Dihina Juri Pengusaha ini Malah Jadi Lebih Kaya

Profil Pengusaha Shaun Pulfrey 



Di tahun 2007, juri- juri acara reality show pengusaha, Dragon's Den menyebut produknya aneh. Tidak akan laku dijual. Peter Jones menyebutnya "otak rambut". James Caan menyebutnya membuang waktu. Duncan Bannantyne menyebut itu mau membuatnya melepas rambut. Dan lagi, Deborah Meaden menyebutnya "sisir kuda".

Sebuah produk bernama Tangle Teezer. Produk sisir rambut mutakhir untuk rambut kusut mu. Bagaimana sih kita bisa menata rambut kita cepat. Tanpa lagi takut membuat rasa sakit layaknya dijambak. Apalagi jika kita akan menyisir rambut anak kita, tentu tidak mau ada rambut yang rontok tertarik.

Diawal mempresentasikan produk sudah ditolak. Bahkan oleh Deborah Meaden, seorang wanita yang tentu membutuhkan produk kecantikan ini. Cuma menunjukan didepan juri langsung dikomentari buruk. Pria yang bernama Shaun Pulfrey ini dikatai bahwa produk kecantikannya tidak akan menjual.

Tidak mau menyerah oleh hinaan tersebut. Coba bayangkan diri kamu dihina di depan acara televisi live. Ia segera membenahi diri dan semakin ambisius. Dia memperbaiki produknya. Dan hasilnya, nilai produknya kini sudah bernilai 200 juta Pound, nilainya lebih tinggi dibanding kekayaan Deborah Meaden yang 40 juta.

Bisnis masa depan


Mungkin jika melihat produknya kasat mata. Di tahun 2007 maka pantas jika Shaun mendapatkan hinaan. Tapi ide dibalik produk Tangle Teezer bernilai masa depan. Orang yang dulu haruslah berhati- hati menyisir anak, agar tidak menjambak, membuat sakit, membuat rambut bercabang, dan sebagainya.

Kini, berkat Tangle Teezer semuanya akan aman terkendali. Meski memiliki nilai masa depan, tidak pernah terpikir oleh juri Dragon's Den. Karena sejujurnya apa dipikirkan Shaun bukanlah hal baru. Juga bukan salah juri karena ketika memprentasikan produknya, Shaun gagal membuat mereka tertarik.

Tetapi masa lalu tinggal lah masa lalu. Shaun telah meninggalkan presentasi kacaunnya. Bayangkan ketika juri bertanya dari 350 orang mencoba, Shaun mengaku 20 orang memberikan timbal balik jujur. Ditambah ketika memberikan demo -kepala patung terlihat rusak rambutnya lengket- ditambah produknya rusak ditengah jalan.

"Saya tidak kecewa tidak mendapatkan uang (modal). Karena saya bisa mendapatkannya dari bank," ia menjawab.

Bagi Shaun, dia hanya ingin mengatakan bahwa produknya benar, merupakan produk masa depan apapun bentuk prototipenya. Dan dia kecewa karena juri tidak melihat apa dibalik Tangle Teezer. Hingga sebuah perusahaan menjualkan produknya sampai beraset 200 juta Pound.

Bisnis dari hinaan


Mungkin karena Shaun mengomentari rambut Deborah. Kala itu, Shaun mengomentari rambutnya diwarnai -padahal itu tidak, tetapi natural. Alhasil dia mungkin kesal dan mengatakan produknya "sampah". Padahal mungkin saja wanita pengusaha satu ini tertarik berinvestasi ke bisnis Shaun.

Shaun awalnya adalah bekerja sebagai hair- stylist. Lebih tepatnya dia jago dalam hal mewarnai rambut pada 1978. Berjalanannya waktu dia bekerja untuk Pierre Alexandre,  Tony&Guy, Nicky Clarke, dan Richard Ward salons. Tahun 2002, dia meluncurkan buku, berjudul Saya Mau Menjadi Pirang.

Opsesinya tentang rambut dimulai sejak 2003. Dia melakukan serangkaian penelitian tentang sisir. Tujuannya adalah menciptakan alat penata rambut profesional. Bertahap dia membiyai untuk pengembangan produk sederhananya dulu.

Dia lalu masuk acara berani menjadi pengusaha Dragon's Den. Dia menawarkan saham 15% atau senilai uang 80.000 Pound. Ketika banyak juri menghina justru keajaiban terjadi. Banyak orang penasaran dan masuk ke website Tangle Teezer. Alhasil situs tersebut crash karena terlalu banyak pengunjung datang.

Sebuah viral tersendiri, pembelian naik jadi 1.500 buah seketika itu. Masuk tahun 2008, perusahaan yang bernama Boots, yang mulai menyetok produk tersebut. Tahun 2009 keuangan perusahaan kecilnya mulai menunjukan kemajuan. Brand Tangle Teezer mulai menghasilkan keuntungan dan memasuki pasar global.

Bisnis Tangle Teezer dalam setahun menghasilkan nilai balik 23,4 juta Pound. Banyak selebriti menjadi fans produknya mulai Victoria Beckham dan Cara Delevinge.

Sembilan tahun kemudian sejak acara Dragon's Den 2007. Dia telah mengekspor sampai 60 negara. Dibantu perusahaan retail Boots nama produknya naik pamor. Kemudian, nama perusahaan besar seperti Exponent, Inflexion, dan Bridgepoint membantu penjualan lebih banyak, dimana nilai asetnya jadi 200 juta Pound.

Uniknya dia merupakan pemegang saham tunggal, atau bisa dibilang, dia mendapatkan untung 100% dari kerja kerasnya.

Bermimpi Mewarisi Penginapan Kecil Eksotis

Profil Pengusaha Lei Andre


  
Bermimpi besar itulah Lei Andre Hofman. Tidak banyak diketahui dari sosok cantik belia ini. Hanya saja dia merupakan sosok pengusaha muda. Andre menurut entrepreneur.com.ph, berumur 19 tahun, mewarisi satu usaha penginapan kecil nan- elok di sebuah kota kecil.

Sebuah penginapan sekaligus butik, merupakan sebuah warisana usaha ditempat strategis, sebuah kota yang kecil terkenal akan pusat olah raga surving. Sekitar utara Kota Dingalan, Filipina, "Jika kamu naik kapal, itu akan membutuhkan beberapa jam untuk sampai di Baler (tempatnya)," singkat Andre.

Butuh waktu karena kota itu diputari gunung. Namanya Fil- Dane Inn terkenal bahkan ketika kamu mengetik namanya di Google. Merupakan warisan kedua orang tuanya didirikan sejak 1990-an. Merupakan tempat pemberhentian sehari. Merupakan tempat menginap semalam backpacker, atau bertraveling sekeluarga.

Untuk menjalankan bisnis, Andre bekerja sendiri bersama satu krew ketika hari biasanya. Kalau musimnya liburan maka dia akan sangat kerepotan, dan bahkan akan mengajak keluarganya bekerja.

Bisnis lokal


Andre tau bisnis tempat wisata butuh sentuhan lokal. Bayangkan mempekerjakan orang bukan orang asli di daerah. Apakah mereka mengetahui segala tentang keindahan tempat itu. Inilah kenapa dia selalu memilih untuk mengajak pekerja asli daerah. Semua hasilnya kan kembali ke kota itu sendiri sebuah kegiatan sosial.



Dia menjadikan modal nilai kearifan lokal. Semua didapatkan dari pelatihan internasional dan tinggal bersama di tempat multi- kulturan. Bagi anak muda 19 tahun merupakan pencapaian luar biasa. Cewek cantik yang berdarah campuran Filipinan- Denmark, ini adalah mahasiswa manajemen Enderun Collage.

Dia bekerja dulu menjadi internship di Kota Denmark. Tempat kelahirannya ini menjadi awal baginya sadar bahwa Filipina memiliki nilai. Dulu dia pernah tinggal di Iran, China, Spanyol, bahkan Saudi Arabia, lalu ia tinggal di Filipina menetap ketika umurnya 16 tahun.

Kembali ke Filipina, dia sudah mengantungi pelajaran informal, bagaimana menghadapai beragam etnis dan kulutran. Tetapi kalau berbicara tentang uang masalah lain.

Di Denmark persamaan kedudukan mencolok. "Itu hal tentang Danish. Kami menyebutnya Jante Law," ia menjelaskan. Di Filipina adanya hirarki kedudukan dalam berbisnis. Perusahaan pastilah tidak akan memberi kemudahan buat karyawan biasa ngopi sama General Manager.

"...dan hanya untuk makan malam dengan mereka, dan diduk disana, dan minum bersama?"

Mulailah dia memperlakukan pekerja sebagai keluarga. Dia bahkan menutup penginapan cuma buat makan bersama mereka.

Dia menyebutkan juga orang Filipina butuh batasan. Nilai profesionalisme butuh garis lurus antara berlaku sopan santun dengan terlalu nyaman bersama pendatang. Meski begitu dia tetap melakukan pendekatan sopan santun asli Filipina, dengan beberapa sentuhan.

Praktiknya daerah penginapan miliknya masih perawan. Jadi dia mengajak pengunjung berkeliling sendiri. Ia juga menciptakan perasaan seperti di rumah sendiri. Makanan dapat disiapkan sendiri di dapur. Kalau bicara koneksi Wi- Fi sudah sudah bagus, tetapi prasarana tempat gym baru akan disediakan mendatang.

Untuk aliran listrik berterima kasih dengan panel surya. Beruntung tempatnya benar- benar banyak sinar matahari panas.

Pengusaha muda


Mengambil alih bisnis keluarga tiga tahun lalu adalah sulit. Bagi pengusaha muda satu ini tidak ada kata jadi. Dia bahkan tidak tau marketing bisnisnya. Butuh waktu buat mendapatkan perhatian dunia. Yah sekarang dia waktu itu langsung menstabilkan pendapatan penginapan.

"Satu pengunjung dalam semalam bagus karena permulaan," ujarnya. Maka targetnya lima tahun kedepan adalah 70% sampai 80%.

Mimpi Andre mengubah kota kecilnya menjadi terbaca di peta. Merupakan tempat nyaman buat mereka yang mau melepaskan rutinitas di kota besar. "Tetapi aku tidak mau merubahnya menjadi tempat hiburan malam," tandasnya.

Jangkauan seorang Andre bahkan mencapai sepuluh tahun kedepan. Dia mengajak pengusaha mudah buat mengikuti petanya. Ia mengajak anak muda buat tetap belajar atau mengikuti karir. Berbisnis dibidang ini memang latar belakang keluarganya, dan dia sangat peduli akan hal tersebut.

Dia sejak dulu memang sudah berwirausaha. Dari usaha produk fasion ketika masa sekolah menengah, lalu dia berbisnis produk kecantikan pas kuliah. Tetapi dia kini mengerjakan bisnis keluarga. Yang dia lihat akan memiliki prospek panjang. Dia melihat bisnis tersebut dengan kecintaan akan tempat asalnya.

"Semua pengunjung adalah raja dan ratu... kamu mau melayani mereka untuk kepuasan sendiri dan kepuasan mereka," tutup Andre.

Biografi Pemilik Gerobak Lumpia Mas Miun

Profil Pengusaha Rizki Ananda 



Namanya pengusaha memiliki jalannya sendiri. Tidak semua datang dari kesengajaan. Dimana kebanyakan nih datang karena "keterpaksaan". Ada istilah karena kepepet menjadi pengusaha sukses. Inilah kisah dari pemilik usaha lumpia Mas Miun. Alkisah dia kesulita biaya kuliah maka berusaha menjadi solusinya.

Dulu, waktu Ospek mahasiswa baru Universitas Padjajaran, entah kenapa pemuda bernama Rizki ini malah dipanggilnya Miun. Pembawa acara memanggil si miun naik ke panggung. Sejak saat itulah teman- teman kampus terbiasa memanggilnya begitu. Ia pun mengamini nama Mas Miun menjadi ikonik bagi dirinya.

Identitas tersebut lantas menjelma menjadi brand. Sebuah nama produk kuliner menjual lumpia basah. Dia masuk Unpad karena beasiswa mahasiswa kurang mampu, Bidikmisi. Maka kesimpulan orang pastilah dia bukan anak orang mampu. Menjadi sosok mandiri sudah biasa mengurangi beban orang tua adalah tujuan.

Dia langsung nyeplos agar orang tua tidak kirim uang lagi. Alasannya beasiswa sudah termasuk uang kos dan biaya kuliah. Sayangnya diluar prediksi bahkan sampai dia telat bayar kuliah. Tiga bulan uang dari beasiswa malah tidak cair. Pusing Rizki menghadapai masalah didepannya seketika.

