasnya.

Bagi anak muda seperti dirinya tentang bersenang- senang tidak lepas. Tetapi sekarang baginya menjadi lebih besar merupakan aset. Mimpinya menjadi pengusaha mogul, sukses dalam hal merombak tatanan pengusaha sekarang dan menstabilkan bisnisnya.

Dia bukanlah lulusan Harvard. Namun Finnegan mampu melihat pola pasarnya anak muda. Para milenia lebih melihat perusahaan berbeda. "Apakah itu trendy? Apakah tahan lama?" jelas Finnegan. Berbicara mengenai tip sukses ala pengusaha muda 19 tahun. Maka tiga hal penting dapat kamu pelajari sebagai berikut:

1. Kamu harusnya mengikuti arus

Dia pindah ke New York dan merasa dikalahkan. Orang berhasil mengejar pengalamannya dulu. Karena dia waktu disana cuma berbicara tidak melakukan. Dan Finnegan menyadari bahwa jika kamu mau menjadi pengusaha besar, kamu membutuhkan penyaluran.

"Saya mau mangatakan bahwa hal paling penting ialah menyalurkan," paparnya.

2. Bicara kurang, mendengar lebih banyak

Menjadi pengusaha berarti berbicara. Tetapi meski kamu butuh menyalurkan lebih banyak, akan ada waktu lebih banyak buat kamu berbicara kurang dan mendengar. Tidak membicarakan semua progres kamu di sosial media lebih penting. Karena itu semua ucapan kamu ke publik, maka kamu tidak akan jadi spesial.

3. Selalu bekerja keras

Kita memiliki akses keluar lebih banyak ketika kita tidak ada internet dulu. Sekarang keluar lah dan kejar mimpi kamu. Yang mana penulis isyaratkan bahwa terkadang internet berarti membuang waktu. Perhatikan apa yang kamu lakukan dan dunia nyata lebih baik.

Casing Handphone Batik Berbahan Bambu Omzet 100 Juta

Profil Pengusaha Nurlita Afrizal



Casing handphone asal China sudah marak. Nah, mengusung budaya kental, Nurlita menjajal masuk diantara ketatnya bisnis tersebut. Dia menciptakan kesempatan lewat batik. Nurlita menciptakan casing telephon yang bermotif batik dan wayang. Biar lebih unik, Nurlita menggunakan bahan bambu agar terkesan lebih budaya.

Kenapa dari bambu ternyata ada alasan. Nurlita mungkin pernah mempelajari jam tangan kayu. Lewat bahan bambu maka dia lebih mudah berproduksi. Lantaran bambu lebih cepat tumbuhnya. Kemudian satu fakta menarik adalah bambu lebih dingin jika dijadikan casing handphone.

Bayangkan dalam 1- 3 tahun sudah dapat ditebang. Usaha ini kemudian diberinya nama Batik Geek. Ia lalu menjelaskan kenapa bisnis casing handphone. Ternyata Nurlita pernah berjualan aneka aksesori handphone dulu. Kalah saing Nurlita justru membuat casing handphon buatan dirinya sendiri, unik.

Bisnis kreatif


Dia dibantu seorang teman dekat Afrizal. Usaha bermodal Rp.3 jutaan bermula di tahun 2012 silam. Uang tersebut merupakan hasil lomba perencanaan bisnis. Kalau dapat dibilang, Nurlita sama sekali tidak keluar uang hanya bermodal kertas proposal. Mereka langsung mencari bahan mengaplikasikan rencana mereka.

Tahun 2009 Nurlita pernah berjualan online. Salah satunya ya dia berjualan aksesoris handphone impor. Lalu tahun 2012 barulah dia berbisnis serius lewat brainstorming dan penelitian. Kebetulah saat kuliah ada tugas membuat business plan hingga akhirnya dilombakan.

Awalnya Nurlita menjual casing handphone garsing. Waktu itu saingannya banyak sekali. Dia menjual lebih mahal yakni Rp.80- 100 ribu, padahal di pasaran harganya antara Rp.10- 50 ribu. Yah kalau orang tau ini pastilah mereka akan memilih membeli ke tempat lain.

Disisi lain batik tengah booming layaknya casing garsing. Dia lantas berpikir kenapa tidak membuat serupa tapi tak sama. Ia kemudian membuat pola batik original lewat ukiran. Mahasiswa Universitas Telkom ini lantas menceritakan apa kesulitanya: Banyaknya model handphone menjadi masalahnya.

Permintaan banyak tetapi Batik Geek hanya memproduksi buat produk tertentu. Jadinya Nurlita harus siap mengecewakan antusias masyarakat Indonesia. Casing dijual kisaran Rp.300- 400 ribu. Per- harinya telah memproduksi 30 sampai 50 casing handphone. Omzetnya jangan kaget ya bisa sampai Rp.50- 100 jutaan.

Ia menyebut tidak cuma Indonesia. Berkat kekuatan internet, bisnisnya mampu merambah pasar Jerman, ia bahkan memiliki reseller sendiri. Untuk penghargaan mereka pernah diikutkan ke proyek Little Bandung ke Paris oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil.

Nama negara kawasan Eropa, terutama Jerman, Belanda dan bahkan sampai Korea, sudah menjadi peminat usaha casing batik ini.

Bisnis proposal


Banyak dilakukan agar business plan mereka sukses. Menyempurnakan bisnis diatas kertas bukanlah satu perkara mudah. Penilitan soal bahan sudah dilakukan Afrizal. Bagaimana dasar pembuatan, desain motifnya, serta ikon ponselnya. Afrizal lantas traveling ke beberapa daerah di Indonesia.

Ia menyebut motif tribal. Tahun 2011 sampai 2012 masih ramainya motif aztec dan tribal. Dan ketika tengah berpergian ke penjuru Indonesia, ia menyadari Indonesia memiliki potensi soal motif. Banyak desain dapat ia gunakan dari Sabang sampai Marauke. Sekalian mereka melestarikan budaya lokal milik Indonesia lah.

Proses pembuatan terbilang singkat awal- awal. Casing bambu Afrizal lantas memenangkan Entrepreneurstar 2012 oleh SBM ITB di Jakarta. Karena peringkat dua mereka mendapatkan uang Rp.3 juta. Memanfaatkan internet dia semakin agresif memasarkan produknya.

Di Juni 2012, mereka resmi melakukan test market, dan responnya diluar dugaan. Permintaan akan casing handphone mereka melonjak. Bahkan mampu masuk ke toko retail, yakni di toko- toko alun- alun Grand Indonesia, ada di People Project by Localfest di Kuningan City dan The Addict Menado dan di Surabaya.

Tips sukses seorang pengusaha muda. Inilah beberapa tips kamu dapatkan dari Afrizal. Jika kamu bingung akan ide bisnis, carilah sesuatu yang disukai. Apabila kamu sudah memiliki ide bisnis jangan ditunda. Mulai suatu bisnis secepat mungkin, jalankan satu ide dulu sampai maksimal, barulah mengembangkan unit lainnya.

Nulis Kata- Kata Menjadi Kaos Yajugaya Omzet 50 Juta

Profil Pengusaha Randhy Prasetya dan Teman 


 
Ini kisah seorang dosen yang menjadi pengusaha. Namanya Randhy Prasetya, adalah pengusaha muda yang sukses berkat kaos kata- kata. Usaha yang dijalankan sejak 2010 dan akhirnya mampu menghasilkan omzet sampai Rp.50 juta. Padahal menurutnya dia memulai cuma bermodalkan Rp.50 ribu.

