Biografi Inspiratif Robert Herjavec Shark Tank

Biografi Pengusaha Juri Shark Tank



Juri Shark Tank satu ini telah membuktikan fakta tentang imigran. Bahwa imigran siapapun mampu merubah nasib. Dan juga bisa merubah dunia tempatnya menetap tinggal. Kelahiran Kroasia, sebelumnya Yugoslavia, 14 September 1962 merupakan pemilik Herjavec Group. Yang nilai kekayaanya naik tetap dari angka $200 juta.

Dia adalah pengusaha asal Kanada. Seorang investor handal sekaligus penulis buku. Dia semakin terkenal ketika dia menjadi salah satu juri Shark Tank.

"Terkadang itu terasa kamu tidak layak masuk kesana," kutip Herjavec, merujuk kepada keadaanya sebagai orang imigran.

Herjavec tumbuh di Zbjeg. Namun terpaksa meninggalkan negeranya karena sang ayah. Ceritanya bahwa ayah Herjavec merupakan toko vokal. Alhasil, pada umur delapan tahun, tanpa tau sebabnya maka dia ikut dibawa keluarganya keluar dari wilayah konflik

Satu keluarga kemudian sampai di daerah bernama Halifax bermodal satu koper, dan uang $20. Bagianya ia merasa hidup sangatlah sulit. Waktu itu dia hanya bocah biasa, yang bahkan tidak bisa berbicara bahasa Inggris. Transisi hidup memang sulit dimana dia lantas tinggal bersama nenek di sebuah pertanian.

Merasakan hidup sebagai petani harus mengikuti tradisi sekitar. Diantara tetangga baru yang sama bekerja jadi petani, dia menemukan fakta bahwa keluarga Herjavec lebih miskin, dimana dia merasa minder akan hal tersebut untuk bersosialisasi sebagai masyarakat ekonomi lemah.

Dia mengenang sang ayah bekerja di pabrik. Menghasilkan kurang lebih $76 seminggu -atau setara $464,26 jika tidak terpengaruh inflasi- di 2015. Dia kemudian mengenang "bully" dirasakan ketika sekolah. Pernah ia mengadu kepada ibu karena diejek teman sekelas karena miskin.

Bayangkan ayah Herjavec bekerjanya jalan kaki. Dia mengumpulkan uang ongkos naik angkot, sampainya di rumah, ketika dia mendengar ucapan sang anak. Ayah Herjavec berkata,"jangan pernah mengeluh," yang mana menjadi kata bijaknya hidup sampai sekarang.

Dia sangat mengagumi sang ayah. Dia menjulukinya "pria tangguh, yang sangatlah tangguh." Perkataan sang ayah akan jangan mengeluh mendorong dia maju. Keinginan akan membangun kemapanan semakin tumbuh. Tambahan dorongan lain ialah ketika dia mendapti sang ibu ditipu mentah- mentah.

Bayangkan seorang salesman datang, mengajak ibunya membeli alat pembersih debu seharga Rp.500, dan itu setara gaji ayah seminggu. Kejadian tersebut mendorong Herjavec harus lebih cerdas. Pemikirannya ialah dia bersumpah tidak mau lagi orang tua ataupun dia dimanfaatkan orang lagi.

Tahun 1984, dia lulus kuliah dari University of Toronto, dengan latar pendidikannya Ilmu Bahasa Inggris dan juga Ilmu Politik. Dia bekerja agar mampu mencukupi keluarga. Dia mengambil aneka pekerjaan dengan gaji mepet upah minimum di 1990 -an, seperti menunggui meja, mengantar koran, menjadi sales, debt collector.

Imigran sukses


Dia mendeskripsikan dirinya sebagai "Imigran dalam kapal". Merujuk pada imigran Timur Tengah yang mulai masuk ke Eropa melalui kapal- kapal kecil. Umur delapan tahun dia merasakan sendiri ikut ayahnya masuk ke Kanda menghindari penjara.

Dia mengenang bagaimana dia tidur di basement. Cuma punya satu sepatu terpasang dikakinya. Mungkin ia merasakan kemerdekaan di negara baru. Namun perasaan emosional melanda transisi hidup Herjavec. Dia menginjak dunia baru berbeda. Herjavec bahkan dibully teman sekelas karena hidup miskin sebagai imigran.

Ia bahkan dipukuli karena memakai pakaian tidak keren. "Ketika saya berkata kepada ibu saya, dia lantas berkata, "Robbie, tidak ada seorangpun di dunia lebih baik dari kamu dan kamu tidaklah lebih baik dari siapapun di dunia"," ia berkata kepada majalah Entrepreneur bahwa mengeluh tidak ditolerir.

Tumbuh besar dia sempat merasa minder. Dia merasa semakin seperti orang asing di negeri asing. Sempat ia melihat ayah berangka kerja berjalan kaki. Ayahnya bekerja menjadi tukang sapu di sebuah pabrik. Lalu ia menjadi saksi ibunya ditipu tukang jual mesin penyedot debu.

"Saya menyadari bahwa dibandingkan orang lain, kami sangatlah miskin," kenangnya. Umur 14 tahun muncul rasa ambisi untuk menjadi multi- miliarder, karena ia ingin memberikan kehidupan keluarga lebih baik.

Ia ingin lebih dari bayangan kosong keluarga tentang "kembali ke Kroasia". Dia tidak mau keluarganya malah kembali kesana dan memulai dari nol (lagi). Herjavec menginginkan hidup diatas semua pikiran liar tersebut. Dia lantas berkata kepada orang tuanya bahwa dia akan menjadi bos.

Seseorang yang tidak akan dipecat dan bisa bersantai. Bukan hidup seperti pekerja pabrik bersama ayahnya dulu. Dia ingin menjadi seseorang yang bebas menentukan jadwalnya sendiri. Dia mau menjadi entrepreneur. Bekerja seadanya seperti cerita diatas, dia mulai bekerja lebih keras agar menjadi sosok seperti di citakan.

Karir bisnis


Karir di bidang perfilman dimulai sejak dini. Dia bekerja di belakang kamera di berbagai rumah produksi. Ia kemudian menjadi asisten direktor, filmnya seperti Cain and Abel dan The Return of Billy Jack. Karirnya di bidang ini mengalami puncak sebagai produser siaran langsung Olympic Musim Dingin XIV untuk Global TV.

Herjavec mendapatkan penghargaan termuda meliput Olympic. Mencari pekerjaan dibidang produksi, ia lantas mendaftar ke perusahaan Logiquest menjual produk IBM, namun karena tidak sesuai pengalaman maka dia ditolak. Herjavec tidak putus asa malah menawarkan bekerja selama enam bulan tanpa gaji.

Karena dia bekerja gratis maka Herjavec mencari sambilan. Bekerja keras lalu naik pangkat sangat jauh yakni menjadi Jendral Manajer di Logiquest. Di 1990 -an, dia dipecat oleh perusahaan, lantas mendirikan perusahaan sendiri bernama BRAK Systems, perusahaan keamanan internet Kanda, berkantor di basement rumah.

Kemudian BRAK Systems sendiri dijual ke AT&T Canada di Maret 2000 senilai $30,2 juta. Dan setelah tiga tahun pensiun, serta menumpang tinggal di rumah ayahnya bersama tiga anaknya, akhirnya Herjavec menemukan satu lagi perusahaan bernama Herjavec Group di 2003.