Bisnis basah

Kepusingan tersebut membawa dilema besar. Apakah akan memberi tahu, atau tidak masalah yang dihadapi pemuda kelahiran 15 Oktober 1991 ini. Awalnya dia sangat senang karena dapat beasiswa. Tetapi kini, ia malah kepusingan karena tidak berjalan lancar.

Padahal setiap harinya ada saja pengeluaran sebagai mahasiswa. Disisi lain dia sadar bahwa ayahnya hanya seorang buruh dan ibunya cuma ibu rumah tangga biasa asal Sumedang. Ibunya terkadang ikutan kerja keras agar menambah biaya lagi.

Dia berpikir tidak mau membebani. Dia yang kalau di rumah akrab dipanggil Nanda, kemudian mendadak, nekat memilih membuka usaha sendiri. Dia iseng jualan gorengan ibu kos. Nanda menjajakan gorengan ke penjuru kampus. Lumayan lama dia jualan gorengan milik ibu kos.

Ketika jualan gorengan muncul ide tentang lumpia basah. Ide terbersit karena di Jatinangor makanan lumpia basah tengah digemari mahasiswa. Pangsa pasar dipikirnya masih belum sesak, terutama di daerah bernama Jatinangor. Seketika dia belajar bagaimana membuat lumpia basah lewat You Tube dan Google.

Agar beda dibanding lumpai lain: Nanda meracik lumpia basah aneka rasa. Dia membulatkan tekat menjadi pengusaha lumpia basah. Dana dibutuhkan kira- kira Rp.6 jutaan, digunakan guna membeli gerobak, bahan baku, aneka peralatan. Tetapi dia tidak memiliki dana cukup, yah jadinya memakai uang seadanya.

Dia memberanikan diri meminjam uang ke teman Rp.2 jutaan. Ditambah uang tabungan dari berjualan aneka gorengan Rp.2 juta. Kebutuhan kurang modalnya Rp.2 jutaan lagi. Ia nekat menego kepada pemilik gerobak agar dikurangi. Beruntung dia mendapatkan diskon dan mulai lah perjalanan seorang mahasiswa jualan.

Sialnya, ketika awal merintis usaha, eh... malahan dia bangkrut total! Hidup sebagai pengusaha sekaligus jadi mehasiswa susah ya. Telisik ternyata tidak cuma karena waktu luang. Rasa lumpia basah menurut pembeli tidak terlalu enak. Tekanan menghampirinya menguji mentalnya sebagai pengusaha agar sukses kelak.

Dia langsung banting stir menjadi pengusaha pakaian. Ia meminta waktu kepada temannya. Dari berjualan itu dia mendapatkan uang Rp.7 juta. Uang Rp.5 juta dijadikan modal kembali berbisnis. Sementara uang Rp2 juta dikembalikan ke temannya. Kemudian dia mulai mengevaluasi kesalahan dalam lumpia basah miliknya.

Bisnis pantang mundur

Dia mulai meracik bumbu yang cocok di lidah. Eksperimen kembali dilakukan dan akhirnya membuahkan hasil. Lumpia basah miliknya mulai mendapatkan pembeli. Lambat tetapi pasti, usahanya berkembang semua berkat lumpia basah seafood, sosis, spesial, baso,dsb.

Dari sebelumnya hanya memiliki satu gerobak. Dia memiliki 6 gerobak lain tersebar di Jatinangor. Promosi mulut ke mulut menjadi andalan Nanda. Tidak cukup, dia juga merambah dunia sosial media, melalu alat berupa aplikasi chatting merambah sampai ke Bandung. Dia pun mendapatkan tantangan dari lumpia lokal disana.

Namun rasanya berbeda memberikan varian. Justru menjadi kuliner favorit mahasiswa dan masyarakat. Ia membuat nama lumpia Mas Miun bergema di Bandung. Target memasuki kawasan pendidikan terbukti ampuh. Ia belajar dari pengalaman ketika berjualan di Jatinangor.

Salah satu gerobak miliknya terparkir di kawasan Fakultas Pertanian Unpad. Ia mengaku pendapatan dari usahanya per- 7 gerai pribadi mencapai Rp.40- 85 juta per- bulan. Kemudian ketika memutuskan membuka kemitraan, dari berjualan bumbu saja sudah untung Rp.20 jutaan.

"Saya buka pas libur panjang, jalan 3 bulan saya bangkrut karena modal banyak dibuat untuk membayar operator," jelasnya, meski sudah membuka cabang, tetap kegagalan tetap menghantui dan menguji mentalnya sebagai pengusaha.

Memiliki usaha berbasi waralaba bukan sembarangan. Dia terus belajar fokus mengembangkan manajemen sendiri. Yakni usaha berbasis kemitraan binaan. Dia juga bekerja sama dengan petani toge asal Cileles. Dia mendapatkan kiriman toge sampai 25kg setiap hari.

Selain sibuk menjadi pengusaha muda, mahasiswa Teknik dan Manajemen Industri Pertanian, Universitas Padjajaran ini juga sibuk menjadi pembicara, motivator, pelatih wirausaha. Ia juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa berbentuk modal usaha. Program Jika Aku Menjadi Mas Miun sudah memiliki 30 kemitraan usaha.

Dari mereka pengusaha keripik, fashion, atau bisnis online binaanya. Uang Rp.300 ribu sampai Rp.3 jutaan diberikan sebagai modal usaha. Total hingga Rp.20 juta digelontorkan membantu pengusaha lain. Dia juga tidak memberikan sebagai pinjaman. Tetapi modal berputar buat dijadikan kesempatan orang lain berusaha.

SMK Sukses Budidaya Pepaya Calisa Terpadu

Profil Pengusaha Muhammad Tono 



Menjadi pengusaha tidak berpatokan dengan latar pendidikan. Siapa saja, berlatar pendidikan setinggi mana saja, bisa menjadi pengusaha sukses kelak. Perlu dibutuhkan ialah fokus dengan tujuan. Bob Sadino telah membuktikan hal tersebut lewat dirinya.

Contoh lah Muhammad Tono seorang lulusan SMK. Jangan diliat latar pendidikannya, tetapi usaha pepaya miliki Tono maju. Pola pikir dikembangan bisnis Tono unik. Dia menganalisa bahwa Tuban kekurangan buah pepaya. Stoknya yang tipis sementara permintaan besar dari masyarakat.

Jadi tidak salah jika dia memilih pepaya Calina IPB-9. Ia mengembangkan bibit. Budidaya buah pepaya ini menghasikan buah pilihan. Untuk satu toko buah paling tidak dibutuhkan 20 buah pepaya. Di Tuban sendiri banyak sekali toko buah sampai puluhan.

"Saya berpikir untuk mengembangkan budidaya pepaya Calina," jelasnya. Dimana dikesempatan bersama Detik.com menyebutkan omzet sampai Rp.11 jutaan.

"...itu belum dikurangi gaji pegawai," celetuknya.

Pemuda kelahiran Julia 1991 ini memang tahan banting bertani. Tidak cuma jualan buah juga berjualan bibit pepaya. Ia setidaknya mampu meraih Rp.10 jutaan per- bulan. Usaha dibawah bendera CV. Negeri Hijau terus mengembangkan pepayanya.

Bisnis agrari


Belum genap setahun bisnisnya sudah lumayan. Ada dua tempat usaha dijalankan Tono. Pertama ada pusat pembibitan pepaya di Kelurahan Mondakan. Kemudian perkebunan pepaya ada di kawasan Desa Tuwiri. Ia mengatakan tempat pembibitan kecil tetapi menghasilkan empat ribu bibit.

Kebun pepaya Tono memiliki seratus pohon. Karena tempatnya kecil Tono tidak memaksa. Ia mengakali dengan memberikan konsep kerja sama. Yakni masyarakat mitra menjadi pemilik tanah, nanti bibitnya beli dari Tono, setelah berbuah maka akan dibeli Tono.

Ia sendiri tidak memaksa kok. Kalau sudah bisa memasarkan sendiri tidak masalah. Setiap dari mitra, Tono biasanya membeli dikisaran harga Rp.3.500 per- kg. Meski berbekal pendidikan SMK, Tono tidak mau kehilangan akal, langsung saja mencari reverensi dari mana saja cara membudidaya pepaya Calina.

Kelebihan pepaya Calina justru dari kecilnya. Karena buah pepaya cenderungnya tidak habis. Disisi lainnya buah Calina lebih manis. Soal produktifitasnya juga termasuk tinggi. Dalam enam bulan pertama sudah siap berbuah. Kalau sudah begitu buah dapat berbuah tiap 1 minggu. Seminggunya cuma boleh diambil sebuah saja ya.

Kenapa tidak memilih buah impor. Tono menjelaskan bermain buah lokal justru jarang pesaing. Yang kamu butuhkan hanyalah bagaimana membaca kebutuhan pasar. Tono menyebut Tuban merupakan daerah sejuk. Cocok buat menanam buah pepaya dan ternyata buah pepaya cukup digemari di masyarakat.

Mitra petani Tono mencapai 35 orang tersebar di wilayah Tuban. Total laha dikelola mitranya mencapai 13 hektar. Satu hektarnya dia menyebut ditanami 1.300 pohon. Jarak antar pohonnya 2 x 2,5 meter. Lalu ia mengingatkan pepaya tidak berkayu jadi jangan terendam air.

Meski tengah sukses Tono tidak berhenti. Jika dia mendapatkan kesempatan belajar. Maka Tono akan siap mengerjakan termasuk pelatihan wirausaha PT. Semen Gresik. Dapat pinjaman modal sampai 20 juta. Udah begitu Tono mendapatkan pelatihan kewirausahaan Wirausaha Muda Kokoh.

Sebagai pengusaha muda Tono siapkan ekspansi. Dia mengaku beternak kambing dan kotorannya. Kotoran dapat dijadikan pupuk buat pepaya Calina miliknya. Dalam sehari mengantungi 10 kantung kotoran. Ini jadi cara efekif mengurangi biaya budidaya pepaya Calina Tono.

Berawal dari prihatin dengan keadaan petani peternak Indonesia. Mereka punya ternak tetapi tanah mereka tidak terurus terawat. Padahal menurutnya peternakan dan pertanian dapat digabungkan. Tahun 2010, sejak lulus Wirausaha Muda Kokoh, uangnya digunakan juga buat membuka usaha ternak kambing.

Usaha dimulai dari 13 ekor kambing beranak pinak. Pola bagi hasil digunakan Tono kembali. Berbekal uang serta kepercayaan masyarakat sudah memiliki 400 ekor. Kambing titipan tersebut sudah termasuk 30 ekor sapi di kandang. Konsep pertanian terpadu menjadi andalan pengusaha muda 22 tahun tersebut.

Air kencing dan kotoran dijadikan pupuk. Ia kemudian menanam terong di lahan 1.000 meter. Sementara pepaya Calina mencapai luas tanah 1,5 hektar. Kambing akan dijual setelah gemuk setelah tiga bulan. Tono mengantungi Rp.150 ribu sampai Rp.200.000 per- ekor. Dia dibantu tujuh orang karyawan warga setempat.

Karyawan Tono mendapatkan Rp.35 ribu per- hari dibayar perbulan. Untuk petani yang lahannya digunakan juga sudah termasuk uang sewa lahan.

Pengusaha Kopiah Tasikmalaya Inspirasi Tanpa Henti

Profil Pengusaha Asep Mulyadi 



Umat Islam di Indonesia kan identik dengan peci. Nah inilah kenapa putra asal Tasikmalaya ini berbisnis. Dia bernama Asep Mulyadi. Pengusaha sederhana memproduksi aneka peci keren. Menurutnya tidak banyak orang mau bergelut di bidang ini.

Bermula dari sebuah usaha konveksi baju sendiri. Tetapi usahanya tidak berjalan lama. Untuk meneruskan hidup akhirnya Asep memilih mengajar di sebuah pesantren. Asep juga mengejar pendidikan formalnya dulu. Makanya usaha konveksi tersebut tidak dia perjuangkan kembali.

Masuk tahun 2010, dimana dia mendapatkan putra kedua, tuntutan hidup memaksa Asep berwirausaha lagi. Kali ini dia memilih berjualan kopiah atau peci. Modal uang Rp.1.500.000 -menggunakan uang anak. Uang tersebut diberikan orang tua Asep buat anaknya yang baru lahir itu. 