Alkisah pria 31 tahun ini mulai iseng di Facebook. Mulai membuat kata- kata sastra elok di tahun 2010 -an. Nah, kemudian seorang teman nyeletuk, namanya Tiwi bilang ke Randhy kenapa tidak memanfaatkan kata- kata tersebut menjadi peluang bisnis.

Bisnis mepet


Prinsipnya, "karena kata- kata tidak bisa dipegang, maka kita kaoskan." Maka dimulailah perjalanan dia dan dua orang temannya berbinsnis kaos. Modalnya cuma Rp.50 ribu dibelikan bahan kaos sederhana. Cetak kata- katanya pakai peralatan sablon sederhana. Biaya murah tetapi tulisan dikaos benar- benar menyentil.

Kata- katanya cerdas kemudian dibungkus dalam Yajugaya. Kenapa sih tidak membuat tulisan bahasa asli kita menjadi sekeren bahasa Inggris. Walaupun sudah dijalankan sejak 2010 -an. Butuh waktu sampai tahun 2013- 2014 menjadi bisnis sebenarnya menghasilkan untung.

Tiwi menyebut semua orang mengekspresikan lewat kata. Yajugaya merupakan kalimat berbahasa Indonesia tetapi memiliki kebijakan seperti kata asing lainnya. Untuk menaikan pamor bahasa Indonesia ketiganya lalu membuat dari tulisan menyindir, tetapi berkelas, dan mahal kesannya.

Ketiganya tidak memiliki latar belakang fasion. Tetapi nekat membuka usaha fasion bermodal beberapa ribu. Kenekatan mereka didukung keseriusan buat belajar. Mereka mencari tau cara menyablon. Mereka aktif mencari tempat belajar menyablon yang berkualitas.

Tiwi, istri Aga, sahabat Randhy bukanlah sembarangan. Randhy adalah seorang produser. Sedangkan Tiwi sendiri adalah trader saham. Kemudian suaminya memiliki pekerjaan di agensi periklanan. Kalau soal kreatif dua orang lelaki ini memiliki jiwanya. Dibantu Tiwi sebagai manajar ketiganya mencoba peruntungan sendiri.

Bisnis 50 ribu


Randhy ingat betul cuma megang uang selember warna biru. Kaos pertama dari selember digunakan menjadi pancingan gratisan. Ketika orang pesan dua maka dapatlah kaos itu. Istilah dipakai Randhy yakni jualan ala per- satuan. Atau sistem lebih jelasnya jualan berdasarkan pesanan atau meet the order pembeli.

Mereka memesan bisa minta dibuatkan berdasarkan status Instagram @Yajugaya. Randhy sendiri sudah siap 500 kalimat tinggal orang pesan dulu dan dibuatkan. Hasil untungnya digunakan sebagai modal mengikuti aneka bazar atau pop- out market.

Uniknya mereka tidak ngoyo memproduksi kaos. Karena orang dibuatkan ketika memesan katanya dari Instagram mereka. Lain ceritanya jika mereka mengikuti bazar sudah disiapkan dulu. Ratusan potong bisa terjual habis lewat acara bazar produk. Kalau online cuma menjual 20- 30 bajuan per- minggunya.

Awal mereka memasarkan lewat Facebook berbentuk gambar. Karena responnya semakin baik Randhy makin bersemangat membuat aneka tulisan. Dia juga menuliskan kata- kata sastra indah. Ketika booming Instagram, maka ia memindah jualannya melalui Instagram tersebut.

Harga jualnya mungkin Rp.190 ribuan. Buat produk bantal seharga Rp.250 ribu dan frame kata seharga Rp.150- Rp.250 ribu, dan mereka mengantungi Rp.50 juta ketika mengikuti acara. Ketiganya tidak punya latar belakang bisnis jadi usahanya cuma untung- untungan.

Ide dibalik kenama kata diatas kaos. Randhy menyebut fenomena garuda di dadaku. Kalau gambar saja bisa dijadikan kaos dan memberika semangat. Maka Yajugaya juga dapat mempresentasikan motivasi bagi kita anak muda. Kaos Yajugaya uniknya lagi cuma memberikan dua warna baik tulisan atau kaosnya: hitam putih.

Total ada 200 kata selah satu contohnya Se(n)iman, Mampu(s) Tanpamu, dan lainnya. Penjualan kaos milik mereka penjualannya semakin baik. Usaha yang dirintis sejak enam tahun silam sudah memiliki pasar. Dia menyebut setiap hari sudah bisa 30 kaos dipesan. Tidak cuma lokal, dari Malaysia bahkan sampai Jerman.

Bagi kamu mau memesan atau mau menjadi agen langsung kunjungi Instagram mereka.

Biografi Pengusaha Distro Cosmic Bandung

Profil Pengusaha Yudhi Febriantono 



Pengusaha asli Bandung ini menceritakan sedikit kisahnya. Kalau sudah bicara passion maka tidak akan ada matinya. Yudhi Febriantono bekerja karena suka senang akan fasion. Tetapi bukan sembarangan fasion dia tengah geluti sekarang. Dia adalah pengusaha muda memulai usaha sejak bangku kuliah

Mulai merintis usaha sejak kuliah. Apa saja dilakoni Yudhi, seperti membuka rental VCD, jualan kembang, bahkan jualan kambing pernah. Sarjana ekonomi Universitas Widyatama ini lantas menemuka passion pada bisnis distro.

Brand Cosmic dirintis sejak 2011 silam dan sudah dapat dibanggakan. Bisnis Cosmic mulai dari membuat kaus, topi, juga termasuk kemeja, sweater, ikat pinggang, sendal, dan jean. Untuk usahanya dia sudah punya 300- 400 agen penjualan tersebar di Jawa, Sumatra, Brunei, Australia, Malaysia, dan Jerman.

Selain itu, Yudhi, juga membuka usaha berbasis konyasi mulai di Surabaya, Cilegon, Serang, Yogyakarta, dan Bandung sendiri. Para agen memperluas pasarnya ke aneka distro lain, yang besar seperti Globe Jakarta dan Chamber Makassar.

Usaha modal dengkul


Sebelum sukses seperti sekarang dibawah bendera PT. Injoynesia. Yudhi berbisnis modal dengkul. Pertama kali membuka usaha, dia nekat membeli kaus golf senilai Rp.3 juta. Memang pria kelahiran Bandung, 2 Februari 1978, nekat tetapi memiliki keahlian dibidang desain. Dia memang dulunya hobi menggambar.

Kalau soal produksi kausnya, dia memberikan tugas kepada pihak lain, dimana ia mendapatkan untungnya Rp.600 ribu. Uang tersebut dijadikan modal awal kembali. Dia menggunakan bahan, mencetak desain, dan selanjutnya dititipkan ke distro- distro lain, contohnya Anonim Bandung, dan berbagai distro di Jakarta.

Keterbatasan dana tidak membuatnya putus asa. Yudhi harus berpikir ekstra kreatif. Ia menambahkan salah satunya mengajak anak SMA magang. Pada saat liburan membuka kesempatan anak muda berkreasi di bidang distro. Selain itu memberikan aneka acara downhill, seperti tur ke Bromo, Bali, dll, juga vespa riding Bandung.

"Kami melakukan semuanya berdasarkan kesenangan (joy). Definisi joy inilah yang diterapkan ke proses berbisnis," papar Yudhi.

