Pusat Pembuatan Pupuk Organik Sederhana Sleman

Profil Pengusaha Haryo Muyono.dkk 



Kotoran sapi dapat dijadikan pupuk. Fakta sederhana mampu mengangkat harkat peternak lokal. Contoh kisah kelompok ternak bernama Sedyo Makmur asal Dusun Ngemplak I, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman. Mereka yang tidak cuma beternak sapi sekarang dikenal berjualan pupuk organik.

Secara mandiri mereka membangun usaha aneka macam. Semua berkat sosok Pak Haryo Muyono, yang mana menjadi penggagas aneka usaha. Berkat kerja sama pintar mereka tumbuh signifikan. Dari memelihara cuma 13 ekor menjadi 143 ekor dalam kandang komunal seluas 2.600 meter persegi.

Saking banyaknya usaha mereka terbaru untung. Yakni usaha pembuatan pupuk berkilo- kilo. Kalau tidak ia akan membersihkan kotoran yang per- sapinya menghasilkan 25kg sehari. Kalau dulu mereka akan langsung kirim ke petani buat dibikin sendiri, sekarang tidak.

Sejak 2011, usaha mereka termasuk mengolah pupuk, kalau mentah dijadikan siap dipasarkan. Dikomandoi oleh Wiharjo membuat pupuk lewat komposer. Pada area seluas 14x5 meter kotoran sapi diolah menjadi pupuk kemasan. Mereka meyakinkan produk mereka sama kualitasnya dengan hasil pabrikan.

"Setiap kilo kami jual Rp.600," ujar Harno, sebagai penanggung jawab produksi pupuk Kelompok Ternak Sedyo Makmur.

Selain usaha tambahan juga berguna mengurangi limbah. Memang sudah dikenal lama usaha peternakan memang menghasilkan limbah tidak tertangani. Haryo.dkk menjual selisih seratus rupiah dari pupuk milik pemerintah. Alhasil mereka mendapatkan banyak pesanan pupuk sampai kwalahan ketika musim tanam.

Karena banyaknya pesanan, dan lahan pengolahan dan mesin masih terbatas, maka Harno.dkk tak jarang mengirim mentahan karean takut mengecewakan. Pupuk diolah 40 persen dulu lantas dikirim ke petani agar diolah di sawah. Soal pengiriman, petani akan datang sendiri ke pusatnya, belum ada marketing khusus.

Pembuatan pupuk kandang cukup kapur, ketes tebu, serta bahan pengurai. Per- tahun mereka memproduksi selama tiga kali. Mereka fokus berproduksi ketika musim tanam. Kan petani tidak setiap waktu butuh pupuk kandang. Hasil penjualan akan dibagi buat kelompok sebesar 80:2.

"Dalam sebulan kami memproduksi 2,3 ton pupuk organik," jelas Harno. Untuk proses pembuatan meski terlihat mudah tetapi butuh waktu.

Bisnis bersama


Butuh waktu sampai pengurai bereaksi. Prosesnya tergantung cuaca juga loh. Tiga pekan dibutuhkan dalam proses penguraian, jika tidak musim hujan. Kalau musim hujan, ia mengatakan mebutuhkan waktu sampai enam pekan. Kesuksesan ini berkat penyuluhan dan pelatihan Dinas Pertanian setempat pada 2011 silam.

Berawal pelatihan tersebut kelompok peternak ini mantap. Mereka mencoba sendiri memproduksi pupuk organik. Sayangnya pembuatan pupuk terkendala mahalnya peralatan produksi.

Atas saran pihak Dina, Harno bersama kawan- kawan, mengajukan proposal ke pusat dan ternyata mereka kabulkan. Mereka memberikan bantuan alat penggiling, kandang komunal, rumah produksi, serta motor roda tiga. Bantuan diberikan pemerintah senilai Rp.340 juta buat memproduksi pupuk organik.

Pertama pembuatan dia mencampur kotoran dengan pengurai, tetes tebu, kapur. Campuran tersebut maka didiamkan beberapa hari sampai mengurai. Proses penguraian juga harus dibolak- balik. Sekali seminggu kalau musim kering. Dua minggu sekali kalau musim hujan tiba.

"Untuk pembalikan ini dilakukan tiga kali," imbuhnya.

Sudah terurai maka akan digiling kemudian dikemas. Buat lebih bagus dilakukan pengayakan agar tidak ada gumpalan. Namun karena dia belum memiliki mesin pengayak, yah, terpaksa bisa langsung dikemas agar cepat. Walau tekstur bagus dibutuhkan waktu tidak kurang lima jam.

Sebulan mereka mampu mengolah 2,3 ton pupuk. Mereka juga menjual di toko pertanian. Atau petani yang terdekat dapat membeli langsung ke mereka. Total sapi 143 ekor berbagai jenis termasuk limusin, metal, peranakan ongle.

Semuanya merupakan milik dari 38 anggot kelompok tersebut. Dari segitu cuma 60% nya dijadikan pupuk sisanya dijadikan langsung sebagai pupuk kandang. Hasil penjualan dibagi 20% untuk anggota pengembang kelompok tani dan 80% buat pemilik sapi. Hasilnya berhasil menunjang penghasilan masing- masing kepala.

Harno sendiri dibantu Wiharjono, pensiunan guru yang banting stir menjadi peternak sapi. Demi uang pensiun mereka banting tulang bekerja keras. Menurutnya merawat sapi seperti merawat siswa. Kalau mereka lapar ya mereka minta makan, saat kenyang yah kenyang. Kadang mereka suka rewel butuh penanganan khusus sendiri.

Wiharjono sendiri juga membuka usaha penggemukan sapi. Sapi dua tahun dibeli Rp.15 juta, digemukan olehnya sampai 4- 6 bulan. Nilai bertambah sekitar Rp.1 jutaan atau nilai jual sampai Rp.20 jutaan. Lalu dia potong bermodal biaya produksi Rp.400 ribu.

"Ibaratnya saya sekarang digaji oleh sapi," candanya. Selain usaha pembuatan pupuk organik. Termasuk mereka mengerjakan usaha pembuatan pupuk cair dan biogas.

Dilarang Usaha Aqiqah Tetap Ngotot Hasilkan Ratusan Juta

Profil Pengusaha Teguh Arif Hidayat 


 
Menjadi pengusaha muslim usaha apa terbaik. Apalagi kalau bukan usaha aqiqah. Ini salah satu ajaran yang disunahkan umat muslim. Bayangkan 4,5 juta bayi terlahir dan beraqiqah menjadi sunahnya. Dan banyak umat muslim mulai sadar pentingnya beraqiqah. Di era sekarang aqiqah tidak lagi rumit banyak kemudahan.

Banyak pengusaha aqiqah bermunculan. Dari pengusaha veteran sampai yang pengusaha muda sukses. Salah satu pengusaha veteran dibidang aqiqah adalah Teguh Arif Hidayat. Tahun 2007 silam, dirinya mulai berbisnis aqiqah bernama As Shidiq. Kala itu mencari lembaga pemberi layanan aqiqah tidak semudah sekarang.

Ia harus mencari kambing atau domba sendiri. Saking sulitnya mencari, sampai Teguh mendapatkan kambing dari daerah Priuk, Jakarta Utara. Disitulah ide mengenai usaha aqiqah terbentuk. Kenapa tidak dia memberi layanan penjualan sekaligus pengolahan menjadi satu, sebuah bisnis profesional seperti sekarang.

Uang tabungan sebesar Rp.750 ribu dijadikan modal. Taguh lantas membeli beberapa peralatan memasak dari kompor dan penggorengan. Uniknya kambing dan domba baru dibeli setelah ada pesanan. Jadilah Teguh mulai menawarkan usaha aqiqah tanpa kambing.

Sukses nekat


Strategi bisnis Tegus mudah kok. Dia langsung membagi brosur. Mencetak brosur mengenai usahanya lantas menempelkan di tempat strategis. Paling menarik iyalah Teguh menitipkan brosur ke apotik. Kemudian dia juga memberikan informasi kepada rekan kerja, tetangga, dan saudara.

Untuk layanan tambahan, dia mendobrak lewat cara mencicil kambing. Ini dapat mempermudah masyarakat menyiapkan aqiqah anak jauh hari. Nilai angsurang disesuaikan harga hewan ditambah perkiraan kapan si calon bayi lahir. Hasil layanan tersebut terbukti manjur. Bulan pertama berbisnis dia mendapatkan 7 pesanan kambing.

Pada bulan kedua dia mendapatkan 12 ekor. Bulan ketiga mendapatkan pesanan sampai 20 ekor. Usaha dia jalankan membaik membuat rekan kerja Tegus ikutan. Dia memberikan suntikan dana modal Rp.5 juta ke Teguh. Rekan kerja Teguh itu juga menunjukan tempat pemasok kambing dan domba asal daerahnya.

Semenjak itu pula usaha dijalankan Teguh makin berkembang saja. Sukses bukan berarti ia lekas puas akan hasilnya. Dia ngebut membeli lahan untuk dibangun rumah 3x5 meter sebagai dapur dan kandang. Rumah yang terletak di bilangan Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Rumah tersebut dijadikan tempat penggemukan kambing. Tempat pemotongan kambing sekaligus dimasak di sana. Teguh yakin akan kualitas nomor satu selalu punya cara meningkatkan itu.

Cara meningkatkan layanan seperti membuat varian masakan. Aqiqah bernama As Shidiq ini memiliki aneka menus seperti tongseng, gulai semur, kare, dan lainnya. Untuk kambing atau domba orang bisa datang ke tempatnya buat memilih langsung. Pembeli juga bisa melihat proses penyembelihan langsung.

"Ada bonus buku risalah akikah dan jika diperlukan dokumentasi hewan," ia tambahkan.

Memang inovasi layanan selalu diberikan Teguh. Bahkan dia sudah masuk ke ranah internet lewat website milik sendiri www.akikahmurah.com. Dimana dia menyampaikan tipe layanan akikah. Juga termasuk harga kambing atau domba dijual serta aneka promosi lainnya.

Informasi lain juga berupa edukasi tentang aqiqah. Dia mengedukasi calon konsumen sehingga tidak salah memilih. Namun startegi melalui internet bukanlah strategi utama. Kesuksesan aqiqah As Shidiq memang dari offline. Dimana 90 persen konsumen baru merupakan hasil rekomendasi pelanggan.

Sukses layanan


Memberikan layanan satu atap membuat aqiqah lebih menarik. Berbeda jika dulu dimana orang harus cari sendiri kambing ditambah masak sendiri. Konsep one stop solution dianggap lebih murah, serta gampang buat dijalankan, maka pelanggan tidak perlu khawatir kehabisan waktu buat aqiqah.

Pelayanan terbaik selalu diberikan Teguh. Dia sendiri mampu menjual sampai 750 ekor kambing atau domba per- bulannya. Mengejutkan omzet diraup Teguh telah mencapai Rp.750 juta. Untung kotornya sampai 20- 30 persen dari harga satu kambing yakni Rp.600 ribu sampai Rp.1 juta.

Teguh sadar membuka usaha aqiqah berarti ibadah. Makanya dia lebih memilih menyasar masyarakat kelas menengah bawah. Ini ditunjukan dengan kemudahan membeli kambing atau domba lewat angsuran. Dia ingin mengedukasi bahwa aqiqah bisa murah. Orang Islam bisa mengikuti sunah tanpa khawatir soal uang lagi.

"Selama ini persepsinya aqiqah mahal, padahal tidak," imbuh dia. Dia bahkan menyebutkan uang Rp.400 ribu sudah dapat kambing dan diolah secara syar'i. "...umurnya cukup dan sehat," tambahnya.

Seiring kemajuan usaha aqiqah, pria penghobi baca ini melebarkan sayap ke bisnis lain. Seperti katering dan restoran khusus kambing atau domba. Semua karena permintaan konsumen sudah terpenuhi. Ia menambah lagi bahwa bisnis katering sejalan bisnis aqiqah. Berarti orang dapat memasakan ke dia langsung tanpa repot.

Dia juga menyiapkan peralatan makan lengkap. Jadilah orang tinggal cari tempat buat acara aqiqah dan isi semua ditangani As Shidiq aqiqah. Semua makanan tinggal dihidangkan ke pengunjung acara aqiqah. Untuk usaha resto dibuka di JL. Ciledug Raya, Petukangan Selatan. Menu disajikan sate kambing dan domba dia sendiri.

Walaupun terlihat biasa, restoran dihadirkan Teguh, menurut klaimnya memiliki cita rasa berbeda. Dimana dia menyuguhkan sate barbeque, saos padang dan lada hitam. Suami dari Nurlela ini memang memiliki semangat wirausaha tinggi. Dia bahkan tengan mengkonsep sistem kemitraan modal agar usahanya makin menyebar.

Dia tidak memilih waralaba atau franchise. Dia lebih memilih ke sistem pendanaan bersama. Join venture mungkin istilah tepat buat usahanya. Dari pihaknya yang akan mengelola sementara hasilnya bagi hasil.

Dilarang jadi pengusaha


Kisah sukses Teguh bukanlah tanpa hambatan. Orang tua mana mau anaknya jualan kambing. Padahal dia sudah disekolahkan tinggi- tinggi sampai kuliah. Padahal dia bekerja di perusahaan sekelas Nokia. Ganjalan hati tersebut sempat membuat usahanya agak tersendat. Apalagi ketika dia memutuskan keluar dari perusahaan.