Bisnisnya meliputi keamanan jaringan internet, menjual dan memanajemen layanan provider, dimana dia jadi CEO perusahaan. Perusahaan ini tumbuh sangat cepat dan menjadi provider IT terbesar Kanada, menurut Branham Group. Herjavec Group (THG) memiliki tiga pegawai di 2003 jadi 150 pegawai pada tahun 2013.

Total pertumbuhan perusahaan 630% dari 2007- 2014 lalu. Dari penjualan yang cuma $400 K pada 2003 menjadi $125 juta masuk 2012. Perusahaan mencapai target penjualan lebih dari $500 juta.

Mimpinya menjadi imigran sukses telah tercapai. Dia selalu percaya akan hidup sukses dan akhirnya sukses melebihi imajinasi terliar. Hidup baginya terbagi dua, orang yang sudah ditakdirkan Tuhan sukses sejak lahir dan mereka yang menjangkaunya kesuksesan.

"Saya salah satu diantara orang yang sukses karena menanggung luka di kehidupan mereka, yang tau bahwa mereka tidak akan mampu bertahan lagi dan mau merubah nasib," imbuhnya kepada Entrepreneur.com

Menjadi imigran, kemudian mendapatkan kewarganegaraan Kanada tidak mudah. Dia tidak seketika jadi warga negara karena entrepreneur. Butuh waktu contoh saja entrepreneur salain dirinya. Mereka harus siap menghadapi perbedaan budaya dan bahasa, dan norma hidup sementara tetap berusaha agar sukses.

Menurutnya tidak sangatlah sulit menjadi entrepreneur imigran. Susah buat mencampur di tempat tinggalnya sekarang. Namun tidak berarti menghentikan kamu mencari tempat menjadi sukses. "Tidak masalah siapapun kamu atau darimana pun kamu," Herjavec menambahkan lagi.

Pada dasarnya dalam hati terdalam orang tidak peduli. Tidak peduli warna kulit. Tidak peduli tentang apa agama ataupun jenis kelamin. Mereka cuma peduli berapa nilai kamu taruh dalam kehidupan.

Hidup biasa


Pilihan terbaik seorang Herjavec bukanlah memilih berbisnis awal. Bukanlah belajar bahasa baru agar bisa menyatu dengan lingkungan. Bukanlah pula menjual perusahaan ke AT&T untuk jutaan dollar. Adalah dia memutuskan untuk menolak virus dia sebut hidup biasa. Menolak hidup biasa saja dalam bentuk apapun itu nanti.

"Dunia tidak menghargai kebiasaan," ujar Herjavec. Kamu harulah menjadi hebat untuk sesuatu. Tidak ada namanya cukup baik. Cuma ada terbaik ataupun kata lebih hebat. Pengusaha besar bermata biru savir, sekarang berumur 52 tahun, kini menduduki posisi sebagai pemilik perusahaan keamanan internet.

Dengan sagala macam masalah dilalui. Dia pernah bekerja menjadi penjual koran loh. Juga pernah bekerja menjadi kolektor utang. Dia pernah bekerja menjadi pembersih lantai bergaji $76 per- minggu. Herjavec memang hidup berkecukupan tetapi dia ingin lebih.

Umur 14 tahun dia "digigit" serangga entrepreneurship. Dia lantas menyatakan keinginan menjadi pengusaha kepada kedua orang tua. Ayahnya lantas memberikan saran. Ayah Herjavec menunjuk jabatan tertinggi di perusahaan tempatnya bekerja. Tetapi sosok tersebut tidak membuat Herjavec berpuas.

"Bagi orang tua saya, orang itu adalah sosok paling sukses mereka tau karena dia adalah sosok yang tidak akan dipecat dan pekerja keras."

Tanpa adanya mentor membuat dia cukup kesulitan. Dia ingin menjadi orang yang tidak peduli akan gajinya ataupun sewa. Ingin menjadi seseorang sukses dan besar. Dia kemudian menyasar buku- buku menjadi sang mentor. Sasarannya tidak lain adalah kisah- kisah biografi pengusaha.

Dari sanalah dia menemukan tidak seorang pun peduli akan orang biasa. Kesuksesan adalah bisa dihitung. Ia mau menjadi sukses dan menghasilkan banyak uang. Atau apapun yang mendefinisikan kesuksesan tersebut. "Lakukan satu hal dan lakukan itu lebih baik dari siapapun," jelasnya. "Lakukaan apapun buat menjadi paling hebat."

Jika tidak mau, maka kamu tidak akan pernah melihat titik potensi kamu. Kamu tidak akan pernah sukses buat menghidupkan mimpi kamu.

"Temukan talenta kamu, jadilah hebat dan lakukan hal hebat dari telanta kamu sendiri. Jika kamu lakukan, tidak cuma kamu akan sukses, kamu akan mendapatkan kepuasan pribadi dan mencukupi sesuatu uang tidak dapat beli."

Catatan: foto diatas adalah fotor Robert Herjavic di rumah lamanya

Biografi Lo Kheng Hong Pemain Saham Terhebat Indonesia

Kisah Sukses Orang Miskin Maen Saham



Anak miskin maen saham. Jika dirunut kisah seorang Lo Kheng Hong tidak akan percaya. Bahkan jikapun kamu bertemu sosoknya tidak berbeda orang biasa. Siapa sangka anak miskin itu kini memiliki aset Rp.2.5 trililun dari maen saham. Kisah Lo memang panjang karena investasi saham memang butuh kesabaran.

Dia bukanlah pencari untung. Lo duduk santai di taman dekat rumah dibawah teduhan pohon kamboja dan pohon mangga. Pekerjaan dia tidak mengantor, tetapi asik membaca 4 koran sekaligus, memeriksa laporan perusahaan dan data statistik pasar saham, tidak sibuk kan?

Kerjanya cukup 3 hal yang disebutnya RTI: Read, Thinking, dan Investing. Berkat kejeliaanya dia mampu menghasilkan uang tanpa bekerja. Menghasilkan jutaan dan uangnya bisa digunakan berkeliling 5 benua. Ia menyebutkan setidaknya dua kali dalam setahun ke luar negeri.

"Biasanya saya bepergian bersama istri dan anak-anak saya. Di sana kami tinggal di hotel saja, lalu jalan-jalan. Saya orang yang bebas, tidak punya bos dan tidak punya karyawan," utasnya kepada SWA.co.id

Mulai dari nol


Keberuntungan menghinggapi mereka yang sabar. Lo merupakan sulung dari 3 bersaudara hidup sangat- sangat sederhana. Beruntung dia mampu melanjutkan kuliah Sastra Inggri ke Universitas Jakarta, dan tentu sambil bekerja tentungnya.

Sedikit menggambarkan seberapa miskin dia. Lo bercerita keluarga mereka tinggal di daerah terpencil. Jarak rumah sampai 30km dari Kota Pontianak. Orang tua Lo bekerja sebagai pemecah kelapa. Pekerjaan yang memakan waktu mereka seharian. Dari terbit matahari sampai senja mereka bekerja menghidupi keluarga.

Ia bercerita lama- lama orang tuanya bosan. Mereka merantau ke Jakarta tidak membawa bekal apapun. Ia tidak ingat. Di Jakarta, mereka akhirnya bekerja di toko, kemudian ya barulah melahirak Lo Kheng Hong. Rumah mereka sederhana sering kena banjir dan tanpa platform. Singkatnya Lo dapat lulus SMA kemudian bekerja.