"Saya gunakan uang anak... lalu saya belanja dengan uang tersebut," jelasnya. Mau membeli kopiah buatan teman malah harganya tinggi. Asep sendiri buta pasaran kopiah. "Tapi susah laku," kenang Asep. Karena dia merasa bahwa membeli dari teman dan dijual kembali susah; Asep terpikir sesuatu.

Berpikir pasti usahanya tidak akan bertahan lama. Asep memutuskan membuat kopiah sendiri. Tujuannya agar dia paham soal harga pasaran. Meski tanpa pengalaman dia tetap membuat. Dia mencoba. Tetapi hanya beberapa bulan gagal. Asep tetap mencoba lagi hingga kedua kali.

Bapak dua anak ini cuma paham sedikit tentang ilmu ekonomi. Buta soal produksi, distribusi, pemasaran, ia lakukan semua secara intuisi saja. Asep hanya tau dia harus terjun sendiri merasakan pahit getir.

Bisnis perjuangan


Ilmu ekonomi Asep berbekal pengalaman. Satu bulan pertama membuat kopiah gagal. Bulan kedua akhirnya dia dapa dijual tetapi belum bagus. Asep memang mempedulikan kualitas. Dua bulan berselang fokusnya ialah bagaimana membuat produk lebih bagus. Dia mencoba beberapa kali dalam setahun.

Sampai, Asep menemukan formula bagus, waktu itu dia membuat kembali meski semua sendirian. Tekun dan sabar kopiah buatannya kini laku dipasaran. Bertahap kopiah buatannya laku dipasaran. Dan akhirnya Asep bisa membuka lapangan pekerjaan. Dia lantas dibantu 10 karyawan mengerjakan.

Semakin sukses, kini dia sudah memiliki 140 karyawan ditambah 10 orang karyawan freelance. Kopiahnya diproduksi 10 kodi per- hari. Usaha ini seratus persen belajar bisnis otodidak. Asep tidak mengenyam pendidikan manajemen. Boro- boro kuliah, Asep tercatat cuma lulusan paket C atau setara SMA.

Ia mengajak mitra bekerja sama. Alhasil usahanya semaki membesar. Modal kepercayaan merupakan hal terpenting. Bagi Asep kepercayaan harus selalu dijaga. Sisanya adalah soal bagaimana mendapatkan sumber daya manusia berkualitas. Nah, disinlah masalah utama bagi setiap pengusaha muda seperti kita ini.

Kunci mengumpulkan modal uang Asep mudah. Ia tidak mau ke bank. Keribetan tersebut diakali lewat ia meminjam ke pengusaha kain, pengusaha benang, pengusaha bordir. Ada semacam simbiosis saling untung diantara mereka.

Bagianya membangun pola pikir kesukaran sendiri. Modal berupa sumber daya manusia berpola pikir baik sukar. Dia tidak ada lelahnya mendidik karyawan. Sebuah seni dan keindahan sendiri dari berwirausaha. Ia selalu menekankan bekerja lah dengan tanggung jawab.

Tidak cuma bertanggung jawab dengan diri sendiri. Bertanggung jawab lah dengan produk kita buat. Lalu kepada masyarakat yang menggunakan produk kita. Produksi harus semakin bagus agar konsumen puas. Hingga nanti jadilah perusahaan semakin maju dan berkembang mensejahterakan di karyawan sendiri.

Untuk karyawan paling enak mengajari lulusan sekolah dasar. Walau kebanyakan karyawan Asep jebolah sekolah menengah. Mereka lulusan sekolah dasar memang enak diajari bagian produksi. "Tetapi saya enjoy saja Kang, ini kan ibadah juga," Asep mengaku tenang.

Bisnis sederhana berkembang


Jika ditanya sampai mana bisnis kopiah miliknya. Dengan bangga Asep mengaku sudah sampai ke Malaysia, Thailand, Pakistan. Pulau Jawa sendiri hampir sudah seluruh pelosok nama Al Markaz Collection ada. Ia mengatakan mereka penjual selalu mencari produknya. "Bisa jadi kopiah produk saya sangat menarik."

Semula permulaan bisnis Asep jeblok. Bertahap dari kaki lima, toko sampai grosi dimasuki Asep. Dalam kurun waktu tiga tahun Asep terjun sendiri mencari pelanggan. Ia belajar sendiri tentang pasaran. Semua ia geluti sendiri dengan tujuan mempelajari bisnis dari hulu sampai ke hilir.

Pernah kopiahnya dikomplain pelanggan. Ada orang bilang jelek lah lalu tidak mau bayar. Bangganya ketika kerja kerasnya terbayar ketika kopiahnya masuk televisi. Dia bangga banyak artis memakai kopiahnya. Juga ketika momen pemilihan Perdana Menteri Malaysia, banyak warga Malaysia memakai kopiah buatan Asep.

Asep mengaku senang karena bisnisnya tumbuh. Soal omzet mencapai 10% sampai 20% dari 2.000 sampai 3.000 kodi per- bulan. Harganya bervariasi per- kodi seharga Rp.280 ribu dan produksi 100 kodi setiap harinya. Pria kelahiran 28 Agustus 1982 ini ingin perusahaan lebih besar dan mempekerjakan lebih banyak.

Asep kini tengah menambah varian produk. Merambah bisnis fasion, Asep juga mau membuat aneka baju koko. Ia juga sudah berinvestasi di properti loh. Dia ingin membangun sekolah gratis mandiri. Yakni sekolah menghasilkan uang buat membiayai siswa yang masuk disana.

Situs Penyewaan Perlengkapan Bayi Inspirasi

Profil Pengusaha Rinastuti Trapsila Putri 


 
Bisnis penyewaan apa belum banyak. Mungkin jawabannya bisnis penyewaan perlengkapan bayi. Ini kisah seorang pengusaha bernama Rinastuti Trapsila Putri. Yang berbisnis penyewaan perlengkapan bayi lewat media internet. Dia membaca dilema ibu rumah tangga memenuhi kebutuhan sang bayi.

Bukanlah bohong harga kebutuhan bayi lebih mahal. Harga perlengkapan bayi bahkan lebih mahal dibanding harga susu formula. Sebut saja boks bayi, kereta dorong bayi, atau tempat duduk bayi buat mobil, alat bantu belajar bayi, atau meja bayi tinggi, kesemuanya itu mahal kan.

Dilema tersebut dibaca Rina melalui bisnis ini. Tambahan lagi, padahal kalau beli baru, usia pakai juga sudah tanggung tidak lebih dari dua tahun. Kan dibanding keluar banyak uang dan sia- sia, mending kita menyewa ke Rina begitulah kiranya.

Bisnis jarang


Selain menggerus kantong juga makan tempat. Apalagi kalau sudah tidak dipakai mau ditaruh dimana nanti. "Solusi ya sewa perlengkapan bayi! Jauh lebih ekonomis," paparnya. Kalau harga sewa dijamin lebih murah. Kalau sudah tidak terpakai lagi ya tinggal dikembalikan ke Rina.

Dilema ibu muda mengilhami Bunda Rina. Target awal Rina adalah masyarakat Kota Surabaya. Lewat satu situs bernama www.sewaperlengkapanbayisurabaya.com, dirinya menyiapkan sewa perlengakapan mulai dari baby walker, baby bouncer, boks bayi, boks bayi oval, buggy walker, carseat, high chair, stoller juga.

Dia mengatakan tinggal telephon saja. Barang nanti akan diantarkan. Kalaupun sudah habis masa sewa kan tinggal telephon memperpanjang. Rina juga mengatakan pihaknya akan datang sendiri. Kalau sudah waktu menyewa habis akan ada orang mengambil ke rumah, mudah kan?

Berbagai perlengkapan tinggal ditaruh di website. Kontak buat dihubungi juga sudah ada. Kalau ditanya apa kiat sukses pengusahanya: Mengalir saja mengikuti usaha. Tidak ada kiat khusus. Hal terpenting menurutnya justru di pelayanan. Haruslah supel dan ramah kepada pelanggan yang bertanya.

Tidak cuma menghubungi buat menyewa. Terkadang pelanggan malah ikutan curhat rumah tangga. Dengan senang hati Bunda Rini mendengarkan. "Syukur- syukur bisa memberi jalan keluar," tambahnya. Hubungan kekeluargaan menjadi landasan bisnis Rini. Kehangatan Bunda membawa promosi baik dari mulut ke mulut.

Promosi sederhana tersebut ternyata ampuh. Dia sendiri enggan berkata soal keuntungan. Namun, yakinlah bahwa usaha ini terbilang masih luas pasarnya. Dan masih dapat dikembangkan ke kota- kota lain. Lumayan buat ibu lain membantu suami agar dapur keluarga mengepul.

Rendang Resep Nenek Enaknya Omzet 300 Juta

Profil Pengusaha Ivan Daryana 



Bisnis rendang memang menguntungkan. Semenjak namanya masuk dalam daftar makanan terenak di dunia. Rendang kini sudah merambah pasar ekspor. Inilah kisah suami- istri pembuat rendang enak. Kisah seorang Ivan Daryana (40) dan istrinya, Intan Rahmatillah, tak menyangka mampu meraup omzet hingga ratusan juta.

Alkisah Ivan hanyalah pegawai biasa bekerja keras. Gajinya mapan bekerja di sebuah perusahaan besar. Ia meski begitu meresa tidak nyaman. Memang harusnya cukuplah uang pekerjaan sebagai karyawan Garuda Maintenance Facility (GMF- AeroAsia). Dia sudah cukup bergelimangan harta ketika menjadi karyawan.

Namun, sekali lagi, terasa menjanggal dalam benak Ivan. Meski bergaji tinggi pekerjaan tersebut dirasa ia tidak cocok. Padahal Ivan bekerja sesuai bidang dipelajarinya sewaktu kuliah. Dia sendiri adalah lulusan S-2 ITB Teknik Industri, dan memilih keluar resign, kembali ke kampung halaman di Bandung tercinta.

Ia ingin memulai hidup baru. Keingan terkuat ialah membuka usaha sendiri. Namun tidak semudah berkata, dia tidak pernah mewujudkannya. Keinginan tidak ditunjang keadaan. Alhasil hanya menjadi pengangguran tidak bekerja. Sampai Ivan ditawari mengajar menjadi dosen sebuah perguruan tinggi swasta.

"Akhirnya saya memutuskan untuk mengajar dulu," kenang Ivan. Menurut Indotrading.com sebagai dosen, maka pendapatan didapat berbeda ketika menjadi pegawai. Bukannya naik malah turun pendapatan Ivan tidak besar.

Bedanya dia tidak terjebak rutinitas kantor. Jam mengajar pun lebih fleksibel. Karena kebebasan itulah dia mampu membangun rencana mau usaha apa. Kebanyakan dosen memilih mengerjakan proyek. Tetapi dia lebih memilih membuka usaha sendiri.

Sayangnya ide bisnis tidak kunjung muncul. Pengennya berbisnis bermodal sedikit tetapi menghasilkan. Ia akhirnya mendapatkan ide ketika mudik ke rumah nenek. Nenek sang istri yang merupakan keturunan asli Padang. Ketika itu dia sedang menikmati makan di rumah nenek. "Disana disajikan rendang unik," ia lanjut.

"Rendang berbentuk kubus, warna gelap nyaris hitam, dan kering tidak ada minyak," imbuhnya. Walau dia sempat ragu mencicipi tetapi rasanya luar biasa. Rendang buatan nenek sangat enak. Rasanya berbeda dari rendang selama ini dia cicipi.

Berbisnis resep


Istrinya Intan berkata itu merupakan resep keluarga. Katanya nenek Intan justru rendang asli malah begitu. Dia kemudian mengenang dulu. Ayah Ivan pernah meminta rendang bikinan nenek istrinya. Dan ayah Ivan bilang kalau rendang seperti ini susah dicari, dan hanya ada di Padang.

Yah padalah dia sudah lama mendengar tentang rendang tersebut. Namun barulah sadar bahwa rengdang ini benar- benar berbeda. Dan ketika dia mencicipi pertama kali, justru ketika dia membutuhkan ide bisnis maka inilah jawaban atas kengototan seorang Ivan Diryana.

Ayah Ivan adalah seorang dosen yang suka mengerjakan proyek ke Padang. Dari sanalah ayah sadar akan cita rasa sebenarnya rendang Padang, berbeda dengan anaknya Ivan. Singkat ceritanya dia memutuskan buat berjualan rendang. Ide bisnis ini ditelusuri lewat sang istri tentang bagaimana cara membuat rendangnya.

