Dulunya Pengangguran Kemudian Kaya Raya Jualan Batik

Profil Pengusaha Sukses Suntiah 


 
Pernah menjadi pengangguran kini pengusaha kaya. Inilah kisah perempuan bernama Suntiah. Berkat sukses booming batik menjadi warisan budaya. Wanita 39 tahun ini memiliki omzet mencapai ratusan juta, bahkan sampai miliaran rupiah. Alkisah dia memulai berbisnis cuma berjualan batik keliling kampung.

Dia terlahir dari keluarga sederhana. Hidupnya penuh perjuangan berjualan sendiri. Suntiah berjualan kain batik berkeliling kampung. Berkat kreatifitas, tidak cuma berjualan, kini dia dikenal sebagai seniman batik lewat brandnya Royyan Batik. 

"Kalau keuntungan bersih Rp.137 juta," imbuhnya. Warga Desa Tegalrejo, Kec. Merakurak, Kabupaten Tuban ini juga mengajarkan anak- anak membatik.

Dari arahan langsung dirinya, diharapkan kelak mewarnai wirausaha Indonesia. Ketika anak- anak masuk ke tempatnya akan langsung disambut deru mesin jahit. Tidak cuma tempat produksi, juga terpampang koleksi karya Suntiah yang dijejerkan. Galeri kecil- kecilan yang baik berisi batik dan tumpukan kain putih siap.

Bisnis kecilan


Tahun 1988, dia memutuskan berhenti bekerja, dulunya dia bekerja sebagai karyawan pabrik di kawasan kota Sidoarjo. Dia menjadi pengangguran. Bingung akan nasibnya dirinya ditegur. Sang mertua mendatangi Suntiah dan meletakan setumpuk plastik berisi kain batik siap pakai.

Waktu itu bulan puasa dan dia mulai berjualan. "...jualan pakaian dari mertua keliling kampung," kenang dia. Tidak jarang wanita kelahiran 1 Juli 1974 ini sampai ke kampung sebelah.

Mau gimana lagi karena suami juga pengangguran. Posisi kala itu kepepet keduanya tidak punya pekerjaan. Dari perjalanan berjualan kok ternyata lumayan laris. Sambil mengobrol terceletuk keinginan belajar batik ke suami. Suntiah memang sama sekali tidak dapat membatik waktu itu.

Uang dihasilkan memang tidak banyak berjualan pakaian. Dari uang jualan dijadikan modal kembali ke baju batik lain. Inilah mendorong Suntiah ingin membuat batik sendiri. Cara menjual lewat kredit baju memang dirasanya cepat menarik perhatian masyarakat, meski untung sedikit.

Ia lantas belajar ke pembatik profesional. Uang Rp.300 ribu dijadikan mahar buat belajar membatik. Angka segitu terbilang besar buat keluarganya. Tahun 2000 -an mereka memang hidup serba pas- pasan. Namun semangat belajar dan passion lebih besar dibanding harga segitu.

Sempat berpikir mau tidak jadi. Berpikir lebih baik dibelikan baju jadi buat dijual kembali. "Ilmu itu mahal, dan pasti akan berguna kelak," Sutiah menyemangati diri. Suami lah yang mengatakan kalimat tersebut. Dan akhirnya dia bersemangat belajar membuat batik sendiri.

Dia belajar dari pembatik asal desa sebelah. Cuma butuh waktu seminggu dirinya sudah mahir. Dia sudah bisa membuat batik sampai jadi. Langsung diparktikan membuat 12 potong kaos batik. Kemudian  dijualnya seharga Rp.12 ribu per- buah. Dia menawarkan barangnya ke penjual di kawasan makan Sunan Bonang.

Dia dapat uang sampai Rp.60 ribu. Pokoknya tidak ada rasa malu ketika menawarkan. Suntiah sudah sadar betul konsekuensi menjadi pengusaha. Total modal dikeluarkan Rp.300 ribu dan cuma menghasilkan Rp.60 ribu. Berjalan mulus pesanan dari Sunan Bonang membuatnya sampai kesulitan mencari bahan kaos.

Diketahui dulu tidak ada satupun pabrik pembuat bahan kaos. Agar dapat bahan kaos polos, para pembatik harus menyeberang ke daerah Babat, Lamongan. Itupun hanya seorang penjahit biasa, yang sudah menjadi langganan para pengusaha konveksi besar. Jadi yah Suntiah harus mengantri agar dilayani dibuatkan kaos polos.

Menunggu sampai sore terkadang dia, yang ditemani suami, tidak mendapatkan bahan kaos polos. Penjahit itu mengesampingkan pelanggan baru macam Suntiah. Ketika sudah buntu Suntiah memutuskan membeli mesin jahit sendiri. Dia mendapatkan arisan dan dibelikan mesin jahit dari Surabaya.

Bisnis lebih besar


Dari sekedar membuat kaos batik, usaha Suntiah merambah konveksi batik. Berbekal uang seadanya dibeli satu mesin jahit. Karena menjahit urasan berbeda dengan membatik. Maka Suntiah mengajak penjahit buat ikut bergabung dengan bisnisnya. Namun para penjahit sinis mendengar konsep bisnis Suntiah jelaskan.

Mereka ragu akan kemampuan wanita berjilbab ini. Alhasil, dia harus bekerja sendiri, bersyukur tetangganya ada yang mau mengajarkan menjahit gratis. Dimulailah dia berproduksi aneka konveksi batik sendirian. Batik dibuatnya dan dijualnya sendiri.

"Pokoknya saya punya prinsip itu, kalau ingin berhasil jangan punya rasa malu," tips Suntiah.

Lambat laun nama usahanya mulai dikenal. Pesanan batik makin banyak berdatangan. Suntiah jadi semakin serius mengerjakan pesanan. Beberapa kali suami memarahi dia karena terlalu serius. Dia bekerja sampai- sampai lupa waktu. Bekerjanya sampai larut malam kurang istirahat.

Namanya pengusaha pengen usahanya semakin berkembang. Iseng Suntiah melakukan eksplorasi dalam hal bahan batik. Dibelinya bahan kain berbeda dalam jumlah banyak. Sayang, tahun 2003 itu, malah dia jadi gulung tikar lantaran kainnya tidak dapat dibatik. Kain jenis baru tersebut tidak cocok dibuat batik katanya.

Dia ternyata tergiur harga murah. Memang kelihatan bagus tetapi ternyata malah bikin susah. Modal usaha ia keluarkan langsung hangus tidak bersisa.

Tidak ada pengusaha tanpa masalah. Itulah kenapa mental baja dibutuhkan termasuk dalam dirinya. Suntiah memang memiliki mental baja buat bekerja. Tekatnya merintis bisnis kembali dari awal. Lalu dia menyamblon kain yang tidak bagus itu seadanya. Kemudian dijualnya semurah mungkin agar cepat laku.

Masuk tahun 2007, dia nekat mengajukan modal usaha, kepada PT. Semen Gresik atau Semen Indonesia sekarang, yang mana nilai modal usaha tidak dijelaskan. Berkat itulah usahanya dijalankan kembali dengan tekat membenahi semua. "Sempat akan gulung tikar tahun 2003," imbuhnya.

Dia mulai mengikuti pameran dari perusahaan tersebut. Jaringan bisnis Suntiah dibangun sampai keluar Kota Tuban. Disanalah dia mulai dikenal sampai ke Jakarta, Surabaya, Bandung, Kalimantan. Inilah batik yang diberinya nama batik Royyan Batik. Dan omzetnya kini sudah mencapai angka Rp.1 miliaran lebih.

Tidak berhenti keinginan besar Suntiah adalah batik khas Tuban. Untuk mengembangkan budaya membatik, ia mengajarkan cara membatik ke banyak anak muda. Beberapa sekolah sudah mengirimkan anak didiknya buat belajar membatik. Maksud hatinya melakukan regenerasi pembatik Tuban agar tetap bertahan.

Pengusaha Kopiah Tasikmalaya Inspirasi Tanpa Henti

Profil Pengusaha Asep Mulyadi 



Umat Islam di Indonesia kan identik dengan peci. Nah inilah kenapa putra asal Tasikmalaya ini berbisnis. Dia bernama Asep Mulyadi. Pengusaha sederhana memproduksi aneka peci keren. Menurutnya tidak banyak orang mau bergelut di bidang ini.

Bermula dari sebuah usaha konveksi baju sendiri. Tetapi usahanya tidak berjalan lama. Untuk meneruskan hidup akhirnya Asep memilih mengajar di sebuah pesantren. Asep juga mengejar pendidikan formalnya dulu. Makanya usaha konveksi tersebut tidak dia perjuangkan kembali.

Masuk tahun 2010, dimana dia mendapatkan putra kedua, tuntutan hidup memaksa Asep berwirausaha lagi. Kali ini dia memilih berjualan kopiah atau peci. Modal uang Rp.1.500.000 -menggunakan uang anak. Uang tersebut diberikan orang tua Asep buat anaknya yang baru lahir itu. 

"Saya gunakan uang anak... lalu saya belanja dengan uang tersebut," jelasnya. Mau membeli kopiah buatan teman malah harganya tinggi. Asep sendiri buta pasaran kopiah. "Tapi susah laku," kenang Asep. Karena dia merasa bahwa membeli dari teman dan dijual kembali susah; Asep terpikir sesuatu.

Berpikir pasti usahanya tidak akan bertahan lama. Asep memutuskan membuat kopiah sendiri. Tujuannya agar dia paham soal harga pasaran. Meski tanpa pengalaman dia tetap membuat. Dia mencoba. Tetapi hanya beberapa bulan gagal. Asep tetap mencoba lagi hingga kedua kali.

Bapak dua anak ini cuma paham sedikit tentang ilmu ekonomi. Buta soal produksi, distribusi, pemasaran, ia lakukan semua secara intuisi saja. Asep hanya tau dia harus terjun sendiri merasakan pahit getir.

Bisnis perjuangan


Ilmu ekonomi Asep berbekal pengalaman. Satu bulan pertama membuat kopiah gagal. Bulan kedua akhirnya dia dapa dijual tetapi belum bagus. Asep memang mempedulikan kualitas. Dua bulan berselang fokusnya ialah bagaimana membuat produk lebih bagus. Dia mencoba beberapa kali dalam setahun.

Sampai, Asep menemukan formula bagus, waktu itu dia membuat kembali meski semua sendirian. Tekun dan sabar kopiah buatannya kini laku dipasaran. Bertahap kopiah buatannya laku dipasaran. Dan akhirnya Asep bisa membuka lapangan pekerjaan. Dia lantas dibantu 10 karyawan mengerjakan.

Semakin sukses, kini dia sudah memiliki 140 karyawan ditambah 10 orang karyawan freelance. Kopiahnya diproduksi 10 kodi per- hari. Usaha ini seratus persen belajar bisnis otodidak. Asep tidak mengenyam pendidikan manajemen. Boro- boro kuliah, Asep tercatat cuma lulusan paket C atau setara SMA.

Ia mengajak mitra bekerja sama. Alhasil usahanya semaki membesar. Modal kepercayaan merupakan hal terpenting. Bagi Asep kepercayaan harus selalu dijaga. Sisanya adalah soal bagaimana mendapatkan sumber daya manusia berkualitas. Nah, disinlah masalah utama bagi setiap pengusaha muda seperti kita ini.

Kunci mengumpulkan modal uang Asep mudah. Ia tidak mau ke bank. Keribetan tersebut diakali lewat ia meminjam ke pengusaha kain, pengusaha benang, pengusaha bordir. Ada semacam simbiosis saling untung diantara mereka.

Bagianya membangun pola pikir kesukaran sendiri. Modal berupa sumber daya manusia berpola pikir baik sukar. Dia tidak ada lelahnya mendidik karyawan. Sebuah seni dan keindahan sendiri dari berwirausaha. Ia selalu menekankan bekerja lah dengan tanggung jawab.

Tidak cuma bertanggung jawab dengan diri sendiri. Bertanggung jawab lah dengan produk kita buat. Lalu kepada masyarakat yang menggunakan produk kita. Produksi harus semakin bagus agar konsumen puas. Hingga nanti jadilah perusahaan semakin maju dan berkembang mensejahterakan di karyawan sendiri.