Orang tua Lo tidak memiliki uang buat menguliahkan. Tidak patah semangat seperti penulis ceritakan diatas, Lo memilih bekerja. Dia bekerja sebagai tata usaha di Bank Swasta. Sambil bekerja dirinya menguliahkan sendiri sampai lulus. Tidak cuma kuliah sisa uang didapatkan kemudian sisihkan lagi.

Selama 17 tahun bekerja sudah disisihkan beberapa lembar. Uang tersebut Lo nekatkan masukan ke pasar saham.

Sejak 1979 dia berkuliah malam sambil bekerja di pagi hari. Ia menjadi pegawai tata usaha PT. Overseas Express Bank (OEB). Dia ingat betul uang masuk kuliah Rp.50 ribu, sedangkan uang bulananan cuma Rp.10 ribu. Tahun 1989 ia mulai menjadi investor saham pertama kali. Waktu itu umurnya sudah 30 tahun tidaklah muda lagi.

Jika dibandingkan Warren Buffett, Lo bisa dibilang kalah umur, karena Warren Buffett memulai saham sejak umur 11 tahun. Tidak masalah karena sejak awal niatnya bukan menjadi dia. Bekerja puluhan tahun tetapi ia tidak pernah naik jabatan. Lantaran perusahaan tidak melakukan ekspansi siginifikan jadi ya tidak ada jalan.

Sebagai bagian tata usaha diceritakan gajinya paling kecil. "Dan, modal saya berinvestasi saham pun hanya dari gaji," imbuh Lo. Kelebihan Lo adalah dia mau hidup hemat buat berinvestasi. Uang dipunyai sedikit ia langsung belikan saham. Kalau orang dapat uang dikonsumsi maka dia tabungkan cuma bentuknya saham.

Jika orang asik tengah mencicil mobil, maka Lo tengah asik mencicil perusahaan. Meski telah beraset triliun sampai sekarang dia masih asik memakai mobil berusia 10 tahun. Ia berinvestasi saham karena kepincut atas capital gain besar. Kalau saham IPO waktu itu dijual seharga Rp.7.250, kok tidak lama sudah jadi Rp.35 ribu.

Bayangkan untungnya sampai 400%. Awal investasi saham, ia ingat menggelontorkan uang Rp.10 juta, dia cuma dapat beberapa lot waktu itu loh. Tetapi sedikit nilai naik begitu juga nila aset Lo. Saham pertama kali Lo Kheng Hong beli adalah PT. Gajah Surya Multi Finance ketika IPO.

Waktu pertama kali memulia dia sempat gagal. Dia bercerita bagaimana lelahnya dia mengantri. Dia antrean panjang di Gedung BDNI Hayam Muruk. Nah ketika sudah lisiting, saham sudah ditangan, eh kok harganya malah turun drastis. Alhasil dia harus jual semua saham dibawah harga beli waktu itu.
Dia belajar otodidak. Dia memiliki setidaknya 40 buku Warren Buffett. Yang mana bukunya sudah dibaca 4- 5 kali. Masuk tahun 1990, ia pindah ke Bank Ekonomi bagian pemasaran, diman setahun menjadi kepala cabang. Di tahun 1996 tepat 17 tahun dirinya bekerja di perbankan. Ia memutuskan berhenti bekerja buat saham.
Keputusan aneh tetapi bekerja. Alasan utama kenapa berhenti kerja karena return berbisnis saham lebih dari pendapatan. Lumayan begitu kata Lo. Tidak memilih obligasi karena returnya kecil. Tidak pula dia pernah masuk ke reksa dana. Alasannya karena uang dikendalikan orang lain. Bagaimana jika orangnya tidak jujur dan sebagainya.

Manajer investasi tidak jujur sudah banyak. Ia menekankan bahwa maen saham justru lebih unggul. Dia tidak pula bermain emas. Alasan utama karena emas tidak produktif. Penjelasan singkat Lo, kamu membeli 1kg emas maka sepuluh tahun tetap 1kg emas. Tidak pula membeli dollar. Alasan satu ini terdengar sangat baik loh.
Menurutnya orang membeli dollar berharap krisis, berharap Indonesia mengalami keburukan, negera diharap tidak stabil, agar rupiah lemah dan untung cepat. Sedangkan saham kebalikannya orang tidak mengharap keburukan. Kamu menganalisa dan berharap kinerja perusahaan membaik sehingga memberikan untung.

Lo juga menyarankan kamu jangan menabung di Bank. Pasalnya bunga kecil tidak menghasilkan untung. Ia sendiri menyimpan seperlunya tidak semua. Bagaimana dengan deposito? Tidak pula pilihan, ia menyebut bahwa ketika deposito ketika inflasi dengan bunga kecil sama saja miskin pelan- pelan.

Dalam sebelas tahun belakangan contohnya bursa efek tumbuh. Sejak bom Bali 2002 IHSG telah naik dari 330 jadi 5251 pada Mei 2013. Ada saham sampai naik seribu persen. Pernah dia membeli saham dari perusahaan petrokimia seharga Rp.200, pada tahun 2008 malah turun jadi Rp.60, tidak dijual tetapi malah beli.

Dia membeli makin banyak hingga pada tahun berikutnya harga naik jadi Rp.600. "...dan saya menjualnya," ia berujar.

Investor bukan pengusaha


Dia mengakui dirinya sebagai investor. Menurut Lo, investror nafasnya harus panjang buat bermain sampai bertahun tanpa berhenti, hingga menghasilkan nilai. Seorang investor berarti kuat secara modal. Maka ia menyarankan jangan memakai uang hutang atau uang sehari- hari sebagai investasi bursa saham.

Contoh nyata kenapa bukan uang sehari- hari. Lo Kheng Hong pernah dikabarkan rugi besar sampai uang tinggal 15% pada krisis 1997- 1998. Namun dia tetap membeli saham meski posisi rugi. Dan hasilnya uang berbalik ketika ekonomi membaik. Bahkan nilai asetnya berlipat sejak 1998 sampai tahun 2013 lampau.

Pekerjaan Lo sebagai investor adalah mencari saham "salah harga" di bursa. Ia menggunakan strategi yang sangat sederhana beli paling murah tetapi paling bagus prospeknya. Kemudian kamu simpan, menunggu sabar, hingga si bursa saham sadar bahwa saham itu terlalu murah dan naik ke harga seharusnya tertulis.

Disinilah kamu mendapatkan keuntungan. Ia menjelaskan 90% investor tidak tau apa yang mereka beli. Dia melanjutkan investor kebanyakan seperti membeli kucing dalam karung.

Contoh lagi ketika Lo membeli saham PT. Multibreeder Adirama Indonesia Tbk, perusahaan ternak ayam terbesar kedua seharga Rp.250. Dia dapat 8,28% saham di pasaran atau senilai 6 juta. Total lembar saham di pasaran mencapai 75 juta. Nilai perusahaan Rp.250 kali 75 juta atau setara Rp.18,75 miliar.

Padahal kalau dihitung untungnya mencapai Rp.106 miliar. Banyak investor tidak sadar. Alhasil ketika dia asik menyimpan dan menjual, harganya tepat naik sampai Rp.31.500 di tahun 2011 -an. "Saya memperoleh untung 12.500%," jelasnya.

Ia pernah memiliki 850 juta lembar saham PT. Panin Financial Tbk. Dimana dia membeli sewaktu harganya masih Rp.100. Sukses dalam 1,5 tahun harga sudah naik Rp.260 per- lembar, bahkan masih terus naik jadi Rp.300 per- lembar. Bicara tentang hasil maka properti pertama dia adalah rumah tinggal di Green Garden.