Sang istri kemudian meminta resep bagaimana cara membuatnya. Butuh waktu hingga Intan dinyatakan lulus dari sang nenek. Karena resep turun menurun Intan butuh restu keluarga buat dikomersilkan. Beruntung Ivan diperbolehkan dan akhirnya bisa tersenyum lepas.

Usaha ini kemudian dimulai tahun 2011 berlabel Rendang Nenek. Usaha mereka membuat rendang daging bermodal resep nenek. Brand -nya sederhana yaitu rendang Padang, yang dibikin merupakan hasil resep turun- menurun dari sang nenek. Dibutuhkan modal Rp.1 juta diproduksi sendiri dengan peralatan seadanya.

Ivan tidak memiliki mesin apapun. Kemasan sederhana plastik membuatnya bertahan beberapa hari saja. Ia tidak pantang menyerah. Hasil berjualan disisihkan diputarkan menjadi modal. Menabung sampai mereka punya 1 freezer, 2 vacuum sealer, dan 12 kompor 24 titik api.

Berbekal itu kemasan lebih bagus sehingga awet sampai 6 bulan. Ivan benar- benar memperhatikan betul soal pengemasan. Rendang Nenek memiliki 7 varian rasa yaitu ada rendang paru, daging, hati, limpa, ayam suwir, jengkol bahkan jamur tiram.

Omzetnya rata- rata Rp.100 juta, bulan puasa mencapai Rp.300 juta, dan memproduksi kurang lebih 1 ton daging. Ini belum termasuk varian rasa. Dengan cekatan dia langsung memilih mengetes pasar online lewat situs gratisan Multiply. Ketika belum berbungkus benar Ivan sempat deg- degan ketika berjualan online.

"Khawatir terlambat keburu basi," kenangnya.

Berkembang pesat


Perubahan kemasan serta proses produksi merubah segalanya. Ivan juga memperbaruhi sistem penjualan. Ia tidak lagi khawatir cuma kuat seminggu. Kini pemasaran online melalui website berbayar dot com. Kebetulan dia paham membuat website sedikit. Maka jadilah website sederhana sementara www.rendangnenek.com.

Perlahan tapi pasti mengumpulkan uang. Dia menabung agar bisa membeli vacuum sealer loh. Alat berkelas industri membuatnya bukan sekedar UMKM. Dibantu Dinas Perindustrian dan Perdagangan lewat serangaki pelatihan pengemasan produk.

Rendang ayam dan sapi mampu bertahan 6 bulan. Sementara rendang lainnya bertahan sampai sebulanan. Hanya bermodal uang gaji dosen dan untung dari penjualan, Ivan merangkak menjadi pengusaha berkelas nasional.

Usaha Rendang Nenek terus berkembang. Dulu cuma berbekal dapur, sebuah kompor, dan kulkas pribadi buat menyimpan daging. Sekarang dia merombak ruang bawah rumahnya menjadi pabrik. Yang mana bisa mengolah sampai 50kg daging per- hari.

"Alhamdulillah perlahan kami terus kembangkan usaha Rendang Nenek ini," jelasnya. Kekuatan dalam hal pengawasan produksi menjadi andalan.

Penjualan sudah menyebar sampai Aceh dan Papua. Untuk pembelian tersebar datangnya dari Jabodetabek dan Bandung. Penjualan ke luar negeri seperti Brunei Darusalam, Jepang, Prancis, Jerman, dan negara asal Eropa.

Marketing unik


Dia menjual ke luar negeri lewat jalur nitip. Mereka pembeli setia yang rela bayar mahal. Rendang Nenek lalu berkeliling ke negara- negara tersebut. Bersama ada 8- 10 orang pegawai direkrut memenuhi pemesanan Ramadhan sampai Lebaran. Mereka senang karena mendapatkan pekerjaan dan penghasilan tambahan.

Kebanyakan mereka merupakan lulusan SD atau SMP. Mereka itu ibu- ibu bersuamikan tukang bangunan, tukang ojek atau sudah tidak punya. Semua berkat kegigihan sekarang bisa membantu banyak orang biar bisa makan.

Ia berkisah awalnya banyak orang gagal paham. Waktu itu belum seramai sekarang. Orang belum paham apa itu rendang kemasan. Memang rendang bisa dikemas seperti mie instan. Kemudian datang dari apakah rendang buatannya halal dimakan. Apalagi waktu itu dia masih memproses mengembangkan penjualan dulu.

Modalnya pas- pasan bukanlah kendala baginya. Dia bertahap membiayai semua bermodal gaji dosen. Ivan menghadapi masalah ditribusi sampai harga sapi mahal. "Hal paling menyulitkan ketika harga daging sapi yang terus meningkat," jelasnya.

Usahanya membesar karena fokus ke masa depan. Dia bahkan berhasrat agar rendangnya go international. Tetapi sebelum itu dia ingin rendangnya menyebar sekala nasional dulu. Baginya pasar lokal masih belum dia kelola baik. Maka dia menargetkan agar mampu bersaing masuk ke pasar retailer- retailer modern.

Kunci sukses


Konsistensi merupakan kunci sukses lain. Sukses juga jangan sampai membuat kamu sombong. Sebelum ia mengerjakan Rendang Nenek. Ditelisik oleh IndoTrading ternyata dia pernah berbisnis lain. Tepatnya tidak jelas apa, tetapi dia gagal dikarenakan tidak konsisten.

Berkat dukungan istri maka dia mampu tetap konsisten. Jangan berharap untung di tahun pertama. Janganlah fokus mendapatkan keuntungan sebesarnya. Janganlah berpindah ke usaha lain harus benar- benar jalannya benar dulu. Bangunlah sistem lakukan aneka perbaikan dalam berbagai hal. "Profinya Insha Allah mengikuti."

Perhitungan matang juga tidak dapat dipungkiri. Perhatikan segmen pasar, Ivan mengingatkan bahwa masih banyak UMKM yang ugal- ugalan soal penjualan. Pemasaran bukan soal promosi saja. Tetapi soal nantinya membangun daya saing. Belajarlah banyak teori pemasaran kemudian praktikan ke bisnis langsung.

Berkat itulah, kini, mereka merambah ritel modern melalui supermarket di Bandung, contohnya Setiabudi Supermarket. Juga membukan cara jualan keagenan ada 20 agen menjual ke berbagai daerah.

UMKM tidak cuma membantu pengusaha seperti Ivan. Tetapi memberikan harapan baru bagi ekonomi di Indonesia. Bayangkan dia mempunyai seorang pegawai umur 55 tahun lulusan SD. Maka hanyalah di UKM dirinya masih bisa menghasilkan uang ditengah kebutuhan hidup makin mahal.

Dukungan pemerintah dirasa Ivan dibutuhkan. Adanya kebijakan mendukung UMKM sangat dinantikan. Ia menambahkan kalau ingin Indonesia maju, maka perhatikan UMKM. Katanya kenapa membuang anggaran harusnya berikan ke UMKM bukan cuma pengusaha besar.

Dia menjelaskan janganlah memaksakan. Jangan memaksakan gaya hidup seperti orang kaya. Kalau belum waktunya memiliki barang mahal, jangan dipaksakan. Bekerja keras sampai ke posisi tersebut. Kalau tidak bisa liburan ke luar negeri, ya jangan dipaksakan.

Jangan karena ingin iPhone nekat membeli nyicil. Orang Indonesia kebanyakan gaya hidup dulu, gak apa yang penting kekinian, nyicil sampai tahunan gak masalah. Jangalah bergaya cuma buat persepsi orang saja. Nah, beerkat menabung dan tidak gaya hidup mewah, kini Ivan mampu mengantungi omzet sampai Rp.300 juta!

Kisah Manis Pahit Choa Seniman Coklat Filipina

Biografi Pengusaha Raquel T. Choa 



Menjadi pengusaha bisa saja merupakan pilihan hidup. Terkadang mungkin karena keterpaksaan agar tetap hidup. Menginginkan hidup lebih baik maka Raquel T. Choa berusaha. Dia hidup sangat sederhana. Ia sejak berumur muda sudah berjualan lilin dan sampaquita untuk membantu orang tua.

Umur 12 tahun, dia sudah bekerja menjadi kasambahay di Laguna, Filipina. Berjalanan waktu ia mengingat betul hidupnya "tidak jauh dari coklat". Dia ingat belajar menyajikan dan menyiapkan coklat dari sang nenek, Leonila Borgonia, yang bekerja menjual nanay.

Dia ingat, di umur 12 tahun, neneknya lah yang membawa dia pergi dari Cebu ke Laguna. "Saya tidak takut untuk bekerja karena saya bepikir saya harus benar- benar bekerja," kenangnya sedih.

"Saya memiliki masalah listrik di provinsi sampai saya tidak bisa melihat apa yang saya lakukan," imbuhnya lagi. Dari bekerja sebagai kasambahay uangnya digunakan untuk pulang ke Cebu. Dia ingin bertemu orang tuanya. Namun ternyata kedua orang tua Choa berhutang ke rentenir dan menjaminkan rumah serta tanah.

"Mereka tidak meninggalkan rumah karena mereka dibutuhkan untuk membayar hutang," dia berujar. Inilah hidup dimana Choa harus bekerja kembali buat membayar hutang orang tua.

Bisnis coklat


Umur 7 tahun sudah paham tentang konsep tablea. Adalah nama untuk jajanan coklat berbentuk tablet. Dia sudah tau bau coklat bahkan dari jauh. Inilah dasar dia menjadi ahli coklat untuk membangun bisnis Ralfe Gourment Chocolate Boutique, dimana dia memulai usaha dari 2010.

Layaknya kisah film Charlie and the Chocolate Factory, dia ingin berbisnis coklat sendiri. Awal sih dia tidak paham mengenai detailnya. Hanya saja Choa mau berbisnis tablea buat bertahan hidup. Dia lantas meminta diajari nenek. Choa belajar membuat coklat hingga bagaimana membuat minuman coklat.

Disaku Choa ada 10.000 peso dan membelikan ratusan kilo biji coklat. Dari sanalah, dia belajar aneka cara membuat produk coklat, mulai mengeringkan, menggoreng, dan membuat biji tersebut menjadi aneka bentuk produk olahan.

Bukan perkara mudah berbisnis. Ketakutan akan biji- biji coklat tidak laku dipasaran hinggap. Dia takut kalau bisnis tidak berkembang. Maka berkardus biji coklat akan terbuang sia- sia. Bagi seorang chef untuk olahan coklat, kualitas biji segar memang sangatlah penting, jadi apa solusi buat bisnis Choa sekarang.

Dia ingat bagaimana seorang chef sekitar mengejek. Menyebut coklat miliknya adalah dirty- chocolate. Ini karena proses pembuatan masih menggunakan tangan. Namun dia tetap percaya diri atas apa pengajaran dari nenek. Karena juga Choa menyukai buatan tangan langsung lebih nikmat.

Bisnis Choa makin mengembang. Beruntung dia didukung oleh suami, Alfred, seorang teknisi mesin, dan juga rekan bisnisnya, Edu Pantino, yang mendukung langkahnya. Sampai dia mendapatkan julukan orang- orang sebagai ambasadornya coklat di Filipina.

Tidak ada rahasia dalam berbisnis coklat. Dia menyebut passion dan cinta kamu punya. Jikalau kamu melihat sesuatu penuh cinta. Bermodal sebuah bisnis sederhana dia menjadi ahli coklat. Tawaran franchise mengalir dari China atau Taiwan tetapi dia malah menolak.

"Kamu memberi apa yang terbaik apa yang kamu punya," tutur dia. Akan tetapi untuk franchise dia memilih tidak karena menurut Choa bisnis soal keluarga dan anak- cucunya kelak.

Bisnis passion


Banyak orang tidak tau bahwa dia terlahir miskin. Bayangkan dia cuma makan nasi sekali setahun, sisanya makan jagung dan sayuran saja. Dia tinggal bersama nenek di rumah kaki gunung Barangay. Disana dia mulai belajar bertani, menjual sayur, dan biji coklat. Menjadi petani coklat sejak kecil diajari neneknya sendiri.

Dia ingat berjalan melewati sungai agar dapat sekolah. Bersemangat dia mampu menjadi siswa berprestasi di sekolah. Meskipun dia harus belajar tanpa lampu karena tidak ada listrik. Dia lantas tinggal dan bekerja di Manila. Choa mencucikan baju orang, menjual lilin, sampaquita hanya untuk bertahan hidup.