Untuk karyawan paling enak mengajari lulusan sekolah dasar. Walau kebanyakan karyawan Asep jebolah sekolah menengah. Mereka lulusan sekolah dasar memang enak diajari bagian produksi. "Tetapi saya enjoy saja Kang, ini kan ibadah juga," Asep mengaku tenang.

Bisnis sederhana berkembang


Jika ditanya sampai mana bisnis kopiah miliknya. Dengan bangga Asep mengaku sudah sampai ke Malaysia, Thailand, Pakistan. Pulau Jawa sendiri hampir sudah seluruh pelosok nama Al Markaz Collection ada. Ia mengatakan mereka penjual selalu mencari produknya. "Bisa jadi kopiah produk saya sangat menarik."

Semula permulaan bisnis Asep jeblok. Bertahap dari kaki lima, toko sampai grosi dimasuki Asep. Dalam kurun waktu tiga tahun Asep terjun sendiri mencari pelanggan. Ia belajar sendiri tentang pasaran. Semua ia geluti sendiri dengan tujuan mempelajari bisnis dari hulu sampai ke hilir.

Pernah kopiahnya dikomplain pelanggan. Ada orang bilang jelek lah lalu tidak mau bayar. Bangganya ketika kerja kerasnya terbayar ketika kopiahnya masuk televisi. Dia bangga banyak artis memakai kopiahnya. Juga ketika momen pemilihan Perdana Menteri Malaysia, banyak warga Malaysia memakai kopiah buatan Asep.

Asep mengaku senang karena bisnisnya tumbuh. Soal omzet mencapai 10% sampai 20% dari 2.000 sampai 3.000 kodi per- bulan. Harganya bervariasi per- kodi seharga Rp.280 ribu dan produksi 100 kodi setiap harinya. Pria kelahiran 28 Agustus 1982 ini ingin perusahaan lebih besar dan mempekerjakan lebih banyak.

Asep kini tengah menambah varian produk. Merambah bisnis fasion, Asep juga mau membuat aneka baju koko. Ia juga sudah berinvestasi di properti loh. Dia ingin membangun sekolah gratis mandiri. Yakni sekolah menghasilkan uang buat membiayai siswa yang masuk disana.

Pemilik Bika Ambon Zulaikha Rasanya Enak Halal

Profil Pengusaha Hajjah Mariani


 
Sudah 20 tahun lamanya, di Jalan Mojopahit, Medan Sumatra Utara, menjadi sentranya jajanan khas yang bernama bika ambon. Namun tau kah kamu ada bikan Ambon spesial. Baru berjualan lima tahun saja nama Bika Ambon Zulaikha melejit menjadi salah satu yang terpopuler. Lima tahun sudah pengusah paruh baya ini berjualan.

Kue bika Ambon Zulaikha terkenal seantero Sumatra. Bahkan namanya merambah sampai ke pasar negara tetangga. Alkisah pengusaha pemiliknya adalah mantan apoteker. Hajjah Mariani mantan asisten apoteker salah satu perusahaan farmasi nasional. Sudah 35 tahun kenapa dia tidak berhenti dan membuka usaha saja.

Berawal dari toko kue biasa bernama Zulaikha, nama putri pertamanya dan satu- satunya. Nama anak itu adalah Ira Zulaikha Ray. Sejak 2003 usahanya berkembang fokus berbisnis kue bernama ATI atau Acay atau sekarang namanya bika ambon. 

"Tapi sekarang yang favorit adalah Zulaikha, milik Hajjah Mariana," tutur seorang.

Menurut sejarahnya memang makanan ini aslinya buatan orang China di Medan. Berkat cita rasanya makan nama kue ini menjadi khasnya Medan.

Bisnis pasaran


Memulai bisnis bika Ambon bukan perkara mudah bagi Mariani. Wanita berkerudung ini menyebutkan hal istimewa tentang bikanya ada di rasa. Tidak terpikir sama sekali dirinya akan menjadi wirausaha. Hanya ia merasa butuh melakukan sesuatu ketika pensiun. Selepas bekerja 35 tahun, Mariana memilih berjualan bika Ambon.

Dalam kurun waktu enam tahun namanya sudah dikenal. Ia mampu menyaingi usaha bika Ambon lainnya yang sudah eksis duluan. Kiat sukses Mariani menurutnya terletak pada kemampuan menebak pasar. Dia mampu menyuguhkan bika Ambon dengan tujuh varian rasa.

Selain bika Ambon, makanan seperti bolu gulung, brownis, manisan jambu, sirup markisa, dimana resepnya bikinan keluarga sendiri. Bahan alami menjadi andalan Mariana, meski akhirnya cuma bertahan 3 harian saja.

Nastar juga menjadi andalan Mariana. Dulu sih pengusaha bika Ambon kebanyakan warga Tionghoa. Dia menambahkan mungkin lantara itu pulalah bikanya menjadi terkenal. Karena memiliki gelar haji tentu bika dibuatnya menjadi lebih menarik oleh masyarakat Indonesia mayoritas muslim.

Selain itu kualitas bika bikinan Mariani terjaga. Dia juga mengambangkan aneka rasa. Seperti bika Ambon warna hijau berbau pandan. Istri Bapak Ismeth Fuad Rangkuty Al- Haj ini memiliki tujuh varian rasa yakni ada bika biasa, pandan, pisang ambon, durian keju, dan pandan keju.

Guna mendukung usahanya Mariani melengkapi usahanya dengan sertifikasi halal. Mariana mengaku mampu menghabiskan 200 liter gula nira. Dalam sehari bika Ambonnya mampu terjual sampai 500 kotak. Bahkan sampai 1.000 kotak ketika musim liburan. Harganya dari Rp.35.000 sampai Rp.65.000, menjadi 15 iris atau 40 iris.

Membuat aneka varian rasa baru hukumnya wajib. Selain itu dia memberikan kemasan menarik dengan warna dan kualitas bahan. Bika Ambon miliknya memiliki varian rasa yang berbeda dibandingkan bika sebelumnya.

Ada cara unik setiap pembelian bika Ambon. Pembeli tinggal ambil bika kemudian membayar ke kasirnya ketika akan keluar. Konsepnya seperti minimarket khusus jajanan. Akan ada kasir siap sedia menerima pembayaran dari wisatawan. Nama bika Ambon memang sudah dikenal dan bika miliknya menjadi salah satunya.

Bisnis pensiunan


Dia hanya ingin bagaimana tidak menganggur. Ingin tetap bermanfaat dimasa tua mendatang. Maka ketika ia pensiun membuat kue menjadi pilihan. Dari kegemaran ternyata respon masyarakat sangat mengejutkan Dia mengaku sepanjang berbisnis jarang sekali merugi.

"Saya sudah biasa bekerja dan ingin waktu saya bermanfaat. Jadi saya tidak mau jadi pengangguran," tutur dia.

Motivasi lain ternyata adalah perasaan miris. Ketika Hari Raya, ia melihat banyak orang muslim berjuble buat mengantri membeli bika Ambon di tempat non- muslim. Dia ingin memberikan rasa nyaman bagi mereka. Jadi lelah mengantri terbayar dengan kenyamanan hati.
'
Sebelum membuka usaha bika Ambon. Mariani lebih dahulu belajar aneka membua kue. Salah satunya ya cara membuat bika Ambon. Bermodal Rp.10 juta dia mencoba peruntungan menjadi pelopor. Menjadi pengusaha bika Ambon muslim pertama. Marketing awal dijajakan ke teman- teman sewaktu dia bekerja dulu.

Ternyata kuenya disukai temannya. Kepercayaan diri Mariani meningkat dan mulai mencari celah. Dalam ketatnya persaingan bika Ambon, memberikan selain rasa nyaman juga inovasi. Alhasil ya dia kebanjiran orderan meski baru buka beberapa tahun saja.

Ketika Hari Raya usahanya akan dipadati pengunjung. Bahkan menurut penuturannya sudah seperti antrian sembako. Memang rasanya tidak meragukan. Itulah kenapa pernah satu kompi tentara datang pukul 01.00 pagi. Mereka datang cuma buat memborong bika Ambon buatannya.

Masuk tahun 2005, usahanya sudah memiliki dua gerai, dimana gerai keduanya dijalankan oleh anakanya, yaitu Ika Zulaikha dan suaminya.

Mulai dari nol


Dia bermodal uang Rp.10 juta. Usahanya berjalan statis tarus naik. Bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah dia merugi. Karena itulah banyak bank menawari pinjaman. Mariani mengaku tidak tertarik menarik pinjaman. "Saya mau berdiri di atas kaki saya sendiri," pungkasnya.

Dia tidak pernah menyangka usahanya akan besar. Memang rezeki sudah diatur oleh Tuhan. Meski banyak orang akan memilih ekspansi ke luar kota. Mariani memilih membuka gerai tetap di Medan. Alasannya itu simple karena bika Ambon miliknya merupakan khas Medan.

Mariani yang sadar telah diberikan rejeki berlimpah. Dia tidak pernah lupa berbagi. Dia selalu membayar zakat dan sedekah. Ia rajin menyumbang ke masjid dan kegiatan dakwah. Jika ada karyawan bujang maka akan diberika tempat tinggal dan mendapatkan pembinaan.

Hajjah Mariani juga menjalin kerja sama dengan tukang becak. Jika ada tukang becak mempromosikan tempat usahanya akan diberi hadiah: Kue bikan gratis. Terkadang tukang becak pengantar para pembeli juga dapat air minum gratis. Untuk mendukung usahanya sudah bersertifikasi Halal LPPOM MUI.

Usaha yang dijalankan sejak 6 Agustus 2003 ini tidak pernah sepi. Berawal menjual 8 boks lalu naik sampai 500 boks. Awalnya cuma fokus menyasar waktu lebaran. Ketika awal di buka, tempatnya hanya menjadi penampungan yang tidak kebagian antrian di toko lain. Berkat kualitas pengunjung dadakan malah datang lagi.

Lambat laun namanya malah lebih dikenal dibanding toko lain. Rupanya rasanya lebih cocok buat orang kita sendiri. Kini usahanya sudah mempekerjakan 50 orang karyawan. "Omzet agak rahasia," tutur Zulaikha, putri bontot empat bersaudara Hajjah Mariani.

Usahanya bukan main- main. Setiap bika dibuat dengan kurun waktu dua jam. Bahan niranya memakai nira divermentasi selama semalam. Kalau bika dibuat sore maka dijualnya besok sore. Bika bikinan mereka ini hampir setiap hari ludes dan tutup pukul 21.00. Saat Idul Fitri nanti penjualan naik 2 sampai 5 kali lipatan.

Selain bika Ambon yang best seller yaitu lapis legit. Penjualan mencapai 500 boks terjual. Selain menjual di toko juga menjual di online inilah kelebihan bika Ambon Zulaikha.

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

Biografi Pengusaha Sally Giovanny


 
Hidup memang memilik pilihan. Bagi pengusaha muda pilihan adalah resiko terbesar. Contohnya yaitu wanita cantik bernama Sally Giovanny. Bayangkan sejak umur 18 tahun, Sally sudah dihadapkan pilihan mau usaha sendiri atau berhenti sekolah. Lulus SMA karena biaya Sally sempat galau mau melakukan apa nantinya.

Sally terlahir dari keluarga broken home. Kedua orang tuanya cerai ketika umurnya 6 tahun. Dia tinggal sama ibunya, yang setiap pagi buta pergi ke pasar. Ibu Sally membeli aneka sembako buat dijual kembali. Hidup dia memang penuh keprihatinan. 

Apakah dia mau kuliah atau membuka usaha. Ternyata tidak memilih kuliah sambi bekerja. Sally memilih fokus berusaha buat membantu keluarga. Alasan membiayai adik di bangku sekolah dasar memang kuat. Disisi lain gadis 18 tahun itu sudah memiliki cita- cita menjadi pengusaha mandiri.

Keputusan terbesar ialah ketika dia memilih menikah muda. Tentu kalau satu ini, keluarga sempat protes ya, namun keinginan tersebut dipastikan bukan keinginan sesaat. Dia menikah dengan Ibnu Riyanto, pemuda yang seumuran dia, dan justru karena menikahlah usahanya mampu dirintis sampai sekarang.