Kenapa berbisnis di Bandung, ya karena dia terlahir dan besar dilingkungan Bandung. Banyaknya factory outlet sedikit memberikan dorongan bagi pria ini. Ada dua hal kenapa dia memilih berbisnis pakaian: Karena Bandung merupakan pusat wisata dan kreatifitas orang Bandung tinggi.

Sebuah gabungan antara kebutuhan besar wisatawan. Dan dengan mudah Yudhi menciptakan aneka produk berkualitas dari sumber daya manusia berkualitas. Harganya Rp.120 ribu sampai Rp.400 ribu, dimana ia mengakui usaha menyasar pasar kelas menengah atas.

"Bandung cepat tumbuh menjadi lahan bisnis yang baik," jelasnya. Menciptakan komunitas juga menjadi cara jitu Yudhi mengembangkan brand.

Fasion baginya sudah menjadi passion. Besarnya suatu negara terlihat dari perkembangan fasion. Memiliki identitas merupakan cerminan negara kuat. Perubahan fasion mengikuti perkembangan suatu negara. 

Sekarang Yudhi telah memproduksi kaus sendiri di Jl. Aceh, Bandung, yang mana menghasilkan 10 ribu potong per- bulan. Tahun 2002, dia meluncurkan brand terbaru yakni Cosmic Girl, yang mana disusul nama Infamous (2004) dan Mighty (2006). Tidak lekas puas tahun 2010 diluncurkan She' Infamous dan GDB Infamous.

Kalau Cosmic lebih menengah maka Infamous khusus kelas atas. Sementara Mighty digadang buat pasaran kelas bawah. Untuk memperkuat brand dia banyak mengendors tokoh seperti David Naif, Kaka Slank, dan Heru Shagy Dog. Tidak cuma kontrak bisnis Yudhi mengaku memiliki kontak batin ke tokoh endorsnya.

Bagi bapak dua anak ini nama Cosmic harus makin berkibar. Maka pernah ia membuka outlet di Singapura. Sayangnya, outlet disana itu sudah tutup, katanya sih patner bisnisnya kurang bagus. Meski begitu dia sama sekali tidak terpikir akan masuk ke Singapura sebagai brand clothing sendiri.

Membuat Gaudi Menjadi Fasion Ikon Dunia

Profil Pengusaha Nathalia Napitupulu dan Janet Dana



Berbisnis bareng sahabat emang asik. Inilah kisah Nathalia Napitupulu dan Janet Dana. Keduanya sepakat buat berbisnis bersama membangun brand fashion. Mereka adalah pemilik brand butik Gaudi sejak 2004. Mulai perencanaan desain, pemilihan bahan, serta melayani pelanggan dimulai dari keduanya sendiri.

Hingga sekarang nama Gaudi sudah terkenal. Bagi penikmat fasion, terutama wanita aktif di Jakarta sudah tidak asing buat nama Gaudi.

Inspirasi internasional


Bukan rahasia fasion asing menjadi inspirasi pengusaha muda ini. Namun tidak disangkal pemahaman mereka mengenai Indonesia lebih baik. Istilahnya semua yang berbau asing belum tentu cocok. Mereka membidik masuk diantara brand lokal dan internasional. Hingga kini mereka sudah memiliki 29 gerai Gaudi tersebar.

Ada celah fasion ketika keduanya memilih berbisnis. Mereka menciptakan keluwesan, gaya stylish, namun harga terjangkau. Dua pengusaha muda ini lantas memberi namanya Gaudi.

Natha sendiri sudah akrab dengan garmen. Ia sempat terjun di bisnis garmen. Melalui usaha dijalankan sang ayah. Nathalia membantunya berjualan pakaian grosir. Ketika produk- produk asing mulai bercokol di pusat perbelanjaan, maka keduanya masih bukanlah siapa- siapa.

Natha dan Janet kemudian meminjam uang ke orang tua. Keduanya sepakat membangun gerai busana. Yang mereka beri nama Gaudi -merujuk nama arsitektur dunia-, yang mana pertama kali ada di Plasa Semanggi, Jakarta, pada 2004 -an. Cuma berdua mengerjakan gerai mereka sendiri semuanya!

Mereka mengincar wanita remaja dan pekerja muda. Dari formal hingga santai dikerjakan Gaudi, dimana dari mendesain baju, memilih bahan, menentukan konveksi, dikerjakan mereka. Tidak cuma itu juga mereka mendekorasi gerai mereka sendiri. Dua kepala bersama ikutan terjun mengurusi semua soal pelayanan pula.

Akhirnya mereka memiliki pegawai sendiri, yakni ada empat orang di bagian produksi dan seorang penjaga gerai. Respon masyarakat terhadap produk Gaudi bagus. Lebih bagus lagi karena Janet membekali pegawai aneka pengetahuan fasion. Tujuannya agar mereka juga menjadi konsultan fasion kepada pelanggan.

Penjualan Gaudi juga mulai bagus. Kemudian Janet dan Nathan sepakat membuka beberapa gerai lagi di Jakarta. Masuk tahun kedua, Gaudi sudah memiliki tempat di tiga pusat perbelanjaan di Jakarta.

"Justru, pemilik mal yang memburu kami," jelas Janet bersemangat. Pengembangan tidak perlu capai mencari tempat. Karena pihak mal sudah mengakui akan kualitas Gaudi.

Tidak perlu repot mencari tempat baru. Memasuki tahun ketiga mereka sudah membayar utang. Hutang dari kedua orang tua terbayar lunas dari bisnis mereka. Bisnis Gaudi berjalan mengalir layaknya sungai. Mereka makin update soal fasion. Tidak cuma remaja, wanita karir, juga termasuk aksesoris, sampai tas sendiri.

Pertembuhan bisnis mereka membawa nama Gaudi mulai merambah kota lain, seperti Medan, Semarang, Denpasar, Palembang, Makassar, dan Balikpapan. Tidak patah semangat meski persaingan berjualan di mal sangat ketat. Setiap kota pilihan mereka memiliki nilai beli baik.

Bisnis update


Harga jualnya antara Rp.88 ribu hingga Rp.250 ribu. Pelanggan juga akan selalu dimanjakan. Keduanya siap menghadirkan 40 item baru setiap bulan. Konsep gerai juga dibuat unik. Gerai didandani menurut tema yang akan dikonsep setiap tiga tahun sekali. Tujuannya agar pelanggan tidak bosan akan kehadiran Gaudi.

Masalah tetap ada meski mereka telah sukses. Suatu ketika mereka pernah memindahkan gerai. Mereka jadi harus mendekor ulang semuanya. Padahal keduanya mengaku tidak pernah telat bayar sewa. Semuanya karena pihal mal tidak mau mendukung. Padahal gerai keduanya selalu ramai didatangi pengunjung selalu.

Walaupun begitu keduanya tetap berusaha. Memastikan bahwa gerai mereka tidak kalah. Dengan brand dari luar negeri yang lebih dahulu bercokol. Natha bercerita bahwa mereka sempat tidak laku. Produknya tidak terjual dan menumpuk ketika awal usaha.

Mereka harus bekerja keras menghabiskan stok. Namun pengalaman tersebut mengajari bagaimana caranya mengatur stok. Kini mereka menyetok buat 26 gerai, berisi 700 item barang setiap produknya. Mereka menggaet konveksi Hong Kong tetapi tidak lupa akan konveksi lokal.

"Sering kali buat warna- warna tertentu belum bisa diproduksi di Indonesia," jelas Natha.