Orang tua mana mau anaknya bergaji tinggi kini jualan kambing. Pilihan sulit diambilnya di tahun 2008 tetapi dia sudah melihat arah bisnisnya. Dalam benaknya ada kegamangan antara membesarkan perusahaan orang lain atau menjadi pemilik usahanya sendiri. Waktu itu permintaan kambing aqiqah sudah meledak butuh dia disana.

Butuh seseorang buat menjalankan usaha aqiqahnya. Dia sendiri harus turun tangan. "Tidak enak juga jika harus sering terlambat ke kantor. Apalagi tanda tangan saya diperlukan untuk mengambil suku cadang," ia mengenang. Orang tua langsung protes mempertanyakan keputusan Teguh keluar dari kantor.

Masuk akal karena berkat orang tua, Teguh bisa lulus kuliah jurusan ekonomi di Universitas Budi Luhur, dia ingat betul kedua orang tuanya bekerja keras banting tulang. Tetapi dia tetap yakin ngotot melanjutkan usaha di bidang aqiqah ini.

Dia membuktikan bahwa jualan kambing bisa sukses. Bahkan dari usahanya kini, Teguh mampu mengakat kedua orang tuanya berangkat haji. Dia juga membantu adik sampai kuliah. Tidak perlu khawatir karena omzet usahanya sudah ratusan juta dan punya restoran sendiri.

Seiring usaha berkembang jumlah pegawai meningkat. Dia memiliki 29 pegawai bekerja. Dia mengambil orang- orang yang minim keahlian. Sebagian besar merupakan buta aksara yang membutuhkan pertolongan.

Tidak Punya Pekerjaan Sukses Memelihara Lele

Profil Pengusaha Agus Efendi


 
Selain sibuk menjadi ketua organisasi kepemudaan GP Ansor Kecamatan Gudo. Hal lain dikerjakan Agus Efendi di kampnya adalah berbisnis sendiri. Usaha dijalankan kolam budidaya lele. Hasilnya lumayan loh, ia pun bercerita bagaimana bisnis kecilnya menguntungkan.

"Siapa bekerja dengan sungguh- sungguh, pasti akan berhasil," Agus membuka.

Pemuda Desa Sukopinggir, Kec. Budo, Kabupaten Jombang ini, awalnya bermodal dari usaha kolam ikan satu kolam. Lumayan usaha kecil Agus menghasilkan 2 juta bibit per- bulan sekarang. Sudah dijalankan lebih dari 12 tahun bukan tidak ada halangan ataupun kerugian.

Ini ternyata usaha keluarga. Ia sendiri tidak begitu berminat meneruskan. Tetapi susah mencari pekerjaan lah mendorong Agus berpikir cepat. Anjuran orang tua didengarkan berkah hasilnya. Bermula dari satu kolam di pekarangan rumah lambat laun diperbanyak.

Dia sekarang jutawan. "Alhamdulillah hasilnya bisa dilihat sekarang," ujar pria 35 tahun ini. Seorang alumni Universitas Brawijaya sudah menekuni usaha sejak 2005. Kalau awal cuma satu kolam kini banyak kolam yang sudah menempati tanah seluas 2 hektar.

Kepepet sukses


Usaha Agus menghasilkan jutaan. Padahal usaha lele dijalankan ayah sebagai sambilan. Ayah Agus seorang petani biasa. Cuma sebuah kolam ikan kecil di belakang rumah. Agus mengamati sang ayah serius beternak lele. 

Tamat SMU, dia tidak berminat meneruskan usaha ayah. Ayah Agus meninggal dunia ketika dia hendak dewasa. Dia memilih melanjutkan kuliah. Membiayai sendiri, dan akhirnya Agus lulus dan bekerja di sebuah Bank Swasta di Kediri.

Sebagai karyawan dia tidak tahan. Uang gaji dianggap pas- pasan. Dorongan menjadi wirausaha bergejolak sampai dia memilih keluar. Uniknya pertama terpintas dalam benak Agus hanyalah jadi petani. Ternyata dari sana hasilnya malah semakin tidak seberapa.

Mata Agus lantas melirik ke tanah galian ayahnya. Kolam ikan tersebut menggelitik Agus melanjutkan usaha budidaya ikan lele. Dia ingin beternak lele. Berbeda dengan sang ayah, Agus tidak mau menjadikan usaha budidaya lele sebagai pekerjaan sambilan. Dia kesana- kemari memasarkan hasil budidaya tanpa kenal lelah.

Ia menembus pasar. Kemudian mendapatkan kepercayaan menjadi penyedia bibit lele. Singkat cerita bahkan dia mampu mengirim sampai ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Bali, dan Kota besar lain. Pasaran diambil Agus meluas begitu pula tanah kolam lele miliknya. Menjadi dua hektar usaha lele Agus makin berjaya saja.

Omzet diraup Agus berlipat ganda sampai ratusan juta. Angka fantastis buat pengusaha asal desa yang tidak dia nikmati sendiri. Dia lalu membuka lapangan pekerjaan puluhan pemuda kampung. Omzet 2 juta bibit ikan lele dan omzet mencapai Rp.200 juta per- bulan.

Semakin bersemangat Agus mulia menyasar ikan Gurame dan Patin. Banyaknya permintaan, ia mulai aktif mengajak kawannya membantu usaha Agus. Ada 30 orang pegawai membantu Agus setiap harinya untuk membudidaya ikan. Ia percaya bahwa usaha apapun jangan dipandang sebelah mata.

Usahanya memang besar tetapi bukan tidak pernah rugi. Ia bercerita pernah bibit lele ratusan ekor miliknya mati. Agus lalu mencari solusi disetiap kegagalan pernah dia rasakan.

Kisah Tukang Cupang Kaya Berkat Botol Bekas

Profil Pengusaha Sukses Yono


 
Yono bukanlah pemulung botol. Cuma dia hobi mengumpulkan puluhan botol bekas. Buat apalagi ya kalau bukan buat dibisniskan. Bisnis pria empat puluh lima tahun ini terbilang unik. Dia tidak menjual. Tidak pula dijadikan kerajinan. Dia menyulap botol seperti aquarium buat budidaya ikan.

Pengusaha kecil ini berbisnis botol bekas dijadikan tempat budidaya. Usaha kecil yang diam- diam mampu menghasilkan puluhan juta. Jika kamu berkunjung ke rumah Yono, kamu akan melihat puluhan botol tersusun rapih berjajar berisi ikan hias cantik warna- warni.

Tidak cuma puluhan bahkan Yono kini punya ratusan. Bisnis yang ditekuninya sejak 5 tahun terakhir. Yaitu apalagi kalau bukan budidaya ikan cupang atau Betta Splendens. Budidaya cupang memang sudah dikenal luas tidak membutuhkan ruang luas. Dapat dilakukan memanfaatkan botol bekas orang.

Ia menceritakan kalau indukan betina dan jantan siap. Mereka akan dimasukan ke media lebih luas. Ingatlah mereka harus berumur 4 bulanan. Siap menikah kedua ikan tersebut akan jadi sendiri. Selesai, dalam kurang dari 2 bulan sudah menghasilkan telur. Pakan pakai ulat sutra pagi dan sora hari, gampang kan?

Hasil membudidaya ikan cupa Yono tersebar. Kebanyakan dijual di daerah Banjarnegara. Tetapi tidak juga sampai disana, Yono sudah mengirim sampai ke Sumatra, Surabaya, dan Jakarta. Sekali panen dia mampu menghasilkan 1.000 ekor. Ikan cupang dijualnya persatuan seharga Rp.5.000 sampai Rp.70 ribu.

Berkat ekspansi luas memasarkan ikan. Yono dikenal mampu menghasilkan omzet mencapai puluhan juta rupiah. Ini tentu sangat menginspirasi kita bukan. Dari cuma ikan cupang bermodal botol bekas mampu hasil jutaan rupiah. Sementara orang bekerja siang dan malam belum tentu berhasil.

Guna ikan cupang selain buat ikan hias, dapat membasmi jentik- jentik nyamuk, apakah kamu tertarik buat membudidaya ikan cupang?

Biografi Lo Kheng Hong Pemain Saham Terhebat Indonesia

Kisah Sukses Orang Miskin Maen Saham



Anak miskin maen saham. Jika dirunut kisah seorang Lo Kheng Hong tidak akan percaya. Bahkan jikapun kamu bertemu sosoknya tidak berbeda orang biasa. Siapa sangka anak miskin itu kini memiliki aset Rp.2.5 trililun dari maen saham. Kisah Lo memang panjang karena investasi saham memang butuh kesabaran.

Dia bukanlah pencari untung. Lo duduk santai di taman dekat rumah dibawah teduhan pohon kamboja dan pohon mangga. Pekerjaan dia tidak mengantor, tetapi asik membaca 4 koran sekaligus, memeriksa laporan perusahaan dan data statistik pasar saham, tidak sibuk kan?

Kerjanya cukup 3 hal yang disebutnya RTI: Read, Thinking, dan Investing. Berkat kejeliaanya dia mampu menghasilkan uang tanpa bekerja. Menghasilkan jutaan dan uangnya bisa digunakan berkeliling 5 benua. Ia menyebutkan setidaknya dua kali dalam setahun ke luar negeri.

"Biasanya saya bepergian bersama istri dan anak-anak saya. Di sana kami tinggal di hotel saja, lalu jalan-jalan. Saya orang yang bebas, tidak punya bos dan tidak punya karyawan," utasnya kepada SWA.co.id

Mulai dari nol


Keberuntungan menghinggapi mereka yang sabar. Lo merupakan sulung dari 3 bersaudara hidup sangat- sangat sederhana. Beruntung dia mampu melanjutkan kuliah Sastra Inggri ke Universitas Jakarta, dan tentu sambil bekerja tentungnya.

Sedikit menggambarkan seberapa miskin dia. Lo bercerita keluarga mereka tinggal di daerah terpencil. Jarak rumah sampai 30km dari Kota Pontianak. Orang tua Lo bekerja sebagai pemecah kelapa. Pekerjaan yang memakan waktu mereka seharian. Dari terbit matahari sampai senja mereka bekerja menghidupi keluarga.

Ia bercerita lama- lama orang tuanya bosan. Mereka merantau ke Jakarta tidak membawa bekal apapun. Ia tidak ingat. Di Jakarta, mereka akhirnya bekerja di toko, kemudian ya barulah melahirak Lo Kheng Hong. Rumah mereka sederhana sering kena banjir dan tanpa platform. Singkatnya Lo dapat lulus SMA kemudian bekerja.

Orang tua Lo tidak memiliki uang buat menguliahkan. Tidak patah semangat seperti penulis ceritakan diatas, Lo memilih bekerja. Dia bekerja sebagai tata usaha di Bank Swasta. Sambil bekerja dirinya menguliahkan sendiri sampai lulus. Tidak cuma kuliah sisa uang didapatkan kemudian sisihkan lagi.

Selama 17 tahun bekerja sudah disisihkan beberapa lembar. Uang tersebut Lo nekatkan masukan ke pasar saham.

Sejak 1979 dia berkuliah malam sambil bekerja di pagi hari. Ia menjadi pegawai tata usaha PT. Overseas Express Bank (OEB). Dia ingat betul uang masuk kuliah Rp.50 ribu, sedangkan uang bulananan cuma Rp.10 ribu. Tahun 1989 ia mulai menjadi investor saham pertama kali. Waktu itu umurnya sudah 30 tahun tidaklah muda lagi.

Jika dibandingkan Warren Buffett, Lo bisa dibilang kalah umur, karena Warren Buffett memulai saham sejak umur 11 tahun. Tidak masalah karena sejak awal niatnya bukan menjadi dia. Bekerja puluhan tahun tetapi ia tidak pernah naik jabatan. Lantaran perusahaan tidak melakukan ekspansi siginifikan jadi ya tidak ada jalan.

Sebagai bagian tata usaha diceritakan gajinya paling kecil. "Dan, modal saya berinvestasi saham pun hanya dari gaji," imbuh Lo. Kelebihan Lo adalah dia mau hidup hemat buat berinvestasi. Uang dipunyai sedikit ia langsung belikan saham. Kalau orang dapat uang dikonsumsi maka dia tabungkan cuma bentuknya saham.

Jika orang asik tengah mencicil mobil, maka Lo tengah asik mencicil perusahaan. Meski telah beraset triliun sampai sekarang dia masih asik memakai mobil berusia 10 tahun. Ia berinvestasi saham karena kepincut atas capital gain besar. Kalau saham IPO waktu itu dijual seharga Rp.7.250, kok tidak lama sudah jadi Rp.35 ribu.

Bayangkan untungnya sampai 400%. Awal investasi saham, ia ingat menggelontorkan uang Rp.10 juta, dia cuma dapat beberapa lot waktu itu loh. Tetapi sedikit nilai naik begitu juga nila aset Lo. Saham pertama kali Lo Kheng Hong beli adalah PT. Gajah Surya Multi Finance ketika IPO.