Dalam sebuah artikel dia menyebut tidak pernah menyesal. Dia tidak pernah menyesal terlahir miskin. Choa tidak pernah susah ketika masih kecil. Bahkan menurunya karena itulah menjadi dorongan baginya agar bisa seperti sekarang. Berkat itu dia sangat menghargai kenikmatan apapun meski sedikit.

"Masa kecil saya menyenangkan dan gembira. Hidup saya itu mudah, bersemangat menunggu musim panas tiba. Jikalau ini bukanlah bagian dari masa kecil saya, maka saya tidak akan seperti sekarang saya. Semakin kamu menderita, semakin kuat kamu," tegas Choa.

Entrepreneur satu ini memang sangat optimis. Di masa mudanya, Choa tidak pernah berharap akan kaya, ia hanya bermimpi bahwa dia akan bekerja kantoran dan bagian dari perusahaan korporasi. Dia mengakui ia tidak pernah bermimpi akan menjalankan usaha sendiri seperti empat tahun belakangan ini.

Sebagai pengusaha wanita, seorang business woman, maka dia menyarankan kamu agar tetap semangat buat menjalankan bisnis baru mu. Jangan pernah menyerah, kamu harus mencoba sesuatu yang baru, kegagalan akan selalu mengikuti keberhasilan, dan menempatkan kita berbeda dari orang biasa lakukan setiap hari.

Buatlah produk bernilai dibicarakan dan bernilai uang. Pastikan kamu selalu punya pengalihan. "Jikalau orang terus membeli produk kamu, maka kamu ada di jalur tepat," saran Choa.

Ingatlah selalu mendukung pembeli. Berikanlah apresiasi kepada pelanggan. Dia mencatat: Ketika kamu mulai berbisnis jangalah memikirkan tentang pesaing. Jangan sibuk sendiri mengamati mencoba mengalahkan pesain, namun jadilah lebih percaya diri akan kemampuan sendiri.

Akan selalu ada batasan kamu dengan kompetitor. Malah kalau kamu fokus diantaranya, kamu akan hilang fokus karena kita akan selalu bersaing. Fokuslah ke kepercayaan diri bahwa kamu lebih unik. Pasaran akan luas bagi kalian berdua jika kamu percaya. Carilah perbedaan dan lebih banyak latihan agar menonjol lagi.

Choa meyakinkan kita bahwa bisnis bukan tentang memiliki setumpuk modal. Taruhlah kepercayaan diri jadi investasi dan passion menjadi modal kapital kamu.

Usaha dari nol


Karena miskinnya keluarga Choa tidak dapat membeli susu. Maka sumber nutrisi mereka hanya coklat yang mereka tanam sendiri. Mereka minum coklat meski pahit tanpa gula. Ini menjadi nutrisi mereka sehari- hari. Kenapa pahit tanpa gula, ternyata keluarga Choa memilik filosofi sendiri, bahwa gula tidak baik bagi coklat.

Umur 13 tahun, dia bekerja sendiri pulang- pergi, lantas membuka kantin sendiri di pabrik. Dimana dia lalu bertemu rekan satu kerjanya di pabrik. Seorang entrepreneur Alfred Choa, yang umurnya 18 tahun waktu itu. Menjadi ibu rumah tangga dia masih bersemangat membuat aneka coklat sendiri dari kedua tangannya.

Tahun 2009, kebakaran melanda rumah mereka, dan Choa akhirnya meminta diajari membuat tablea. Dia lalu mendandani garasi, memasang meja billiar, dan menjual tablea dan produk coklat lainnya sementara dia mengawai renovasi rumahnya.

Apapun kamu lakukan lakukan passion kamu. Pikirkan sesuatu yang unik seunik kamu sendiri. "Itu ada di tangan kamu," ujar dia. Lakukan sesuatu datang dari hati. Jangalah kamu sekedar mengikuti tren. Lakukan apapun untuk menggapai kebahagiaan kamu. Itulah yang akan nampak di hasil akhir produk kamu nantinya.

Kenapa memilih berbisnis coklat? Dia mengenang pembicaraanya bersama Edu Pantino. Seorang Argentina yang mau bekerja sama dengan Choa. Dia sebenarnya sudah tau bahwa coklat bisa dijadikan sesuatu dari masa kecilnya.

Orang Argentina ini menantang Choa tentang produk andalan Filipina. Akhirnya dia terkenang namanya satu produk "tablea". Cukup lama sebelum membuka bisnis dia berpikir. Aneka ide mentok hingga dia bertemu coklat. Yah Choa akan berbisnis jamuan aneka produk coklat -termasuk tablea- yang dibuka di garasinya.

"Harta karun saya dan membuka kan jamuan coklat di garasi rumah kami," ia menjelaskan. Choa tidak cuma menjual coklat murni. Dia menyediakan aneka makanan, seperti pizza dan pasta yang juga dibumbui coklat tentunya. Tidak butuh waktu lama mengimplementasi ide membuka usaha serba coklat tersebut.

Sebagai ibu rumah tangga, beranak delapan, maka sudah biasa baginya bekerja di dapur. Dia cukau mulai lagi mengingat ajaran nenek. Dengan belajar lebih intensif kembali maka dia menemukan celah. Dari satu ke dua eksperimen mampu dia menciptakan produk unik dan menu enak yang dijualnya lewat tiga bisnisnya.

"Ini tidaklah mudah," dia menambah.

Dia menciptakan ratusan kilo tablea untuk bahan masakan ke hotel- hotel sekitar. Dia dibantu Pantino masuk ke hotel sebagai teknisi coklat. Dia secara bertahap menjelaskan tablea sebagai produk berkualitas nasional. Mulai mereka menerobos jaringan hotel internasional dan menjadikan seni membuat coklat diakui dunia.

Bisnis keluarga


Ingatan Choa kembali ke jaman umur 8 tahun. Dia ingat sang nenek menyiapkan tablea. Membuatnya jadi makanan lain nikmat dimulut gadis kecil itu. Waktu itu dia belum menyadari bahwa biji coklat atau kakao adalah bahan utama membuat coklat manis. "Itu adalah sarapan kami setiap hari," kenangnya.

Ketika nenek menjelaskan coklat merupakan pengganjal perut mereka. Dan coklat memiliki kandungan gizi baik. Choa mendengarkan seksama penjelasan tersebut. Maka ketika dia mendapatkan resep bagaimana membuat tablea tertanam dibenaknya.

Dia lantas dinikahi pengusaha, Alfred Choa, diumur 16 tahun dan kecintaan akan coklat semakin membesar. Justru ketika menjadi ibu rumah tanggan dan memiliki delapan anak, ibu dari Michael Ray, Michelle Honey, Anthony, Jonathan, Hanna, Alfredo, Rose Angeline dan John Paul, justru malah menjadi pemilik perusahaan sendiri.

Masa kecil sulit membuat dia tidak takut akan resiko. Dia percaya diri mengambil keputusan di perusahaan. Ia menjadi seniman coklat dimana coklat mengalir di imajinasinya.

"Sukses berarti melalukan hal baik. Saya melakukan hal baik dan seterusnya," ujarnya.

Sukses tablea membawa visi Choa ke masa depan. Dia ingin mengekspor produk coklat khas Filipina jadi komoditi internasional. Fakta dijelaskan Choa, negara mana yang mendapatkan pohon coklat pertama, yaitu ketika Spanish mulai menjelajah tahun 1670.

Jawaban tersebut pasti sudah kamu ketahui. Selanjutnya mimpi wanita 36 tahun ini bagaimana cara membuat produk coklat Filipina mendunia. Dan jika dia ingin lakukan itu, dia akan membawa lebih banyak kardus berisi coklat dan membawa ke pasar global.

Dia memutuskan akan mengekspor coklat. Bukan cuma berkardus coklat siap makan. Tetapi bagaimana cita rasa coklat khas Filipina menyebar ke dunia. "Saya tidak pernah berpikir saya akan berbisnis dengan coklat sekarang," ia tambahkan.

Biografi Inspiratif Robert Herjavec Shark Tank

Biografi Pengusaha Juri Shark Tank



Juri Shark Tank satu ini telah membuktikan fakta tentang imigran. Bahwa imigran siapapun mampu merubah nasib. Dan juga bisa merubah dunia tempatnya menetap tinggal. Kelahiran Kroasia, sebelumnya Yugoslavia, 14 September 1962 merupakan pemilik Herjavec Group. Yang nilai kekayaanya naik tetap dari angka $200 juta.

Dia adalah pengusaha asal Kanada. Seorang investor handal sekaligus penulis buku. Dia semakin terkenal ketika dia menjadi salah satu juri Shark Tank.

"Terkadang itu terasa kamu tidak layak masuk kesana," kutip Herjavec, merujuk kepada keadaanya sebagai orang imigran.

Herjavec tumbuh di Zbjeg. Namun terpaksa meninggalkan negeranya karena sang ayah. Ceritanya bahwa ayah Herjavec merupakan toko vokal. Alhasil, pada umur delapan tahun, tanpa tau sebabnya maka dia ikut dibawa keluarganya keluar dari wilayah konflik

Satu keluarga kemudian sampai di daerah bernama Halifax bermodal satu koper, dan uang $20. Bagianya ia merasa hidup sangatlah sulit. Waktu itu dia hanya bocah biasa, yang bahkan tidak bisa berbicara bahasa Inggris. Transisi hidup memang sulit dimana dia lantas tinggal bersama nenek di sebuah pertanian.

Merasakan hidup sebagai petani harus mengikuti tradisi sekitar. Diantara tetangga baru yang sama bekerja jadi petani, dia menemukan fakta bahwa keluarga Herjavec lebih miskin, dimana dia merasa minder akan hal tersebut untuk bersosialisasi sebagai masyarakat ekonomi lemah.

Dia mengenang sang ayah bekerja di pabrik. Menghasilkan kurang lebih $76 seminggu -atau setara $464,26 jika tidak terpengaruh inflasi- di 2015. Dia kemudian mengenang "bully" dirasakan ketika sekolah. Pernah ia mengadu kepada ibu karena diejek teman sekelas karena miskin.

Bayangkan ayah Herjavec bekerjanya jalan kaki. Dia mengumpulkan uang ongkos naik angkot, sampainya di rumah, ketika dia mendengar ucapan sang anak. Ayah Herjavec berkata,"jangan pernah mengeluh," yang mana menjadi kata bijaknya hidup sampai sekarang.

Dia sangat mengagumi sang ayah. Dia menjulukinya "pria tangguh, yang sangatlah tangguh." Perkataan sang ayah akan jangan mengeluh mendorong dia maju. Keinginan akan membangun kemapanan semakin tumbuh. Tambahan dorongan lain ialah ketika dia mendapti sang ibu ditipu mentah- mentah.

Bayangkan seorang salesman datang, mengajak ibunya membeli alat pembersih debu seharga Rp.500, dan itu setara gaji ayah seminggu. Kejadian tersebut mendorong Herjavec harus lebih cerdas. Pemikirannya ialah dia bersumpah tidak mau lagi orang tua ataupun dia dimanfaatkan orang lagi.

Tahun 1984, dia lulus kuliah dari University of Toronto, dengan latar pendidikannya Ilmu Bahasa Inggris dan juga Ilmu Politik. Dia bekerja agar mampu mencukupi keluarga. Dia mengambil aneka pekerjaan dengan gaji mepet upah minimum di 1990 -an, seperti menunggui meja, mengantar koran, menjadi sales, debt collector.

Imigran sukses


Dia mendeskripsikan dirinya sebagai "Imigran dalam kapal". Merujuk pada imigran Timur Tengah yang mulai masuk ke Eropa melalui kapal- kapal kecil. Umur delapan tahun dia merasakan sendiri ikut ayahnya masuk ke Kanda menghindari penjara.

Dia mengenang bagaimana dia tidur di basement. Cuma punya satu sepatu terpasang dikakinya. Mungkin ia merasakan kemerdekaan di negara baru. Namun perasaan emosional melanda transisi hidup Herjavec. Dia menginjak dunia baru berbeda. Herjavec bahkan dibully teman sekelas karena hidup miskin sebagai imigran.

Ia bahkan dipukuli karena memakai pakaian tidak keren. "Ketika saya berkata kepada ibu saya, dia lantas berkata, "Robbie, tidak ada seorangpun di dunia lebih baik dari kamu dan kamu tidaklah lebih baik dari siapapun di dunia"," ia berkata kepada majalah Entrepreneur bahwa mengeluh tidak ditolerir.