Pengerjaan konveksi Hong Kong juga dikenal rapih. Agar produk tetap berkualitas, sampai sekarang saja Janet memilih bahan sendiri yang dipakai Gaudi. Janet juga ikutan mendesain motif pakaian. Juga termasuk rajin mengganti label pakaian dan tas pembungkus Gaudi.

Mereka mempekerjakan 300 karyawan. Menghasilkan omzet mencapai Rp.50 miliar. Walaupun sudah bisa dibilang sukses. Brand lokal ini masih memiliki ambisi. Mereka ingin menyamakan brand mereka dengan brand luar negeri. Kedua sahabat ini berambisi mengibarkan bendera Gaudi ke kancah internasional.

"Kami mempunyai mimpi seperti Zara," ujar Natha. Target mereka sekarang membuka di Bangkok dan juga Singapura tiga tahun kedepan. Mempelajari bagaimana pasar Singapura yang akan menjadi sasaran pertama. Untuk mendukung mereka juga lahir brand baru yakni Heiress.

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

Biografi Pengusaha Sally Giovanny


 
Hidup memang memilik pilihan. Bagi pengusaha muda pilihan adalah resiko terbesar. Contohnya yaitu wanita cantik bernama Sally Giovanny. Bayangkan sejak umur 18 tahun, Sally sudah dihadapkan pilihan mau usaha sendiri atau berhenti sekolah. Lulus SMA karena biaya Sally sempat galau mau melakukan apa nantinya.

Sally terlahir dari keluarga broken home. Kedua orang tuanya cerai ketika umurnya 6 tahun. Dia tinggal sama ibunya, yang setiap pagi buta pergi ke pasar. Ibu Sally membeli aneka sembako buat dijual kembali. Hidup dia memang penuh keprihatinan. 

Apakah dia mau kuliah atau membuka usaha. Ternyata tidak memilih kuliah sambi bekerja. Sally memilih fokus berusaha buat membantu keluarga. Alasan membiayai adik di bangku sekolah dasar memang kuat. Disisi lain gadis 18 tahun itu sudah memiliki cita- cita menjadi pengusaha mandiri.

Keputusan terbesar ialah ketika dia memilih menikah muda. Tentu kalau satu ini, keluarga sempat protes ya, namun keinginan tersebut dipastikan bukan keinginan sesaat. Dia menikah dengan Ibnu Riyanto, pemuda yang seumuran dia, dan justru karena menikahlah usahanya mampu dirintis sampai sekarang.

Ibnu bukan orang kaya. Bukan pula keturunan orang kaya berwarisan banyak. Banyak orang mencibir tapi mereka tetap menikah. Dari uang amplop bisnis mereka dimulai. Berkah setelah menikah justru dirasa Sally membawa angin segar. Ibnu sendiri sosok bertanggung jawab. Dia juga tidak takut memberi makan Sally.

Bisnis amplop


Awal berbisnis beneran, Sally butuh waktu beradaptasi hingga benar- benar berbisnis batik. Yah Sally adalah pengusaha batik Trusmi yang terkenal itu loh. Diawal dia mengaku bisnis batik bermodal Rp.35 jutaan. Yang mana merupakan hasil sumbangan pernikahannya dulu.

Ia merasa beruntung karena menikahi lelaki hebat. Sosok Ibnu meski 18 tahun, memiliki visi juga dibidang kewirausahaan. Keduanya kemudian berbisnis jualan kain mori. Inilah cikal- bakal bisnis batik Sally dimulai dari menjualkan kain mori kepada pembatik. Langsung dibawanya dari pabrikan kain ke sentra- sentra batik.

Sally menjadi suplier buat pengrajin batik Cirebon. Kain putih tersebut memang dijadikan kain batik. Namun dia menyadari menjadi suplier mori cuma gitu- gitu aja. Dia melihat banyak kain mori tersisa tidak terjual. Ia dan Ibnu lantas mendekati pengrajin batik tersebut.

Keduanya memintakan seorang pengrajin membatikan. Tolong dibuatkan desain di sisa mori jualan mereka. Ia sendiri kemudian menjajakan batik Cirebon tersebut. Melihat peluang di kota Jakarta lebih besar. Sally memutuskan memasarkan batik Cirebon ke Pasar Tanah Abang.

Dia pergi bersama suami ke Jakarta bermodal nekat. Bayangkan agar menghemat akomodasi, keduanya itu sepakat berangkat jam 12 pagi, sampai di Jakarta istirahat di pom bensi ataupun masjid. Ketika pasar buka, bukannya menyewa porter, Sally meminta sang suami mengangkut berkarung batik Cirebon sampai ke atas.

Dia meminta Ibnu sendiri memanggul berkarung batik. Masuk ke Tanah Abang, mereka harus menelan satu kekecewaan; batiknya tidak laku! Alasan penjual disana karena sudah memiliki suplier besar. Bukan seperti mereka yang baru saja berbisnis sendiri. Untuk membalik keadaan mereka membuat desain lebih unik.

Mereka membuat desain berbeda dari umumnya. Bersyukur batik karya Sally akhirnya dibeli meskipun tidak banyak. Ia lantas mengenang perlakuan salah satu penjual di sana, "saya coba dulu ya dan bayarnya pake giro, alias dibayar 3 bulan kemudian." Katanya sih begitulah cara pembayaran diterapkan di Tanah Abang.

Sally pun menego agar dibayar tunai. Namun sebagai catatan harga jual diturunkan Rp.1000 per- kainnya. Ia tidak putus asa malah semakin semangat. Bermodal untung sedikit diputarkan menjadi modal kembali. Dia lantas mengajak suami membuka toko sendiri.

Uang Rp.15 juta dibayarkan buat membuat toko sendiri. Ada dua pilihan membuka toko: Memilih buat toko besar namun masuk ke perkampungan. Atau membuka toko kecil di tempat strategis. Keputusan ini diambil dan kedua dipilih jadilah satu toko kecil di pusatnya keramaian.

Mereka membuka di kawasan sentra jualan batik. Mereka menyulap sebuah rumah di Jalan Trusmi Kulon no. 129 menjadi pusatnya. Sebuah rumah disulap menjadi galeri batik bernama Batik IBR. Wanita kelahiran 25 September 1988 ini, hanya memiliki dua karyawan awalnya, beruntung ketika batik lantas jadi booming besar!

Bisnis Trusmi


Berawal membeli kain mori di pabrik, Sally menjualkan ke pengrajin batik Cirebon. Dia membeli kainnya per- meter. Mana lagi kain mori dibeli Sally itu tipis. Alhasil untung dihasilkan Sally sangat sedikit dan punya resiko besar tidak laku. Membuat batik sendiri menjadi siasat ia mendapatkan untung lebih.

Salain itu, dia dan sang suami merekasakan ketertarikan akan pola batik. Keduanya setuju buat berguru ke seorang pengrajin batik. Mereka menjalin kerja sama mau dibuatkan batik Cirebon. "Saya banyak belajar. Kemudian bermitraan dengan pembuat batik," pungkasnya.

Perbandingan berjualan batik dan kain kafan keliatan. Bayangkan jika dia menjual 36 meter kain polos hanya untung Rp.10.000. Jika pengrajin sudah mengolah maka 2 meter untung Rp.5000. Dia mulai membuat desain batik sendiri. Pertama kali membatik dia membuat batik cap kemudian batik tulis khas Cirebon.