Waktu pertama kali memulia dia sempat gagal. Dia bercerita bagaimana lelahnya dia mengantri. Dia antrean panjang di Gedung BDNI Hayam Muruk. Nah ketika sudah lisiting, saham sudah ditangan, eh kok harganya malah turun drastis. Alhasil dia harus jual semua saham dibawah harga beli waktu itu.
Dia belajar otodidak. Dia memiliki setidaknya 40 buku Warren Buffett. Yang mana bukunya sudah dibaca 4- 5 kali. Masuk tahun 1990, ia pindah ke Bank Ekonomi bagian pemasaran, diman setahun menjadi kepala cabang. Di tahun 1996 tepat 17 tahun dirinya bekerja di perbankan. Ia memutuskan berhenti bekerja buat saham.
Keputusan aneh tetapi bekerja. Alasan utama kenapa berhenti kerja karena return berbisnis saham lebih dari pendapatan. Lumayan begitu kata Lo. Tidak memilih obligasi karena returnya kecil. Tidak pula dia pernah masuk ke reksa dana. Alasannya karena uang dikendalikan orang lain. Bagaimana jika orangnya tidak jujur dan sebagainya.

Manajer investasi tidak jujur sudah banyak. Ia menekankan bahwa maen saham justru lebih unggul. Dia tidak pula bermain emas. Alasan utama karena emas tidak produktif. Penjelasan singkat Lo, kamu membeli 1kg emas maka sepuluh tahun tetap 1kg emas. Tidak pula membeli dollar. Alasan satu ini terdengar sangat baik loh.
Menurutnya orang membeli dollar berharap krisis, berharap Indonesia mengalami keburukan, negera diharap tidak stabil, agar rupiah lemah dan untung cepat. Sedangkan saham kebalikannya orang tidak mengharap keburukan. Kamu menganalisa dan berharap kinerja perusahaan membaik sehingga memberikan untung.

Lo juga menyarankan kamu jangan menabung di Bank. Pasalnya bunga kecil tidak menghasilkan untung. Ia sendiri menyimpan seperlunya tidak semua. Bagaimana dengan deposito? Tidak pula pilihan, ia menyebut bahwa ketika deposito ketika inflasi dengan bunga kecil sama saja miskin pelan- pelan.

Dalam sebelas tahun belakangan contohnya bursa efek tumbuh. Sejak bom Bali 2002 IHSG telah naik dari 330 jadi 5251 pada Mei 2013. Ada saham sampai naik seribu persen. Pernah dia membeli saham dari perusahaan petrokimia seharga Rp.200, pada tahun 2008 malah turun jadi Rp.60, tidak dijual tetapi malah beli.

Dia membeli makin banyak hingga pada tahun berikutnya harga naik jadi Rp.600. "...dan saya menjualnya," ia berujar.

Investor bukan pengusaha


Dia mengakui dirinya sebagai investor. Menurut Lo, investror nafasnya harus panjang buat bermain sampai bertahun tanpa berhenti, hingga menghasilkan nilai. Seorang investor berarti kuat secara modal. Maka ia menyarankan jangan memakai uang hutang atau uang sehari- hari sebagai investasi bursa saham.

Contoh nyata kenapa bukan uang sehari- hari. Lo Kheng Hong pernah dikabarkan rugi besar sampai uang tinggal 15% pada krisis 1997- 1998. Namun dia tetap membeli saham meski posisi rugi. Dan hasilnya uang berbalik ketika ekonomi membaik. Bahkan nilai asetnya berlipat sejak 1998 sampai tahun 2013 lampau.

Pekerjaan Lo sebagai investor adalah mencari saham "salah harga" di bursa. Ia menggunakan strategi yang sangat sederhana beli paling murah tetapi paling bagus prospeknya. Kemudian kamu simpan, menunggu sabar, hingga si bursa saham sadar bahwa saham itu terlalu murah dan naik ke harga seharusnya tertulis.

Disinilah kamu mendapatkan keuntungan. Ia menjelaskan 90% investor tidak tau apa yang mereka beli. Dia melanjutkan investor kebanyakan seperti membeli kucing dalam karung.

Contoh lagi ketika Lo membeli saham PT. Multibreeder Adirama Indonesia Tbk, perusahaan ternak ayam terbesar kedua seharga Rp.250. Dia dapat 8,28% saham di pasaran atau senilai 6 juta. Total lembar saham di pasaran mencapai 75 juta. Nilai perusahaan Rp.250 kali 75 juta atau setara Rp.18,75 miliar.

Padahal kalau dihitung untungnya mencapai Rp.106 miliar. Banyak investor tidak sadar. Alhasil ketika dia asik menyimpan dan menjual, harganya tepat naik sampai Rp.31.500 di tahun 2011 -an. "Saya memperoleh untung 12.500%," jelasnya.

Ia pernah memiliki 850 juta lembar saham PT. Panin Financial Tbk. Dimana dia membeli sewaktu harganya masih Rp.100. Sukses dalam 1,5 tahun harga sudah naik Rp.260 per- lembar, bahkan masih terus naik jadi Rp.300 per- lembar. Bicara tentang hasil maka properti pertama dia adalah rumah tinggal di Green Garden.

Ini hanya dari investasi pasar saham loh. Dia membeli sejak Januari 1994, dimana pada 1993 dia sudah bisa menghasilkan uang cukup buat membeli rumah. Dia ingat betul ini merupakan hasil penjualan saham PT. Rig Tenders Indonesia, perusahaan pelayaran, dimana harga beli Rp.800, dan dijualnya seharga Rp.1.300 per- lembar.

Waktu itu pasar saham liquid. Dia tidak punya apa- apa. Hanya satu saham tersebut dipertahankan karena ia memang tidak punya banyak uang. Waktu itu pasar saham tengah booming. "Saat itu saya tidak beli banyak," ia lanjutkan. Untung kejeliannya tepat. Sekarang dia bahkan sudah punya apartemen di Pantai Mutiara dan vila di Cisarua.

Tidak ada properti disewakan. Ia menganggap dirinya adalah investor saham. Baginya membeli saham sudah cukup dibanding menyewakan apartemen.

Bekerja sambil tidur


Angka aset Lo Kheng Hong tidak pasti. Angka diatas bisa saja lebih atau kurang. Namun yang pasti dalam sebuah sesi seminar ketika ditanya: Dia mengatakan hasilnya cukup buat seumur hidup. Soal besaran aset yang dia pegang dan aset saham. Maka dia memiliki lebih banyak uang di bursa dibanding berupa aset nyata.

Bahkan dia menyebut rumah, apartemen, vila, hanyalah 1% dari kekayaan. Kini dia sendiri sudah tidak terlalu aktif seperti membeli saham IPO. Cuma membeli saham yang diperdagangkan di bursa saja. Ia lebih memilih membeli saham perusahaan batu bara, kan sedang banyak jatuh dan harga bisa dibeli murah meriah.

"Saat ini saya memiliki lebih dari 20 emiten, salah satunya adalah saham PT. Petrosea Tbk yang saat ini kepemilikannya telah mencapai sekitar 9%," ujarnya.

Dia tidak pernah punya target soal saham. Menurutnya bursa saham tidak dapat diprediksi. Hari esok bagi seorang investor adalah misteri. Yang pasti dia selalu membaca anual repot dari saham- saham miliknya. Ia akan menemukan bidang usaha, laba usaha, keuangan, pemiliknya, direkturnya dan komisarisnya.

Tidak membeli kucing dalam karung. Tuhan memang Maha Pengampun. Tetapi bursa efek tidak mengenal kata ampun kepada orang yang tidak tau apa yang mereka beli.

Yang pasti dia tidak cuma memiliki saham beruntung besar. Ia juga mahir dalam hal mengambil saham yang digoreng. Uniknya dia bukanlah tipikal investor yang sepanjang hari melototi bursa efek. Lo bahkan tidaklah melengkapi diri dengan gadget ataupun aplikasi mutahir.

"Investor saham kebanyakan ikut- ikutan tidak tau apa yang dibeli," imbuhnya. Ia menyebutkan semakin cepat panik investor, menunjukan ketidak tauan.

Ayah dua anak ini memilih menjadi investor jangka panjang bukan seorang trader. Obsesinya tentang saham tergambar dari bentuk kekayaan, yang ia sebut hampir seluruhnya saham. Dia punya dana cash 15% buat jaga- jaga ketika krisis. Kalau krisis uang itu akan buat dibelikan saham lagi lah.

"Saya tidak bekerja, saya tidak punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak pula punya karyawan seorang pun, dan tidak punya bos," ujarnya bangga, cuma punya seorang sopir dan pembantu.

Sudah 22 tahun dia bermain saham Umurnya sudah kepala lima dan masih terus berkarya. Tidak cuma jadi investor tetapi juga mengedukasi orang Indonesia buat ikutan saham. Kenapa memilih saham karena tidak lah capek seperti sektor rill. Orang banyak tau orang rugi, jatuh miskin karena saham, bahkan sampai bunuh diri juga.

Tetapi kebanyakan orang tidak tau ada Warren Buffett. Untung bermain saham lainnya adalah kita tidak kerja. Yang bekerja adalah mereka para direksi, eksekutif, komisari, manajer. Istilah kerennya tidur saja bisa dapat duit. Banyak waktu bebas diakui Lo dimiliki sehari- hari, tetapi bukan tanpa terus belajar loh.

Mereka pemilik saham yang dapat untung. Sementara pegawai bahkan eksekutifnya cuma dapat sisanya. Soal memilih perusahaan baik yaitu perhatikan manajemen, terus manajemen, kemudian manajemen lagi, dan barulah lain- lain. Janganlah membeli sesuatu yang kamu tidak tau.

Ia menyebut sektor sepatu, garmen, dan tekstil kurang menarik. Justru pakan ayam serta kelapa sawit lebih menggiurkan. Kan banyak orang makan ayam? Selain itu dampak negatif ayam juga kecil. Ayam menjadi satu makanan pilihan ketika daging sapi mahal, juga mudah diternakan.

Kemudian dia mengisaratkan ada empat jenis perusahaan: Perusahaan yang untung terus, perusahaan yang rugi terus, ada yang untung besar terus stagnan, adapula perusahaan tumbuh meski kecil tapi stabil. Inilah perusahaan ke empat yang Lo target cari di pasar saham. Kalau lima tahun kedepan tumbuh belakangan akan baik.

"Kalau sudah lima tahun berturut- turut tumbuh, tandanya sudah super company," imbuh Lo.

Harga Rp.200 jangan dibilang murah dibanding harga Rp.70.000, tergantung emitennya. Memang baik membeli saham yang dibawah harga itu sangat potensial kedepan. Untuk waktu lebih enak ketika ada krisis seperti Eropa, Yunani, dan Amerika.

Lo memang lebih suka bekerja di taman. Padahal dia banyak ditawari kantor olah para milinuer Indonesia. Ia malah memilih taman rindang dengan banyak pohon. Kegiatan setiap hari terutama di pagi hari mencari info tentang emiten. Membaca surat kabar senilai 480 ribu per- bulan. Dia juga mengliping artikel penting buat pribadi.

Tidak sampai disitu, ia akan memlototi informasi dari BEI, dimana dia mendapatkan informasi past tentang perusahaan melantai di pasar saham. Minimal dia membaca 100 pengumuman keterbukaan informasi dalam halaman web BEI sebagai arsip pribadi.

Investasi susah gampang


"Buy on weakness. Be greedy when others are fearful. Be fearful when others greedy," pepatah lama Lo.

Ia mengibaratkan hidupnya ingin seperti Warren Buffett, bukan Bernard Madoff. Itulah mantan bos bursa NASDAQ yang tidak dapat mengelola uang nasabah. Menunjukan bahwa dia cuma paham teori sjaa bukan praketknya.

Pasar saham pun bukan soal berapa uang dikeluarkan. Orang mengeluarkan uang puluhan juta buat kuliah lalu jadi pintar. Kalau bursa saham masuk ke dalam, keluar uang miliaran, keluar bukannya pintar malah jadi makin bingung. Pintar teori saja tidak cukup bagi investor. Maka bacalah laporan keuangan emiten satu per- satu.

Ia menyebut dirinya 100% fundamental. Dia selalu lihat manajemen dan pertumbuhan perusahaan. Kalau ia mengistilahkan teknikal cuma grafik semua diabaikan. Total 400 emiten di pasar banyak yang fundamental bagus, tetapi banyak orang terjebak. Orang sibuk ketika tidak sesuai perhitungan kira- kiranya satu hari.

Jangan percaya kalau iklan bilan tetap untung. Sekelas Warren Buffett saja tetap merugi ketika terjadi krisis di Amerika. Dia tipikal yang akan keep kalau benar bagus. Kalau kiranya dilepas maka dia akan memilih ia melepas, untung sampai 300% per- bulan.

Filosofi hidup Lo Kheng Hong adalah menjadi kaya sambil tidur. Status perusahaan sahamnya dia telah beli menjadi teman tidur. Ketika dia tidur maka perusahaan akan bekerja untuk dia. Menjadi kaya sambil tidur butuh kecermatan dan emiten bagus. Lo masih sempat tidur delapa jam sementara orang lain lembur kerja.