Tumbuh besar dia sempat merasa minder. Dia merasa semakin seperti orang asing di negeri asing. Sempat ia melihat ayah berangka kerja berjalan kaki. Ayahnya bekerja menjadi tukang sapu di sebuah pabrik. Lalu ia menjadi saksi ibunya ditipu tukang jual mesin penyedot debu.

"Saya menyadari bahwa dibandingkan orang lain, kami sangatlah miskin," kenangnya. Umur 14 tahun muncul rasa ambisi untuk menjadi multi- miliarder, karena ia ingin memberikan kehidupan keluarga lebih baik.

Ia ingin lebih dari bayangan kosong keluarga tentang "kembali ke Kroasia". Dia tidak mau keluarganya malah kembali kesana dan memulai dari nol (lagi). Herjavec menginginkan hidup diatas semua pikiran liar tersebut. Dia lantas berkata kepada orang tuanya bahwa dia akan menjadi bos.

Seseorang yang tidak akan dipecat dan bisa bersantai. Bukan hidup seperti pekerja pabrik bersama ayahnya dulu. Dia ingin menjadi seseorang yang bebas menentukan jadwalnya sendiri. Dia mau menjadi entrepreneur. Bekerja seadanya seperti cerita diatas, dia mulai bekerja lebih keras agar menjadi sosok seperti di citakan.

Karir bisnis


Karir di bidang perfilman dimulai sejak dini. Dia bekerja di belakang kamera di berbagai rumah produksi. Ia kemudian menjadi asisten direktor, filmnya seperti Cain and Abel dan The Return of Billy Jack. Karirnya di bidang ini mengalami puncak sebagai produser siaran langsung Olympic Musim Dingin XIV untuk Global TV.

Herjavec mendapatkan penghargaan termuda meliput Olympic. Mencari pekerjaan dibidang produksi, ia lantas mendaftar ke perusahaan Logiquest menjual produk IBM, namun karena tidak sesuai pengalaman maka dia ditolak. Herjavec tidak putus asa malah menawarkan bekerja selama enam bulan tanpa gaji.

Karena dia bekerja gratis maka Herjavec mencari sambilan. Bekerja keras lalu naik pangkat sangat jauh yakni menjadi Jendral Manajer di Logiquest. Di 1990 -an, dia dipecat oleh perusahaan, lantas mendirikan perusahaan sendiri bernama BRAK Systems, perusahaan keamanan internet Kanda, berkantor di basement rumah.

Kemudian BRAK Systems sendiri dijual ke AT&T Canada di Maret 2000 senilai $30,2 juta. Dan setelah tiga tahun pensiun, serta menumpang tinggal di rumah ayahnya bersama tiga anaknya, akhirnya Herjavec menemukan satu lagi perusahaan bernama Herjavec Group di 2003.

Bisnisnya meliputi keamanan jaringan internet, menjual dan memanajemen layanan provider, dimana dia jadi CEO perusahaan. Perusahaan ini tumbuh sangat cepat dan menjadi provider IT terbesar Kanada, menurut Branham Group. Herjavec Group (THG) memiliki tiga pegawai di 2003 jadi 150 pegawai pada tahun 2013.

Total pertumbuhan perusahaan 630% dari 2007- 2014 lalu. Dari penjualan yang cuma $400 K pada 2003 menjadi $125 juta masuk 2012. Perusahaan mencapai target penjualan lebih dari $500 juta.

Mimpinya menjadi imigran sukses telah tercapai. Dia selalu percaya akan hidup sukses dan akhirnya sukses melebihi imajinasi terliar. Hidup baginya terbagi dua, orang yang sudah ditakdirkan Tuhan sukses sejak lahir dan mereka yang menjangkaunya kesuksesan.

"Saya salah satu diantara orang yang sukses karena menanggung luka di kehidupan mereka, yang tau bahwa mereka tidak akan mampu bertahan lagi dan mau merubah nasib," imbuhnya kepada Entrepreneur.com

Menjadi imigran, kemudian mendapatkan kewarganegaraan Kanada tidak mudah. Dia tidak seketika jadi warga negara karena entrepreneur. Butuh waktu contoh saja entrepreneur salain dirinya. Mereka harus siap menghadapi perbedaan budaya dan bahasa, dan norma hidup sementara tetap berusaha agar sukses.

Menurutnya tidak sangatlah sulit menjadi entrepreneur imigran. Susah buat mencampur di tempat tinggalnya sekarang. Namun tidak berarti menghentikan kamu mencari tempat menjadi sukses. "Tidak masalah siapapun kamu atau darimana pun kamu," Herjavec menambahkan lagi.

Pada dasarnya dalam hati terdalam orang tidak peduli. Tidak peduli warna kulit. Tidak peduli tentang apa agama ataupun jenis kelamin. Mereka cuma peduli berapa nilai kamu taruh dalam kehidupan.

Hidup biasa


Pilihan terbaik seorang Herjavec bukanlah memilih berbisnis awal. Bukanlah belajar bahasa baru agar bisa menyatu dengan lingkungan. Bukanlah pula menjual perusahaan ke AT&T untuk jutaan dollar. Adalah dia memutuskan untuk menolak virus dia sebut hidup biasa. Menolak hidup biasa saja dalam bentuk apapun itu nanti.

"Dunia tidak menghargai kebiasaan," ujar Herjavec. Kamu harulah menjadi hebat untuk sesuatu. Tidak ada namanya cukup baik. Cuma ada terbaik ataupun kata lebih hebat. Pengusaha besar bermata biru savir, sekarang berumur 52 tahun, kini menduduki posisi sebagai pemilik perusahaan keamanan internet.

Dengan sagala macam masalah dilalui. Dia pernah bekerja menjadi penjual koran loh. Juga pernah bekerja menjadi kolektor utang. Dia pernah bekerja menjadi pembersih lantai bergaji $76 per- minggu. Herjavec memang hidup berkecukupan tetapi dia ingin lebih.

Umur 14 tahun dia "digigit" serangga entrepreneurship. Dia lantas menyatakan keinginan menjadi pengusaha kepada kedua orang tua. Ayahnya lantas memberikan saran. Ayah Herjavec menunjuk jabatan tertinggi di perusahaan tempatnya bekerja. Tetapi sosok tersebut tidak membuat Herjavec berpuas.

"Bagi orang tua saya, orang itu adalah sosok paling sukses mereka tau karena dia adalah sosok yang tidak akan dipecat dan pekerja keras."

Tanpa adanya mentor membuat dia cukup kesulitan. Dia ingin menjadi orang yang tidak peduli akan gajinya ataupun sewa. Ingin menjadi seseorang sukses dan besar. Dia kemudian menyasar buku- buku menjadi sang mentor. Sasarannya tidak lain adalah kisah- kisah biografi pengusaha.

Dari sanalah dia menemukan tidak seorang pun peduli akan orang biasa. Kesuksesan adalah bisa dihitung. Ia mau menjadi sukses dan menghasilkan banyak uang. Atau apapun yang mendefinisikan kesuksesan tersebut. "Lakukan satu hal dan lakukan itu lebih baik dari siapapun," jelasnya. "Lakukaan apapun buat menjadi paling hebat."

Jika tidak mau, maka kamu tidak akan pernah melihat titik potensi kamu. Kamu tidak akan pernah sukses buat menghidupkan mimpi kamu.

"Temukan talenta kamu, jadilah hebat dan lakukan hal hebat dari telanta kamu sendiri. Jika kamu lakukan, tidak cuma kamu akan sukses, kamu akan mendapatkan kepuasan pribadi dan mencukupi sesuatu uang tidak dapat beli."

Catatan: foto diatas adalah fotor Robert Herjavic di rumah lamanya

Peci Kopiah Anak Bergambar Kartun Untung Jutaan

Profil Pengusaha Ahmad Irwan


 
Kopiah seoalah ditelan masa. Padahal jika kita runut kebelakang kopiah merupakan identitas. Tidak ada satu presiden yang tidak memakai kopiah. Seolah sudah menjadi identitas petinggi negara. Kegunaanya tidak lagi berhenti buat sholat tetapi fasion itu sendiri. Inilah nampaknya peluang ditangkap oleh Ahmad Irwan.

Siapa sangka sosok sederhana ini seorang pengusaha. Sukses bahkan katanya nih, Ahmad meraup omzet mencapai ratusan juta. Seperti ditulis di SindoNews dikatakan bahwa dia mengantongi Rp.500 juta. Atau dia menjual sebanyak 300 kodi sekali produksi per- bulan.

Bukan sembarang kopiah biasa. Usaha pembuatan kopiah ini menyasar anak- anak. Lewat imajinasi mereka lah pria asal Bogor ini kaya. "Saya saat itu masih buta soal bisnis," kenang Ahmad, ketika melihat sang ayah sedang menjalankan usaha keluarga. Usaha keluarga yang dirintis ayah Ahmad dulu tidak seramai sekarang.

Usaha tersebut dibangun di Gersik sejak 1970 -an. Kemudian berpindah tangan ke Ahmad karena ayah dipanggil Sang Khalik. Waktu itu, tahun 1991, dia masihlah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan waktu itu masih kelas 3 jadilah wajar tidak tau. 

Dia hanya tau perusahaan ayahnya membuat kopiah hitam. Setumpuk- tumpuk kopiah tanpa corak ditumpuk di pabriknya. Anak SMP itu lantas menyerahkan jalannya usaha kepada pegawai ayah.

Bisnis mendadak


Lantaran buta soal bisnis maka wajar dia dikibuli orang dulu. Dia lalu bercerita pelajaran pertama bisnisnya tentang kepercayaan. Pegawai kepercayaan keluarga malah membuat rugi. Selama berjalan waktu, dia baru menyadari, bahwa sang pegawai mengalihkan pembayaran klien ke rekeningnya sendiri.

Total dia kehilangan 30% transaksi bisnis. Menyadari hal tersebut, seketika dia meminta ijin kepada kepala sekolah buat waktu khusus untuk usahanya. Singkat cerita dia diijinkan mengurus ke Bank. Dia beri waktu khusus urusan ke Bank, yang mana waktu bukanya dibawah pukul 12 siang.

Memasuki masa SMA, tepatnya dua tahun kemudian, dia total mengurus usaha keluarganya itu. Dan anak sulung dari dua bersaudara tersebut tetap mendapatkan cobaan. Memang berbisnis tidak semudah membalik telapak tangan, ujar pria kelahiran 1974 ini.

Tahun 1998, usaha Ahmad terimbas krisis moneter, dimana cobaan sekarang berupa naiknya harga bahan baku membuat kopiah. Harga bahan baku melonjak tidak dapat ditebak. Kemudian tiga toko distributor di Pasar Anyer, Bogor, ketiganya terbakar sekaligus. Rugi besar lantaran barang distok ludes terbakar belum laku.

Krisis moneter membuat Ahmad kehilangan stok. Dia rugi lebih dari Rp.180 juta lantaran barang ludes ikut terbakar. Namun dia tetap berproduksi bermodal seadanya. Ayah empat anak ini mendapatkan cobaan lain yakni enam tahun selepasnya.

Dua toko milik distributornya di Pasar Tanah Abang terbakar. Kerugian mencapai Rp.100 juta, memang tak sebesar dulu tetapi membuat Ahmad tertekan. Dia sempat trauma buat berbisnis kembali. Karena kejadian kali ini dia sempat berhenti berproduksi. Ahmad sempat menjadi pengangguran karena tidak ada pilihan.

Rasa takut justru menjadi semangat. Entah mendapatkan ilham apa, ia malah bersemangat buat membuktikan bahwa dia bisa. Mungkin karena waktu itu dia merasa diremehkan orang. Perasaan dihina justru membuat dia bersemangat membukitkan, seperti dikisahkannya dalam artikel tersebut.

"Saya terpacu untuk bangkit kerena tidak ingin diremehkan, bahkan oleh keluarga sendiri," kenangnya. Inilah yang membuat proses produksi ditingkatkan.

Untung ada CSR dari Petrokimia menjadi jalan. Uang sebesar Rp.10 juta digunakan buat memproduksi. Dia kembali aktif dan mulai mengikuti sejumlah pameran. Dari sanalah lahir bisnis UD. Gading Gajah, yang mana produk andalannya NYIL dan Al Ichsan, yang mana bentuk ekspansi bisnis seorang Ahmad Irwan.

Melalui pameran dia mulai memahami selera pasar. Termasuk merencanakan penyempurnaan produk kopiah miliknya. Lankah selanjutnya dalam produksi ialah eksplorasi. Dia merancang kemungkinan buat membuat motif diluar kopiah hitam biasa.