Profesionalitas Sally diuji bukan sekedar untung. Wanita mualaf berjilbab ini tidak mau setengah. Mendalami batik dia memproduksi cap dan batik. Melewati jalan panas, berdebu, keringat bercucuran, Sally mampu masuk ke pasar Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Toko batik dibuka dia dan Ibnu berukuran kecil. Dan "sialnya" mereka membuka didepan toko batik besar. Mereka terbiasa melihat banyak pengunjung datang ke depan. Tidak cuma orang tetapi mobil berjejer di depan toko tersebut. Mereka kalah dari luas toko bahkan jumlah koleksi batiknya.

Bukannya minder Sally malah penasaran, apasih kelebihan mereka?

Kelebihan batik miliknya adalah juga menyasar pasar anak muda. Dan ketika batik booming tidak salah jika usahanya makin diminati. Menurutnya semua karena Cirebon mulai menjadi kota wisata. Nama batik asli dari Cirebon menggema ke seantero Indonesia.

Sukses Sally selain melakukan diferentsiasi, adalah keputusan menggunakan nama Trusmi. Nama daerahnya ini diubah menjadi brand -nya sendiri. Nama Trusmi sendiri juga merupakan kepanjangan "Terus Bersemi". Yang meniru gaya Batik Malioboro, yang mana mengambil nama dimana tempatnya bertempat tinggal.

Mulai batik formal sampai buat santai. Nama Trusmi menjelma menjadi ikon Kota Cirebon. Sayangnya tidak semulus dibayangan ketika mulai naik daun. Dia pernah ditipu justru ketika tengah tenar. "Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya. Baginya setiap orang punya hak berusaha.

"Kita tinggal meningkatkan kualitas," imbuhnya. Sally lebih memilih dikomplain soal harga. Dibanding kalau dia dikomplain soal bahan.

Menjadi mualaf memberikan kesan berbeda. Menurutnya semenjak memakai hijab usahanya makin maju. Ia menyebut mendekatkan diri ke Tuhan merupakan cara. Salah satu cara ketika menghadapi kesulitan. Dia dulu pernah sempat depresi karena ditipu. Hingga dia mendekatkan diri ke Tuhan semua mulai membaik lagi.

Bisnis nol


Untung diraih, malang tidak dapat dihindari kata pepatah. Guna mengembangkan usaha. Dari sekedar punya satu toko menjelma menjadi tiga. Batik Trusmi belum berpuas berbenah. Hingga Sally memutuskan membeli satu pabrik bekas. Tujuannya ya buat memproduksi lebih banyak batik dibanding dulu.

Kebutuhan batik memang meningkat tajam. Masa tahun 2011 merupakan puncak kesadaran. Tidak cuma ia menawarkan ke pengoleksi batik kelas menengah atas. Tetapi mulai memasarkan ke orang menengah bawah yang lebih ke kebutuhan sandang. Mau membeli pabrik bekas, Sally malah ditolah si empunya berkali- kali.

Ia tidak patah semangat. Akhirnya dia membeli pabrik besarta mesin- mesinnya. Modal membeli pabrik itu pun tidak lepas dari pengorbanan besar. Ia menggadaikan rumah orang tua, kendaran pribadi, sampai ke rumah pribadi. Pabrik itu memiliki mitos, sudah banyak usaha gagal disana, mulai ban, kain, sampai mabel.

Sally dan Ibnu tidak peduli. Tekatnya kuat merubah pabrik bekas milik pengusaha Chinese asal Singapura itu. Dia sudah terbiasa menghadapi mitos, candanya. "Usaha itu harus berani melawan mitos. Mitos tahayul, mitos kalau anak broken home dan orang miskin enggak bisa sukses," kata Sally menggebu.

Pernah ditipu membuat usahanya hampir bangkrut. Ia pernah menyalahkan Tuhan. Menurutnya dulu Tuhan itu tidak menghargai usahanya. Pada saat itu, Sally menemukan jawaban, bahwa mereka ternyata kurang dari cukup memberi ke orang banyak. Bekerja sambil beramal moto keduanya kini 70% ibadah dan 30% nya bekerja.

Ibu dua anak tersebut kemudian membuka Yayasan Rizky Berlimpah Berkah. Yayasan tersebut sebagai satu penyaluran baginya atas nikmat Tuhan. Disisi lain dia juga membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Juga membagi ilmunya cuma- cuma, lewat banyak seminar, pengajian, pelatihan, dan pameran usaha.

Usahanya memberikan 850 orang pekerjaan sebagai karyawan. Lebih dari 500 pengrajin batik Cirebon ikut menjadi mitra binaan. Batik Trusmi makin laris dipasaran omzetnya mencapai 100 jutaan. Umurnya masih 26 tahun tetapi visinya masih luas buat membuka usaha. Kini kiosnya mencapai 1,5 hektar menjadi yang terluas di Indonesia.

Puluhan wisata datang mampi membeli batik. Meski cuma lulus SMA, dia memiliki gaji diatas mereka yang berijasah S-1 dan S-2. Ibu dari Faisal Annur dan Nayla Almahira ini tidak berprofit oriented. Maksudnya ia lebih memilih harga dinaikan biar kualitas terjaga. Tidak laku sudah menjadi hal biasa dalam perjalanan Sally.

Namun, siap sih, yang gak kenal nama Batik Trusmi. Nama brand yang sudah merambah ke pasar online juga lewat www.eBatikTrusmi.com

Menjahitkan Rok di Instagram Chandra Annisa

Profil Pengusaha Chandra Annisa 


 
Sukses jualan rok Chandra Annisa bukan biasa. Karena pengusaha muda satu ini menciptakan rok custom. Usaha ber- brand HDCK ini mampu merebut perhatian masyarakat. Padahal tuturnya bahwa usaha ini mulai dengan bermodal minimalis. Yaknilah apapun selama kamu bekerja keras meski modal minim tidak masalah.

Dia berkisah bermodal Rp.35 ribu. Awal Annisa merasa berjualan rok punya prospektif. Lebih- lebih bisa membuat rok sendiri. Kelihatan mudah dan bahannya sederhana. Sejak 2014, dia lantas menawarkan bisnis berkonsep rok custom, yang mana rok dipesan sesuai keinginan, dari ukuran, bahan, dan modelnya.

Bukankah strategi tersebut bukan hal baru. Kebanyakan wanita pasti sudah terbiasa menjahitkan sendiri ke tukang jahit. Strategi Annisa ditambah memanfaatkan internet mempermudah transaksi.

Bisnis internet


Uang Rp.35 ribu dibelikan bahan sifon. Kemudian kain dijahitnya dan itulah rok contoh buat dipamerkan ke sosial media. Contoh rok dipamerkan ke teman- teman. Mereka tertarik lantas memesan. Lantaran awalnya tidak ada modal, Annisa mengakali dengan mengisyaratkan uang muka 50%, dari harga satuannya itu Rp.55 ribu.

Rok ber brand HDCK memiliki kepanjangan hope, do, create, dan keep alive. Inilah visi dari bisnis yang ia jalankan sampai sekarang. Konsep open order diberikan beserta periode waktu tertentu. Rok dibuat sekitar 2 hari sampai 5 harian. Pemesanan pun meningkat drastis ketika memasuki masa Ramadhan.


Sukses Annisa bukan tanpa sebab. Dia mencoba mempermudah jasa menjahitkan. Model contoh kemudian ia kembangkan menjadi 15 model. Bahan digunakan mulai kain sifon Jepang, kain satin valvet, satin Jepang, atupun kain jersey, katun, tutu, sandwash dan wedges.