Guru Menanam Jamur Tiram Asal Pekalongan

Profil Pengusaha Sukses Kasnawi 



Dia pernah bekerja menjadi pegawai usaha jamur. Sebuah usaha kecil- kecilan yang dilakukan tetangganya sebelah rumah. Lama kelamaan Kasnawi mulai jago soal merawat jamur tiram ini. Ujung- ujungnya pria asal Pekalongan, warga Dukuh Nolo, Desa Kalirejo, Kec. Talun, Kab. Pekalongan ini, memilih membuka usaha sejenis.

Kasnawai mengaku ternyata tidak semudah dibayangkan ketika bekerja. Walau sudah pengalaman berbisnis itu ternyata susah butuh keseriusan. Tidak sedikit kegagalan dilalui dia sampai menempati posisi sekarang. Ia telah dikenal sebagai salah satu pengusaha jamur ternama.

Keuletan dan pantang menyerah menjadi andalan pria 24 tahun ini. Berlanjut usaha budidaya jamur di rumah sendiri berkembang. Dimulai sejak tahun 2013, munurutnya dibutuhkan modal sekitaran Rp.3 jutaan. Awalan berusaha sudah termasuk menyediakan rak bambu. Untuk membangun ruangan seluas 2m x 5m di samping rumah.

Rak bambu tersebut digunakan untuk menempatkan baglog. Untuk awalan, ia menjelaskan, kamu siapkan baglog siap panen. Tinggal pelajari lebih dalam bagaimana memanen bibit sendiri. Lama- lama Kasnawai jadi lihai dalam hal membuat tempat menanam sendiri. "Pernah 700 baglog gagal semua. Sebab salah membuat media."

Sebenarnya mudah membuat media tanam sendiri. Namun dibutuhkan takaran tepat. Itulah kenapa diawal, ia sering mengalami kegagalan padahal bahan bakunya mudah. Dia sendiri sekarang mahir membuat sendiri itu baglog.

Bisnis jamur


Ketika akan menanam bibit, ingat buat mencuci tangan pakai alkohol atau spirtus. "...begitu juga stiknya," ia menjelaskan caranya. Lokasi harus kamu pastikan steril. Untuk bibit dia beli dari Purwokerto seharga Rp.9 ribu per- botolnya dan memakai 60 baglog. 

Perhatikan ketika warna putih pada baglog. Jika putih bersih maka berhasil atau jamur tumbuh sehat. Spora akan turun dalam tempo 40 hari selepas ditanam. Kemudian kamu menaruhnya ke ruang budidaya. Nanti ditunggu saja seminggu maka akan berbuah. "...dan seminggu kemudian siap dipanen," tutur dia.

Panen rata- rata mencapai 10kg. Tidak pasti 10kg loh. Biasanya antara 9- 12 kg juga bisa. Dia sendiri dapat bantuan dari istrinya, Rohyati, wanit 30 tahun yang telaten membantu memanen. Dia menyebutkan jumlah segitu masih kecil bahkan dibanding murid Kasnawi.

Perkilogram disebutkan dihargai Rp.9.000- Rp.10.000. Dalam sebulannya mereka mengantungi untung bisa mencapai Rp.2 juta- Rp.3 juta. Kasnawi bersyukur dan tidak jumowo (tinggi hati). Bersyukur hasilnya cukup buat menyekolahkan dan ngasih makan anak- istri.

Untuk kendala tidak ada kendalah berarti terangnya. Hanya kalau musim kemarau, dia harus rajin menyirami air ke tanah agar tetap lembab. Kalau sudah masuk musim penghujan sih tidak perlu. Soal perawatan cukup dilakukan empat bulan sekali. Tujuannya mengganti baglog yang tidak produktif lagi. Diganti baru buat ia tanami lagi.

"...kami ganti 800 baglog setiap 4 bulan," paparnya. Kalau baglognya sudah tidak terpakai dapat dijadikan bahan pupuk organik.

Masalah lainnya yakni pemasaran jamur. Awal sekali dia harus memasarkan sendiri. Kini, sudah banyak yang jadi pengepul. Orang dulu taunya semua jamur beracun. Kini orang sudah tau tidak semua. Dan beberapa jamur dapat dikonsumsi.

Mereka bersyukur mampu berkembang seperti sekarang. Namun masalah modal menjadi kendala keduanya berekspansi. Kalau mau menambahkan modal, Kasnawi siap bekerja keras lebih tetapi tidak modal dari bank. Alasan masih takut menjadi kendala dirinya mencoba bank. Pemkab sendiri pernah coba bantu tetapi kurang.

"Beberapa kali sudah ditawari bank, tapi saya tidak berani. Pemkab pernah bantu, tapi hanya alat untuk ngepres baglog. Tapi kalau dana belum pernah," tutupnya.


Seperti penulis ceritakan diatas, Kasnawi punya murid, tidak cuma satu tetapi banyak berkat sosial media. Ia senang berbagi kesuksesan. Tidak cuma berbisnis sendirian. Kasnawi rajin menyapa orang melalui Facebook miliknya. Para pembudidaya asal Doro, Petungpkriyono, dan Kandangserang belajar jamur dari Kasnawi disana.

Muri- muridnya lah yang bersama membuatkan akun. Akun Facebook berisi bagaiman kiat berbudidaya jamur. Tidak terbatas kalangan biasa, anak sekolahan juga, bahkan Sekolah Dasar pun aktif mencari tau budidaya jamur. Mereka calon pengusaha muda yang ingin memulai berbisnis budidaya jamur tiram.

"Siapa saja mau belajar saya terbuka," ia jelas.

Dua tahun sudah dia menjalani bisnis jamur. Soal pembuatan media tanam maka dia ahlinya. Bahan membuat baglog dia ajarkan kepada murid- muridnya: Serutan kayu sampai 3 kuintal, bekatul 15kg, kapur 2kg, dan pupuk TS 1kg. Itu dapat menjadi 800 baglog.

Namun tidak semudah itu membuat baglog sendiri langsung sukses. Ia kan pernah bercerita dulu gagal 700 baglog. Pernah gagal lagi nih gagal sampai 400 baglog. Hingga mampu membuat sampai 2.500 baglog berhasil dan panen setiap hari. Memang sterilnya media termasuk proses menanamnya mempengaruhi.

Seorang Manajer Mengundurkan Diri Karena Konro

Profil Pengusaha M. Ikhsan Ingratubun 



Di umur 46 tahun sudah menjabat manajer. Namun M. Ikhsan Ingratubun memutuskan berbisnis kuliner khas Makassar. Rasa cinta akan cita rasa kuliner menjadikan bisnis. Ditambah kemampuan teruji manajerial maka tidak salah kalau bisnisnya bukan kuliner biasa. Usaha dijalankan Ikhsan adalah Raja Konro Daeng Naba.

Berawal dari hobi memasak lantas menjadi usaha beromzet puluhan juta. Sepulang kerja, daripada tidak ada kerjaan, sesampai di rumah langsung ke dapur memasak. Mantan senior manajer  PT. Bakrie Telecom Tbk ini sudah memulai karir sejak 1996, malah memilih keluar.

Nama kedai didapat berasal dari nama kecil. Nama panggilan sejak kecil Ikhsan yaitu Daeng Naba. Nama tersebut memiliki makna orang mudah akrab dan ramah ke siapapun.

Membuka kedai cukup buka lapak di pinggir jalan. Waktu itu, Ikhsan menumpang lahan sebuah bengkel di Makassar, ketika sore tiba dan bengkel tutup maka bukalah kedai miliknya. Sebagai awalan malah tidak dia jual langsung konronya loh, tetapi menjual seafood.

Bisnis konro


Agaknya didorong insting serta kegemaran akan kuliner lokal. Ikhsan memilih fokus berbisnis konro. Jadilah nama Raja Kontro tersemat di kedai Daeng Naba. Ia terinspirasi sosok ibu yang hobi memasak. Khususnya buat menyuguhkan kerabat atau kolega yang datang bertamu ke rumah.

Alhasil dia menjadi anak yang akrab dengan pasar. Bahkan dengan senang hati, Ikhsan kecil senang kalau dia sudah disuruh ibu membeli bahan masakan. Ujungnya ya sosok pria berkacamata ini malah terbiasa untuk memasak di dapur. Sudah terbiasa mengenal aneka bumbu berkat ibu ahli memasak ini.

Berbekal itulah keberuntungan menghinggapi. Ia merasa hati sudah dekat dengan kuliner. "Saya merasa selalu diberkati Tuhan dalam usaha kuliner ini," ujarnya.

Sempat mengalami kegalauan mau berhenti kerja. Waktu itu soto konro miliknya menjadi sangat digemari. Begitu ramainya sampai dia kelupaan akan kerjaan. Keteteran, maka di tahun 2001, memutuskan buat lebih memilih menjalankan usaha kuliner. Padahal dia ditanggung jawabi jabatan mapan di Bakrie Telecom.

Keputusan tersebut pasti menimbulkan kontra. Apalagi dari pihak keluarga yang khawatir usaha dijalankan Ikhsan tidak mapan. Akan tetapi ia percaya akan konsisten berusaha. Memilih berbisnis maka dia sudah siap untuk konsisten dalam cita rasa, pelayanan, serta keramahan ke konsumen.

Jaminan pelanggan akan menerima makanan dalam waktu 10 menit. Bahkan Ikhsan memasang alat pengukur agar karyawan terukur soal penyajian. "Ini untuk semua menu, tidak boleh tidak," tambah Ikhsan.

Mimpi pengusaha


Mimpi menjadi pengusaha diam- diam sudah ada. Dan Ikhsan sudah mendapatkan tujuannya lewat berbisnis kuliner. Ia pengusaha kuliner Makassar. Bayangkan sekarang menurut Kontan omzet dihasilkan Dang Naba sudah mencapai 2 miliar. Pantaslah dia begitu bersemangat memilih berbisnis kuliner bukan cuma bekerja.

Namanya mungkin kurang terdengar. Tetapi nama masakan kuliner kedai Raja Konro Daeng Naba pasti sudah tidak asing di telinga masyarakat Sulawesi Selatan. Apalagi semenjak berekspansi besar- besaran, Raja Konro Daeng Naba sudah menjajakan kaki di Jakarta.

Total 7 gerai tersebar di Ibu Kota dengan aneka varian konro. Menu andalan Ikhsan adalah konro atawa iga bakar. Memang usaha kuliner Ikhsan dikenal dengan aneka variasi konro, mulai konro cita rasa Thailand, lada hitam, konro saus pedas, konro peda korea, konro bakar original serta sop konro.

Varian menu termasuk masakan khas Makassar lain. Mulai dari masakan sop paleko, sop kaledo, mi titie, soto Makassar, serta aneka seafood. Menu semua disajikan dengan olahan bumbu khas Makassar. Dia pun bangga membranding usahanya menjadi satu- satunya yang menyajikan aneka konro berbagai varian rasa.

Diversifikasi masakan memang disengaja. Ikhsan memodifikasi masakan sedemikian rupa agar tidak jenuh di lidah. Ia memadukan kemampuan korporasi dan kewirausahaan. Ikhsan menegaskan meski sudah aneka varian tetap ke khasan Makassar tetap. "...mempertahankan ciri khas bumbu Makassar yang lezat," ujarnya.

Tidak cuma lidah masyarakat Sulawesi Selatan. Semua orang akan menyukai masakan konro buatan Ikhsan. Konro miliknya disukai semua orang Indonesia. Apalagi konro sekarang dikenal sebagai masakan nasional. Ia bangga karena sudah memulai usaha. Semakin banyak pulang orang berkunjung ke kedai Daeng Naba.

Juru masak pun merupakan tenaga profesional. Rasa bumbu pedas mersap sempurna sampai ke tulangnya. Ia juga menjamin daging olahan sangat empuk. Tidak perlu repot kamu memotong daging dengan pisau. Ia juga memastikan harga tidak bikin kantong bolong. Satunya dibandrol antara Rp.25.000- Rp.50.000 per- porsi.

Karena harganya terjangkau jangkauan pasar luas. Dari kalangan biasa sampai pejabat pemerintah menyukai masakan Ikhsan. Kalangan bawah atau atas menyukai masakan Ikhsan. Untuk penggemar konro yang suka bergadang tenang. Ikhsan menawarkan konsep bisnis 24 jam mau ramai ataupun sepi tetap buka melayani.

Hadapi MEA


Sukses konro dia sudah ancang berbisnis sampai MEA. Brand usahanya diperkuat agar siap menghadapi masyarakat ASEAN. Ya salah satunya lewat menambahkan menu terbaru seperti nasi ngebul. Nasi berisi daging asap, daun jeruk, disajikan dengan iga bakar atau ayam bakar.

Sarjanan ekonomi Universitas Kosgoro tahun 2007 tersebut memang hebat. Untuk ekspansi dia ingin resep spesial buat olahan Makassar lain seperti sop saudara dan sop pallu basa. Berinovasi bukan soal mengejar keuntungan tetapi bagaimana tetap memuaskan pelanggan. Untung didapat sejalan kita memberikan kualitas terbaik.

Ada cara bagaimana mengukur kesuksesan sebuah menu. Pegawai akan diberikan tugas khusus ketika orang pertama kali memesan menu baru. Mereka akan ditugasi khusus mengamati pembeli tersebut. Kalau kedua kali orang tersebut memesan masakan sama, berarti masakan cocok dengan lidah konsumen.