Ini hanya dari investasi pasar saham loh. Dia membeli sejak Januari 1994, dimana pada 1993 dia sudah bisa menghasilkan uang cukup buat membeli rumah. Dia ingat betul ini merupakan hasil penjualan saham PT. Rig Tenders Indonesia, perusahaan pelayaran, dimana harga beli Rp.800, dan dijualnya seharga Rp.1.300 per- lembar.

Waktu itu pasar saham liquid. Dia tidak punya apa- apa. Hanya satu saham tersebut dipertahankan karena ia memang tidak punya banyak uang. Waktu itu pasar saham tengah booming. "Saat itu saya tidak beli banyak," ia lanjutkan. Untung kejeliannya tepat. Sekarang dia bahkan sudah punya apartemen di Pantai Mutiara dan vila di Cisarua.

Tidak ada properti disewakan. Ia menganggap dirinya adalah investor saham. Baginya membeli saham sudah cukup dibanding menyewakan apartemen.

Bekerja sambil tidur


Angka aset Lo Kheng Hong tidak pasti. Angka diatas bisa saja lebih atau kurang. Namun yang pasti dalam sebuah sesi seminar ketika ditanya: Dia mengatakan hasilnya cukup buat seumur hidup. Soal besaran aset yang dia pegang dan aset saham. Maka dia memiliki lebih banyak uang di bursa dibanding berupa aset nyata.

Bahkan dia menyebut rumah, apartemen, vila, hanyalah 1% dari kekayaan. Kini dia sendiri sudah tidak terlalu aktif seperti membeli saham IPO. Cuma membeli saham yang diperdagangkan di bursa saja. Ia lebih memilih membeli saham perusahaan batu bara, kan sedang banyak jatuh dan harga bisa dibeli murah meriah.

"Saat ini saya memiliki lebih dari 20 emiten, salah satunya adalah saham PT. Petrosea Tbk yang saat ini kepemilikannya telah mencapai sekitar 9%," ujarnya.

Dia tidak pernah punya target soal saham. Menurutnya bursa saham tidak dapat diprediksi. Hari esok bagi seorang investor adalah misteri. Yang pasti dia selalu membaca anual repot dari saham- saham miliknya. Ia akan menemukan bidang usaha, laba usaha, keuangan, pemiliknya, direkturnya dan komisarisnya.

Tidak membeli kucing dalam karung. Tuhan memang Maha Pengampun. Tetapi bursa efek tidak mengenal kata ampun kepada orang yang tidak tau apa yang mereka beli.

Yang pasti dia tidak cuma memiliki saham beruntung besar. Ia juga mahir dalam hal mengambil saham yang digoreng. Uniknya dia bukanlah tipikal investor yang sepanjang hari melototi bursa efek. Lo bahkan tidaklah melengkapi diri dengan gadget ataupun aplikasi mutahir.

"Investor saham kebanyakan ikut- ikutan tidak tau apa yang dibeli," imbuhnya. Ia menyebutkan semakin cepat panik investor, menunjukan ketidak tauan.

Ayah dua anak ini memilih menjadi investor jangka panjang bukan seorang trader. Obsesinya tentang saham tergambar dari bentuk kekayaan, yang ia sebut hampir seluruhnya saham. Dia punya dana cash 15% buat jaga- jaga ketika krisis. Kalau krisis uang itu akan buat dibelikan saham lagi lah.

"Saya tidak bekerja, saya tidak punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak pula punya karyawan seorang pun, dan tidak punya bos," ujarnya bangga, cuma punya seorang sopir dan pembantu.

Sudah 22 tahun dia bermain saham Umurnya sudah kepala lima dan masih terus berkarya. Tidak cuma jadi investor tetapi juga mengedukasi orang Indonesia buat ikutan saham. Kenapa memilih saham karena tidak lah capek seperti sektor rill. Orang banyak tau orang rugi, jatuh miskin karena saham, bahkan sampai bunuh diri juga.

Tetapi kebanyakan orang tidak tau ada Warren Buffett. Untung bermain saham lainnya adalah kita tidak kerja. Yang bekerja adalah mereka para direksi, eksekutif, komisari, manajer. Istilah kerennya tidur saja bisa dapat duit. Banyak waktu bebas diakui Lo dimiliki sehari- hari, tetapi bukan tanpa terus belajar loh.

Mereka pemilik saham yang dapat untung. Sementara pegawai bahkan eksekutifnya cuma dapat sisanya. Soal memilih perusahaan baik yaitu perhatikan manajemen, terus manajemen, kemudian manajemen lagi, dan barulah lain- lain. Janganlah membeli sesuatu yang kamu tidak tau.

Ia menyebut sektor sepatu, garmen, dan tekstil kurang menarik. Justru pakan ayam serta kelapa sawit lebih menggiurkan. Kan banyak orang makan ayam? Selain itu dampak negatif ayam juga kecil. Ayam menjadi satu makanan pilihan ketika daging sapi mahal, juga mudah diternakan.

Kemudian dia mengisaratkan ada empat jenis perusahaan: Perusahaan yang untung terus, perusahaan yang rugi terus, ada yang untung besar terus stagnan, adapula perusahaan tumbuh meski kecil tapi stabil. Inilah perusahaan ke empat yang Lo target cari di pasar saham. Kalau lima tahun kedepan tumbuh belakangan akan baik.

"Kalau sudah lima tahun berturut- turut tumbuh, tandanya sudah super company," imbuh Lo.

Harga Rp.200 jangan dibilang murah dibanding harga Rp.70.000, tergantung emitennya. Memang baik membeli saham yang dibawah harga itu sangat potensial kedepan. Untuk waktu lebih enak ketika ada krisis seperti Eropa, Yunani, dan Amerika.

Lo memang lebih suka bekerja di taman. Padahal dia banyak ditawari kantor olah para milinuer Indonesia. Ia malah memilih taman rindang dengan banyak pohon. Kegiatan setiap hari terutama di pagi hari mencari info tentang emiten. Membaca surat kabar senilai 480 ribu per- bulan. Dia juga mengliping artikel penting buat pribadi.

Tidak sampai disitu, ia akan memlototi informasi dari BEI, dimana dia mendapatkan informasi past tentang perusahaan melantai di pasar saham. Minimal dia membaca 100 pengumuman keterbukaan informasi dalam halaman web BEI sebagai arsip pribadi.

Investasi susah gampang


"Buy on weakness. Be greedy when others are fearful. Be fearful when others greedy," pepatah lama Lo.

Ia mengibaratkan hidupnya ingin seperti Warren Buffett, bukan Bernard Madoff. Itulah mantan bos bursa NASDAQ yang tidak dapat mengelola uang nasabah. Menunjukan bahwa dia cuma paham teori sjaa bukan praketknya.

Pasar saham pun bukan soal berapa uang dikeluarkan. Orang mengeluarkan uang puluhan juta buat kuliah lalu jadi pintar. Kalau bursa saham masuk ke dalam, keluar uang miliaran, keluar bukannya pintar malah jadi makin bingung. Pintar teori saja tidak cukup bagi investor. Maka bacalah laporan keuangan emiten satu per- satu.

Ia menyebut dirinya 100% fundamental. Dia selalu lihat manajemen dan pertumbuhan perusahaan. Kalau ia mengistilahkan teknikal cuma grafik semua diabaikan. Total 400 emiten di pasar banyak yang fundamental bagus, tetapi banyak orang terjebak. Orang sibuk ketika tidak sesuai perhitungan kira- kiranya satu hari.