Ibnu bukan orang kaya. Bukan pula keturunan orang kaya berwarisan banyak. Banyak orang mencibir tapi mereka tetap menikah. Dari uang amplop bisnis mereka dimulai. Berkah setelah menikah justru dirasa Sally membawa angin segar. Ibnu sendiri sosok bertanggung jawab. Dia juga tidak takut memberi makan Sally.

Bisnis amplop


Awal berbisnis beneran, Sally butuh waktu beradaptasi hingga benar- benar berbisnis batik. Yah Sally adalah pengusaha batik Trusmi yang terkenal itu loh. Diawal dia mengaku bisnis batik bermodal Rp.35 jutaan. Yang mana merupakan hasil sumbangan pernikahannya dulu.

Ia merasa beruntung karena menikahi lelaki hebat. Sosok Ibnu meski 18 tahun, memiliki visi juga dibidang kewirausahaan. Keduanya kemudian berbisnis jualan kain mori. Inilah cikal- bakal bisnis batik Sally dimulai dari menjualkan kain mori kepada pembatik. Langsung dibawanya dari pabrikan kain ke sentra- sentra batik.

Sally menjadi suplier buat pengrajin batik Cirebon. Kain putih tersebut memang dijadikan kain batik. Namun dia menyadari menjadi suplier mori cuma gitu- gitu aja. Dia melihat banyak kain mori tersisa tidak terjual. Ia dan Ibnu lantas mendekati pengrajin batik tersebut.

Keduanya memintakan seorang pengrajin membatikan. Tolong dibuatkan desain di sisa mori jualan mereka. Ia sendiri kemudian menjajakan batik Cirebon tersebut. Melihat peluang di kota Jakarta lebih besar. Sally memutuskan memasarkan batik Cirebon ke Pasar Tanah Abang.

Dia pergi bersama suami ke Jakarta bermodal nekat. Bayangkan agar menghemat akomodasi, keduanya itu sepakat berangkat jam 12 pagi, sampai di Jakarta istirahat di pom bensi ataupun masjid. Ketika pasar buka, bukannya menyewa porter, Sally meminta sang suami mengangkut berkarung batik Cirebon sampai ke atas.

Dia meminta Ibnu sendiri memanggul berkarung batik. Masuk ke Tanah Abang, mereka harus menelan satu kekecewaan; batiknya tidak laku! Alasan penjual disana karena sudah memiliki suplier besar. Bukan seperti mereka yang baru saja berbisnis sendiri. Untuk membalik keadaan mereka membuat desain lebih unik.

Mereka membuat desain berbeda dari umumnya. Bersyukur batik karya Sally akhirnya dibeli meskipun tidak banyak. Ia lantas mengenang perlakuan salah satu penjual di sana, "saya coba dulu ya dan bayarnya pake giro, alias dibayar 3 bulan kemudian." Katanya sih begitulah cara pembayaran diterapkan di Tanah Abang.

Sally pun menego agar dibayar tunai. Namun sebagai catatan harga jual diturunkan Rp.1000 per- kainnya. Ia tidak putus asa malah semakin semangat. Bermodal untung sedikit diputarkan menjadi modal kembali. Dia lantas mengajak suami membuka toko sendiri.

Uang Rp.15 juta dibayarkan buat membuat toko sendiri. Ada dua pilihan membuka toko: Memilih buat toko besar namun masuk ke perkampungan. Atau membuka toko kecil di tempat strategis. Keputusan ini diambil dan kedua dipilih jadilah satu toko kecil di pusatnya keramaian.

Mereka membuka di kawasan sentra jualan batik. Mereka menyulap sebuah rumah di Jalan Trusmi Kulon no. 129 menjadi pusatnya. Sebuah rumah disulap menjadi galeri batik bernama Batik IBR. Wanita kelahiran 25 September 1988 ini, hanya memiliki dua karyawan awalnya, beruntung ketika batik lantas jadi booming besar!

Bisnis Trusmi


Berawal membeli kain mori di pabrik, Sally menjualkan ke pengrajin batik Cirebon. Dia membeli kainnya per- meter. Mana lagi kain mori dibeli Sally itu tipis. Alhasil untung dihasilkan Sally sangat sedikit dan punya resiko besar tidak laku. Membuat batik sendiri menjadi siasat ia mendapatkan untung lebih.

Salain itu, dia dan sang suami merekasakan ketertarikan akan pola batik. Keduanya setuju buat berguru ke seorang pengrajin batik. Mereka menjalin kerja sama mau dibuatkan batik Cirebon. "Saya banyak belajar. Kemudian bermitraan dengan pembuat batik," pungkasnya.

Perbandingan berjualan batik dan kain kafan keliatan. Bayangkan jika dia menjual 36 meter kain polos hanya untung Rp.10.000. Jika pengrajin sudah mengolah maka 2 meter untung Rp.5000. Dia mulai membuat desain batik sendiri. Pertama kali membatik dia membuat batik cap kemudian batik tulis khas Cirebon.

Profesionalitas Sally diuji bukan sekedar untung. Wanita mualaf berjilbab ini tidak mau setengah. Mendalami batik dia memproduksi cap dan batik. Melewati jalan panas, berdebu, keringat bercucuran, Sally mampu masuk ke pasar Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Toko batik dibuka dia dan Ibnu berukuran kecil. Dan "sialnya" mereka membuka didepan toko batik besar. Mereka terbiasa melihat banyak pengunjung datang ke depan. Tidak cuma orang tetapi mobil berjejer di depan toko tersebut. Mereka kalah dari luas toko bahkan jumlah koleksi batiknya.

Bukannya minder Sally malah penasaran, apasih kelebihan mereka?

Kelebihan batik miliknya adalah juga menyasar pasar anak muda. Dan ketika batik booming tidak salah jika usahanya makin diminati. Menurutnya semua karena Cirebon mulai menjadi kota wisata. Nama batik asli dari Cirebon menggema ke seantero Indonesia.

Sukses Sally selain melakukan diferentsiasi, adalah keputusan menggunakan nama Trusmi. Nama daerahnya ini diubah menjadi brand -nya sendiri. Nama Trusmi sendiri juga merupakan kepanjangan "Terus Bersemi". Yang meniru gaya Batik Malioboro, yang mana mengambil nama dimana tempatnya bertempat tinggal.

Mulai batik formal sampai buat santai. Nama Trusmi menjelma menjadi ikon Kota Cirebon. Sayangnya tidak semulus dibayangan ketika mulai naik daun. Dia pernah ditipu justru ketika tengah tenar. "Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya. Baginya setiap orang punya hak berusaha.

"Kita tinggal meningkatkan kualitas," imbuhnya. Sally lebih memilih dikomplain soal harga. Dibanding kalau dia dikomplain soal bahan.

Menjadi mualaf memberikan kesan berbeda. Menurutnya semenjak memakai hijab usahanya makin maju. Ia menyebut mendekatkan diri ke Tuhan merupakan cara. Salah satu cara ketika menghadapi kesulitan. Dia dulu pernah sempat depresi karena ditipu. Hingga dia mendekatkan diri ke Tuhan semua mulai membaik lagi.

Bisnis nol


Untung diraih, malang tidak dapat dihindari kata pepatah. Guna mengembangkan usaha. Dari sekedar punya satu toko menjelma menjadi tiga. Batik Trusmi belum berpuas berbenah. Hingga Sally memutuskan membeli satu pabrik bekas. Tujuannya ya buat memproduksi lebih banyak batik dibanding dulu.

Kebutuhan batik memang meningkat tajam. Masa tahun 2011 merupakan puncak kesadaran. Tidak cuma ia menawarkan ke pengoleksi batik kelas menengah atas. Tetapi mulai memasarkan ke orang menengah bawah yang lebih ke kebutuhan sandang. Mau membeli pabrik bekas, Sally malah ditolah si empunya berkali- kali.

Ia tidak patah semangat. Akhirnya dia membeli pabrik besarta mesin- mesinnya. Modal membeli pabrik itu pun tidak lepas dari pengorbanan besar. Ia menggadaikan rumah orang tua, kendaran pribadi, sampai ke rumah pribadi. Pabrik itu memiliki mitos, sudah banyak usaha gagal disana, mulai ban, kain, sampai mabel.

Sally dan Ibnu tidak peduli. Tekatnya kuat merubah pabrik bekas milik pengusaha Chinese asal Singapura itu. Dia sudah terbiasa menghadapi mitos, candanya. "Usaha itu harus berani melawan mitos. Mitos tahayul, mitos kalau anak broken home dan orang miskin enggak bisa sukses," kata Sally menggebu.

Pernah ditipu membuat usahanya hampir bangkrut. Ia pernah menyalahkan Tuhan. Menurutnya dulu Tuhan itu tidak menghargai usahanya. Pada saat itu, Sally menemukan jawaban, bahwa mereka ternyata kurang dari cukup memberi ke orang banyak. Bekerja sambil beramal moto keduanya kini 70% ibadah dan 30% nya bekerja.

Ibu dua anak tersebut kemudian membuka Yayasan Rizky Berlimpah Berkah. Yayasan tersebut sebagai satu penyaluran baginya atas nikmat Tuhan. Disisi lain dia juga membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Juga membagi ilmunya cuma- cuma, lewat banyak seminar, pengajian, pelatihan, dan pameran usaha.

Usahanya memberikan 850 orang pekerjaan sebagai karyawan. Lebih dari 500 pengrajin batik Cirebon ikut menjadi mitra binaan. Batik Trusmi makin laris dipasaran omzetnya mencapai 100 jutaan. Umurnya masih 26 tahun tetapi visinya masih luas buat membuka usaha. Kini kiosnya mencapai 1,5 hektar menjadi yang terluas di Indonesia.

Puluhan wisata datang mampi membeli batik. Meski cuma lulus SMA, dia memiliki gaji diatas mereka yang berijasah S-1 dan S-2. Ibu dari Faisal Annur dan Nayla Almahira ini tidak berprofit oriented. Maksudnya ia lebih memilih harga dinaikan biar kualitas terjaga. Tidak laku sudah menjadi hal biasa dalam perjalanan Sally.

Namun, siap sih, yang gak kenal nama Batik Trusmi. Nama brand yang sudah merambah ke pasar online juga lewat www.eBatikTrusmi.com

Biografi Restu Anggraini Desainer Hijab Muslim Internasional

Profil Pengusaha Restu Anggraini 


 
Berawal dari sosial media kemudian berlanjut sampai manca negara. Siapa sangka sosok mungil tersebut dulunya hanya seorang EO. Kini, siapa tidak kenal Restu Anggraini. Pengusaha muda kali ini memang mulai dari postingan Facebook. Waktu itu namanya sosial media dan blog happening banget buat anak muda.

Tidak mudah baginya menemukan jati diri. Terutama di bisnis fashion, beruntung dia memulai lebih awal dari pesaingnya berbisnis hijab. Tahun 2010 dia bekerja sebagi event organizer, bagian menawarkan produk jadi sudah pengalaman lah. Kreatifitas dituntut selalu dimiliki Restu sebagai EO, namun siapa sangka arah tujuan berubah.

Dia bersema tiga orang kawan memilih bisnis hijab. Perempuan Jakarta, 18 Maret 1987, memang hobinya segala sesuatu tentang fashion. Dia sering ikutan lomba fashion show dari RT sampai kelurahan. Pernah ia mengikuti lomba desain baju tetapi tidak menang.

Bisnis trendy


Siapa sangka dia yang belum pernah menang lomba desain sukses. Ini karena selama perjalanan dia selalu mengasah keahlian. Disela waktu dia mulai membuat baju kerja kepada rekan kerjanya. Teman kantor mulai merasa Restu memiliki kelebihan. Aliran pesanan mulai meluap membuat optimisme kepada Restu.

Tahun 2010, seperti penulisa tulis diatas, dia memutuskan keluar dari pekerjaan. Dia berharap nanti berbisnis fasion sendiri. Sadar bahwa keahliannya masih kurang Restu tidak buru- buru. Ia mengambil kursus desain dulu di Esmod, Jakarta.