Karyawan Ikhsan sudah 200 orang. Dia sendiri turun tangan memberikan pelatihan. Ikhsan ingin agar dapat terjalin hubungan yang baik dengan karyawan. "Ini membuat karyawan menjadi loyal," Ikhsan menjelaskan. Ia meyakinkan mereka bahwa kunci sukses usaha kuliner adalah keramahan.

Tidak cuma datang dan makan mereka harus dilayani. Kermahan karyawan restoran menjadi titik pangkal perhatian Ikhsan.

Hak paten Raja Konro sudah siap. Menghadapai MEA memang dibutuhkan startegi. Masalah permodalan masih menjadi masalah klasik pengusaha. Tetapi Ikhsan optimis dengan pertumbuhan Raja Konro Daeng Naba. Suku bunga ringan masih diharapkan bahkan bagi pengusaha sekelas dia.

Optimisme akah ke khasan kuliner Indonesia bisa bertahan. Dia bahkan bertekat untuk meluaskan pasarnya sampai ke luar negeri. Konro sampai Amerika, siapa takut?

Usaha Golf Pengusaha Veteran Amerika

Profil Pengusaha Michael Pascucci 



Seorang pengusaha veteran biasa tanpa sorotan. Dibelantika entrepreneurship sekarang, nampak butuh lebih dari sekedar saran pengusaha kekinian. Contoh Michael Pascucci memiliki banyak bisnis bagus dan sukses. Ia menciptakan banyak peluang bisnis sendirian. Tidak ada salahnya kita mendengar kisahnya yang sedikit ini.

Lulusan Manhasset High School, rambut putih tidak bisa berbohong, seorang pengusaha yang telah masuk umurnya ke 70 -an. Ia ingat betul dikala muda dia seorang pemain football. Badan kekar 235 pound yang jadi alasan Michale menjadi lineman.

"Dia membuat suara lucu ketika berlari. Dia membuat semacam suara motor," kenangnya dalam artikel di newsday.com.

Maka dia akan mengeblok temannya itu. "Jika kamu menekan helm ke arah kanan, dia akan bergerak ke arah kiri," imbuhnya. Hari ini tidak ada sepantaran dirinya yang berlari lebih jauh darinya. Dirunut perjalanan bisnis dimulai ketika berbisnis batu bata. Lantas dia membuka bisnis penyewaan mobil dan memilik stasius tv lokal.

Dia selalu sukses loh. Hingga dia mampu membeli tanah sangat luas di Peconic Bay, Southampton. Mantan tukang takel ini berlari mengeliling labirin dan mencapai titik baru, Sebonack Golf Club, dimana mendapatkan penghargaan Women's Open pada 2013.

Bisnis golf


Sejatinya dia tidak suka golf. Katanya nih, ayah Michael Pascucci adalah pegawai golf, lebih tepatnya ayah yang bernama Ralph, pria kelahiran Naples, Italy, adalah siswa drop out dan cuma buat menjadi pemungut bola. "Dia coba mengajari saya golf. Saya berpikir golf merupakan olah raga orang kaya, jadi saya tidak minat."

Sayangnya tumbuh waktu dia semakin tidak begitu mengikuti ayah. Titik balik "pembrontakan" golf terjadi ketika dia bekerja di sebuah perusahaan konstruksi, Kings Point, milik Abraham Levitt. Dimana dia melihat dia dan ayahnya di lapangan golf. "Dia melihat ayah saya bekerja keras (di lapangan golf)," kenang Michael.

Lantas Abraham Levitt bertanya kepada Michael,"Seberapa kamu begitu mau bekerja sebagai kontraktor?" ujarnya.

Nah, Michael lantas lulus kuliah di Bucknell, dan sang ayah membantunya membangun bisnis konstruksinya sendiri, yang kemudian berlanjut ke bisnis penggadaian.

"Cara saya berbisnis dengan selalu berkata, bekerja dengan uang lebih ringan (bisnis penggadaian) dibanding bekerja dengan tembok (konstruksi)," imbuh Michael. Ide bisnis tersebut baru muncul di akhir 1970 -an, dan dia mulai berbisnis sampai menyewakan mobil.

Tahun 1997, Michael Pascucci menjual bisnis penyewaan mobil dimana dia dirikan di tahun 90 -an, dan ia mengantungi $670 juta.

Sejak saat itu, maka dia dikenal sebagai pengusaha pemilik lebih dari 20 bisnis berbeda -dalam wawancara dia mengakui "menghabisi" beberapa jika tidak berjalan- termasuk bisnis ternarnya di bidang golf, Sebonack Golf Club, salah satu 100 tempat golf terbaik di Long Island, New York.

Tips bisnis buat kamu: Michael menjelaskan ada tiga hal perlua diperhatikan agar sukses seperti dia. Pertama kamu harus mencari kebutuhan -satu hal yang sudah ada atau yang belum ada. Kemudian carilah solusi dari kebutuhan tersebut sebaik mungkin untuk diimplementasikan.

"Jadi sekarang pekerjakan orang terbaik kamu dapat beli," imbuhnya. Jangalah pernah merendahkan standar kamu sekalipun. Standarisasi dalam hal berbisnis serta mencari pegawai. Tetapi tidak cukup, jujur dia akan mengatakan intuisi menjadi cara lain mencapai kesuksesan.

Dia percaya akan karakteristik agar sukses. Itu adalah integritas, kejujuran, keterus terangan, kemauan untuk membantu orang dan mau menyediakan produk terbaik yang pelanggan butuhkan.

Mengolah Limbah Kayu Pinus Hasilkan Fulus

Profil Pengusaha Retno Astuti dan Suami 


 
Pasangan suami istri ini dikenal sebagai pengusaha sukses. Keindahan hasil produk kayu milik mereka sudah dikenal sejak tahun 2013 silam. Awalnya mereka berbisnis menjual kebutuhan rumah tangga berbahan kayu. Kesini, usaha mereka meliputi membuat aneka pernak- pernik berbahan dasar limbah kayu.

Pasangan Retno Astuti (53) dan Heri Budianto (57) sudah berbisnis sejak tahun 1992. Heri sendir adalah seorang arsitek. Bermula dari banyaknya limbah kayu disekitar rumah mereka. Dimana Retno lantas minta pemilik pabrik buat limbah kayunya. "eh, dikasih. Ya, sudah kami berkreasi saja dengan kayu- kayu limbah itu."

Dari limbah kayu tersebut diubah menjadi aneka produk. Mulai produk tempat tisu, tempat pensil, gantungan kunci, gantungan pakaian, aneka souvenir, tempat sabun, sampai figura foto. Bahan mereka ya kayu bekas itu sendiri. Namun, paling menarik, ialah pasangan imenggunakan bahan kayu pinus tetapi bukan mudah loh.

Retno juga membuat garpu. Unik memang menjadi konsep bisnis mereka berdua. Retno lantas memasukan unsur wanita dengan aneka gambar bunga cantik ataupun buah- buahan. Ia suka gambar stroberi dan bunga matahari. Retno cukup melukiskan sendiri gambar tersebut menjadi anaka macam barang.

Untuk catnya cukuplah menggunkaan cat vernis biasa. Cuma masalah karena katu bekas maka terkadang ia mendapatkan potonga- potongan kecil. Awal- awal maka mereka cuma membuat barang kecil lalu lama- lama semakin besar.

Bisnis kreatif


Semakin lama usahanya semakin membesar. Dari cuma kotak- kotak kecil, bisnis mereka membuat seperti lemari, tempat tidur, meja, dan kursi kayu. Retno mulai melayani pesanan TK, ataupun buat permintaan dari pribadi. Agar tidak menganggu ekosistem Retno memilih membeli kayu dari PT. Perhutani, bukan kayu baru.

Walau telah dikenal bisnis GS4 Wood Craft tidak menarget luar negeri. Retno dan suami lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan lokal. Untuk pasar lokal saja sudah kwalahan dibuatnya. Mereka memproduksi untuk retail juga supermarket sejumlah kota di Indonesia.

"Sistemnya jual putus, saya tidak mau konsinyasi," tuturnya.

Karena belum berpengalaman jadi permintaan membludak. "...sampai 60 ribu pieces produk kerajinan kayu pinus," terang dia. Kalau ekspor kan kualitas barang lebih ketat haru sama kualitasnya. Memang ada harapan untuk berbisnis ke luar negeri tetapi belum.

Untuk sekarang Retno memilih menjual ke pasar lokal. Karena dari pasar lokal pun kwalahan karena terus berdatangan. Alasan kesulitan mengontrol kualitas namapknya masih menjadi alasan. Sekarang Retno tidak mau muluk- muluk. Tujuan utama mereka sekarang hanyalah bagaimana bisa menguliahkan anak- anak.

Lebih dari 20 tahun sudah bisnis mereka menarget pasar lokal. Faktor kualitas selalu ditingkatkanya. Apalagi tumbuh pesaing di usaha sejenis. Harga jual produk daur ulang mulai Rp.60.000 sampai Rp.125.000. Tidak termasuk produk kayu baru seperti lemari ataupun meja.

Workshopnya yang terletak di Jl.Gondosuli 4, Malang, atau Kota Malang, di Jl. Semeru 14, memenuhi pesanan dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Palembang, Aceh, Bontan serta kota lain di Indonesia Timur. Ibu tiga anak ini sekarang sudah mulai ekspor ke Jamaika dan Singapura sejak 2003.

Untung dikantungi oleh bisnis GS4 Wood Craft sampai Rp.20- 25 juta per-bulan loh. Untung besar buat satu usaha yang bermuara dari bisnis mengolah limbah. Kini, keduanya tidak cuma dikenal sebagai pengrajin tapi juga pembuat mabel handal dari kayu sisa.

Berbagi tugas


Ketika awal melihat daripada kayu dibuang percuma. Budi berpikir keras kenapa tidak kayu- kayu bekas disekitaran dimanfaatkan. Ia lantas meminta ijin ke pemilik pabrik, yang kebetulan temannya. Bolehkan dia membawa kayu bekas tersebut ke rumah. "Teman saya itu, memperbolehkan. Malah senang," kenang dia.

Pria berkacamata ini lantas membawa kayu tersebut ke sang istri. Tanggapan istri positif dan mulailah mereka berbagi tugas. Karena Budi merupakan arsitek, maka tugas dia adalah mendesain produk kecil- kecilan dulu. Sementara Retno bertugas untuk mewarnai dan menggambar. Keduanya bekerja sama sebagai pengusaha baru.

"Jadi, kami selalu berdua membuat hasil olahan kayu," tutur Retno. "Kalau tidak begitu, rasanya ada yang aneh dan hilang," imbuhnya tersenyum malu- malu.

Modal awal mereka berdua bisa dibilang nol. Karena mereka membawa dari sisa perusahaan mebel. Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Merdeka (Unmer) ini, juga meminjam peralatan dari kenalannya. Jadi semakin mengukuhkan usaha mereka bermodalkan nol rupiah.

"Kami juga tidak menyangka mendapatkan omzet sebesar ini," imbuh Budi. Memang berwirausaha tidak mengenal usia.

Contoh nyata ya pasangan suami istri Retno dan Budi. Dalam keterbatasan jangan berarti berhenti buat jadi kreatif. Siapa tau, nanti kamu bisa menghasilkan produk istimewa seperti usaha mereka. "Asal, usaha yang dikerjakan, benar- benar serius ditekuni." Jangan menyerah ketika penghalang datang seperti ketika mereka dulu.

Perlu kamu tau keduanya pernah hampir bangkrut. Tahun 1998, karena krisis moneter keduanya sempat mau bangkrut karena harga cat naik. Padahal orderan dengan harga awal ditetapkan dulu. Dengan rasa tidak menyerah membuat mereka bangkit. Maka disaat ekonomi aman seperi sekarang, mereka sudah siap sedia.

"Tidak berpengaruh, malah penjualan meningkat," tukas Retno. Dan ia dan suami menyarankan buat kalian para pemuda jangalah takut berwirausaha kelak.

Life is Good Kaus Sederhana Memotivasi Hidup

Profil Pengusaha John dan Bert Jacobs 


 
Bert dan John Jacobs merupakan dua bersaudara dari enam orang anak. Sebuah pertanyaan selalu terngiang dalam benak mereka. Apa yang akan mereka lakukan dengan hidup mereka? Sebuah pertanyaan sederhana setiap malam yang menggugah hati dua anak nakal ini.

Mereka adalah dua bersaudara pendiri bisnis kaus Life is Good. Brand kenamaan dengan omzet mencapai $100 juta. Mereka terlahir dari keluarga menengah di Boston. Ketika masuk Sekolah Dasar, kedua orang tua mereka hampir mati karena kecelakaan mobil, maka pertanyaan tersebut diatas pantas ditanyakan.

Sang ibu menderita patah tulang dan utuh. Sementara ayah mereka kehilangan tangan kanannya. Karena satu kecelakaan merubah ayah mereka menjadi keras. "Dia banyak sekali berteriak ketika kami lulus sekolah," John berkata kepada Business Insider. Dan hidup tidaklah sempurna kembali.

Kedua bersaudara tersebut merasakan susah tinggal di rumah. Tetapi ibu mereka, Joan, masih percaya akan hidup itu baik. Life is good. Setiap malam mereka duduk bersama buat makan malam. Joan akan bertanya kepada ke enam anaknya yaitu apa hal baik kamu rasakan seharian itu.