Jangan percaya kalau iklan bilan tetap untung. Sekelas Warren Buffett saja tetap merugi ketika terjadi krisis di Amerika. Dia tipikal yang akan keep kalau benar bagus. Kalau kiranya dilepas maka dia akan memilih ia melepas, untung sampai 300% per- bulan.

Filosofi hidup Lo Kheng Hong adalah menjadi kaya sambil tidur. Status perusahaan sahamnya dia telah beli menjadi teman tidur. Ketika dia tidur maka perusahaan akan bekerja untuk dia. Menjadi kaya sambil tidur butuh kecermatan dan emiten bagus. Lo masih sempat tidur delapa jam sementara orang lain lembur kerja.

Seorang Manajer Mengundurkan Diri Karena Konro

Profil Pengusaha M. Ikhsan Ingratubun 



Di umur 46 tahun sudah menjabat manajer. Namun M. Ikhsan Ingratubun memutuskan berbisnis kuliner khas Makassar. Rasa cinta akan cita rasa kuliner menjadikan bisnis. Ditambah kemampuan teruji manajerial maka tidak salah kalau bisnisnya bukan kuliner biasa. Usaha dijalankan Ikhsan adalah Raja Konro Daeng Naba.

Berawal dari hobi memasak lantas menjadi usaha beromzet puluhan juta. Sepulang kerja, daripada tidak ada kerjaan, sesampai di rumah langsung ke dapur memasak. Mantan senior manajer  PT. Bakrie Telecom Tbk ini sudah memulai karir sejak 1996, malah memilih keluar.

Nama kedai didapat berasal dari nama kecil. Nama panggilan sejak kecil Ikhsan yaitu Daeng Naba. Nama tersebut memiliki makna orang mudah akrab dan ramah ke siapapun.

Membuka kedai cukup buka lapak di pinggir jalan. Waktu itu, Ikhsan menumpang lahan sebuah bengkel di Makassar, ketika sore tiba dan bengkel tutup maka bukalah kedai miliknya. Sebagai awalan malah tidak dia jual langsung konronya loh, tetapi menjual seafood.

Bisnis konro


Agaknya didorong insting serta kegemaran akan kuliner lokal. Ikhsan memilih fokus berbisnis konro. Jadilah nama Raja Kontro tersemat di kedai Daeng Naba. Ia terinspirasi sosok ibu yang hobi memasak. Khususnya buat menyuguhkan kerabat atau kolega yang datang bertamu ke rumah.

Alhasil dia menjadi anak yang akrab dengan pasar. Bahkan dengan senang hati, Ikhsan kecil senang kalau dia sudah disuruh ibu membeli bahan masakan. Ujungnya ya sosok pria berkacamata ini malah terbiasa untuk memasak di dapur. Sudah terbiasa mengenal aneka bumbu berkat ibu ahli memasak ini.

Berbekal itulah keberuntungan menghinggapi. Ia merasa hati sudah dekat dengan kuliner. "Saya merasa selalu diberkati Tuhan dalam usaha kuliner ini," ujarnya.

Sempat mengalami kegalauan mau berhenti kerja. Waktu itu soto konro miliknya menjadi sangat digemari. Begitu ramainya sampai dia kelupaan akan kerjaan. Keteteran, maka di tahun 2001, memutuskan buat lebih memilih menjalankan usaha kuliner. Padahal dia ditanggung jawabi jabatan mapan di Bakrie Telecom.

Keputusan tersebut pasti menimbulkan kontra. Apalagi dari pihak keluarga yang khawatir usaha dijalankan Ikhsan tidak mapan. Akan tetapi ia percaya akan konsisten berusaha. Memilih berbisnis maka dia sudah siap untuk konsisten dalam cita rasa, pelayanan, serta keramahan ke konsumen.

Jaminan pelanggan akan menerima makanan dalam waktu 10 menit. Bahkan Ikhsan memasang alat pengukur agar karyawan terukur soal penyajian. "Ini untuk semua menu, tidak boleh tidak," tambah Ikhsan.

Mimpi pengusaha


Mimpi menjadi pengusaha diam- diam sudah ada. Dan Ikhsan sudah mendapatkan tujuannya lewat berbisnis kuliner. Ia pengusaha kuliner Makassar. Bayangkan sekarang menurut Kontan omzet dihasilkan Dang Naba sudah mencapai 2 miliar. Pantaslah dia begitu bersemangat memilih berbisnis kuliner bukan cuma bekerja.

Namanya mungkin kurang terdengar. Tetapi nama masakan kuliner kedai Raja Konro Daeng Naba pasti sudah tidak asing di telinga masyarakat Sulawesi Selatan. Apalagi semenjak berekspansi besar- besaran, Raja Konro Daeng Naba sudah menjajakan kaki di Jakarta.

Total 7 gerai tersebar di Ibu Kota dengan aneka varian konro. Menu andalan Ikhsan adalah konro atawa iga bakar. Memang usaha kuliner Ikhsan dikenal dengan aneka variasi konro, mulai konro cita rasa Thailand, lada hitam, konro saus pedas, konro peda korea, konro bakar original serta sop konro.

Varian menu termasuk masakan khas Makassar lain. Mulai dari masakan sop paleko, sop kaledo, mi titie, soto Makassar, serta aneka seafood. Menu semua disajikan dengan olahan bumbu khas Makassar. Dia pun bangga membranding usahanya menjadi satu- satunya yang menyajikan aneka konro berbagai varian rasa.

Diversifikasi masakan memang disengaja. Ikhsan memodifikasi masakan sedemikian rupa agar tidak jenuh di lidah. Ia memadukan kemampuan korporasi dan kewirausahaan. Ikhsan menegaskan meski sudah aneka varian tetap ke khasan Makassar tetap. "...mempertahankan ciri khas bumbu Makassar yang lezat," ujarnya.

Tidak cuma lidah masyarakat Sulawesi Selatan. Semua orang akan menyukai masakan konro buatan Ikhsan. Konro miliknya disukai semua orang Indonesia. Apalagi konro sekarang dikenal sebagai masakan nasional. Ia bangga karena sudah memulai usaha. Semakin banyak pulang orang berkunjung ke kedai Daeng Naba.

Juru masak pun merupakan tenaga profesional. Rasa bumbu pedas mersap sempurna sampai ke tulangnya. Ia juga menjamin daging olahan sangat empuk. Tidak perlu repot kamu memotong daging dengan pisau. Ia juga memastikan harga tidak bikin kantong bolong. Satunya dibandrol antara Rp.25.000- Rp.50.000 per- porsi.

Karena harganya terjangkau jangkauan pasar luas. Dari kalangan biasa sampai pejabat pemerintah menyukai masakan Ikhsan. Kalangan bawah atau atas menyukai masakan Ikhsan. Untuk penggemar konro yang suka bergadang tenang. Ikhsan menawarkan konsep bisnis 24 jam mau ramai ataupun sepi tetap buka melayani.

Hadapi MEA


Sukses konro dia sudah ancang berbisnis sampai MEA. Brand usahanya diperkuat agar siap menghadapi masyarakat ASEAN. Ya salah satunya lewat menambahkan menu terbaru seperti nasi ngebul. Nasi berisi daging asap, daun jeruk, disajikan dengan iga bakar atau ayam bakar.

Sarjanan ekonomi Universitas Kosgoro tahun 2007 tersebut memang hebat. Untuk ekspansi dia ingin resep spesial buat olahan Makassar lain seperti sop saudara dan sop pallu basa. Berinovasi bukan soal mengejar keuntungan tetapi bagaimana tetap memuaskan pelanggan. Untung didapat sejalan kita memberikan kualitas terbaik.