Harga rok sudah jadi berkisar Rp.45 ribu sampai Rp.120 ribu. Untung diperoleh Annisa lumayan mencapai 40% -nya. Pemasaran paling utama melalui Instagram @hdckhardware, juga melalui aneka bazar seperti hal di car free day Malang. Atau kegiatan lainnya, yang bertujuan menonjolkan brand miliknya itu.

Dalam event tertentu ia memberikan potongan khusus. Diskon termasuk buat pemesanan 3 potong rok yang khusus dijahitkan ini. Meski permintaan membludak, Annisa mengaku masih terbatas memproduksi. Patut disayangkan, namun dia optimis mampu mengembangkan bisnisnya.

Ia pun bertekat memperbanyak produksi lewat mesin baru. Annisa tengah mengumpulkan modal. Dia kelak berharap mampu memproduksi rok satu stok aneka ukuran. Jadilah pelanggan tidak butuh waktu lama buat menunggu jahitan. Dalam sebulan dia bisa membuat beberapa kemudian diupload ke sosial media internet.

Persaingan terbilang super ketat buat bisnis rok. Itulah kenapa dia menghadirkan rok custom. Memiliki satu dimensi berbeda soal desain. Pelayanan konsumen juga diperhatikan Annisa. Peluang masih terbuka karena orang butuh pakaian terutama wanita. Produk fasion memang tidak pernah akan mati jika ke depan.

"Kuncinya harus mengikuti perkembangan fasion," ujarnya. Carilah celah diantara keinginan konsumen ke depannya.

Cuci Sepatu Semarang Wardiman Unik Menghasilkan

Profil Pengusaha Didik Kurniawan Toyiban



Buka usaha laundry sudah biasa. Bagaimana jika membuka usaha laundry sepatu, unik kan. Wardiman lantas berkisah bahwa semua bermula dari hobi sepatu. Pria bernama lengkap Didik Kurniawan Toyiban atau suka dipanggil Wardiman mengaku semua iseng awalnya.

Dia menyukai sepatu aneka bentuk, warna, dan bahan. Wardiman bersama teman, yang bernama Yohanes Awie Ananta, atau Awie merupakan penggemar sepatu apapun mereknya. Mereka sendiri merupakan warga Kecamatan Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah. Kedua sahabat ini lantas membuka usaha cuci sepatu.

Mereka merasa kesulit merawat aneka sepatu itu. Yah akhirnya sepatu- sepatu itu bertumpuk tidak terpakai karena nanti takut rusak. Mereka rasa semua orang mengalami pengalaman tersebut. Munculah ide mengenai bagaimana membuka usaha mencucikan sepatu.

Tanggal 25 Desember 2014, kedua teman ini sepakat membuka usaha bersama. Dimana mereka memberi nama usaha mereka Titik Shoes Spa. Keduanya menyewa tempat dan membuka layanan buat aneka merek sepatu dan bahan, mulai berbahan kulit Suede, Nubuck, ataupun kulit lainnya.

Sepeti namanya mereka memberikan perawatan spa untuk sepatu. Mereka menerima segala macam sepatu. Tetapi kebanyakan merupakan sepatu mahal yang sukar dicuci. "Dirawat agar tetap kinclong," imbuhnya. Ia sendiri cukup percaya diri merawat sepatu berhargaan jutaan rupiah.

Bisnis nekat


Menurut Suaramerdeka.com, Wardiman bukanlah pengangguran, dia pernah bekerja di sebuah tv lokal. Untuk menjadi pengusaha muda rela resign meski pekerjaannya telah mapan. Keisengan tersebut ternyata punya prospek cerah. Ketidak sengajaan berbisnis membawa pria 32 tahun ini mantap buat berwirausaha.

Pria kelahiran Semarang, 3 Maret 1985, tidak takut ditengah menjamurnya usaha sejenis. Ia meyakini usaha Titik Shoes Spa masih akan berkembang.

Semua berawal dari iseng, cerita- cerita sambil nongkrong bareng temen. Nyeletuk Wardiman bilang mau buka usaha jasa membersihkan sepatu. Kebetulah seorang teman asal Yogyakarta yang mempunyai hobi sama. Bedanya temannya ini jago membuat bahan pembersih sepatu sendiri.

"Setelah dikasih cleaner, aku mikir ini kayaknya kalu dijual terus usaha buka jasa laundry sepatu boleh juga nih," ceritanya. "Bismillah, buka saja."

Nama Titik Shoes Spa sendiri hasil becandaan teman. Mereka memberi saran banyak, termasuk soal nama usaha yang akan dijalankan Wardiman. Nama Titik Shoes Spa ternyata plesetan dari nama Titik Puspa. Tapi kalau dijabarkan kembali nama Titik berarti berhenti. Sementara Shoe itu sepatu, dan Spa itu yah tempat perawatan.

Jadilah artinya cukup di tempat itu. Orang akan berhenti buat merawat sepatunya. Kira- kira itu kesimpulan Wardiman diiringi derai tawa ketika diwawancarai. "Seperti itu kira- kira penjabaran garingnya," selorohnya.

Padahal meski dikenal penghobi sepatu. Mereka tidak seahli dibayangkan orang. Keduanya memulai semua dari nol. Pengetahuan perawatan sepatu mereka dibilang minim. Pernah awal- awal ada orang nyuci sepatu ke tempatnya. Eh sepatu berwarna putih polos dicuci malah menjadi kuning.

Karena belum ada SOP jadilah berantakan. Dia ingat ketika mencuci sepatu sambil ngerokok. "Eh kena rokok jadi bolong," kenang Wardiman lagi. Namanya usaha baru pertama kali, maka ketika mereka telah melakukan kesalahan ya mereka akhirnya rela hati mengganti rugi.

Pokoknya sebagai pengusaha jujurlah melayani. Bilang lah keadaan apa adanya meski pahit. Komunikasikan masalah terjadi meski makian menanti. Ketika mereka meminta ganti rugi ya diganti. Jika mereka meminta layanan cepat maka tepat waktu lah melayani.

Bukan bisnis pertama


Dulu dia mengaku pernah membuka usaha clothing. Jatuh bangun dibuatnya mengerjakan bisnis tersebut. Tapi dia bersyukur usahanya dapat digunakan makan. Wardiman mencoba menikmati apapun usaha. Dan ia selalu berprinsip usaha lurus meski jatuh bangun.

Seorang teman mengajari keduanya mencuci sepatu. Mereka sendiri tidak punya sandaran bagaiman cara mencuci sepatu benar. Informasi tambahan didapat dari internet serta segala sumber diperlukan. Sumber lain seperti halnya trial and error mereka kerjakan ketika berbisnis tersebut.

Dulu tidak tau bahan ini bagaimana. Terus akhirnya tau kalau bahan seperti ini tidak bisa diapakan. Semua itu datang dari pengalaman mereka sendiri. Berjalan waktu, mereka membeli sepatu sendiri, bukan buat dipakai tetapi bereksperimen bagaimana baiknya merawat sepatu sejenis.

Kalau rusak yah tidak masalah. Hal terpenting mereka mendapatkan pengetahuan yang mungkin tidak ada di buku teks. Toh itu kan sepatu mereka sendiri. Cara promosi terbaik menurut mereka. Dia mengaku memulai dari teman- teman mereka dahulu. Datangnya pelanggan satu- dua mereka tanggapi penuh syukur dan keseriusan.

Banyak pelanggan puas maka nama mereka tersebar lewat mulut. Dari mulut ke mulut banyak pelanggan mau datang kembali membawa orang. Kini sudah 20 orang pelanggan tetap menyerahkan sepatu mereka ke tempat mereka. 