Satu pertanyaan sederhana merubah suasana. Dan tanpa mereka sadari hidup mereka, penuh dengan energi positif, kelucuan, dan hari itu menjadi hari paling aneh mereka. John mengatakan sebuah pelatihan mental agar tidak menjadi sosok bermental korban. "Oh, kamu tidak akan percaya hal buruk ini terjadi kepada saya hari ini."

Ketika pulang sekolah bukannya berbicara tentang tugas sekolah. Bukan tentang dimarahi guru, tetapi akan bercerita tentang lucunya potongan rambut teman sekelas, ataupun pekerjaan menarik selain apa yang telah mereka gagal lakukan. Optimis merupakan hal terbaik dimiliki keluarga mereka sampai sekarang.

Life is good


Mereka berdua merupakan dua termuda dari enam bersaudara. Mereka dalam sebuah buku Life is Good, menjelaskan hidup mereka sempurna sekali tidak sempurna. Rumah mereka tidak punya penghangat. Para anak- anak juga lebih menyenangi bermain di luar. Ketika jam makan mereka akan berlari ke meja makan.

Ibu mereka akan bertanya, "ceritakan sesuatu yang baik terjadi hari ini." Daripada komplain tentang sesuatu menyebalkan terjadi, mereka memilih bercerita positif. Tidak ada cerita tentang berkelahi dengan anak lain dan juga masalah pelajaran.

Tahun 1988 menjadi awal perjalanan mereka selama tujuh hari. Dimana John ketika itu mau sekolah dalam rangka pertukaran pelajar. Hingga mereka berkeliling mencari tujuan hidup. Mereka mulai kehilangan uang simpanan. Cuma ada peta usang Amerika dari kakak mereka, Allan. "...dengan rencana khusus tidak ada rencana."

Tidak cuma berenang di danau indah Southern California, bertemu teman baru, dan bermain basket pinggiran pantai Venice Beach. Jika saja mereka tidak melakukan perjalanan ke tempat baru, orang baru, dan sebuah pengalaman, mungkin mereka tidak akan membuka pola pikir tidak mungkin mereka memulai berbisnis.

Tidak ada alasan mereka berdua tidak berbisnis. Keduanya kan bersaudara bisa melakukan bisnis bersama -meskipun terdengar gila ketika itu bagi teman mereka.

Awal sekali, sebelum perjalanan, ketika kedua bersaudara ini mulai pindah dari rumah dan mereka mulailah menjual aneka kaus dibawah nama Jacob's Gallery dan dijual di jalanan Boston.

"Langsung sukses? Bahkan tidak sampai," terang dia.

Mereka menyadari bahwa anak kampus mampu menjadi pasar baik. Hanya saja mereka tidak dapat terkait dengan brand mereka. Mereka lantas membeli mobil fan Playmouth Voyager untuk $12.000. Mereka lantas bergerak mengunjungi banyak kampus.

Mereka lantas menamai The Enterprise padahal cuma berdua dan kaus. Banyak orang lalu berpikir ini mobil yang hebat. Padahal mereka banyak kesulitan karena kendaraan tidak bagus. "Kami mencoba dan gagal seratus kali," imbuhnya. Penjualan tidak mencapai target mereka harapkan padahal sudah memakai mobil.

Apakah karena desain jelek, apakag mahasiswa tidak punya uang, atau karena mereka bangun pukul 1 pagi dan bertanya,"mau membeli kaus?". Entahlah, mereka berdua cuma meyakini bahwa kamu akan sukses atau gagal dan belajar -kedua hal tersebut sama- sama memenangkan sesuatu.

Umur 20 tahun masih bekerja separuh waktu. Mereka hidup dari satu cek ke cek lain. Pacar Bert lantas minta putuh karena ibunya menyadarkan dia. "Dia hampir berumur 30 tahun, dan dia masih berbagi mobil dengan saudaranya. Kamu butuh menyadarkan diri," ujar pacarnya.

Bisnis motivasi


Hidup bersama seorang ibu hebat -yang menyanyi di dapur, bercerita cerita bergambar, dan berakting seperti tokoh di buku fiksi. Apapun masalah mereka akan hadapi bersama. Pelajaran didapat dua bersaudar ini ialah apapun terjadi kebahagiaan tidak bergantung oleh keadaan.

"Dia memperlihatkan kami optimisme adalah pilihan berani kamu bisa buat setiap harinya, terkhusus ketika menghadapi berbagai kemalangan," lanjutnya.

Tagline bisnis mereka adalah "Life is not perfect. Life is not easy. Life is good." Maka ketika mereka telah memiliki bisnis besar. John dan Bert menanyakan hal sama kepada pegawai mereka. "Ceritakan kami suatu yang baik." Ketika mereka bercerita tentang pengalaman menyenangkan, maka ide muncul dalam semangat.

Kemudian pegawai mereka akan lebih semangat sukses. Mereka malah tidak menunda akan bekerja. Kisah ini tidak semudah dibayangkan. Mungkin Life is good bagi mereka tetapi perjalanan bisnis mereka cukuplah rumit.

Pertanyaan sang ibu menjadi pendorong mereka berjalan jauh. John dan Bert Jacobs melakukan perjalanan selama seminggu dari California ke Boston di 1988. Waktu itu mereka masing- masing umur 20 tahun dan 23 tahun melakukan perjalanan merubah hidup. Mereka lantas berbisnis dengan berjualan kaos di jalanan saja.

Dari asrama kampus lantas tidur di jalanan. Mereka berpindah dari PB&J dan tidur di mobil kami. Bisnis ini dimulai selama 5 tahun tetapi tidak menunjukan kesuksesan. Dalam perjalanan, namanya anak muda mereka merasaka gejolak berita negatif. Berkembanglah bisnis kaus berkonsep Life is Good dan mulai terlihat hasil.

Awal berbisnis mereka mengambil nama Jacob's Gallery. Mereka melalukan travling lama sampai ke East Cost menjual kaus ke anak kampus. Bisnis mereka dilema, mereka menyadari bahwa uang di bank mereka tinggal $78. Ketika bisnis mereka menjadi Life is Good menjadikan bisnis mereka lebih ngejreng dan laris.

"Kami mencari bertahun- tahun untuk, "what do we stand for?"," ucap John. Ide tersebut lantas ditaruh  ke dalam desain. Respon pun datang cepat seperti mereka harapkan.

Mereka menamai ulang bisnis mereka. Rebranded menjadi Life is Good, hingga dalam setahun, mereka telah mampu mengantungi $1 juta penjualan. Dan kini mereka telah menjual sampai $100 juta -menjual produk itu ke 4.500 toko retail berbeda.

Bisnis jiwa


Mereka selalu kuat meski banyak orang meragukan. Justru ketika kamu disepelekan, menjadi pengusaha itu berarti siap untuk membuktikan bahwa mereka salah. Mereka semakin bersemangat buat berbisnis kembali. Mereka tidak mau pulang kerumah, mencari jalur aman, dan melupakan disana potensi besar belum digali.

Pola pikir inilah membawa mereka tetap berpesta. Selepas melewati satu tempat maka mereka akan siap menjadi tempat pesta -seberapa pun penjualan dicapai. Pesta menyenangkan dengan bir gratis serta cerita hangat tentang perjalanan mereka. Tamu akan datang mencari hiburan disisi lain memberikan saran buat kaus mereka.

Menggunakan uang tanpa berpikir bahwa mereka gagal. Hasilnya mereka kehilangan banyak uang. Dengan sisa uang di Bank sejumlah $75 seperti kami ceritakan diatas -mereka kembali akan berpesta walaupun itu berarti pesta terakhi mereka.

Ketika mereka pulang mereka membahas desain baru. Disana mereka membahas tentang berita negatif di berbagai media masa. Apa sulit menjadi positif di jaman sekarang yang begitu penuh kenegatifan. "Tetapi bisa saja mungkin disana ada seseorang yang selalu gembira apapun terjadi kepada merek?" mereka berandai.

Kemudian John menggambar sosok itu. Seseorang dengan janggut berbaret dan kacamata tersenyum lebar itu seperti seniman. Desain mereka ternyata terjual super laris di pesta "terakhir" mereka. Satu komen sangat mengena yaitu "Orang ini mampu menemukan arti hidup". Inilah awal lebih jelas tentang kaus Life is Good nanti.

Mereka mulai mengeprin 48 kaus, dan menjual mereka di jalanan Cambridge pada 1994, Massachusetts. Kaus ini terjual dalam waktu sejam -bahkan dua lagi terjual milik mereka pribadi. "Orang menyadari akan ini dan mereka membeli.Tidak butuh penjelasan lebih lanjut," tulis mereka di buku.

Dua bersaudara ini bersemangat atas hasilnya. Mereka berharap kaus mereka dapat dilihat lebih banyak Ini cikal bakal The Enterprise penuh semangat. Mereka berkeliling Boston tanpa hasil. Sampai ada sebuah toko bernama Cape Cod. Nancy, pemilik toko, meminta 24 kaus dan berkata,"Siapa nama orang tersenyum ini?

"Jake" mereka sepakat menamai ditempat kepandekan dari Jacobs. Kemudian mereka menemukan hal yang mengejutkan. Jake berarti sebuah kata memiliki arti lengkap "semuanya akan baik- baik saja." Kaus terjual dalam dua minggu. Di akhir minggu, Life is Good terjual sampai kaus senilai $87.000.

Ternyata permintaan naik dan mereka mengambil pegawai pertama. Kerrie Gross, seorang pemuda berumur 23 tahun yang tinggal di apartemen dibawah mereka. Ketika mereka menggaet Manajer maka mereka penuh percaya diri memberi gaji $17.000. Untung, di akhir tahun, mereka mencapai penjualan $262.000 jadi bisa menggaji.

Percaya diri akan penjualan mereka. Life is Good kemudian ditempatkan di kantor berbeda yakni dalam satu kontainer dengan tinggi 40 kaki pada 1996. Sebuah desain menarik untuk kaus menarik semenarik judul Life is Good.

Mereka kemudian menempelkan pengingat lucu,"tolong bayar tepat waktu jadi kami bisa menyalakan lampu dan membayar staf toko kami."

Pada 1997, mereka sampai dengan penjualan $1 juta, dan akhirnya mampu menggaet tiga pegawai kembali ke kantor asli mereka Needham, Massachusetts, dimana mereka mulai membangun kultur perusahaan yang menerima humor kantor. Tertawa menenangkan mampu mendorong kita berkomunikasi dan menyelesaikan masalah.

Life is Good melebarkan produk mereka selain kaus. Dimana mereka telah memiliki 160 pegawai, terjual di 4.500 toko, dan berdonasi 10% dari pendapatan mereka. Mereka mengarahkan optimisme menjadi jalan bagi perusahaan mencapai kesuksesan.

"Kami ingin menyebarkan pesan ini dan membantu orang memahami kedalaman apa artinya," kata John l. "Ini bukan berarti bahwa hidup adalah mudah atau kehidupan yang sempurna. Ini bahwa hidup itu baik. "

Dianggap Gila Sepatu Pisang Suminah Sampai Eropa

Profil Pengusaha Suminah 



Pertama kali berbisnis pelepah pisang bukan sepatu. Namun, Pemprov Bengkulu menyarankan Ibu Suminah untuk mencoba sepatu, saran tersebut ditanggapinya serius. Suminah memang dikenal sebagai pengusaha sejak lama. Waktu itu, awal- awalnya dia mengerjakan aneka kerajinan berbahan pelepah pisang biasa.

Tidak ada spesial hanya aneka gantungan kunci, tas cantik, tempat tisu, atau berbagai aksesoris. Penjualan pun terbatas permintaan masyarakat. Berbisnis terkesan aneh ketika pertama kali masyarakat menanggapi produk miliknya. Apalagi ketika Suminah berencana mengeluarkan produk sepatu, apakah menghasilkan?

Mau diapakan lagi nih pelepas pisang?

"Saya sempat dikatakan orang gila oleh tetangga," celetuk Suminah. Mereka geli melihat ibu dua anak ini tengah mengumpulkan pelepas. Dipotongnya pelepas menjadi seperti kain. Kemudian dijemur sinar matahari di depan rumah. "...buat apa? Seperti tidak ada kerjaan saja."

Suminah memang gemar berkreasi. Cara unik ini ditemukan semasa kecil. Hanya baru ditekuninya menjadi bisnis ketika masuk tahun 1995. Dimulai dengan membuat aneka pernak- pernik kecil. Untuk menambah pendapatan suami, Suwarso, seorang PNS maka Suminah mencoba- coba kembali tetapi lebih serius.

Mulai membuat aneka gantungan kunci, dompet, dan seterusnya. Ia sendiri ketika memulai juga memakai bahan sampah plastik. Kedekatan akan alam lebih mendekatkan dia dengan kerajinan daun. Pelepah pisang disulapnya menjadi usaha menghasilkan meski mesih kecil.

Bisnis besar


Suminah tidak berpuas. Penghasilan berbisnis aksesoris pelepah pisang tidak banyak. Untuk itulah saran dari Pemprov diprosesnya dengan cantik. Bisnis kecil di tahun 2009, masuk tahun 2012, ia mulai mengikuti acara sekolah khusus menganyam sepatu dari Balai Persepatuan Indonesia di Sidoarjo. 