Keputusannya tepat pada 2011 lahirlah brand RA by Restu. Wanita berhijab yang akrab dipanggil Etu ini lalu mulai memasarkan produknya online. "Awalnya itu aku jualan lewat teman- teman terus makin kesini sosial media lagi happening, Facebook, blog, dari situ terus meluas," paparnya kepada Dream.co.id

Bermodal uang Rp3 juta perjalanan Etu dimulai. Mereka mulai mendesain dress, outer, celana, sampai rok. Namun dia cuma membatasi tidak lebih 10 buah masing- masing. Kemudian diunggah ke Facebook lantas mendapatkan respon positif. Sebuah kepuasan bajunya disukai, apalagi desainer baju muslim belum banyak.

Ia sendiri sulit menyatuka tiga kepala. Selera tiga sekawan ini memang beda soal fashion. Beruntung konsep klasik hijab mereka usung disambut baik. Bisnis yang berawal sebagai sambilan ini dijalankan maki bersuka hati. Mereka mulai ikutan bazar di mal. Walau minoritas baju muslim mereka laris manis meski ketat.

Etu semakin yakin menekuni bisnis fashion. Kenekatan Etu didukung kemauan belajar terus. Alhasil sampai ke tahun 2014, dia meluncurkan brand lagi bernama ETU, antusias mengiringi tumbuhnya bisnis hijab yang diprakarsai Restu Anggreini ini.

Bisnis hijab


Memulai berbisnis ketika hijab belum seramai sekarang. Etu menemukan tujuannya dan terus berkembang lagi. Wanita yang berhijab sejak bangku SMP ini, mengakui hijab bukanlah sekedar fasion baginya. Bagi seorang desainer menjadi pembuat baju muslimah merupakan ladang syiar.

Kaedah baju sesuai syari seperti tidak ketat. Serta bagaimana menjadikan ini pakaian sehari- hari. Dia lebih mencontohkan ke dirinya sendiri sebagai wanita karir. Memang susah membuat pakaian kerja muslimah kala dia bekerja dulu. Inspirasi justru datang dari pakaian muslim pria dengan cutting enak, kancing, dan kupnat.

Kan pakaian muslim pria longgar. Namun dipadu padankan dengan warna- warna cerah. Etu mencoba untuk keluar dari kesan hijab monoton. Sayangnya, dalam perjalanan kedua teman Etu tidak dapat melanjutkan perjalanan bersama. Etu tetap mantab melanjutkan berbisnis hijab sendirian dan sampai ke titik tertingginya.

Titik puncaknya mungkin ketika memasuki Jakarta Fashion Week 2015. Namanya sebagai desainer pakaian muslim mulai diakui. Dia juga sempatkan belajar di Pale Art Studio. Berlanjut dia mengikuti program yang bertajuk Indonesia Fashion Forward. Brand ETU sendiri digadang sebagai brand utamanya ke pasar luar negeri.

Etu lantas tampil di ajang bernama Virgin Australia Melbourne Fashion Festival 2016. Namanya didukung segenap lapisan masyarakat dan pemerintahan, seperti dari Perusahaan Gas Negera.

Tidak mudah berbisnis hijab


Dia memulai pusat produksi di Bandung. Begitu permintaan meningkat, dia memindahkan produksinya ke Jakarta. Pengalaman dijiplak sudah menjadi hal biasa. Saking seringnya, maka Etu disarankan buat langsung mendaftarkan hak cipta. Jangan setengah- setengah mengurus ijin usaha kamu dafatarkan merek di Dirjen HAKI.

Agar memperlancarkan usahanya dibidang fasion. Ia mengangkat pegawai asal Malang dan Pekalongan, yang dianggapnya baik soal menjahit. Sekarang sudah gampang karena sudah kenal satu sama lain. Inilah kenapa usaha Etu semakin berkembang karena prinsip kekeluargaan diusung soal perekrutan pegawainya.

Kan enak kalau penjahit satu sama lain sudah kenal. Konsep kasual diangkat Etu melalui brand RA, buat formalnya maka ETU menjadi cakupan. Inti desainnya tidak bertumpuk- tumpuk. Siluet penampilan dibikin minimalis namun sesuai kaidah Islami.

Jika melihat kesuksesan Etu sekarang pasti kedua temannya sayang. Andai saja keduanya memilih melepas pekerja. Andai mereka tidak ikut pindah kantor. Namun, justru ketika seorang Etu "terpaksa", cita rasanya semakin tergali lebih dalam berekspolrasi dibanding ketika dia bekerja bertiga.

Dia juga ikutan Hijabers Community. Nah melalui itulah, dia membukan toko pertama yakni di Muse 101 FX Plaza Sudirman, Jakarta Selatan. Enaknya memiliki toko asli ketimbang toko online: Dia lebih leluasa buat berpromosi dari mulut ke mulut. Juga ada cross costumer dari dua brand bikinannya saling melengkapi.

Konsep hijab diberikan Etu adalah tidak cuma hijaber. Tidak cuma mereka yang sudah berhijab. Tetapi bagi mereka yang mau berhijab sudah dia sediakan. Tidak cuma toko sendiri, ia menyulap halaman belakang rumahnya, menjadi tempat produksi dari penjahitan dan finishing dikerjakan puluhan karyawan.

Fasion masa depan


"Pebisnis itu harus satu tujuan dengan para pegawainya," ungkapnya. Ia tidak memposisikan sebagai atasan mereka. Mereka dianggap Etu menjadi patner kerja. Ibu dua anak ini dibantu sang suami memperbesar lagi pasaran bisnis.Ia selalu meriset market place Indonesia serta trend kekinian.

Bahkan sudah mempunyai rencana bisnis hingga ke 2030 mendatang. Ia tidak mencari uang semata. Tetapi bagaimana mengembangkan masyarakat dalam bidang fasion. Terbukti dia tercatat melakukan kerja sama dengan perusahaan Jepang, mengembangkan produk berbahan daur ulang plastik atau ultra sweet.

Berkat visi go internasional, dia pernah mengikuti Tokyo Fashion Week 2015 dan Mercedez- Benz Fashion Week Tokyo (MBFWT). Seperti dilansir dari gomuslim.co.id dia menampilkan 10 busana dari 12 busana dia siapkan. Tidak cuma berbisnis dia juga fokus merubah fasion itu sendiri secara keseluruhan bukan cuma hijab.

Contohnya ETU bekerja sama dengan Toray Industries asal Jepang. Ia memanfaatkan teknologi mereka buat membuat pakaian muslim. Nama Ultrasuede adalah bahan kulit sintetis yang menyamai kulit asli. Dia sungguh beruntung mendapatkan akses ke teknologi dan event di Jepang waktu itu secara keseluruhan.

Tetapi disayangkan, untuk masalah desain, dia terkendala akan penjiplakan model. Kualitas barang pun aspal karena harganya murah. Awalnya dia sebal tetapi mau bagaimana lagi. Dia menganggap saja bahwa produk bikinannya disukai masyarakat semua. Meski kini sukses mendapatkan dukungan dia sempat jatuh bangun sendirian.

Ia sempat dipandang sebelah mata ketika akan go internasional. Hanya kepercayaan bahwa produk miliknya serta Indonesia pada umumnya layak mendapatkan tempat. Inilah modal Etu tetap berusaha menggapai visi bisnisnya sampai ke luar negeri. Ia menyadari sifat meremehkan justru milik orang Indonesia sendiri.

Alhasil terciptalah pemikiran pesimis dikalangan pengusaha muda sendiri. Etu sendiri memiliki keinginan lebih dari sekedar menciptakan. Dia ingin menggelar fashion show sendiri ke luar negeri. Perasaan ini dibawah jadi dia bisa menghilangkan pesimisme sendiri dan masyarakat terhadap kualitas produk dalam negeri.

Ia menghimbau masyarakat buat percaya kepada karya anak bangsa. Lebih lanjut dia memberikan wejangan buat pengusaha muda seperti kita bahwa potensi bisnis fasion masih luas. Janganlah cepat puas akan hasil, dan beranilah mengambil keputusan mendalami kewirausahaan bukan sekedar want to be entrepreneur.

Situs Penyewaan Perlengkapan Bayi Inspirasi

Profil Pengusaha Rinastuti Trapsila Putri 


 
Bisnis penyewaan apa belum banyak. Mungkin jawabannya bisnis penyewaan perlengkapan bayi. Ini kisah seorang pengusaha bernama Rinastuti Trapsila Putri. Yang berbisnis penyewaan perlengkapan bayi lewat media internet. Dia membaca dilema ibu rumah tangga memenuhi kebutuhan sang bayi.

Bukanlah bohong harga kebutuhan bayi lebih mahal. Harga perlengkapan bayi bahkan lebih mahal dibanding harga susu formula. Sebut saja boks bayi, kereta dorong bayi, atau tempat duduk bayi buat mobil, alat bantu belajar bayi, atau meja bayi tinggi, kesemuanya itu mahal kan.

Dilema tersebut dibaca Rina melalui bisnis ini. Tambahan lagi, padahal kalau beli baru, usia pakai juga sudah tanggung tidak lebih dari dua tahun. Kan dibanding keluar banyak uang dan sia- sia, mending kita menyewa ke Rina begitulah kiranya.

Bisnis jarang


Selain menggerus kantong juga makan tempat. Apalagi kalau sudah tidak dipakai mau ditaruh dimana nanti. "Solusi ya sewa perlengkapan bayi! Jauh lebih ekonomis," paparnya. Kalau harga sewa dijamin lebih murah. Kalau sudah tidak terpakai lagi ya tinggal dikembalikan ke Rina.

Dilema ibu muda mengilhami Bunda Rina. Target awal Rina adalah masyarakat Kota Surabaya. Lewat satu situs bernama www.sewaperlengkapanbayisurabaya.com, dirinya menyiapkan sewa perlengakapan mulai dari baby walker, baby bouncer, boks bayi, boks bayi oval, buggy walker, carseat, high chair, stoller juga.

Dia mengatakan tinggal telephon saja. Barang nanti akan diantarkan. Kalaupun sudah habis masa sewa kan tinggal telephon memperpanjang. Rina juga mengatakan pihaknya akan datang sendiri. Kalau sudah waktu menyewa habis akan ada orang mengambil ke rumah, mudah kan?

Berbagai perlengkapan tinggal ditaruh di website. Kontak buat dihubungi juga sudah ada. Kalau ditanya apa kiat sukses pengusahanya: Mengalir saja mengikuti usaha. Tidak ada kiat khusus. Hal terpenting menurutnya justru di pelayanan. Haruslah supel dan ramah kepada pelanggan yang bertanya.

Tidak cuma menghubungi buat menyewa. Terkadang pelanggan malah ikutan curhat rumah tangga. Dengan senang hati Bunda Rini mendengarkan. "Syukur- syukur bisa memberi jalan keluar," tambahnya. Hubungan kekeluargaan menjadi landasan bisnis Rini. Kehangatan Bunda membawa promosi baik dari mulut ke mulut.

Promosi sederhana tersebut ternyata ampuh. Dia sendiri enggan berkata soal keuntungan. Namun, yakinlah bahwa usaha ini terbilang masih luas pasarnya. Dan masih dapat dikembangkan ke kota- kota lain. Lumayan buat ibu lain membantu suami agar dapur keluarga mengepul.

Jualan Rendang Jengkol Ramadhan Makin Menguntungkan

Profil Pengusaha Margaretha Chrisna Sari 


 
Tidak mudah bagi Margaretha Chrisna Sari berbisnis. Pengalamannya berjualan fasion online panjang tidak sampai membuat sukses. Hingga dia memutuskan banting stir menjadi pengusaha rendang. Namanya dikenal sebagai pemilik rendang Den Lapeh. Kisah Erita perlu kamu tau dimulai dari hobi berjualan pakaian online.

Moment Lebaran memang menguntungkan. Mangkanya dia memilih berbisnis pakaian. Kan ketika Idul Fitri permintaan pakaian naik tinggi. Dia bercerita pengalaman berbisnis online. Masa panen bagi penjual online tetapi kendala tentu besar. Salah satunya bagaimana agar tidak kwalahan menyetok pakaian buat dijual nanti.