Mereka sendiri kebanyakan karyawan kantor yang padat jadwal jadinya susah cuci sendiri. Apalagi jika sepatu mereka mahal butuh perawatan khusus intens. Lalu harga dipatok Wardiman senilai Rp.40 ribu hingga Rp.70 ribu. Awie menjelaskan mereka memiliki dua layanan utama: Quick Clean dan juga Deep Clean.

Untuk Quick Clean artinya memberishkan cepat. Awie menyebut cuci cepat batas waktu mencucinya sampai 20 menit. Deep Clean lebih fokus membersihkan sebersih mungkin. Layanan kedua yaitu benar- benar detail agar sepatu lebih awet dan bersih karena cairannya khusus.

"Cairan tidak mengandung detergen dan memiliki kandungan melembabkan bahan sepatu," tutur dia.

Awie ingin terus mengembangkan usaha mereka. Tujuan mereka selanjutnya adalah bagaimana memperbaiki sepatu rusak. Dia ingin mengembangkan repaint atau cat ulang. Bahkan mereka maunya mencat ulang dan memperbaiki langsung ke tempat pelanggan.

Bisnis masa depan


Baginya berbisni sekarang merupakan pelajaran. Bahwa ternyata susah mencari uang sendiri. Wardiman akui hal tersebut menjadi tantangan. Baginya kepercayaan konsumen merupakan barang mahal. Menjaga bentuk komunikasi kepada pelanggan merupakan kewajiban pengusaha.

Tidak boleh tutup kuping. Kalau mau menjaga kualitas kita harus mendengar. Insha Allah, menurutnya semua akan wangi, bersih, dan tepat waktu hasilnya seperti sepatu cuci mereka. Mereka menggunakan bahan yang alami (herbal) ketika membersihkan sepatu. Karena menurutnya pakai detergen malah kuning dan kulit jadi keras.

"...kita juga pakai deodorize. Jadi kalau sepatunya bau tuh bisa ilang," imbuhnya. Walau banyak kompetitor malah justru semakin bersemangat. Selama ada persaingan justru mereka bersemangat menjadi lebih baik.

Harga Rp.50 ribu sampai Rp.80 ribu buat Deep Clean. Semuanya dari sol luar, dalam, tengah, sol atas, lidah, bahkan talinya dicuci. Quick Clean lebih murah Rp.25 ribu sampai Rp.35 ribu. Untuk satu ini cuma bisa dicuci atasnya dan tengahnya saja.

Meski bisa cepat semua tergantung bahan sepatu juga. Walau dapat ditunggu, soal mereka dan bahan kulit butuh perlakuan berbeda, inilah kelebihan mencuci di laundry sepatu dibanding cuci sendiri. Sepatu berharga jutaan tentu pelayanan akan berbeda dengan ratusan ribu.

Sepatu seharga jutaan, belasan juta, sampai ratusan juta, Wardiman pernah pegang. Untuk sepatu mahal, dia butuh waktu meriset dulu mereka, hingga bagaiman cara merawatnya butuh waktu. Awal sepatu datang dia akan berbicara terus terang tentang harga ditawarkan berbeda, resiko, serta bagaimana penanganan terbaik.

Ia menyebut cleaner saja enggak cukup. Katanya cleaner aja enggak mempan. Butuh bahan khusus yang dia dapatkan khusus. Soal bahan tersusah menurutnya adalah Suede. "Itu susah! Engga butuh tiga hari saja membersihkan," imbuhnya.

Butuh kering dan tidak boleh dijemur di bawah matahari. Hanya dianginkan saja loh. Pokoknya lama gitulah prosesnya. Termasuk karena noda- nodanya mencar. Juga rentan buat luntur kalau tidak hati- hati untuk dikerjakan. Yang terpenting disiplin mencari tau. Berkat usaha laundry sepatu kini banyak teman dapat kerja di tempatnya.

Wardiman mensyukuri semuanya. Mereka juga membuka peluang kerja sama. Selain itu mereka punya satu rencana membuka cabang di Jl. Krakatau V no.7 Semarang. Tepatnya mereka akan buka di UPGRIS atau dulunya dikenal IKIP PGRI Semarang.

Harapannya adalah Titik Shoes Spa semakin terkenal famous lah. Harapan lain yakni kesadaran masyarakat akan sepatu. Bahwa sepatu juga dapat menjadi investasi seperti hal mobil atau motor antik. Kan kalau benar dirawat nilanya akan semakin mahal bukannya menyusut. 

Bola Benang Dijadikan Lampu Untung Ratusan

Profil Pengusaha Guntoro Rusli 

 

Bisnis tidak melulu ribet. Kamu tidak harus menciptakan aplikasi apapun. Tinggal pakai benang aja, pria 33 tahun ini mampu meraup omzet mencapai Rp.100 juta. Bisnisnya bernama lampu benang. Atau lampion dari bahan benang aneka bentuk. Guntoro Rusli bercerita ide awal berbisnis dari hobi mengumpulkan souvenir.

Dia seorang perajin lampu karakter asal Surabaya. Pria gantang yang dulunya seornag pelaut. Alhasil dia jadi sering berkunjung ke tempat dari dalam sampai luar negeri. Menjadi pelaut memberikan kemudahan baginya untuk mengoleksi souvenir. Dalam perjalanannya dia mampu memproduksi 2.000 unit lampu per- bulan.

Ide datang ketika dia melihat produk, ketika Guntoro berkunjung ke Amerika Serikat dan Thailand. Orang sedang berjualan lampu. Maka Guntoro mengajak istri buat berbisnis lampu benang.

Bisnis sederhana


Waktu berjalan- jalan bersama teman ia menemukan cotton light. Lampu hias berbahan benang aneka yang dibentuk aneka bentuk. Ia sebenarnya iseng membuat cotton light ball. Untuk awalan dia membeli satu buah buat contoh dibawa pulang. Lalu dia mencari tau apakah ada atau belum produk sejenis di Indonesia.

Pulang dari Thailand, Guntoro mencari tau lebih dalam, dan menemukan bahwa di Bali sudah ada produsen produk sejenis. Dia tidak takut berbisnis. Pada April 2009, dia memutuskan buat menggelontorkan sejumlah uang, uang Rp.20 juta digunakan buat memproduksi sekala besar.

Gun memulai usaha dari internet merambah ke penjuru Surabaya dan Bali. Uang digunakan membeli bahan serta dibayar buat menggaji pegawai sendiri.

Cotton light ball atau cotton ball lantern merupakan produk lampu berbahan benang polyster. Dia memakai cetakan, dililit benang, dilem dan dikeringkan. "Setelah dikeringkan, cetakannya diambil," jelas dia. Ternyata respon masyarakat kepada produk buatan Gun bagus. Guntoro semakin bersemangat membuat produk yang unik.

Peluang bisnisnya masih bagus dikembangkan. Ia lantas mencoba memperbanyak produksi. Yakni membuat produk 500 pieces dulu. Awal penghobi traveling ini mencoba menitipkan produk ke pusat perbelanjaan di Surabaya, Jawa Timur. Dari sana dia mulai membentuk tim desain sendiri buat menjadi pembeda produk lain.

Tim R&D dan Desain bertugas membuat desain lampu aneka bentuk. Lebih variatif sehingga ngejreng diliat mata calon pembeli. Usaha tersebut lantas, pada Februari 2011, telah berbedan hukum dibawah nama CV. Multicraft Indonesia. Kenapa begitu, karena Gun hendak melirik pasar ekspor hingga ke Amerika Serikat.