Ada cara bagaimana mengukur kesuksesan sebuah menu. Pegawai akan diberikan tugas khusus ketika orang pertama kali memesan menu baru. Mereka akan ditugasi khusus mengamati pembeli tersebut. Kalau kedua kali orang tersebut memesan masakan sama, berarti masakan cocok dengan lidah konsumen.

Karyawan Ikhsan sudah 200 orang. Dia sendiri turun tangan memberikan pelatihan. Ikhsan ingin agar dapat terjalin hubungan yang baik dengan karyawan. "Ini membuat karyawan menjadi loyal," Ikhsan menjelaskan. Ia meyakinkan mereka bahwa kunci sukses usaha kuliner adalah keramahan.

Tidak cuma datang dan makan mereka harus dilayani. Kermahan karyawan restoran menjadi titik pangkal perhatian Ikhsan.

Hak paten Raja Konro sudah siap. Menghadapai MEA memang dibutuhkan startegi. Masalah permodalan masih menjadi masalah klasik pengusaha. Tetapi Ikhsan optimis dengan pertumbuhan Raja Konro Daeng Naba. Suku bunga ringan masih diharapkan bahkan bagi pengusaha sekelas dia.

Optimisme akah ke khasan kuliner Indonesia bisa bertahan. Dia bahkan bertekat untuk meluaskan pasarnya sampai ke luar negeri. Konro sampai Amerika, siapa takut?

Life is Good Kaus Sederhana Memotivasi Hidup

Profil Pengusaha John dan Bert Jacobs 


 
Bert dan John Jacobs merupakan dua bersaudara dari enam orang anak. Sebuah pertanyaan selalu terngiang dalam benak mereka. Apa yang akan mereka lakukan dengan hidup mereka? Sebuah pertanyaan sederhana setiap malam yang menggugah hati dua anak nakal ini.

Mereka adalah dua bersaudara pendiri bisnis kaus Life is Good. Brand kenamaan dengan omzet mencapai $100 juta. Mereka terlahir dari keluarga menengah di Boston. Ketika masuk Sekolah Dasar, kedua orang tua mereka hampir mati karena kecelakaan mobil, maka pertanyaan tersebut diatas pantas ditanyakan.

Sang ibu menderita patah tulang dan utuh. Sementara ayah mereka kehilangan tangan kanannya. Karena satu kecelakaan merubah ayah mereka menjadi keras. "Dia banyak sekali berteriak ketika kami lulus sekolah," John berkata kepada Business Insider. Dan hidup tidaklah sempurna kembali.

Kedua bersaudara tersebut merasakan susah tinggal di rumah. Tetapi ibu mereka, Joan, masih percaya akan hidup itu baik. Life is good. Setiap malam mereka duduk bersama buat makan malam. Joan akan bertanya kepada ke enam anaknya yaitu apa hal baik kamu rasakan seharian itu.

Satu pertanyaan sederhana merubah suasana. Dan tanpa mereka sadari hidup mereka, penuh dengan energi positif, kelucuan, dan hari itu menjadi hari paling aneh mereka. John mengatakan sebuah pelatihan mental agar tidak menjadi sosok bermental korban. "Oh, kamu tidak akan percaya hal buruk ini terjadi kepada saya hari ini."

Ketika pulang sekolah bukannya berbicara tentang tugas sekolah. Bukan tentang dimarahi guru, tetapi akan bercerita tentang lucunya potongan rambut teman sekelas, ataupun pekerjaan menarik selain apa yang telah mereka gagal lakukan. Optimis merupakan hal terbaik dimiliki keluarga mereka sampai sekarang.

Life is good


Mereka berdua merupakan dua termuda dari enam bersaudara. Mereka dalam sebuah buku Life is Good, menjelaskan hidup mereka sempurna sekali tidak sempurna. Rumah mereka tidak punya penghangat. Para anak- anak juga lebih menyenangi bermain di luar. Ketika jam makan mereka akan berlari ke meja makan.

Ibu mereka akan bertanya, "ceritakan sesuatu yang baik terjadi hari ini." Daripada komplain tentang sesuatu menyebalkan terjadi, mereka memilih bercerita positif. Tidak ada cerita tentang berkelahi dengan anak lain dan juga masalah pelajaran.

Tahun 1988 menjadi awal perjalanan mereka selama tujuh hari. Dimana John ketika itu mau sekolah dalam rangka pertukaran pelajar. Hingga mereka berkeliling mencari tujuan hidup. Mereka mulai kehilangan uang simpanan. Cuma ada peta usang Amerika dari kakak mereka, Allan. "...dengan rencana khusus tidak ada rencana."

Tidak cuma berenang di danau indah Southern California, bertemu teman baru, dan bermain basket pinggiran pantai Venice Beach. Jika saja mereka tidak melakukan perjalanan ke tempat baru, orang baru, dan sebuah pengalaman, mungkin mereka tidak akan membuka pola pikir tidak mungkin mereka memulai berbisnis.

Tidak ada alasan mereka berdua tidak berbisnis. Keduanya kan bersaudara bisa melakukan bisnis bersama -meskipun terdengar gila ketika itu bagi teman mereka.

Awal sekali, sebelum perjalanan, ketika kedua bersaudara ini mulai pindah dari rumah dan mereka mulailah menjual aneka kaus dibawah nama Jacob's Gallery dan dijual di jalanan Boston.

"Langsung sukses? Bahkan tidak sampai," terang dia.

Mereka menyadari bahwa anak kampus mampu menjadi pasar baik. Hanya saja mereka tidak dapat terkait dengan brand mereka. Mereka lantas membeli mobil fan Playmouth Voyager untuk $12.000. Mereka lantas bergerak mengunjungi banyak kampus.

Mereka lantas menamai The Enterprise padahal cuma berdua dan kaus. Banyak orang lalu berpikir ini mobil yang hebat. Padahal mereka banyak kesulitan karena kendaraan tidak bagus. "Kami mencoba dan gagal seratus kali," imbuhnya. Penjualan tidak mencapai target mereka harapkan padahal sudah memakai mobil.

Apakah karena desain jelek, apakag mahasiswa tidak punya uang, atau karena mereka bangun pukul 1 pagi dan bertanya,"mau membeli kaus?". Entahlah, mereka berdua cuma meyakini bahwa kamu akan sukses atau gagal dan belajar -kedua hal tersebut sama- sama memenangkan sesuatu.

Umur 20 tahun masih bekerja separuh waktu. Mereka hidup dari satu cek ke cek lain. Pacar Bert lantas minta putuh karena ibunya menyadarkan dia. "Dia hampir berumur 30 tahun, dan dia masih berbagi mobil dengan saudaranya. Kamu butuh menyadarkan diri," ujar pacarnya.

Bisnis motivasi


Hidup bersama seorang ibu hebat -yang menyanyi di dapur, bercerita cerita bergambar, dan berakting seperti tokoh di buku fiksi. Apapun masalah mereka akan hadapi bersama. Pelajaran didapat dua bersaudar ini ialah apapun terjadi kebahagiaan tidak bergantung oleh keadaan.

"Dia memperlihatkan kami optimisme adalah pilihan berani kamu bisa buat setiap harinya, terkhusus ketika menghadapi berbagai kemalangan," lanjutnya.