Tahun 2014, ia mengikuti sekolah kembali dalam hal pecah pola sepatu. Sepatu buatan Suminah mengikuti tren fasion jadi bukan sembarangan. Mencoba menjual, penjualan sepatu pelapah pisang ini awalnya tidak begitu populer hanya kalangan tertentu. Pemesan kebanyak di luar Bengkulu, mulai Gorontalo, Jateng, dan Jakarta.

Pemesan termasuk istri kalangan pejabat, mulai Gubernur dan Bupati. Pemerintah lantas merespon dengan ia dikirim ke ajang pameran di Tingkok. Bahkan dia dikirim ke Ukraina pada 2014 mempromosikan sepatu dari bahan baku pelepah pisang tersebut.

Dicermati dari hasil sepatu karyanya, cukup modislah buat jalan ke mal. Bisa digunakan baik remaja maupun ibu muda.

Beruntung berkat menyasar sepatu saban hari pesanan mencapai 10- 15 buah. Sepatu berbahan batang pisang ini dijualnya seharga Rp.150.000 sampai Rp.250.000. Variasi produk termasuk sepatu batang pisang bermotif batik buserek khas Bengkulu. Masalah pertama dia hadapi berbisnis apalagi kalau bukan modal.

Memakai brand Mega Souvenir bisnisnya melalang ke pasar Eropa. Hanya bahan baku susah buat dibeli tapi bukan soal batang pisang. Sejak awal, Suminah memang sadar Bengkulu tempatnya pelapah pisang. Tetapi buat bahan baku lem, insol, high heel -nya, dan pengkilap maka butuh beli di Pulau Jawa.

Bisnis sederhana bikin kaya


Bayangkan bisnis ini dimodali uang Rp.150.000. Kini omzetnya sudah mencapai puluhan juta rupiah. Jika beberapa pengusaha mengeluh, Suminah bersyukur akan bantuan pemerintah daerah karena ikut melahirkan ide. Tinggal masalah modal ekspansi saja dibutuhkan dia dan empat karyawannya.

Butuh waktu pula bagi Suminah menemukan pelepah pisang berkualitas. Layaknya bisnis lain ada namanya bahan baku bermutu dan tidak. Untuk sepatu pelepah pisang dibutuhkan yang bertekstur khusus. Apalagi kadar air dan getahnya tinggi, butuh sentuhan panjang agar pelepah nantinya bisa dianyam.

Wanita kelahiran Nganjuk, 12 Agustus 1968 ini, mengatakan pertama kali berbisnis cukup mengambil dari belakang rumah. Batang pohon pisang berserakan mudah didapat. Berbeda sekarang ketika berbisnis, mata harus jeli agar produk Mega Souvenir semakin berkualitas.

Dimulai sejak ikut pelatihan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bengkulu. Selama dua pekan Suminah telah paham betul tentang kualitas pelepah pisang. Keyakinan akan kualitas produk tetap terjaga, harga yang terjangkau, serta memiliki nilai seni tinggi menjadi landasan bisnis Suminah.

"Saya diajarkan cara membuat sepatu, cara membuat polanya, dan mendesainnya," kenang Suminah. Seperti kami jelaskan diatas banyak orang mengira dia gila. "Terkadang, muncul bisikan menyuruh saya berhenti saja dan perasaan bahwa saya tidak akan berhasil."

Ia membuang jauh perasaan tersebut. Suminah tetap ngotot karena didasari banyak alasan. Jika sebelumnya ia didasari kebutuhan, lambat laun dia mulai berpikir tentang membuka lapangan kerja, juga termasuk cara agar memajukan daerah Bengkulu. Sebisa mungkin dia memanfaatkan kelebihan Bengkulu di produknya.

Pelepah pisang dengan tekstur unik menjadi keunggulan. Butuh proses panjang untuk mendapatkan pelepah kering. "Saya sampai lupa, saking seringnya mencoba," terang Suminah soal berapa kali hingga dia berhasil. Ia mulai memotong, dijemur, direndam, sampai benar- benar kering. "Tapi faktanya masih lembab juga."

"Saya coba terus, sampai dikatakan tetangga tidak waras," ujarnya lagi. Sampai dia menemukan satu formula yang tepat. Cara pengeringan melalui oven menjadi andalan. Pertama kali mendesain dan pola sepatu hanya mengikuti pelatihan belum sekreatif sekarang.

Pemesan pertama datang dari kalangan ibu pejabat. Seiring mengikuti mode produknya mampu masuk ke pasar lebih luas. Semakin banyak pesanan semakin banyak merekrut karyawan. Cerdas ia memberdayakan ibu- ibu sekitar -yang menganggapnya gila dulu. Sebagian besar mereka menjadi pensuplai pelepah pisang.

Ada 10 orang warga ikut berbisnis dengannya mendapatkan penghasilan tambahan. Agar lebih mahir mereka diajak Suminah ke balai pelatihan ke Balai Persepatuan Indonesia di Sidoarjo. Meskipun bahan baku masih rumit, masih harus mencari di pulau Jawa, untuk urusan pembuatan dan penyelesaian dilakukan sendiri.

"Saya sama sekali tidak takut bersaing, malah senang membantu orang," jelasnya tidak takut mengajari orang lain.

Sukses Suminah menari perhatian Bank BNI Syariah melirik. Ia pun diangkat menjadi Duta Mutiara Bangsa Berhasanah. Dia menjadi 13 wirausahawan unggulan dari 415 kandidat. Visinya semakin ke arah dimana ia mau menjadikan orang lain berwirausaha.

Sukses Suminah menembus pasar Eropa melalui reseller asal Spanyol. Karena merupakan produk ramah lingkungan maka laris manis. Walau bukan dia langsung memasarkan -dia bersyukur produknya dipakai di Eropa sana. Tidak mau lekas puas, kedatangan seorang bule ke Bengkulu disambutnya menjadi prospek kerja sama.

Ia menargetkan produknya akan masuk pasar Eropa lebih dalam. Agar menguatkan brand maka dia sudah merencanakan mematenkan sepatu pelepah pisang menjadi produk khususnya. Biar lebih mecing dengan pembeli luar negeri, Suminah berencana mengganti nama Mega Souvenir atau agaknya membuat satu nama khusus.

Suwarno, suami Suminah, memang mengakui kegigihan sang istri. Apalagi juga ditambah semangat pantang menyerah dan bekerja keras. Jadia keluarga benar- benar merasakan perbedaan signifikan. Suminah sendiri tidak berubah, tetap menjadi sosok bersyukur karena bisa membantu orang banyak.

"Anak- anak sekolah semua meskipun dia sendiri tidak bersekolah secara layak," ujar Suwarno.

Putra pertama pasangan ini sudah lulus Sarjana dan menjadi pegawai Bank. Putra keduanya tengah sibuk kuliah Sarjana. Dan putra ketiganya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Cita- cita Suminah adalah bisa menyekolahkan mereka kalau perlu sampai jenjang pendidikan S2.

Raja Mebel Indonesia Pernah Hutang Miliaran

Profil Pengusaha Frans S. Pekasa 



Kondisi gagal total dalam berwirausaha pernah dialaminya. Keterpurukan tidak menghentikan langkah pria ini, malah semakin bersemangat karena pengusaha adalah hidupnya. Gambaran nyata perjalanan hidup Frans Satrya. Dan dia mampu membalikan kegagalan menjadi kesuksesan berulang.

Pernah mengalami titik kebangkrutan total ketika memasuki tahun 2005. Frans, pria berkacamata ini punya hutang menumpuk. Waktu itu dirinya sempat terpikat oleh batubara. Padahal jiwa wirausaha dalam dirinya ya tidak lain hanya di mabel.

Alhasil dia tidak lagi fokus di furnitur. Ujungnya dia kehilangan perusahaan yang dulu telah ia rintis.

"Bisnis baru itu membuat saya tak lagi fokus pada furnitur," tuturnya. Makanya kamu harus fokus pada satu usaha dulu. Terkadang pengusaha bisa memilih untuk tidak berekspansi. Perhitungan matang harulah kamu lakukan jika di titik tertinggi.

Cermati usaha kamu fokuslah di ancaman mendekati mu. Bermodal nekat dan kuat ia kembali berbisnis di bidang sama.

Bisnis keluarga


Berawal dari bisnis sang ayah yang terseok- seok. Hutang menumpuk membuat usaha konstruksi ayah jatuh bangkrut. Untuk itulah Frans menjadi sosok lebih prihatin. Cara membantu ayahnya adalah dengan ikut jadi pengusaha. Frans yang waktu itu masih duduk di bangku SMA, memilih menjadi makelar mebel.

Selepas lulus kuliah tahun 1998 usahanya semakin getol. Apalagi dia mendapatkan pengalaman langsung dari tempatnya bekerja. Ya Frans pernah menjadi pegawai perusahaan furnitur. Pekerjaan magang tersebut telah memberi gambaran tentang bisnis mebel.

Disisi lain perusahaan ayah diambil alih Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Secara bertahap ia ikut membantu hutang ayah yang masih menumpuk. Memulai usaha makeler mebel ternyata tidak terlalu sulit pikirnya. Usaha serius baru dirintis bersama teman bermodal Rp.25 juta. Hasil gadai mobil Honda Civic 1989 miliknya.

Menjadi makelar berarti dia menjadi agen furnitur. Fokus Frans kala itu adalah produk rotan dan kayu jati. Satu tugas pasti seorang makelar furnitur ala Frans ialah mencari order. Mencari pesanan kepada agen dan lanjut memberikan pesanan tersebut ke pengrajin. Ia harus turun tangan sendiri menyambangi sentra mebel.

Karena menjadi makelar itu sulit. Maka ia memutuskan membanting stir. Jika mencari orang membeli barang furnitur sulit, tidak untuk orang asing. Pasar itu ditangkap oleh jiwa muda Frans. Berbekal pemahaman akan internet dirinya mulai bergeriliya. Ia membuat puluhan situs menawarkan mebel rotan dan jati melalui situs.

Dia dibantu dua orang karyawan. Salah satunya teman SMA -nya sendiri. Perjalanan bisnis mereka cukup berjalan baik. Sejak 2001 berbekal jaringan dibangun mereka berbisnis sampai ke luar negeri. Bayangkan ia berhasil mengirim mebel rotan dan kayu jati sampai tiga kontainer setiap bulan. Maka hutang sang ayah pun lunas.

Bermodal kesukses besar membuat Frans percaya diri. Tahun 2004, dia berekspansi berbisnis properti dan batu bara. Sayangnya, malang tidak dapat ditolak, maka kedua bisnis tersebut bangkrut menyisakan hutang buat dia. Ditambah lagi, teman SMA -nya itu ternyata menusuk dari belakang, malah membawa kabur uang perusahaan.

"Saya dapat pinjaman Rp.11 miliar dari perajin yang dulu bekerja dengan saya," tutur dia. Rugi total tetapi untung dia menemukan jalan.

Menanggung utang besar membuat aset pribadi dinego. Baik mobil ataupun rumah tidak bersisa dia miliki. Ia akhirnya menumpang rumah di mertua. Enam bulan berselang Frans memutuskan untuk kembali berbisnis. Ia mendekati pengrajin patner kerjanya sebagai makelar. Hasilnya dia mendapatkan pinjaman miliaran rupiah.

Bermodal cuma nama baik membawa kebangkitan Frans. Mencoba berbisnis dari awal lagi selepas gagal total. Dia memiliki semangat pantang menyerah. Dalam dua tahun bisnis Frans kembali ke jalur semula yaitu di mebel. Berdirilah perusahaan bernama PT. Gading Dempar Kencana, yang meraup omzet miliara rupiah.

Pria asli Cirebon, Jawa Barat, mampu mengelola usahanya sampai menembus pasar ekspor. Oleh karena itu, ia mendapatkan penghargaan bernama Primaniyatra menjadi eksportir terbaik tahun 2012 dan 2013 silam.

Dia berpesan jangan terburu- buru berekspansi. Sukses Frans mampu mengapalkan 30 kontainer mebel di setiap bulan. Dia menjadi pengusaha furnitur pertama sukses membuka showroom di China. Frans sudah sangat "ngelotok" akan bisnis mebel. Sejak dia menjadi mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November.

Mengambangkan bisnis selama ini adalah internet. Pengusaha satu ini memang mengikuti perkembangan di dunia teknolgi. Memanfaatkan website untuk promosi. Termasuk ikut gabung dalam aneka portal usaha seperti Alibaba dan Indonetwork mempromosikan usahanya.

Total ada 45 negara tujuan ekspor Frans di 3 benua. Yaitu benua Asia, Eropa, dan Amerika. Negara tujuan ekspor meliputi Israel, Guatemala, Nigeria, Italia, Turki, Inggris, dan Australia, dan lain- lainnya. Ekspansi di China menjadi puncak kejayaan Frans berbisnis mebel, di sana berdiri toko mebel yang bernama Teak123.

Omzetnya mencapai $5 juta atau setara Rp.57 miliar. Produksi Frans dibantu oleh 136 pengrajin dan 400 orang karyawan bekerj di empat pabriknya di Jepara.