Dia menemukan lebih dari 30 motif. Dia mantapkan diri menggarap pasar anak- anak. Kopiah yang memiliki aneka tema untuk desain motifnya. Ahmad membuat motif klub bola dan karakter kartun. Awalnya dia cuma mau menarik perhatian saja. Coba- coba dia melihat pasar dan pembeli meminati toko kartun seperi Naruto.

Dia lantas membuat aneka tokoh kartun. Daya tarik pasar didukung minat anak- anak sekarang. Juga satu kebutuhan akan orang tua buat mendidik anak beribadah. Ia mulai membuat aneka karakter kartun yang dia liat terbukti digandrungi anak- anak.

Kopiah motif bola juga menjadi primadona bagi pembeli anak- anak. Tidak cuma anak kecil tetapi dewasa juga punya. Alasan mereka karena ingin mengoleksi segala pernak- pernik klub kesayangannya. Mereka ini para kolektor pencari pernak- pernik. Juga dibuat kompak dengan atribut baju koko berkonsep club sama.

Bisnis Ahmad semakin sukses berkat tepat membidik pasar. Dia memindahkan pasar ke Sumatra dan hasil penjualan meningkat. Ahmad bahkan masuk ke butik loh. Harga jual ditawarkan juga naik karena sudah bisa masuk ke butik. Bagaimana dia sepintar sekarang, bukan lagi kalau tidak karena pengalaman bisnisnya.

Semua berawal dari pesanan dari pusat perbelanjaan Sarinah. Wawasan Ahmad terbuka tentang bagaimana cara masuk ke butik. Alhasil sekarang dia mencetak dua jenis: kopiah buat pasar tradisional dan buat pasar swalayan atau butik.

Bisnisnya tersebar ke Sumatra, yakni Pekabaru, Medan, Palembang dan Batam. Untuk pasarnya di Jawa ada di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Perbulan dia memproduksi 500 kodi omzetnya mencapai Rp.500 juta. Ia bahkan menyebutkan omzet naik dua kali lipat, utamanya ketika masuk dua bulan menjelang puasa. Dia mendapat Rp.300 juta untuk bulan puasa saja. Nilai omzet segitu jelasnya berasal dari butik mencapai 60 persen dari penjualan.

Harga jual butik dikisaran Rp.600 ribu sampai Rp.1 juta per- kodi. Kalau harga di pasaran tradisional cuma mencapai Rp.350 ribu per- kodi. Ahmad juga tidak seketika memasarkan produk ke suatu tempat. Dia lebih memilih mengamati pasar agar produknya sesuai.

UD Gading Gajah memilih fleksibel soal produksi setiap bulan. "...supaya sama- sama menguntungkan," imbuh dia. Dia sendiri tidak takut bersaing dengan produk serupa dari produksinya. Ahmad malah bangga karena menjadi pelopor bisnis kopiah.

Dia meyakini kopiah harus makin kreatif. Supaya tidak ketinggalan ditelan masa. Kunci suksesnya berada di selalu fokus mengerjakan sesuatu. Jangan menyerah ketika ada masalah. Ahmad juga mengingatkan agar kita selalu kreatif menciptakan trobosan. Harus mampu mengamati produk apa yang disukai konsumen kalian.

Untuk itu dia bahkan membuat manekin sendiri. "...dan interior pameran supaya produk terlihat yang terbaik di mata konsumen," imbuhnya.

Sukses Konveksi Seragam Sekolah SD Berkah

Profil Pengusaha Munawaroh Abdul Fatah 


 
Penjahit juga bisa sukses. Serta jangan pernah memandang sebelah mata profesi penjahit. Inilah kisah dari satu pengusah konveksi sukses. Namanya Munawaroh Abdul Fatah. Ibu empat anak berhasil mesejajarkan dirinya dengan pengusaha konveksi kenamaan. Penjahit bukanlah pekerjaan kasar tidak menjanjikan.

Dibalik bangunan megah kawasan Kuningan, Jakarta, ada seorang wanita paruh baya, sukses mendulang untung dari berbisnis konveksi. Dia adalah penjahit. Penghasilnya sudah besar karena sudah menjalankan bisnis ini sejak 1984.

Dia sedikit dari banyak pengusaha mampu melewati musim resesi. Sudah menjalankan profesi penjahi sejak tahun 84. "Tadinya cuma jahitan biasa buat orang kampung," tutur dia. Mendapatkan pembinaan maka dia sekarang bisa menjadi pengusaha konveksi.

Bisnis bertahap


Ia mengisahkan, himpitan ekonomi menjadi alasan utama. Perempuan kelahiran 22 Juli 1968 ini kemudian belajar menjahit. Dia lantas menjadi penjahit. Semua karena dia mau sekolah terus lanjut berkuliah. "Eh tapi sayangnya enggak jadi kuliah karena keburu menikah," tambah dia.

Alhamdulillah sekolah Muna selesai berkat bekerja menjadi penjahit. Dari hasil menjahit pula dapat memberi uang tambahan buat suami. Alhasil dia mamp menyekolahkan hingga menguliahkan. Berlanjut dia kemudian menggeluti menjahit seragam sekolah.

Keberuntungan makin terlihat menggeluti bisnis jahit seragam sekolah di tahun 1996. Lalu dia melanjutkan membuat baju ibu pengajian, kemudian menjahitkan seragam sekolah dari SD sampai ke SMA. Inspirasi jadi penjahit selain karena faktor ekonomi, Muna senang melihat baju- baju bagus, sayangnya tidak sanggup beli.

Dia terinspirasi baju- baju bermodel cantik. "...terus kepingin... Yaudah saya belajar jahit," kenang dia. Muna mau menjahitkan tetapi tidak punya uang cukup.

Kini delapan sekolah mempercayakan seragamnya ke Muna. Omzet per- tahun disebutkan mencapai Rp.40 juta bahkan sampai Rp.50 juta. Selain omzet pertahunan juga mendapatkan omzet bulanan teratur. Omzet tertinggi yaitu Rp.50 juta datang ketika ada tahun ajaran baru.

Omzet bulanan mencapai Rp.3 juta sampai Rp.5 juta. Jika berbicara desain, wanita yang diperistri oleh Juru Sita Pengadilan Agama ini, menuturkan desain asli buah pemikiran dia. Bahkan dia menceritakan desainer sekalas Kanaya Tabitha pernah menjahit kepadanya.

Dia pernah mendapatkan pesanan mantan Menteri Perekonomian Orde Baru, Pak Ali Wardhana. "... dan Kanaya Tabitha waktu belum terkenal," ujarnya bangga. Ketekunan merupakan kunci sukses Muna sampai bisa seperti sekarang. Pantang menyarah apapun bisnisnya, halangan mewarnai, kamu harus menyikapinya baik.

"Tantangan mah selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapi saja," tutup dia.

Kisah Penjual Susu Jahe Kota Jakarta

Profil Pengusaha Muda Riman



Persaingan ketat bisnis kuliner bukan masalah. Usaha sederhana dijalankan Riman terbukti berjalan baik. Ia sama sekali tidak takut. Padahal nih, di tempatnya berjualan sudah berjejer aneka jualan. Dia tetap semangat berjualan susu jahe. Baginya tidak ada batasan dalam berwirausaha apapun usahanya.

Dikisahkan Riman dulunya seorang office boy. Sebuah perusahan di bilangan Jakarta mempekerjakannya. Ia berkisah susah menjadi pegawai kontrak. Dalam dua tahun bekerja ujung- ujungya Riman tidak mendapat kontrak lagi. Banting stir, dia bertekat menjadi wirausahawan muda dibidang kuliner sendiri.

Cuma berbekal kemauan keras, serta rasa percaya diri bahwa usaha apapun selama kamu puny kreatifitas akan berhasil. Sebuah kesederhanaan berpikir pemuda 21 tahun ini. "Yang penting asal mau usaha aja," ujar Riman.

Dia juga mengajukan kreatifitas sebagai bekal. Karena ingin wirausaha banyak usaha dijalankan Riman. Ia sibuk mondar- mandir ke warnet mencari tau bisnis apa. Bagaimana membuat usaha berbeda. Tiba- tiba ia menemukan susu jahe. Usaha sederhana yang dijalankannya digeluti untuk dilakukan selepas bekerja.

Hendaknya memang kita mengikuti perkembangan jaman. Ikuti apa passion kamu. Kalau kamu mau jadi wirausaha perbanyak kosa kata sukses di benak kamu. Carilah sumber bacaan kewirausahaan di internet, jangan terus membaca soal politik yang tidak ada juntrungannya.

Bisnis sederhana untung


Ia cuma punya uang tabungan ketika bekerja menjadi OB dulu. Uang seadanya digunakan berbagai bahan yaitu susu cair dan jahe, kemudian membeli gerobak, spanduk buat dekorasi, serta perlengakapan lain. Dia menyebut gampang usaha dijalankan ini.

"Perlengkapannya juga dapetnya gampang, paling gelas ama gerobak," tutur dia. Pemasaran Riman gampang tetapi tidak sembarangan. Riman memilih memasang sepanduk di gerobak saja. 

Menunjukan bahwa dia siap menerima pesanan susu jahe. Cukup dibentangkan ke sisi gerobak agar terlihat jelas. Dia memasang digerobak menghadap ke jalanan. Memang dia memperhitungkan penggunaan gerobak lebih murah. Dibanding dia harus menyewa ruko, dan gerobak mudah dipindahkan.

Sudah memiliki gerobak sekarang butuh tempat. Riman harus melihat jeli lokasi berjualan. Lokasi memang sangat menentukan kesuksesan usahanya. "Nah tinggal kita harus jeli nentuin titik tempat kita dagang, jadi bisa keliatan," ujarnya. Dia sendiri memilih berjualan di pinggir jalan Lenteng Agung.

Alasan lain kenapa tidak ruko. Dia menyebut jualan susu jahe mana keliatan. Apalagi kalau dijejerkan sama usaha lain. "...kalau ruko tu kan modelnya berjejer gitu," jelasnya sambil terkekeh. Selain rasa, jualan susu jahe juga menyangkut soal harga, dia mematok harga Rp.3000 per- gelas.

Pengendara motor tinggal meripit membeli susu. Kebanyakan mereka yang mau ke Depok akan berhenti sejenak menyeruput susu jahe. Melalu mereka lah pengunjung makin banyak. Pasalnya mereka tidak ragu buat datang lagi alhasil gerobak Riman selalu terlihat ramai.

Waktu berjualan dibuatnya tidak panjang yakni pukul 5 sore sampai jam 10 malam. Dia menyetok 2 galon wedang jahe serta berkaleng susu kental manis. Tetapi dia menyatakan tidak selalu ramai kok. Ada kalanya gerobak Riman sepi dan baru tutup pukul 12 malam.

Berjualan begini saja, dia mangaku mengantongi omzet Rp.600 ribu per- hari atau Rp.18 juta. Dimana ia menyebut bisa untung berlipat jika hari libur.

Membuat Kebab Frozen Kebab Kebudd Ratusan Juta

Profil Pengusaha Adi Rachman 



Gak mau jadi pegawai. Anak muda ini memilih berbisnis kebab. Dari jalanan merambah sosial media nama usahanya menjadi perbincangan. Awalnya orang tua tidak setuju dengan pilihan hidup pemuda ini. Lalu Moch Rachman Adi mencoba membuktikan ini bukan bisnis biasa.

Berbeda dari kebab lain di pasaran, yang menjenuhkan. Tidak sebatas daging juga aneka rasa seperti kebab durian. Brand Kebab Kebudd mengusung pemasaran modern tidak melulu lewat gerobak.  Termasuk lewat konsep kebab beku. Ia kenal kebab berkat seorang teman keturunan Timur Tengah, Mukhamad Annaviq

Ia ingin menciptakan sesuatu berbeda. Pertama kali mencoba sendiri Adi sudah ketagihan. Dia mulaih lah mencari tau dimana membuatnya. Kemudian dia berpikir bagaimana cara membuat kebab sendiri. Dia mulai bertanya apapun tentang bumbu membuat kebab. Akhirnya Adi membuat aneka modifikasi serta inovasi aneka rasa.

"...variant rasa sangat unik dan belum pernah ada sebelumnya," ujarnya dalam sebuah wawancara bersama Studenpreneur.co.

Kebab nyantai


Kebab buatan Adi menawarkan konsep beku. Ukurannya mini membuat pembeli lebih mudah konsumsi. Ia menambahkan kebab miliknya tidak biki "mblenger". Ia menjamin ini pertama kebab aneka rasa dan konsep beku, bahkan akunya belum ada di dunia, hanya miliknya.