Tagline bisnis mereka adalah "Life is not perfect. Life is not easy. Life is good." Maka ketika mereka telah memiliki bisnis besar. John dan Bert menanyakan hal sama kepada pegawai mereka. "Ceritakan kami suatu yang baik." Ketika mereka bercerita tentang pengalaman menyenangkan, maka ide muncul dalam semangat.

Kemudian pegawai mereka akan lebih semangat sukses. Mereka malah tidak menunda akan bekerja. Kisah ini tidak semudah dibayangkan. Mungkin Life is good bagi mereka tetapi perjalanan bisnis mereka cukuplah rumit.

Pertanyaan sang ibu menjadi pendorong mereka berjalan jauh. John dan Bert Jacobs melakukan perjalanan selama seminggu dari California ke Boston di 1988. Waktu itu mereka masing- masing umur 20 tahun dan 23 tahun melakukan perjalanan merubah hidup. Mereka lantas berbisnis dengan berjualan kaos di jalanan saja.

Dari asrama kampus lantas tidur di jalanan. Mereka berpindah dari PB&J dan tidur di mobil kami. Bisnis ini dimulai selama 5 tahun tetapi tidak menunjukan kesuksesan. Dalam perjalanan, namanya anak muda mereka merasaka gejolak berita negatif. Berkembanglah bisnis kaus berkonsep Life is Good dan mulai terlihat hasil.

Awal berbisnis mereka mengambil nama Jacob's Gallery. Mereka melalukan travling lama sampai ke East Cost menjual kaus ke anak kampus. Bisnis mereka dilema, mereka menyadari bahwa uang di bank mereka tinggal $78. Ketika bisnis mereka menjadi Life is Good menjadikan bisnis mereka lebih ngejreng dan laris.

"Kami mencari bertahun- tahun untuk, "what do we stand for?"," ucap John. Ide tersebut lantas ditaruh  ke dalam desain. Respon pun datang cepat seperti mereka harapkan.

Mereka menamai ulang bisnis mereka. Rebranded menjadi Life is Good, hingga dalam setahun, mereka telah mampu mengantungi $1 juta penjualan. Dan kini mereka telah menjual sampai $100 juta -menjual produk itu ke 4.500 toko retail berbeda.

Bisnis jiwa


Mereka selalu kuat meski banyak orang meragukan. Justru ketika kamu disepelekan, menjadi pengusaha itu berarti siap untuk membuktikan bahwa mereka salah. Mereka semakin bersemangat buat berbisnis kembali. Mereka tidak mau pulang kerumah, mencari jalur aman, dan melupakan disana potensi besar belum digali.

Pola pikir inilah membawa mereka tetap berpesta. Selepas melewati satu tempat maka mereka akan siap menjadi tempat pesta -seberapa pun penjualan dicapai. Pesta menyenangkan dengan bir gratis serta cerita hangat tentang perjalanan mereka. Tamu akan datang mencari hiburan disisi lain memberikan saran buat kaus mereka.

Menggunakan uang tanpa berpikir bahwa mereka gagal. Hasilnya mereka kehilangan banyak uang. Dengan sisa uang di Bank sejumlah $75 seperti kami ceritakan diatas -mereka kembali akan berpesta walaupun itu berarti pesta terakhi mereka.

Ketika mereka pulang mereka membahas desain baru. Disana mereka membahas tentang berita negatif di berbagai media masa. Apa sulit menjadi positif di jaman sekarang yang begitu penuh kenegatifan. "Tetapi bisa saja mungkin disana ada seseorang yang selalu gembira apapun terjadi kepada merek?" mereka berandai.

Kemudian John menggambar sosok itu. Seseorang dengan janggut berbaret dan kacamata tersenyum lebar itu seperti seniman. Desain mereka ternyata terjual super laris di pesta "terakhir" mereka. Satu komen sangat mengena yaitu "Orang ini mampu menemukan arti hidup". Inilah awal lebih jelas tentang kaus Life is Good nanti.

Mereka mulai mengeprin 48 kaus, dan menjual mereka di jalanan Cambridge pada 1994, Massachusetts. Kaus ini terjual dalam waktu sejam -bahkan dua lagi terjual milik mereka pribadi. "Orang menyadari akan ini dan mereka membeli.Tidak butuh penjelasan lebih lanjut," tulis mereka di buku.

Dua bersaudara ini bersemangat atas hasilnya. Mereka berharap kaus mereka dapat dilihat lebih banyak Ini cikal bakal The Enterprise penuh semangat. Mereka berkeliling Boston tanpa hasil. Sampai ada sebuah toko bernama Cape Cod. Nancy, pemilik toko, meminta 24 kaus dan berkata,"Siapa nama orang tersenyum ini?

"Jake" mereka sepakat menamai ditempat kepandekan dari Jacobs. Kemudian mereka menemukan hal yang mengejutkan. Jake berarti sebuah kata memiliki arti lengkap "semuanya akan baik- baik saja." Kaus terjual dalam dua minggu. Di akhir minggu, Life is Good terjual sampai kaus senilai $87.000.

Ternyata permintaan naik dan mereka mengambil pegawai pertama. Kerrie Gross, seorang pemuda berumur 23 tahun yang tinggal di apartemen dibawah mereka. Ketika mereka menggaet Manajer maka mereka penuh percaya diri memberi gaji $17.000. Untung, di akhir tahun, mereka mencapai penjualan $262.000 jadi bisa menggaji.

Percaya diri akan penjualan mereka. Life is Good kemudian ditempatkan di kantor berbeda yakni dalam satu kontainer dengan tinggi 40 kaki pada 1996. Sebuah desain menarik untuk kaus menarik semenarik judul Life is Good.

Mereka kemudian menempelkan pengingat lucu,"tolong bayar tepat waktu jadi kami bisa menyalakan lampu dan membayar staf toko kami."

Pada 1997, mereka sampai dengan penjualan $1 juta, dan akhirnya mampu menggaet tiga pegawai kembali ke kantor asli mereka Needham, Massachusetts, dimana mereka mulai membangun kultur perusahaan yang menerima humor kantor. Tertawa menenangkan mampu mendorong kita berkomunikasi dan menyelesaikan masalah.

Life is Good melebarkan produk mereka selain kaus. Dimana mereka telah memiliki 160 pegawai, terjual di 4.500 toko, dan berdonasi 10% dari pendapatan mereka. Mereka mengarahkan optimisme menjadi jalan bagi perusahaan mencapai kesuksesan.

"Kami ingin menyebarkan pesan ini dan membantu orang memahami kedalaman apa artinya," kata John l. "Ini bukan berarti bahwa hidup adalah mudah atau kehidupan yang sempurna. Ini bahwa hidup itu baik. "

Awal Aplikasi Hotel Airbnb Menyewakan Tempat Kamu

Biografi Pengusaha Brian Chesky 



Ia berpikir bahwa orang seperti dirinya normal masuk kampus seni. Tetapi tidak normal baginya selepas dia kuliah, menjadi pengangguran, dan dalam lima sampai enam tahun kini berubah menjadi miliarder. Di tahun 2008, Brian Chesky tidak paham teknologi ataupun situs TechCrunch. Apa yang ia lakukan spontanitas dari rasa ingin.

Orang tua mana yang mau anaknya jadi pengangguran. Seorang sarjana Arsitektur Industri, masuk 1999, di Rhode Island School of Design dimana dia memang sangat tertarik akan arsitektur landscape ataupun desain. "Bisnis kami bukanlah (menyewakan) rumah," ujarnya. "Bisnis kami adalah keseluruhan perjalanan."