Jualan Bahan Scrapbook Sampai Desain Puluhan Juta

Profil Pengusaha Eugenia Selvia 


 
Hobi bisa jadi bisnis. Buktinya ada di Buku Unik, bisnis yang dijalankan oleh Eugenia Selvia. Berawal dari hobi bernama scrapbook. Yaitu seni menempel berbagai hal diatas kertas scarp. Termasuk menempelkan pita diatas buku. Unik karena fungsi tidak cuma buat menulis, tetapi menggambar, dan hiasan tentunya.

Buku cantik berjejer di rak menawarkan konsep lucu. Ada berkesan feminim ataupun berkesan maskulin. Ia menunjukan scrapbook tidak cuma buat wanita. Berawal membuat sampul buku buat catatan ketika kuliah. Sampul unik karya sendiri berbahan gambar, atau foto berhias pita atau batik. 

"Hanya saja memang belum terarah," ungkapnya.

Belum menjadi bisnis hanya hobi pada tahun 2008 silam. Dia memulai sejak kuliah D- 4 di Trisakti Institute of Tourism. Semasa tingga di Riau hobi mengumpulkan gambar ditempel. Semua Pia -begitu orang akrab memanggilnya- lakukan hanya menganut ilmu otodidak. 

Berlanjut hobi miliknya berarah ke daur ulang. Dia melihat bagaiman scrapbook terpajang di sebuah etalase toko. Mulai dari gambar majalah bekas, digunting dan dilem, ditempel dengan kancing, pita, stempel, agar jadi lebih kreatif.

Mulai berbisnis


Pia melawan arus teknologi. Ternyata buku catatan masih memiliki selera. Dimata masyarakat apalagi yang ia hadirkan memiliki cita rasa seni. Semua dikerjakan dari nol berawal workshop kecil di kamar tidur. Lambat laun hasil karyanya diliri orang sekitar dan minta dibuatkan buku catatan scrapbook.

"Saya bergerak membuat karya sendiri," Pia menambahkan. Menengok kesuksesan berbisnis scrapbook di Amerika. Maka dia mencoba menawarkan usahanya lewat online. Sampai dia bisa memasok untuk mal- mal di Jakarta.

Beda sekarang ketika ia memulai masih awam. Orang Indonesia masih belum melirik scrapbook. Kalau pun kamu bertanya tentang scarpbook, mungkin ada yang tau?

Pia berjualan online lewat www.bukuunik.com menjual 2 ribu buku scrapbook sampai omzet Rp.100 juta. Ia yang awalnya membuatkan cuma- cuma, lantas dibuatkan kusus buat komersil. Hasilnya ternyata sangatlah bagus memuaskan. Peminat mulai anak- anak, remaja, dan dewasa menyukai hasil karya Buku Unik ini.

Untuk menambah penjualan maka Pia memiliki cara. Yakni buku bertema, dari scrapbook bertema masakan untuk buku resep, bertemakan aneka kartun atau princess untuk diary, adapula bertema pendidikan yang ia khususkan buat para guru. Memang scrapbook memiliki aneka kegunaan mulai hiasan, catatan, diary, atau resep.

Dulu lewat situs kemudian dia memasarkan lewat bazar. Disana lah pelua membuka lebar, mulai toko buku terkenal dan sampai retail terkemuka menjadi tempat. Hingga Pia sampai memasarkan sampai ke penjuru daerah lewat sana.

Bukan buku biasa


Fungisnya macam- macam mulai diary sampai album foto. Utamanya sih buat diary interaktif, contoh kamu bisa menempelkan tiket traveling kamu dan diberikan komentar, atau menjadi album foto perjalanan seorang anak, menjadi buku resep interaktif dengan foto, jurnal hamil, dan sebagainya.

Pia menjelaskan bahwa bisnis ini pasar luas. Scapbook fungsional dan lebih mudah jika diakses dibanding ke sosial media. Tidak kalah dengan bentuk blog bahkan lebih kreatif karena kancing, pita, atau apapun yang unik. Margin untung mencapai 20% jadi kalau harga jualnya Rp.75.000 sampai Rp.129.00 hitung sendirilah.

Karena bukanlah produk hasil masal. Maka keunikan disetiap buku berbeda satu sama lain. Oleh karena itu pembeli akan lebih gaya personal, menunjukan jati diri. Kesan inilah dihasilkan Pia sampai menghasilkan omzet jutaan rupiah. Produksi pun dilakukan secara manual, dengan tangan, sehingga bukan pabrikan.

Kini, Pia dibantu oleh enam karyawan, kalau dulu dia bekerja sendiri karena memulai dari hobi sih. Pia juga turun tangan sendiri ketika mengerjakan. Wanita 32 tahun ini telah memproduksi 2.000 buku. Dimana ia telah memiliki desain sendiri dan akan bertambah 1- 2 desain per- bulan.

Bisnis ini memang berlandaskan seni. Melalui seni daur ulang pula membantu lebih banyak lingkungan kita. Pia memanfaatkan kertas majalah. Tetapi dia juga menggunakan bahan baru seperti didesain lewat komputer dan diprint. Sampai sekarang Pia masih mengembangkan desain agar masyarakat tidak bosan.

Cara membuatnya tidak sulit kok. Tekniknya standar dapat kamu pelajari. Kalau menggunting dan tempel kan semua orang bisa. Tinggal bagaiman kreatifitas pembuatnya saja. Ini ado yang gak malu- maluin karena spesial khusus. Mulai menjual tanpa orang tau apa itu Buku Unik, hingga, brand milik Pia kini sudah dikenal luas.

Berawal dari menjual ke teman kampus. Dia mengembangkan sendiri. Tetapi dia masih sebatas hobi belum fokus karena masih kuliah. Tidak cuma satu kelas melebar ke kelas lain satu kampus. Sempat membuat dia pernah tidak fokus berkuliah. "Itu sebabnya, saya kemudian menghentikan meski banyak teman memesan."

Modal minim


Tamat kuliah barulah dia berbisnis kembali. Karena memulai dengan hobi maka tanpa modal. Pia hanya mulai mengalari mengikuti arus. Bermodal menempel- nempelkan kertas dari majalah bekas. Itu dijadikan sampul scrapbook dibikin di kamar. Dibuat sendiri, dipakai sendiri, hingga teman menimpali ingin memiliki hasil karya dia.

Hingga ia menyeriusi di tahun 2008, karena permintaan membludak dan menganggu kuliah, maka Pia memilih berhenti sejenak. Hobi menjadi bisnis ini kemudian didukung sang pacar, Willy. Dia memodali Pia sebesar Rp.500 ribu."Belum ada mesin- mesin gitu masih standar juga lah," kenangnya.

Uang tersebut digunakan berbagai bahan kertas. Setelah selesai dia lantas menjajal berjualan di forum- forum termasuk Kaskus. "...kaya kaskus jadi mesti up, up terus," jelas Pia. Kebetulan sosok pacar -yang kini jadi suami- adalah pendukung berbekal kemampuan komputer.

Melalui itulah dia mendapatkan toko online. Jika sebelum itu Pia kerjakan semuanya sendiri. Lambat laun, ia memiliki karyawan sejumlah 6 orang. Tidak lagi sekedar hobi maka ada desain dari desainer.

Pia pun mulai memperkenalkan kepada masyarakat melalui bazar di Lapiaza, Bulog, pameran handicarft di mal, Indcraft, Icra, Inacraft, Charity Women Internasional Club, Crafina, lalu Bobo Fair. Semula orang tidak paham BukuUnik, kini, mereka menyadari ada sebuah produk unik bikinan anak Indonesia, membanggakan.

Berkat mengikuti bazar jugalah BukuUnik masuk mal- mal di Jakarta. Cara pemesanan Buku Unik cukuplah buka www.bukuunik.com, kemudian lakukan pemesanan, melakukan pembayaran, setelah dikonfirmasi, ia akan memastikan dalam 1- 2 hari buku kamu sampai. Tidak puas? Kamu dapat datang ke galeri miliknya sendiri.

"...kemudian diliput stasiun TV baru dari situ mulai booming," tambah Pia. Ia menjadi pemasok tunggal buat Gramedia, Stroberi, Sogo, Living World di Jakarta, lalu merembet ke Medan, Jogja, Makassar, Surabaya, dan Pia mulai fokus memproduksi masal.

Bermula workshop bermodal rumah sendiri. Lantas terus mencicil kesuksesan Pia mulai terlihat. Sekarang ia sudah memiliki mesin jilid sendiri, mesin laminating sendiri, dari membuat di rumah sekarang dia sudah bisa menyewa ruko. "Jadi ada step by step -nya sih karyawan sudah 10 orang," ungkapnya bangga.

Namanya berbisnis pastilah ada pasang surut. Karena berdasarkan hobi, bisnis dijalankan Pia ternyata tidak membosankan jadi dia terus berusaha. Penjualan memang bisa up and down tetapi menurut dia masih bisa diatasi. Selama respon masyarakat baik maka semua bisa diatasi. Pia sendiri rajin menggali ide tidak cuma di buku catatan.

Pia mulai mendengar permintaan konsumen. Maka setiap model melambangkan keinginan pelanggan. Tetapi ia menyebut tema traveling lebih diminati. Tidak cuma menjual buku catatan, Buku Unik miliknya juga siap menjadi pilihan bagi traveler mengabadikan foto lawat album.

Konsumen mulai anak- anak sampai ibu- ibu. Kebanyakan memang perempuan. Scrapbook dijadikan media anak bersemangat menulis.

Buku tulis langka

Katika dunia digital menulis digantikan mengetik. Buku Unik masih tetap memberikan tangan kita banyak waktu untuk menulis. Bisnis ini juga sudah merambah bisnis souvenir. Tidak sedikit perusahaan memesan sampai ratusan untuk acara mereka. Tidak sedikit pula pasangan membeli souvenir berbentuk scrapbook ini.

Semua dibuat tangan meski sudah dibantu mesin. Disaat menikah, di tahun 2009, Pia menggunakan produk miliknya sendiri menjadi souvenir juga. Ini memang berkesan unik dimata tamu undangan. Apalagi itu dibuat secara handmade pasti sangat ekslusip.

Harga jual Buku Unik antara Rp.50 ribu sampai Rp.95.000. Dimana untuk pesanan bersifat khusus personal, dibuat melalui tangan -gambar digunting satu persatu dengan tangan, sesuai dengan teman kamu sendiri, maka Pia menawarkan harga Rp.200.000. Seperti hal kalau kamu mau menjadikan scrapbook jadi souvenir pernikahan.

Percaya diri merupakan ciri- ciri pengusaha. Inilah Pia yang menawarkan buku handmade atau buatan tangan. "Konsepnya fungsional," tambah Pia. Tidak cuma mereka yang paham scrapbook menikmati hasil karya Buku Unik. Mulai anak SD, SMP, SMA, dan bangku kuliah tau diary, note, sketchbook, itulah Buku Unik.

Varian produk ada 12 varian mulai New Recycle Notebook, Creative Book, Palm Creative Book, Phrase Book, Kartu, Tag, Refill, Stamp, Lace Flower, Buttons, Flowers, serta Mini Charms.

Kemudian Buku Unik juga merambah menjual aneka bahan seni scrapbook. Ide muncul ketika Pia ingin agar toko ramai pembeli. Pernah membuka stand di Mal Taman Anggrek tetapi malah tutup. Kemudian toko di Gading Serpong difokuskan menjadi gerai distributor, toko, sekaligus workshopnya.

Nah, disini konsumen kreatif akan beli bahan, lalu mencoba rangkai sendiri. Sekala produksi Buku Unik sudah mencapai 1.000 produk per- bulan. Untuk omzetnya diakui Pia mencapai Rp.60 juta- 100 juta. Kalau ikut event bisa naik omzetnya berkali lipat.

Kendala terbesar berbisnis scrapbook menurutnya adalah SDM. Meski dibantu karyawan Pia masih turun tangan mendesain konsep dan tema. Jika dulu dia menjadi pemain satu- satunya kini sudah banyak pemain. Bahkan produk kreasinya tidak lolos penjiplakan. Maka itulah dia terus berkreasi menciptakan tema varian produk baru.

Kalau dijiplak berarti bagus tinggal tingkatkan produk lain.
 
Soal ide sekali lagi datang dimana saja. Pia memang rajin mencari ide dan didapat dari sekitar. Seperti hal dia suka traveling maka dibuat yuk scrapbook bertema traveling. "...bisa untuk jurnal tiketnya di tempel- tempel gitu jadi kita kasih ide saja kan kadang enggak tahu bukunya buat apa," tutur dia.

Desain juga datang menurut permintaan konsumen, seperti balet, olahraga, pesawat, dan lain- lain. Pia cuma berusaha memenuhi keinginan pembeli. Pemesanan mulai perusahaan buat souvenir karyawan, ada logo dari perusahaan, ditambah kolom buat foto karyawan.

"Butuh waktu mengerjakannya... beda dengan percetakan yang bisa lebih cepat karena memakai mesin," ia lanjut.

Kunci bisnis sukses di industri kreatif?

Pia menyarankan kita agar selalu memunculkan ide baru. Ikuti pola di masyarakat terutama pasaran kamu. Kalau bicara anak sekolah contohnya, maka buatlah berdasarkan apa mereka butuhkan sebut saja buku tahunan. Pasar masih luas tidak terbatas umur. Pia sendiri tengah fokus buka distributor dan reseller.