Kalender panen usaha menjadi solusi. Erita menjelaskan fungsinya yaitu bagaimana merencanakan matang penjualan khusus di Idul Fitri. Semacam "to do list" mengani hal apa dibutuhkan pengusaha. Dia sendiri biasa membuat dan menerapkan sistem empat tahap:

Tahap pertama, empat bulan sebelum Lebaran, menyiapkan modal buat membeli barang dan juga mulai aktif mengamati trend pasar. Sumber modal buat kamu pengusaha musiman. Cobalah untuk menjual aset ataupun menggadai, menawarkan investasi ke investor, atau juga meminjam ke keluarga buat dipakai dulu.

Bagaimana mencari tau produk yang sedang trend. Ia menyarankan datang ke supermarket atau pasar. Aktif lah mengamati produk ditawarkan. Kalau Erita, dia lebih memilih berkunjung ke Tanah Abang, menjadi satu sumber inspirasi mencari barang.

Erita menyarankan sekaligus membeli barang. Pada tahap kedua, pastikan bahwa sudah aktif kumpulkan barang disimpan sebagai persediaan. Ia mengingatkan biasanya produk fasion akan diborong dari suplier, setidaknya 3 bulan sebelum Ramadhan. Ingat persediaan banyak akan meningkatkan pendapatan kamu.

Beda jualan makanan, kalau jualan produk fasion, kamu bisa menyimpan produk kamu dulu. Kalau tidak laku kamu bisa menyimpan dijual tahun depan. Ia mengingatkan juga jangan salah membeli barang. Jangan salah memilih barang untuk dijual. Pastikan barang kamu jual mengikuti trend dan berkualitas bagus.

Tahap ketiga kamu mengevaluasi stok dua bulan sebelum Ramadhan. Biasanya konsumen pada 2 bulan awal sudah mencari barang. Maka omzet kamu harusnya sudah meningkat berangsur. Jika persediaan meningkat dan dirasa stok tidak mencukupi, baiknya kamu bisa tambah.

Mangget konsinyasi atau mencari suplier tambahan. Carilah alternatif sedini mungkin mengatasi masalah. Dia lalu melanjutkan tahap terakhir. Yakni sebulan sebelum Ramadhan, baiknya pengusaha makin rajin dalam hal mengawasi stok. Pengusaha harus tanggap jika persediaan mulai menipis.

Ia mengingatkan mengambil stok baru berarti barang tidak laku. Ingatlah memastikan bahwa produknya masih bagus. Erita menambahkan agar bisa makin laris: Bukalah toko lebih awal dan tutup lebih akhir. Atau memberikan diskon atau menggelar event khusus.

Pastikan produk dijual habis bagaimanapun usahanya. Kalau masa panen selesai, pengusaha seperti kita bisa meraup omzet berlipat dibanding hari biasa. Kalau sudah kumpul uang perhatikan tiga langkah bijak soal modal berikut: 30% dibelikan aset tetap, 60% gunakan sebagai modal, dan 10% barulah dinikmati sendiri.

Dimulai dua tahun belakangan, pengusaha berhijab ini memang memiliki hobi jualan. Tidak salah jika tiba- tiba dia balik arah ke bisnis rendang. Dia berkisah bahwa bisnis rendang terinspirasi Lebaran. Soal resep dia dapat dari nenek dan yakin akan rasanya mampu menarik perhatian.

"Saya pasarkan melalui online shop saja," dia lanjutkan. Walaupun dia membuat manual penghasilan mampu mencapai diharapkan. Kalau masuk bulan puasa maka permintaan meningkat tajam.

Tidak cuma menjual daging tetapi termasuk menjual jengkol. Erita mengolah tidak cuma jengkol, termasuk daging ayam, paru, apapun yang dapat dia buat menjadi rendang.Paling digemari rendang daging sapi disusul rendang paru. Kemudian disusul adalah rendang jengkol dan rendang ayam.

Bulan Ramadhan, dia dibantu tiga karyawan mampu memproduksi 500 pak. Rendang siap saja yang diberinya nama Rendang Den Lapeh. Rendang siap saji dijual 175gram dan 350gram. Dijual Rp.45 ribu sampai Rp.89 ribu.

Penjualan menurut warga Cibinong ini sudah sampai ke Papua. Dia juga pernah mengirim sampai ke negara Inggris, Korea Selatan, Balanda. Biasanya orang asing sukanya rendang daging. Kalau orang Belanda punya ke khususan ke jengkol. Bahkan rendang bikinannya sampai ke Gunung Mount Everest, Himalaya, Nepal.

Kisahnya ada pembeli yang membeli dan ternyata dibawa ke sana. Memang rendang terkenal awet begitu juga rendang miliknya kuat selama sebulan. Prosesnya tidak sederhana juga. Proses penggilingan bumbu dan santan menghabiskan sembilan jam. Kemudian dikemas mesin vakum agar tahan lama tanpa pengawet.

Waktu Ramadhan sampai Lebaran, dia kebanjiran orderan rendang. Omzetnya mencapai Rp.100 juta loh. Ia manambahkan bahkan Walikota Depok, Idris Abdul Shomad, menikmati rendang bikinan Erita terutama rasa pedasnya.

Melukis Kaleng Kerupuk Berbisnis Kriuk

Profil Pengusaha Noviarti Muhidir 


 
Mantan atlet Noviarti Muhidir tidak pernah menyangka. Tidak menyangka bahwa, konsep kesuksesan yang membawa namanya hingga ke manca negara, justru datang dari sampah daur ulang. Dia tidak pernah berpikir konsep sederhana mampu menghasilkan omzet puluhan juta.

Barang bekas tidak selamanya tidak berguna. Ibu enam orang anak ini membuktikan sampah mampu diubah menjadi uang. Bisa dijadikan barang kerajinan bernilai seni dunia. Mulai mendaur limbah kayu bekas, kelang bekas, lalu mendaur ulang kain perca.

Cerita awalnya dimulai dari iseng melukis country diatas kayu bekas. Ternyata banyak orang mengapresiasi hasil karya Nova. Beranjak dia mulai melukis diatas kaleng krupuk, kaleng minyak, kaleng susu, dan banyak lagi lukisan dibuat. Kemudian semua diunggah ke Facebook coba dipamerkan kepada masyarakat luas.

Dia tidak mau menjual. Nova mengaku belum berpikir membisniskan mereka. Dijelaskan oleh wanita paruh baya ini bahwa tidak mudah mencari kaleng bekas. Beruntung lah teman- teman dekat ikut membantu Nova buat mencari kaleng.

Tidak cuma berhenti melukis diatas kaleng. Nova kemudian menyasar ke tong sampah. Bisnis dimulai sejak tahun 2002. Beruntung dia memang memiliki hobi melukis dan menjahit.

Bisnis daur ulang


Dari sekedar melukis kaleng bekas, Nova merambah pembuatan boneka lucu kain perca. Ide awal ketika mengingat anaknya yang masih Taman Kanak- Kanak. Boneka kain perca tersebut ternyata berhasil merebut perhatian masyarakat. Dia membuat boneka ala Amerika dan dilukis karakter agar menarik perhatian.

Sarjana Pendidikan Insititut Keguruan dan Ilmu Keguruan (IKIP) Padang (atau sekarang Universitas Negeri Padang) ini, mengaku mendapat ilmu pembuatan boneka ketika berkunjung ke Arizona, Amerika Serikat. Ia mengaku cuma belajar sehari saja. Semua karena hobi Nova melukis mempermudah proses belajar disana.

"Awalnya sudah memiliki basic melukis dan menjahit," imbuhnya. Boneka buat anaknya ternyata diminati tak hanya sang anak, tetapi teman- teman anaknya tertarik memesan jadilah bisnis lain. Respon positif maka dia melanjutkan usaha dibawah bendera Country Kyra.

Dia lantas mengikuti pameran kerajinan Jakarta Conventional Center (JCC) 2002. Tujuannya mengikuti pameran kerjinan menurut Nova untuk mengetahui selera pasar. Sejak tersebut dia mengikuti aneka bazar maupun pameran, seperti Inacraft. Berkat kegigihan Nova, dia mendapatkan penghargaan salah satu majalah wanita.

Dan produk Nova makin bervariasi dan semua buatan tangan. Total sepuluh jenis barang memanfaatkan limbah daur ulang. Lantas dia membuka gerai Country Kyra di Grand Indonesia. Yakni memanfaatkan sistem jualan konyasi di Toy Kingdom dan Gandaria City.

Walaupun sudah berkembang pesat, Nova tidak lupa memanfaatkan teknologi internet. Penjualan online dia anggap lebih efektif karena dia sendiri berkomunikasi dengan pelanggan. Produknya dijual tidak cuma lokal tetapi sampai ke luar negeri, seperti Australia, Jepang, Thailand, Taiwan, Singapura, Amerika dan lainnya.

Produk dipasarkan Nova dari termurah Rp.25 ribu sampai Rp.2 juta. Omzetnya itu sampai Rp.15 sampai Rp.20 juta loh.

Bisnis kaleng kerupuk


Mantan atlet basket, yang pernah membela DKI Jakarta era 1989- 1993 ini, menyebut kaleng bekas cuma dibersihkan kemudian dilukis. Kemudian dapat dijadikan hiasan ataupun dipakai kembali sebagai perabot rumah tangga. Menggunakan tema Country Style bisnis Nova merebut perhatian masyarakat Indonesia juga.

Kesan mahal hadir lewat lukisan realistis mengenai kehidupan pedesaan. Hari pertama berbisnis saja sudah mampu balik modal. Bahkan hari pertama Nova berbisnis mampu untung Rp.10 juta. Ada sold out dipesan tinggal diambil pembeli. Berawal cuma menjual kayu bekas yang sudah dilukis indah, dijadikan hiasan rumah.

Jumlah karyawan Country Kyra ada empat orang. Dimana dia secara khusus mengajari mereka bagaimana melukis. Setiap karyawan melukis diatas media berbeda. Dari kaleng mentega, kaleng minyak, juga kaleng krupuk. Sebelumnya itu dibersihkan akrilik ramah pakai dan kemudian dicat lukis sesuai teman diinginkan.

"...sifatnya non- toxic," tegas Nova. Guna kaleng juga diubah sampai multi- tasking. Nova mengajarkan kita bahwa barang bekas bisa buat tempat baju, mainan, majalah buku, pokoknya bagi Nova barang- barang yang terlihat tidak berguna ini bisa didayagunakan.

Menjual melalui pameran dan bazar, Nova mengaku mampu balik modal dan mengantungi untung bersih sampai Rp.10 juta. Sudah bermain bisnis cukup lama, brand miliknya sudah dikenal jadi jangan salahkan jika harganya katanya terbilang mahal. Namun tetap lukisan diatas kaleng krupuk tetap diminati karena keunikan.

Harga jual produk antara Rp.300 ribu sampai Rp.500 ribuan. "Banyak orang bilang mahal. Tapi ini kan cat nya cat akrilik," tuturnya. Mahal memang tapi supaya aman buat di rumah. Agar tidak meracuni keluarga kita terutama anak- anak kita. Jika dilihat dari segi seni maka pantas karena lukisan Nova memang berkelas.

Berawal dari keisengan, wanita asal Bintaro kelahiran 1964 ini, mulai mengecat- ngecat barang bekas lantas diminati orang melihatnya. Tidak cuma lukisan dia mengerjakan aneka boneka perca bordiran. Semuanya dia jual selain melalui sosial media juga melalui offline.

Peci Kopiah Anak Bergambar Kartun Untung Jutaan

Profil Pengusaha Ahmad Irwan


 
Kopiah seoalah ditelan masa. Padahal jika kita runut kebelakang kopiah merupakan identitas. Tidak ada satu presiden yang tidak memakai kopiah. Seolah sudah menjadi identitas petinggi negara. Kegunaanya tidak lagi berhenti buat sholat tetapi fasion itu sendiri. Inilah nampaknya peluang ditangkap oleh Ahmad Irwan.