Dimulai sejak empat tahun lalu pada Februari 2012. Naviq mengakui ide memang dari Adi. Keduanya lantas bekerja sama membangun brand. Ia sendiri memegang bagian marketing dan pamasaran. Konsep delivery order menjadi andalan mereka berdua. Orang tidak perlu ke jalan buat membeli kebab saja.

"...tidak perlu keluar rumah, keluar kantor, bisa dikirim lewat telephon, pesan singkat, atau BBM," Naviq menambahkan. Soal pengiriman minmal satu pack ya sudah dapat diantarkan.

Adi awalnya membuka usaha sendiri. Berjualan kebab daging sapi merambah ayam layaknya kebab lain. Ia lantas mengajak sang teman memasarkan lewat sosial media. Ia ingat betul awal masih jualan dengan grobak di food court dan juga emperan pasar swalayan.

Ia lantas betaruh dengan menyewa tempat di food court sebuah mal Surabaya. Pasarn ditarget oleh Adi bisa dibilang "salah" pertama kali. Dia membidik ibu- ibu dan karyawati yang malas memasak. Waktu itu mereka menawarkan konsep kebab normal. Ukuran tersebut dianggap terlalu besar buat wanita umumnya.

Sayangnya, pengunjung justru kebanyak anak SMA, uniknya mereka suka ukuran besar tetapi harga murah. Sialnya Adi menawarkan harga lebih tinggi dibanding milik kompetitor. Alhasil Adi cuma mampu bertahan beberapa bulan saja.

Pertaruhan lain Adi adalah acara car free day (CFD). Untuk berjualan disini, Adi menghadapi gesekan fisik dengan pendagang yang sudah mapan. Sebagai pendatang baru ia tengah bertaruh di lahan terbatas. Kalau ia datang kesiangan maka tidak ada tempat tersisa.

Kalaupun jualan di jalan protokol pastilah diusir petugas. Pria kelahiran 23 Juli ini tidak mau menyerah. Jadi dia berjualan dari rumah ke rumah. Tersendat kembali, kali ini dia diusir satpam penjaga komplek, tidak ada pilihan lain kecuali kembali membuka gerai. Namun, segera dibuang, pikiran itu membutuhkan modal besar.

Bisnis sosial media


Jalan satu- satunya adalah melalui sosial media. Dia menganggap promosi lewat sosial media lebih murah. Ia juga tidak perlu kuatir diusir siapapun. Daripada berjualan keliling berjualan melalui internet lebih nyaman. Ia lantas membuat situs jualan kebab kece.

Darisana dia mulai memfoto kebab bikinannya. Dia mulai upload memajang produk lengkap dengan desain kemasan menarik. Biar tidak terlihat ngotot jualan. Maka Adi menyiasati dengan memposting artikel tentang gizi. Sampai juga menulis tentang bintang dan tips kencantikan, lantaran target Adi adalah mereka wanita.

Cara tersebut terbukti efektif. Produk kebab Adi, yang diberi nama Kebab Kebudd, menjadi viral menarik perhatian banyak orang. Sarjana Desain Komunikasi Visual, Institut Sepuluh Nopember (ITS), ini terbantu karena jaman sekarang pengiriman barang sudah gampang dibanding dulu.

Banyaknya varian produk membuat Kebab Kebudd tidak monoton. Sebut saja kebab isi ayam pedas yang dibikin sangat pedas se- Indonesia. Produk ditawarkan lainnya ialah kebab buah, yaitu perpaduan antara buah dan coklat. Kebab buatan Adi menjadi pelopor karena tidak ada sebelumnya.

Andalan Kebab Kebudd lainnya adalah kebab durian mini. Dimana ia menggunakan durian yang 100% asli Medan. Ia menambahkan keju biar lebih gurih. Ukuran kecil tidak membuat kita kekenyangan. Ukuran pas tidak membuat perut gendut. Pembuatan juga tidak pakai mentega ataupun minyak agar ada gizinya tetap ada.

Kebab Mini Durian dapat langsung dimakan loh. Tanpa kamu perlu panggan atau goreng dulu. "...dan sangat nikmat ketika dimakan pada saat dingin," ujarnya.

Nama sendiri merupakan ide tidak terduga. Ia temukan ketika tengah mengendarai mobil di jalan tol. Tiba- tiba tercetus saja karena proses penyajian yang cepat. Salin itu karena pemilihan dua suku kata hampir mirip membuat nama mudah diingat.

Ia menambahkan, "oh iya, pembelian Kabab Kebudd hanya dapat dilakukan secara online mengingat kami tidak memiliki outlet fisik."

Dijual secara online dapat dijadikan bekal ke kantor. Kalau mau kamu bisa panaskan di teflon ataupun oven. Membuat aneka varian merupakan kekuatan Kebab Kebudd. Inilah yang membuat mereka tetap bertahan ditengah serbuan bisnis sejenis.

Kebab isi buah lebih enak kalau dingin. Naman unik membuat orang lebih cepat ingat. Adi berharap nama dari bisnisnya langsung nyantol ketika berbicara kebab. Kemudian kata kebud menjadi kata lain pelanggan pikirkan. Artinya mereka cepat sampai cepat dimakan tidak menunggu. Kebetulah ia sendiri hobi ngebut di jalan tol.

"Selain itu, kebab kan termasuk makanan cepat saji," imbuhnya. Dalam sebulan 3.500- 5000 kotak kebab laku terjual.

Kesuksesan online tidak membuat Adi putus asa. Hasrat terbesar lainnya bagaimana menjualkan Kebab Kebudd ke ranah offline. Cabang Adi sendiri sudah mencapai 16 cabang tersebar di seluruh Indonesia. Ia sendiri ingin merambah food truck jika memungkinkan.

Sukarnya bisnis


Kalau dikenang memang perjalanan bisnisnya tidak mulus. Dimulai sejak masih berkuliah dulu ketika ia mulai berbisnis. Sejak merintis bisnis di banku kuliah tidaklah mudah. Sibuk menjalankan bisnis membuat keteteran soal kuliah. Alhasil kuliah tidak terurus dan molor sampai beberapa tahun berselang.

Hal lain, orang tua enggan memberi restu, mereka lebih suka Adi menjadi pegawai biasa. Menjadi pegawai menurut mereka lebih menjanjikan karena bergaji setiap bulan. Untuk itu ia bekerja keras agar meyakinkan mereka berbisnis kebab bisa sukses, mampu menghasilkan penghasilan tetap.

Oleh karena itulah dia selalu memegang prinsip. Konsistensi dijalankan melalui rencana bisnis matang. Tidak akan dijalankan jika tidak sesuai rencana. Seperti rencananya memperluas pasar offline melalui membuka gerai baru.

Adi juga berharap mampu mereguk pasar Internasional. Agar sukses dia selalu mengingatkan diri akan apa rencana bisnis ke depan. Ia juga memiliki mentor agar tetap fokus. Lainnya adalah passion Adi di bidang kewirausahaan serta hobi makan kebab.

"Bagi saya, menjalankan bisnis juga harus memiliki konsistensi," paparnya.

Menurut Naviq, modal pertama menjalankan bisnis kebab mereka mencapai Rp.20 juta. Itupun tidak serta merta sukses kan. Justru ketika mereka menggunakan sarana murah internet, malah sukses besar. Omzet dari bisnis Kebab Kebudd diantara Rp.10 juta diawal, dan sekarang mencapai Rp.180 juta berkat aneka inovasi.

Harga jual antara Rp.45 ribu sampai Rp.60 ribu. Berisi enam, panjang 10cm, harga paling mahal ya kebab durian yakni Rp.60 ribu. Penjualan per- minggu mencapai 1000 pack seluruh Indonesia. Kota dirambah bisnis Kebab Kebudd meliputi Jawa, Bali, dan Kalimantan, sementara Jakarta jadi pasaran utama.

Dia berencana membuak gerai baru di Jakarta Selatan, melengkapi yang di Jakarta Utara dan Barat. Wilayah Jakarta jika mau bermitra cukup merogoh kocek Rp.14 juta. Sistem pesan kirim diutamakan agar tidak sama dengan bisnis sejenis.

Ia menambahkan kerja sama berbentuk keagenan. Naviq menyebut karena outlet berarti bersaing dengan para pesaing besar, seperti Kebab Baba Raffi misalnya. Target pencapaian Kebab Kebudd yakni omzet Rp.200 juta. "Makanya fokus ke online, ada kantor, kalau mau datang bisa," tutupnya.

Tidak Punya Pekerjaan Sukses Memelihara Lele

Profil Pengusaha Agus Efendi


 
Selain sibuk menjadi ketua organisasi kepemudaan GP Ansor Kecamatan Gudo. Hal lain dikerjakan Agus Efendi di kampnya adalah berbisnis sendiri. Usaha dijalankan kolam budidaya lele. Hasilnya lumayan loh, ia pun bercerita bagaimana bisnis kecilnya menguntungkan.

"Siapa bekerja dengan sungguh- sungguh, pasti akan berhasil," Agus membuka.

Pemuda Desa Sukopinggir, Kec. Budo, Kabupaten Jombang ini, awalnya bermodal dari usaha kolam ikan satu kolam. Lumayan usaha kecil Agus menghasilkan 2 juta bibit per- bulan sekarang. Sudah dijalankan lebih dari 12 tahun bukan tidak ada halangan ataupun kerugian.

Ini ternyata usaha keluarga. Ia sendiri tidak begitu berminat meneruskan. Tetapi susah mencari pekerjaan lah mendorong Agus berpikir cepat. Anjuran orang tua didengarkan berkah hasilnya. Bermula dari satu kolam di pekarangan rumah lambat laun diperbanyak.

Dia sekarang jutawan. "Alhamdulillah hasilnya bisa dilihat sekarang," ujar pria 35 tahun ini. Seorang alumni Universitas Brawijaya sudah menekuni usaha sejak 2005. Kalau awal cuma satu kolam kini banyak kolam yang sudah menempati tanah seluas 2 hektar.

Kepepet sukses


Usaha Agus menghasilkan jutaan. Padahal usaha lele dijalankan ayah sebagai sambilan. Ayah Agus seorang petani biasa. Cuma sebuah kolam ikan kecil di belakang rumah. Agus mengamati sang ayah serius beternak lele. 

Tamat SMU, dia tidak berminat meneruskan usaha ayah. Ayah Agus meninggal dunia ketika dia hendak dewasa. Dia memilih melanjutkan kuliah. Membiayai sendiri, dan akhirnya Agus lulus dan bekerja di sebuah Bank Swasta di Kediri.

Sebagai karyawan dia tidak tahan. Uang gaji dianggap pas- pasan. Dorongan menjadi wirausaha bergejolak sampai dia memilih keluar. Uniknya pertama terpintas dalam benak Agus hanyalah jadi petani. Ternyata dari sana hasilnya malah semakin tidak seberapa.

Mata Agus lantas melirik ke tanah galian ayahnya. Kolam ikan tersebut menggelitik Agus melanjutkan usaha budidaya ikan lele. Dia ingin beternak lele. Berbeda dengan sang ayah, Agus tidak mau menjadikan usaha budidaya lele sebagai pekerjaan sambilan. Dia kesana- kemari memasarkan hasil budidaya tanpa kenal lelah.

Ia menembus pasar. Kemudian mendapatkan kepercayaan menjadi penyedia bibit lele. Singkat cerita bahkan dia mampu mengirim sampai ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Bali, dan Kota besar lain. Pasaran diambil Agus meluas begitu pula tanah kolam lele miliknya. Menjadi dua hektar usaha lele Agus makin berjaya saja.

Omzet diraup Agus berlipat ganda sampai ratusan juta. Angka fantastis buat pengusaha asal desa yang tidak dia nikmati sendiri. Dia lalu membuka lapangan pekerjaan puluhan pemuda kampung. Omzet 2 juta bibit ikan lele dan omzet mencapai Rp.200 juta per- bulan.

Semakin bersemangat Agus mulia menyasar ikan Gurame dan Patin. Banyaknya permintaan, ia mulai aktif mengajak kawannya membantu usaha Agus. Ada 30 orang pegawai membantu Agus setiap harinya untuk membudidaya ikan. Ia percaya bahwa usaha apapun jangan dipandang sebelah mata.

Usahanya memang besar tetapi bukan tidak pernah rugi. Ia bercerita pernah bibit lele ratusan ekor miliknya mati. Agus lalu mencari solusi disetiap kegagalan pernah dia rasakan.