Dia menyebut biar mudah mengurus surat- menyurat ijin ekspor. Suami dari YennyWibowo ini, juga memakai strategi mengamati tren pasar. Ketika musimnya Natal, maka CV. Multicraft akan memproduksi lampu yang bertemakan pohon natal dan sebagainya.

Biasanya produk Gun digunakan sebagai hadiah dekoratif. Tidak cuma ketika musim tertentu, secara berkala mereka memproduksi buat pernikahan, ulang tahun atau hadiah perusahaan. Dua tahun berjalan dia makin mantap membuat ciri khas produknya.

Bisnis benang


Dia mengajak sang istri menjadi bagian dari tim kerja. Sebagai desainer interior dan event organizer agaknya sedikit banyak memacu bisnis si Gun. Berbekal jaringan istri pula, dia mampu masuk ke ranah acara- acara yang butuh souvenir -seperti pernikahan dan ulang tahun,.dll. Ini membuat produknya lekas cepat dikenal masyarakat.

Pemasaran mulai sampai ke luar negeri. Ekspor kecil- kecilan mulai digalangkan seperti ke Malaysia dan juga Singapura. Gun juga sudah menembus pasar eropa, seperti Italia, yang mana mampu melonjakan omzet penjualan sampai ratusan juta.

"Ekspor kita masih kecil- kecilan," ujarnya merendah.

Untuk memperluas pasar kembali, Guntoro mengaku memilih menunggu dan mempelajari apalagi cotton light ball sudah cukup dikenal di luaran sana. Butuh satu sentuhan berbeda jika dia ingin perusahaan masuk pasar asing. Brand Light Craft awalnya dikenal sebagai usaha pembuatan lampu benang, dan juga lampu rotan.

Strategi pemasarn berdasarkan pesanan khusus juga diapresiasi. Ia pokoknya tanggap akan keinginan dari konsumen dan terus berkreatifitas. Omzet meningkat dua sampai tiga kali lipat sejak didirikan. Bayangkan dia mengaku mampu mengantungi omzet sampai Rp.560 juta. Perbulan Guntoro memproduksi 1.000- 3.000 produk.

Lulusan perhotelan Universitas Kristen Petra Surabaya ini, mengaku tidak belajar khusus, namun secara niat serius mempelajari seni membuat lampu benang ini. Terlihat dengan keseriusan Gun menggunakan alat tenun sendiri untuk membuat produk lampu kap.

Dengan bantuan mesin mampu menggulung benang selusin roll beraneka warna. Untuk satu jenis lampu dia produksi 10 dengan empat varian warna benang. Produk lampu kap butuh setidaknya 48 roll benang hingga 120 roll benang agar membentuk karakter.

Variasi karakter juga beraneka macam termasuk tokoh kartun anak. Prosesnya gampang dijalankan tetapi butuh kreatifitas agar tidak monoton. Untuk bagian tersulit adalah membentuk bola benang. Juga bagaimana sih agar membentu bentuk dekoratif dan berdesain sesuai.

Untuk produk bervariasi dari Rp.50 ribu sampai Rp.1 juta ada. Aneka aksesoris penikahan atau acara ulang tahun dibandrol Rp.10 ribu sampai Rp.40 ribu. Minimal butuh 4- 6 minggu memenuhi pesanan dari mereka pemilik acara. Agar tidak kecewa selepas desain di muat ke internet ada sesi konsultasi acara terlebih dulu.

"Melakukan korelasi produk dengan calon klien selama dua minggu," jelasnya. Dia lalu mengajak pegawai dan juga masyarakat sekitar jika diperlukan.

Meski diluaran sana sudah banyak peniru. Ia mengaku tidak takut. Karena Guntoro memperlakukan usaha layaknya bisnis besar. Sebuah perusahaan besar memiliki staf khusus buat desain. Mereka mendasain di luar kegiatan produksi. Butuh waktu berminggu- minggu buat menciptakan desain baru lebih menarik di mata.

Gun juga menganjurkan prototipe sebelum diproduksi masal. Pokoknya mah seperti perusahaan besar yang telah menasional produknya. Jenis produk sudah mencapai 20 jenis, mulai dari cotton ball light, cotton ball lantern, letter lamp, character lamp, cooper light, fairly light, dan dia masih akan menambah lagi bila perlu.

Saran sebagai pengusaha mudah adalah jadikan produk unggulan. "Terus belajar dan pantang menyerah terus berusaha. Belum usaha sudah menyerah ya enggak bisa," tandasnya.

Tantangan berbisnis


Memang minat pasar dalam negeri dan luar negeri beda. Jadilah harus memiliki daya tarik tersendiri di kedua sisi. Pasar nasional ditarik melalui brand Boli atau bola imut. Dibuat kecil- kecil imut dapat dijadikan hiasan di kamar. Meski sudah memiliki banyak produk dan menghasilkan ratusan juta, bukan mudah juga.

Dia bercerita di awal tidak pernah digaji. Awal usahanya dia tidak mendapatkan untung. Dari bisnis langsung diputer buat gaji dan produksi. Dia menganggap ini bukanlah masalah. Gun tidak menganggap kerugian itu semua karena proses. Sedikit demi sedikit usahanya mulai menampakkan untung dari setiap penjualannya.

Penjualan ke luar negeri juga musiman sesuai kontrak. Soal keuntungan dipacu para reseller yang bekerja giat memasarkan produk Light Craft. Menawarkan sistem reseller dan dropship tanpa minimal pemesanan. Berapapun dilayakni baik oleh Light Craft. Sistem distribusi reseller bukan retailer tetapi melalui vendor.

Dia memiliki 100 reseller sejak tiga tahun terakhir. Produknya cukup memakai patokan harga tertinggi yakni Rp.140 ribu. Lalu Rp.50 ribu buat lampu kecil dan Rp.90 ribu buat lampu besar. Untung reseller mampu kamu mengantungi untung 50 sampai 100 persen.

Dia bercerita seorang reseller dari Instagram mampu meraup Rp.20- 30 juta. Dia menyebut seorang anak kuliahan, mengambil untung kecil 20- 30 persen. Rahasianya dia memainkan marketing dengan kuat, jadilah tidak menjual nilai eceran tetapi sudah lusinan.

Ia mengaku pernah punya gerai di Surabaya, Bali, Lombok, dan Jakarta. Namun dia sekarang lebih memilih menjual melalui sosial media. Dia memiliki 20 staf serta 40 staf harian bila ada pesanan khusus. Dia sendiri konsern ke pemilihan dan perekrutan SDM. Masih sulit katanya mencari SDM cekatan dan kreatif jaman sekarang.

Karaketer dipriksa betul agar menyesuaikan ritme kerja. Haruslah memiliki kompeten dan mampu belajar cepat dalam bekerja. Gun sendiri tidak ragu memberikan dorongan. Tujuannya agar mendapatkan hasil yang maksimal bekerja. Ia tidak ragu mendengar keluhan kemudian mendorong stafnya agar tidak malah down.

Dia meciptakan suasana tempat kerja senyaman mungkin. Ia menekankan aspek kekeluargaan, mulai dari makan bersama, liburan bareng ke tempat wisata, melakukan training, melalukan pembekalan. Meski sudah sekuat tenaga mendukung SDM, kendala lain adalah bahan baku yang masih impor agar sesuai standarisasi.