Siapa sangka sosok sederhana ini seorang pengusaha. Sukses bahkan katanya nih, Ahmad meraup omzet mencapai ratusan juta. Seperti ditulis di SindoNews dikatakan bahwa dia mengantongi Rp.500 juta. Atau dia menjual sebanyak 300 kodi sekali produksi per- bulan.

Bukan sembarang kopiah biasa. Usaha pembuatan kopiah ini menyasar anak- anak. Lewat imajinasi mereka lah pria asal Bogor ini kaya. "Saya saat itu masih buta soal bisnis," kenang Ahmad, ketika melihat sang ayah sedang menjalankan usaha keluarga. Usaha keluarga yang dirintis ayah Ahmad dulu tidak seramai sekarang.

Usaha tersebut dibangun di Gersik sejak 1970 -an. Kemudian berpindah tangan ke Ahmad karena ayah dipanggil Sang Khalik. Waktu itu, tahun 1991, dia masihlah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan waktu itu masih kelas 3 jadilah wajar tidak tau. 

Dia hanya tau perusahaan ayahnya membuat kopiah hitam. Setumpuk- tumpuk kopiah tanpa corak ditumpuk di pabriknya. Anak SMP itu lantas menyerahkan jalannya usaha kepada pegawai ayah.

Bisnis mendadak


Lantaran buta soal bisnis maka wajar dia dikibuli orang dulu. Dia lalu bercerita pelajaran pertama bisnisnya tentang kepercayaan. Pegawai kepercayaan keluarga malah membuat rugi. Selama berjalan waktu, dia baru menyadari, bahwa sang pegawai mengalihkan pembayaran klien ke rekeningnya sendiri.

Total dia kehilangan 30% transaksi bisnis. Menyadari hal tersebut, seketika dia meminta ijin kepada kepala sekolah buat waktu khusus untuk usahanya. Singkat cerita dia diijinkan mengurus ke Bank. Dia beri waktu khusus urusan ke Bank, yang mana waktu bukanya dibawah pukul 12 siang.

Memasuki masa SMA, tepatnya dua tahun kemudian, dia total mengurus usaha keluarganya itu. Dan anak sulung dari dua bersaudara tersebut tetap mendapatkan cobaan. Memang berbisnis tidak semudah membalik telapak tangan, ujar pria kelahiran 1974 ini.

Tahun 1998, usaha Ahmad terimbas krisis moneter, dimana cobaan sekarang berupa naiknya harga bahan baku membuat kopiah. Harga bahan baku melonjak tidak dapat ditebak. Kemudian tiga toko distributor di Pasar Anyer, Bogor, ketiganya terbakar sekaligus. Rugi besar lantaran barang distok ludes terbakar belum laku.

Krisis moneter membuat Ahmad kehilangan stok. Dia rugi lebih dari Rp.180 juta lantaran barang ludes ikut terbakar. Namun dia tetap berproduksi bermodal seadanya. Ayah empat anak ini mendapatkan cobaan lain yakni enam tahun selepasnya.

Dua toko milik distributornya di Pasar Tanah Abang terbakar. Kerugian mencapai Rp.100 juta, memang tak sebesar dulu tetapi membuat Ahmad tertekan. Dia sempat trauma buat berbisnis kembali. Karena kejadian kali ini dia sempat berhenti berproduksi. Ahmad sempat menjadi pengangguran karena tidak ada pilihan.

Rasa takut justru menjadi semangat. Entah mendapatkan ilham apa, ia malah bersemangat buat membuktikan bahwa dia bisa. Mungkin karena waktu itu dia merasa diremehkan orang. Perasaan dihina justru membuat dia bersemangat membukitkan, seperti dikisahkannya dalam artikel tersebut.

"Saya terpacu untuk bangkit kerena tidak ingin diremehkan, bahkan oleh keluarga sendiri," kenangnya. Inilah yang membuat proses produksi ditingkatkan.

Untung ada CSR dari Petrokimia menjadi jalan. Uang sebesar Rp.10 juta digunakan buat memproduksi. Dia kembali aktif dan mulai mengikuti sejumlah pameran. Dari sanalah lahir bisnis UD. Gading Gajah, yang mana produk andalannya NYIL dan Al Ichsan, yang mana bentuk ekspansi bisnis seorang Ahmad Irwan.

Melalui pameran dia mulai memahami selera pasar. Termasuk merencanakan penyempurnaan produk kopiah miliknya. Lankah selanjutnya dalam produksi ialah eksplorasi. Dia merancang kemungkinan buat membuat motif diluar kopiah hitam biasa.

Dia menemukan lebih dari 30 motif. Dia mantapkan diri menggarap pasar anak- anak. Kopiah yang memiliki aneka tema untuk desain motifnya. Ahmad membuat motif klub bola dan karakter kartun. Awalnya dia cuma mau menarik perhatian saja. Coba- coba dia melihat pasar dan pembeli meminati toko kartun seperi Naruto.

Dia lantas membuat aneka tokoh kartun. Daya tarik pasar didukung minat anak- anak sekarang. Juga satu kebutuhan akan orang tua buat mendidik anak beribadah. Ia mulai membuat aneka karakter kartun yang dia liat terbukti digandrungi anak- anak.

Kopiah motif bola juga menjadi primadona bagi pembeli anak- anak. Tidak cuma anak kecil tetapi dewasa juga punya. Alasan mereka karena ingin mengoleksi segala pernak- pernik klub kesayangannya. Mereka ini para kolektor pencari pernak- pernik. Juga dibuat kompak dengan atribut baju koko berkonsep club sama.

Bisnis Ahmad semakin sukses berkat tepat membidik pasar. Dia memindahkan pasar ke Sumatra dan hasil penjualan meningkat. Ahmad bahkan masuk ke butik loh. Harga jual ditawarkan juga naik karena sudah bisa masuk ke butik. Bagaimana dia sepintar sekarang, bukan lagi kalau tidak karena pengalaman bisnisnya.

Semua berawal dari pesanan dari pusat perbelanjaan Sarinah. Wawasan Ahmad terbuka tentang bagaimana cara masuk ke butik. Alhasil sekarang dia mencetak dua jenis: kopiah buat pasar tradisional dan buat pasar swalayan atau butik.

Bisnisnya tersebar ke Sumatra, yakni Pekabaru, Medan, Palembang dan Batam. Untuk pasarnya di Jawa ada di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Perbulan dia memproduksi 500 kodi omzetnya mencapai Rp.500 juta. Ia bahkan menyebutkan omzet naik dua kali lipat, utamanya ketika masuk dua bulan menjelang puasa. Dia mendapat Rp.300 juta untuk bulan puasa saja. Nilai omzet segitu jelasnya berasal dari butik mencapai 60 persen dari penjualan.

Harga jual butik dikisaran Rp.600 ribu sampai Rp.1 juta per- kodi. Kalau harga di pasaran tradisional cuma mencapai Rp.350 ribu per- kodi. Ahmad juga tidak seketika memasarkan produk ke suatu tempat. Dia lebih memilih mengamati pasar agar produknya sesuai.

UD Gading Gajah memilih fleksibel soal produksi setiap bulan. "...supaya sama- sama menguntungkan," imbuh dia. Dia sendiri tidak takut bersaing dengan produk serupa dari produksinya. Ahmad malah bangga karena menjadi pelopor bisnis kopiah.

Dia meyakini kopiah harus makin kreatif. Supaya tidak ketinggalan ditelan masa. Kunci suksesnya berada di selalu fokus mengerjakan sesuatu. Jangan menyerah ketika ada masalah. Ahmad juga mengingatkan agar kita selalu kreatif menciptakan trobosan. Harus mampu mengamati produk apa yang disukai konsumen kalian.

Untuk itu dia bahkan membuat manekin sendiri. "...dan interior pameran supaya produk terlihat yang terbaik di mata konsumen," imbuhnya.

Inspirasi Mengajari Anak Sholat Berbuah Bisnis

Profil Pengusaha Nenden Nurjanah



Inspirasi mengajarkan anak sholat berbuah manis. Dari sekedar ide dadakan berubah menjadi bisnis sukses. Inilah kisah Nenden Nurjanah (29 tahun), pengusaha pembuat sajadah khusus anak. Sajadah lucu dibuat khusus agar anak tertarik mau sholat. Warna- warna ngejreng menunjukan keceriaan sesuai dunia anak kita.

Meninggalkan bisnis semula mereka yakni pembuatan boneka. Berawal dari usaha milik keluarga bernama Panda Berdikari sejak 1982. Yang semenjak tahun 2005 mulai bergeser ke boneka peraga, khusus anak usia dini PAUD dan TK. Hingga tahun 2009 sepenuhnya berbisnis sajadah sampai sekarang.

Permintaan boneka menurun menjadi alasan lain. Berbekal bahan membuat boneka yaitu bahan katun serta diadora. Jadilah Nenden membuat aneka sajadah bermotif lucu. Sajadah bermotif kartun Thomas Kereta Api, Cars, Upin & Ipin, Angry Bird, serta motif buatan sendiri baik bertema binatang, tanaman, atau alat transportasi.

Total ada 40 motif diedarkan ke pasaran. Nenden dibantu delapan bekerja dan bertambah jika masuk empat bulan sebelum Lebaran.

Bisnis mengajar


Usaha bernama Nafeesa Kids ini bukanlah tanpa hambatan. Nenden sendiri mengaku tidak bisa jahit. Lalu dia mengajak sang suami bersama memulai dari nol. Dengan meminjam pegawai usaha keluarga, Nenden bersemangat menyambut pagi. Sang suami sendiri ikut membantu desain dan memproduksi.

Perempuan asli Bandung ini memang menyukai dunia anak. Sebagai pengajar baginya mengajak anak buat sholat harus sejak dini. Melalu bisnis ini dijadikan cara terbaik mengajar anak. Harga sajadah dibandrol itu seharga Rp.80 ribu sampai Rp.100 ribu.

Adapula berbentuk paket sajadah dan sarung seharga Rp.150 ribu. Kemudian adapula satu paket sajadah dan juga mukena seharga Rp.220 ribu.

Dia mengajak keluarga. Dibantu adik memasarkan produk ke berbagai penjuru. Untuk pemasaran utama dia fokus menggunakan sosial media, seperti Facebook, Twitter, WeChat, dan BlackBerry Messanger. Melalui pemasaran jejering sosial produknya menyebar ke seluruh penjuru Indonesia.

Tidak cuma disitu, dia juga merambah pasar luar negeri, utamanya pasar negara tetangga Malaysia. Meski sudah tersebar masih belum puas. Nenden mengakui penyebaran produk Nafeesa Kids masih belum merata. Dia sekarang ini lebih fokus ke membenahi sistem ditribusi agar produk sajadahnya merata.

Kunci sukses pengusaha ibu dua anak ini. Dia menyebutkan ada di kualitas produk. Menomor satukan soal kualitas produk memang wajib. Baginya konsumen tidak boleh kecewa begitu menerima barang. Kunci ini dibawa sampai sekarang dia menghasilkan omzet puluhan juta.

Bayangkan di bulan Ramadhan menghasilkan Rp.90 juta sebulan itu. Sedangkan buat sehari- hari, Nenden mampu mengais omzet Rp.40 juta sampai Rp.50 juta. Dimana dia mengaku margin keuntungan mencapai angka 50% atau Rp.20- 45 juta per- bulan.

Contoh Sukses Warung Pecel Bu Wied Barokah

Profil Pengusaha Wiedyanti 


 
Tidak semua usaha keluarga berjalan lancar. Beberapa anak memilih membuka usaha sendiri, tidak maunya meneruskan usaha keluarga. Beberapa orang terpaksa menjalankan amanah tersebut. Namun tidak sedikit orang ikhlas menjalankan usaha keluarga sebagai bakti maupun passion.

Panggilan hati Wiedyanti melanjutkan usaha keluarga. Wanita 56 tahun ini merupakan anak pemilik usaha pecel asli Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Nama usaha Warung Pecel Bu Wied, karena dijalankan penuh ikhas oleh Wiedyanti alhasil usaha tersebut makin moncer.

"Ya, saya pilih pecel karena disamping tradisional juga sayuran kan lebih banyak peminatnya," ujar dia jelas singkat.

Meneruskan usaha ibu bukan berarti tanpa modal. Berkisah dia mengeluarkan uang Rp.500 ribu. Ibu empat putra ini telah mampu mengantungi Rp.7 juta sampai Rp.10 juta per- bulan. Untung memang banyak yah ia menyebut karena harga sayur tidak terlalu mahal.

Kualitas bumbu kacang pecel Bu Wied memang legit. Itulah kenapa pelanggan akan kembali apalagi harga murah. "Yang penting semuanya senang, pelanggan balik lagi," tandasnya.

Dia sendiri tidak mau untung sendiri. Wied mendapatkan bantuan banyak orang. Saking ramainya ketika hari libur dia dibantu lima orang. Kalau hari biasanya Bu Wied cuma dibantu dua orang karyawan. Kalau di hari biasa memang tidak begitu ramai. Tetapi karena enak pelanggan pastilah akan balik lagi.

Rahasia bisnis pecel


Sebagai pengusaha perjalanan Wied memang tidak gampang. Dia berkisah pernah mengalami masa dimana tidak ada pembeli. Susahnya mencari pelanggan pernah dirasakan dia. Wied cuma berdoa kepada Allah agar diberi kesabaran serta kesuksesan nanti. Bertahap usaha sederhana itu mulai membenahi diri mengikuti arus.

Warung Pecel Bu Wied terkenal rasanya. Berkat kegigihan dan selalu menjaga pelanggan, membuat Bu Wied mampu menguliahkan dan menjadikan putra- putranya pegawai negeri. Dia begitu terharu dari cuma jualan pecel mampu menghantarkan anak- anaknya mapan.

Tiga putra Bu Wied menjadi pegawai negeri sipil. Sementara satu lagi memilih membantu ibunya berjualan. Mungkin yang satu ini lebih berminat ke dunia wirausaha. Mereka yang menjadi PNS bertempat di Medan, Kalimantan dan Jakarta. "Mereka suka pulang kesini," tuturnya terharu.

Prinsip usaha Bu Wied adalah demi keluarga. Dia bekerja sekuat tenaga agar anaknya jadi orang. Tidak apa jika dia tidak bersekolah tinggi asalkan anaknya sukses. "...anak- anaknya bisa kuliah semua, bisa sukses. Saya kadang- kadang enggak percaya, kok bisa ya," imbuhnya.

Ia mengingatkan pengusaha muda bahwa tidak ada usaha sia- sia. Terpenting bagi pengusaha menurut dia adalah harus ulet, ikhlas, dan jujur, maka akan dimudahkan segalanya. Menurut Wied tidak ada usaha sia- sia. Asal kita mengikuti tiga kunci diatas -ulet, ikhlas, dan jujur- maka usaha akan berjalan sesuai arahnya.

"Kalau moda bisa dicari kan, kalau kitanya ulet," imbuh dia.

Usaha sederhana untung banyak

Pelanggan Wied kabanyakan warga sekitar. Jadilah pastikan usaha kamu dekat dengan tempat keramaian. Ia menuturkan usaha buka pukul 08.00- 09.00 wib kalau dihari biasa dan pukul 06.00 kalau akhir pekan. Untuk konsep bisnis ditawarkan Bu Wied terbilang unik dan modern.

Dia menawarkann konsep prasmanan. Tujuan dia agar pelanggan tidak ribet dan dia enak. Pembeli sesuai selera bisa memilih sesuai selera. Kalau ia pilihkan terkadang malah dibuang. Mubazir katanya,  terbukti dari konsep prasmanan membuat usaha Bu Wied lebih menonjol.

Pembeli tidak mengeluh sampai saat ini. Kualitas masakan Bu Wied memang jos gandos. Kebanyakan sudah jadi pelanggan tetap pecel Bu Wied. "Saya menjaga mutu, harga naik tidak apa- apa yang penting mulutnya terjaga," imbuhnya. Biarkan saja produk kamu naik sesuaikan modal tanpa mengurangi cita rasa.

Takaran bumbu tidak berubah meski harga cabe naik, misalnya. Wied tidak pernah mengurangi takaran dari bumbu pecelnya. Namun dia tetap berharap harga tetap stabil tidak berubah. Tujuannya agar memudahkan dia menentukan harga tidak merepotkan.

Kadang naik- kadang turun membingungkan Wied. Dia sendiri susah menaikan meski kenaikan tidak dapat dihindari -kualitas merupakan nomor satu. "Kalau jualan gini kan enggak bisa naiki harga sembarangan," ia menutup.

Menjual Bandeng Cabut Duri Untung Muslim Semarang

Profil Pengusaha Sukses Muslim 



Tidak mudah bagi Muslim memulai usaha. Namun tekat menjadi pengusaha menghantarkan sosoknya seperti sekarang. Dia dikenal sebagai pengusaha bandeng cabut duri. Bukan perkara mudah sekali lagi, dia pernah bekerja menjadi kuli panggul, cleaning service, menjajal jualan bakso, kemudian bisnis pengiriman paket.

Semua dilakoni Muslim guna memenuhi kebutuhan keluarga. Selain, memenuhi hasratnya menjadi pengusaha sukses, siapa sangka setelah tiga tahun barulah berasa sukses. Muslim mau bekerja apapun. Hingga dia mulai menggeluti bisnis bandeng. Inspirasi bisnis berkat ketrampilan yang ditularkan teman asal Rusun Kalegawe.

"Karena saya ingin belajar, saya sampai ikut juga mengantarkan pesanan (bandeng)," imbuhnya. Mulai lah dia belajar seluk beluk bandeng cabut duri. Selepas paham betul dia lantas mengajak beberapa teman membuka usaha ini.

Sayang tidak kecocokan membuat mereka bubar. Muslim memilih berbisnis bandeng cabut duri sendiri. Ia cuma berpikir usaha tersebut belum banyak di Semarang. Bermodal uang tiga jutaan ditambah tekat kuat jadi tenaga tambahan Muslim.

Bisnis nekat


Dia cuma berbekal peralatan seadanya buat cabut duri. Uang Rp.3 juta dibelikan 10 kilogram ikan bandeng. Lalu dia mencabut durinya lewat teknik khusus. Selesai ia lantas memasarkan produknya lewat acara arisan atau pertemuan warga. Lambat laun usaha dijalankan Muslim dikenal masyarakat.

Pembeli tidak cuma orang Semarang, hingga luar kota. Usaha tersebut memang masih baru lantaran berdiri pada 2013 silam. Meski begitu usaha ini jangan dipandang sebelah mata. Jika awal hanya mengolah 10kg sekarang dia mengolah 65kg bandeng cabut duri. Bandeng tersebut lantas dipasarkan ke Pasar Kaligawe, Semarang.

Muslim tidak memakai jasa pemasok. Kalau kamu mau menjadi penjual baiknya datang langsung. Jadi bisa memilih langsung bandeng berkualitas dan barapa banyak dibutuhkan. Proses produksi masih memanfaatkan rumah sendiri. Dia sendiri memilik target membuka pabrik bandeng cabut duri sendiri.

Ia membuka tempat lagi tepatnya di sebelah timur rumahnya. Dia dibantu empat orang karyawan. Tugas mereka berbeda- beda mulai membersihkan ikan, menyembelih ikan dan membersihkan kotoran, mencabut duri, sampai ke pengemasan di freezer.

Tips memilih bandeng ialah masih segar, tidak terlalu kenyal ataupun gembur, lalu mata ikan juga tidak merah. Jika dulu sendirian bekerja dari pagi menjelang sampai larut malam. Kini, dibantu karyawan, usahanya baru dimulai pukul 9 pagi, istrihat pukul dua belas, lalu dilanjutkan kembali pukul setengah satu sampai setengah lima.

Bagi Muslim apa dikerjannya dimasa lalu adalah kewajiban. Bagi kamu mau jadi pengusaha sukses harulah bekerja keras. Tidak mengenal kata libur. Adalah kewajiban memastikan permintaan pelanggan. Rajinlah berpromosi meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang produk kita.

Usaha ini menang tender mengirim ke RSUP Dr. Karyadi, juga sudah masuk dua restoran di Semarang, dan masuk pasar tradisional. Ekspansi bisnis Mulsim termasuk nuget bandeng yang dipesan RSUP Dr. Karyadi baru- baru ini. Produk nuget karyanya mencapai 30- 35kg.

Meski sudah sukses masalah juga ada. Termasuk bagaimana mensinergi usaha, termasuk dengan pemerintah, kemudian startegi bisnis mendatang, bagaimana menata keuangan dan lainnya. Dia mengaku butuh seorang konsultas bisnis. Bandeng cabut duri diharapkan dia menjadi oleh- oleh khas selain bandeng presto.


Usaha dilakoni Muslim bukan tanpa hambatan. Namun dukungan istri terutama, Bu Fikri, membuat ayah dua anak ini tetap maju. Ketika ditemui mahasiswa magang sang istri tengah membantu. Waktu itu dia tengah jadi pengganti pegawai yang sedang pulang kampung. Pengusaha 32 tahun ini merupakan warga Tambakaji, Ngaliyan.

Muslim mengaku keluarga merupakan faktor utama. Awal usahanya untuk menghidupi keluarga. Mulai dari menyekolahkan anak dan hidup tenang. Dengan dukungan keluarga usahanya tumbuh stabil. Meskipun telah sukses dia tetap sederhana.

Omzet Muslim mencapai Rp.50 juta per- bulan. Faktor sukses seorang Muslim adalah konsisten, terutama soal kualitas produk, termasuk bertanggung jawab jika terjadi masalah dipengiriman. Bahkan Muslim berani mengganti jika ada masalah. Merajakan pelanggan ialah cara Muslim memenangkan hati pelanggan.

Kendala lain yaitu dimana pada bulan sembilan dan delapan susah dapat ikan. Harga ikan juga naik di bulan tersebut.

"Teruslah belajar dan mencoba serata jangan takut gagal. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya" saran dari Muslim.

Dendeng Ikan Rinuak Minang Bermodal Seratus Ribu

Profil Pengusaha  Fatma Dewi




Usaha murah dengan modal cuma seratus ribu. Inilah kisah Fatma Dewi menyulap selembaran Rp.100 ribu jadi jutaan rupiah. Sukses Dewi berkat kuliner dendeng buatan rumah. Ia menyebutkan rahasia sukses ialah kepercayaan konsumen akan produknya. Modal cuma ratusan ribu tidak masalah asal berkualitas mewah.

Rahasia sukses berupa prinsip sederhana. Kepercayaan yang dijaganya sampai sekarang dikenal masyarakat luas. Untung uang dirasanya datang karena ia membangun kepercayaan konsumen. "Biarlah rugi, asalkan kepercayaan orang bisa terjaga," terang Dewi.

Wanita berjilbab asal Lubuk Basung, Sumatra Barat, memang suka ikan rinuak. Ikan khas Minang ini suka diolah menjadi aneka masakan. Maka Dewi tinggal merubah selera asal menjadi memasyarakat, dan mudah dicerna. Lantas Dendeng Rinuak lahir ditangan wanita ini berkat kreatifitas.

Memang kuliner baru karena dia lah pelopor makanan ini. Ikan rinuak memang sudah dikenal seperti halnya ikan teri. Ikan berukuran kecil, biasanya diolah digoreng menjadi balado ataupun pepes, tetapi baru untuk didendeng.

Semua dimulai tahun 2004 silam ketika datang ke Maninjau. Ia menemuukan kembali rinuak semasa kecil. Ini bukanlah barang baru baginya karena sejak kecil. Sejak kecil dia hobi mengkonsumsi rinuak karena ia berumah dekat danau. Sekarang setelah dewasa, Dewi menemukan potensi tersendiri, sebuah ide bisnis di benaknya.

Diogrengnya ikan ke esokan harinya ditambah beberapa bumbu. Kemudian dipipihkan layaknya dendeng daging. Dari spontanitas itulah terlahir masakan unik dan ide bisnis. Memang, ternyata rasanya gurih, enak, tidak kalah sama yang berbahan daging.

"Sebelumnya belum ada," ia imbuhkan.

Orang pasti mengira dendeng cuma daging. Tetapi dengan ikan ditumbuk kecil, dihancurkan, lantas diolah sedemikian dan dijadikan lembaran tipis jadilah dendeng. Inilah cikal bakal Dendeng Rinuak.

Ibu pembuat kue ini lantas banting stir berbisnis rinuak. Dendeng Rinuak dianggapnya memiliki cita rasa. Juga potensi menjadi bisnis. Sebelum dipasarkan luas, maka Dewi mencoba menjajakan ke teman- teman. Dia mengaku tidak sedikit tanggapan yang terkesan mengejek.

Dia tetap move on. Anggapnya karena belum terbiasa saja. Memang sebagian orang belum pernah dengar tentang ikan didendeng. Banyak orang menanggapi dendeng Dewi, "...itu makanana apaan." Seketika ketika Dewi mengatakan ini dendeng ikan. Pikiran mereka sudah berkonotasi pastilah rasanya tidak enak.

Untuk masalah ini diberinya taster mencicipi langsung. Dewi sendiri awalnya memang ragu. Namun dia selalu meyakinkan dirinya bahwa dia memberikan terbaik.

Keyakinan tersebut memberikan efek positif. Pujian terlontar ketika mereka merasakan Dendeng Rinuak. Pada ujungnya banyak pesanan berdatangan kepada Dewi. Usaha tersebut lantas dibawa ke ranah yang lebih serius. Dia membawa ke toko- toko Padang dengan kemasan modern lebih menarik hati.

Bisnis serius


Mampu menggaet pembeli membeli Dendeng Rinuak. Tugas seorang Dewi bukanlah berhenti. Agar lebih bisa meyakinkan pembeli dibutuhkan bukti. Oleh karena itu ia mulai mengurus syarat administrasinya. Mulai dari PIRT atau pangan industri rumah tangga, ataupun lebel halal. Prosesnya diakui memakan waktu yang lama.

Tetapi bagi Dewi proses tersebut diatas dibutuhkan. Sembar menunggu, ia terus mengadakan pembenahan termasuk dalam hal kemasan. Kemasan 1 ons dihargai Rp.15.000, 1/4 kg dan 1,2 kg seharga kelipatan dari angka lima belas ribu. Kini produknya sudah tersedia di aneka toko oleh- oleh khas Padang dan Bukittinggi.

Baru- baru ini, menurut informasi Detik.com, penjualan Dendeng Rinuak sudah merambat menjalar sampai ke Pekanbaru, Riau, dibantu beberapa rekan menjadi agen. "Tadinya antar barang sendiri naik kendaraan umum. Sekarang sudah pakain kendaraan sendiri," Dewi mengenang.

Dewi menyulap ruma menjadi pabrik dendeng. Dibantu dua pegawai, usaha rumahan ini telah memproduksi sampai 15kg Dendeng Rinuak dalam sehari. Penjualan sudah menembus angka Rp.12 juta denga laba bersih sekitar Rp.5 juta.

Media promosi masih cenderung tradisional. Ia memanfaatkan marketing mulut ke mulut. Kedepannya tidak bisa dipungkiri ia menginginkan media sosial. Keinginan menjadi Dendeng Rinuak menjadi ikon oleh- oleh memang besar. Ia ingin masakannya menjadi oleh- oleh khas Tanah Minang.

Aneka masakan lain juga sudah dikembangkan. Mulai masakan aneka dendeng, peyek, teri goreng, serta abon. Produk abon sendiri masih difokusi sebagai andalan nanti. Tantangan bisnis diakuinya mulai sifat ikan yang musiman. Jika cuaca buruk cuma panen dua kali dalam setahun, alhasil produksi menurun sejalan itu.

Harga menjadi naik sampai Rp.30.000. Sebagai catatan rinuak tidak mampu bertahan lama. Jika membeli maka sehari tersebut harus langsung dimasak. "Paling lama satu hari harus disimpan." Pelatihan pegawai juga penting agar rasa tetap terjaga.

Bangkit Setelah Ditinggal Suami dan Hutang Miliaran

Profil Pengusaha Nani Kurniasari 



Ditinggal suami dan hidup menjadi single parent membuatnya bekerja. Lebih keras dari apapun demi empat orang anak bukanlah hal mudah. Semua demi daput tetap ngebul istilahnya. Hanya tidak semudah itu, tetapi Nani Kurniasari mampu melewati.

Dia berkisah membuka bisnis katering bersama rekan sejak 2008. Namun, harus kandas karena gagal bayar hutang, lebih tepatnya dia bercerita punya hutang Rp.1,5 miliar ditambah Rp.500 juta. Sepanjang waktu itu antara 2003- 2010 memang bisnis katering Nani tengah surut.

Eh, malah dia mengambil hutang Rp.500 juta diatas. Mungkin dia berpikir bahwa bisa membalik nasib. Nani meski begitu gagal dan bangkrut meninggalkan hutang. "...malah jadi tambah utangnya, jadinya malah harus menutup utang sekitar Rp.2 miliar," kenangnya.

Bisnis kasih sayang


Suami pun pergi meninggalkan dia seorang diri. Sudah punya hutang miliaran dan dapat hutang miliaran. Dia tidak mau berlarut- larut. Sedikit Nani mulai membangun bisnis baru dengan modal seadanya. Menata hidup kembali dari nol membangun bisnis lagi dibidang kuliner.

"Saya tidak punya pilihan selain "move on"," Nani menambahkan. Menata hidup lebih baru agar tetap jadi waras. Nani ingin agar anak- anak keurus dengan benar. Tiba- tiba muncul ide membuat selai berdasarkan rasa cinta akan makanan manis.

Lebih tepatnya dia suka kopi manis. Sebelumnya sejak 2010- 2013, praktis dia tidak bekerja, dia menyebut cuma mengandalkan pemberian keluarga. Tahun 2014 mulai berbisnis hijab tetapi tidak begitu untung. Lantas dia mendatangi sebuah life coach penyembuhan diri.

Mendapatkan life coach mulailah berbisnis kembali. Kali ini, Nani menyasar kembali kuliner hanya tidak mau ribet memakai banyak peralatan.

"Saya kan suka masak dan tidak mau ribet kalau katering kan ribet perlatanannya banyak. Nah kalau selai ini mudah dan bisa dikerjain sendiri," tutur dia.

Tiba- tiba tercetus dia mau mengerjakan bisnis karamel. Wanita berhijab yang pernah berkuliah kelautan ini lantas merencanakan bisnis selai karamel. Diakui dia meracik makanan tidak akan mudah. Apalagi ketika itu emosi dirinya tengah terganggu.

Marah dan sedih karena kebangkrutan dan ditinggal suami membuatnya susah. Emosi negatif membuat apa yang dibuatnya tidak berasa enak. Karamel racikannya jadi pahit. Padahal memasak karamel butuh waktu mengaduk kurang lebih 7 jam, mengaduk butuh konsistensi, penuh perasaan dan cinta dibutuhkan.

"Soalnya meleng sedikit, rasa ancur enggak karuan, kekentalan tiba- tiba melenceng dari harapan," jelasnya.

Beruntung dia segera menyadari kesalahannya. Dalam 4 contoh selai cuma 1 botol layak dijual. Bisnis ini dimulai dengan satu varian selai yaitu karamel.

Uang Rp.200.000 dijadikan modal, jadilah produk selai Move One, menunjukan semangat bahwa dia masih memiliki cinta kasih akan berwirausaha. Bisnis ini memiliki omzet Rp.4- 5 juta dalam beberapa bulan saja. Ia pun sudah mengirim sampai ke Papua.

Menjual melalui jasa pengirima ekpedisi ke pelosok nusantara dan di luar sana. Pengiriman luar negeri diakui masih begantung titipan kerabat. Setiap minggu Nani mampu menghasilkan 50 jar dan habis. Kemasan jar yaitu 120ml berharga Rp.40.000 per- jar. "Produksi setiap jum'at," imbuhnya.

"Coach saya bilang fokus untuk kerjain satu walaupun hasilnya kecil tapi harus ditekuni," imbuh dia.

Meski begitu dia butuh waktu seminggu pertama bisa dibilang gagal. Target penjualan saja pernah gagal, ia pernah membuat 10 jar per- minggu tetapi tidak habis. Dia cuma mendapatkan Rp.4- 5 juta sebulan. Dan ia kini mampu mencapai omzet Rp.4 juta per- minggu.

Ibu empat anak ini memiliki strategi pemasaran lewat online. Dibantu dua orang teman, mereka menjual ini lewat Facebook, Instagram dan Twitter. Juga melalui bantuan teman- temannya yang mau mempromosikan si selain karamel Move On ini. Bicara ekspansi adalah dia ingin membuka rumah selai dan produk sejenis lain.

Satu resep pembuatan sampai 10 jam. Pemasaran melalui strategi mulut ke mulut dan melalui sosia. Teman Nani pun diajaknya bagaimana agar bareng ngumpulin modal agar membuat lebih banyak produk. Kemasan pun dipercantik agar dapat dijadikan hadiah oleh teman dibawa ke UK dan Kanada.

Instagram: mamakrempong
Facebook: mamakrempong
Twitter: mamakrempong

Donat Mungil Malang Diantara Inspirasi Bisnis dan Agama

Profil Pengusaha Putri Priyanti 



Tidak pernah disangka akan sesukses kini. Putri Priyanti hanya seorang ibu rumah tangga. Hingga dia sadar bahwa ada potensi bisnis ditangannya. Melalui makanan donat mampu mengantongi omzet mencapai Rp.25 juta per- bulan. Padahal bisnis ini awalnya sekedar sampingan tidak sangka akan sebesar sekarang.

Ulet, kerja keras, dan pantang menyerah menarik perhatian masyarakat. Lihat saja produk disuguhkan oleh bisnis "kecilan" Donat Mungil. Yang lambat laun untung bisnisnya tidak semungil namanya.

"Saya pembeli online, donatnya enak. Adonan tidak terlalu manis ditoping," jelas salah satu pelanggan Putri ketika diwawancara.

Usaha rumahan bertempat di rumah sendiri, Oma View daerah Pinggiran Timur, Kota Malang. Modal awal cuma Rp.50 ribu kini menjadi buruan masyarakat di Kota Malang. Ibu muda ini mempekerjakan lima orang wanita menjadi bagian produksi dan kurir antar donat.

Dimulai sejak setahun terakhir dan mengambil banyak perhatian masyarakat. Unik karena ia memadukan marketing sosial media serta marketing tradisional. Bisnis Donat Mungil dikemas sedemikian rupa sehingga tidak kalah kemasan dengan produk donat asing.

Aneka toping dibentuk sedemikian rupa jadi imut. Menarik tidak cuma kemasan tetapi topingnya. Coklat berasa enak tidak enek karena kecil mungil.

Harga perkemasan yakni Rp.15 ribu sampai Rp.63 ribu. Donat Mungil Putri Priyanti telah mampu menarik perhatian masyarakat Malang. Cuma suatu kejadian sempat membuat gaduh ramai di sosial media. Meski begitu ia tetap yakin tidak akan mempengaruhi omzet penjualan.

Alkisah sang pemilik mendapatkan orderan donat bertema Natal. Namun karena tidak sesuai dengan apa yang diyakini pemilik sebagai muslim; permintaan itu ditolak halus. Sayangnya, sosial media memang bermata tua, tajam dan tumpul malah membawa masalah tersebut merembet ke arah kebencian.

Secara tegas Putri menjelaskan ini masalah kepercayaan dirinya. Pengguna sosial media menyebut dirinya diluar nalar karena menulis ucapan Selamat Natal bukan hal besar. Bahkan harusnya dilakukan karena telah menjadi satu bentuk toleransi. 

"Sebagai Muslim kita tidak dibolehkan ya untuk seperti itu (mengucapkan selamat Natal)," tegasnya.

Akibat itulah dia mendapatkan cacian pula. Namun tidak sedikit orang mendukung sikap tegas Putri akan kepercayaanya. Apalagi menurutnya kebebasan agama sudah diatur oleh Undang- Undang. Pihak si Donat Mungil sendiri memang tidak menyebarkan SARA, tetapi menolak untuk menuliskan ucapan Selamat Natal.