Chesky adalah seorang Yahudi. Kelahiran 29 Agustus 1981, tumbuh di Niskayuna, New York, merupakan anak laki- laki Deborah dan Robert H. Chesky. Dimana kedua orang tuanya merupakan pekerja sosial. Dia punya seorang kakak perempuan Allison.

Ketika muda, dia sudah tertarik akan seni, membangun replika dari lukisan, dan desain, lebih tepatnya dia mendesain ulang sepatu dan mainan.

Bisnis dari mana saja


Mencari identitas hingga ia menemukan sekolah desain industri. Dia sempat berpikir disini belajar tentang apa empati dan menjadi CEO kelak. Metodenya adalah bagaimana menaruh diri kamu di sepatu orang lain. Yah dimana jika sekolah lain berbicara tentang analisa data, maka, Chesky menyebut disini kamu belajar terbalik.

Selepas kuliah sempat bekerja di perusahaan desain industri di Los Angeles. Hanya saja, dalam setahun dia menyadari menjadi pegawai selamanya bukanlah apa keinginan dia. Dalam hati kecilnya, perasaan untuk ia memulai entrepreneurship mengemuka meski dalam batasan proyek kecil- kecilan. Dan dia berpikir sejenak:

"Kenapa mereka yang melakukan bukanya saya?" pikirnya. Hal mendasar menurutnya hasil mengamati ialah mereka melakukan sesuatu sementara dia tidak.

Chesky ingin mengambil resiko juga kan. Ia menyebutnya satu momen atau dua ketika seseorang akan siap melangkah ke masa entrepreneurship. Sebuah pilihan besar dan akan merubah masa depan seorang pria di masa mendatang.

Semuanya merupakan rantai panjang sebuah pilihan. Dimulai suatu ketika dia bersama seorang kawan tidak mempunya uang karena pengangguran. Memilih merentalkan rumah sewa mereka di San Fransisco karena telat bayar uang sewa. Kala itu bertepatan dengan sebuah pristiwa konfrensi desain internasional, dan semua hotel penuh.

Tidak lagi bekerja, membawa Chesky berkendara dengan mobil Honda Civic -nya. Sampai dia "tersesat" di San Fransisco. Bertemulah dia dengan teman lama Joe Gebbia, yang kemudian saling berbagi uang sewa. Ya tetapi ternyata dikantung Chesky hanya $1.000 dimana dia harus membayar $1.150 ke Gebbia.

Padahal sudah dibagi dua loh. "Jadi saya punya masalah matematika -dan saya seorang pengangguran," ia berujar. Sudah dua minggu berada di kota tersebut belum menemukan titik temu. Di Oktober 2007, katanya akan ada konfrensi internasional desain, dan semua hotel ditawarkan pihak panitia sudah sangat penuh.

Jadi dia dan Gebbia memutuskan, kenapa tidak merubah rumah sewa mereka jadi kamar dan memberikan satu layanan sarapan untuk uang sewa?

Masalahnya mereka tidak punya cukup kasur. Hanya ada tiga matras dimiliki Gebbia. Jadilah mereka lalu memberi nama bisnis mereka Airbed and Breakfast. Akhirnya ada tiga orang menyewa matras mereka dan berbagi ruangan. Semua berkat website sederhana yang agar dipaksakan keberadaanya.

Mereka membayar $80 per- malam mendapatkan sarapan di pagi hari, siap makan. Chesky menawarkan menjadi guide. Alhasil uang dikumpulkan mampu menutupi biaya sewa mereka. "Ini tidak akan menjadi bisnis; hanyalah cara untuk membayar sewa apatemen," Chesky memberi satu penekanan.

Ketika seseorang terlalu akademis memberi layanan, mereka meberi kebutuhan langsung.

"Bagi kami, masalah kami adalah kami tidak tau bagaimana menyewakan, kami punya ruang lega dan kami mau bertemu orang baru. Jadilah kami membuat ide ini," jelasnya sederhana tentang bisnis awal Airbnb.

Apa yang dilakukan mereka mendapatkan perhatian sebuah blog desain. Mereka menjadi sorotan singkat di tengah konfrensi internasional itu. Beberapa bulan kemudian satu lagi pendiri Airbnb mulai bergabung. Pada Februari 2008, seorang teknisi arsitektur, Nathan Blecharczyk ambil bagian di perusahaan belum jelas ini.

Nathan sendiri memang seorang teknisi handal. Maka pada Agustus 2008 lahirlah situs sederhana bernama Airbedandbreakfast.com. Yang pada akhirnya menjadi platform online menyewakan rumah lebih gampang. Chesky adalalah pemimpin atau CEO, sementara Gebbia fokus di desain dan tentu Nathan untuk teknologi.

Untuk mendapatkan dana maka berbagai marketing dilakukan. Yang paling menarik ialah Chesky bersama dengan rekannya membuat marketing sereal. Bersamaan mereka memperkenalkan bisnis mereka sebagai Airbed & Breakfast, dalam acara pemilihan calon presiden kala itu untuk Partai Demokrat.

Mereka lantas membuat sereal berkardus gambar calon, yaitu Obama O's dan Cap'n McCains. Mereka lalu menjualnya seharga $40 per- bok. Mereka berhasil menjual 500 boks dan menaruh itu menjadi modal bagi Airbed & Breakfast. Sayangnya, bisnis mereka kurang menarik, dan mereka harus makan sisa sereal setiap hari.

Karena berniat tidak berbisnis. Jadi sereal cuma menjual dua jenis sereal saja. Banyak ahli asal Silicon Valley meremehkan Airbnb pertama kali. Namun, ide mereka cemerlang, hingga ia bersama pendiri lain dipanggil tampil di Y Combinator, diman mereka bertemu dengan investor ternama yaitu Paul Graham.

Mereka memotong nama menjadi "Airbnb" di musim semi 2009 dan meluaskan pasaran. Tidak cuma rumah, apartemen kamu, kastil, kapal, bahkan rumah pohon boleh dipajang di situs mereka. Mereka juga mendapatkan pendanaan tambahan $20.000 dan dari Sequoia Capital, dan akhirnya mereka berhenti makan sereal lama.

Bisnis menebak masa depan


Bukan perkara mudah berbisnis online. Pada musim panas 2009, Chesky dan kawan memutuskan untuk siap menarik fee. Biaya tambahan berupa booking fee, Airbnb meminta persentasi kecil dari pemilik tempat dan lebih besar sedikit untuk pelanggan.

Beruntung hitungan mereka cocok. Jadi situs mereka tumbuh pesat, dan membawa 15 orang baru menjadi karyawan mereka. Jika berbicara tentang bisnis apa dimiliki Chesky adalah kepemimpinan sendiri. Dia tidak memiliki kemapuan manajemen menonjol. Hanya saja, beda dengan kita semua, dia tau dimana dia harus memulai.

"Itu seperti istilahnya, apa yang saya tau?," dia berkata. Tetapi dia tidak mempunyai pilihan lain tetapi terus masuk lebih dalam. Chesky belajar dua cara: pertama lewat trial and error, atau kedua ialah dia mau tidak mau harus belajar akan satu aspek lebih dalam lagi.

Daripada memilih topik spesifik. Dia memilih mencari sumber utama yang membahas satu topik secara jelas dan terperinci, lalu langsung bertanya ke orang berkaitan. "Jika kamu mengambil sumber tepat, kamu akan melangkah lebih cepat," dia melanjutkan. Gaya ini diulang oleh Chesky terus- menerus sampai mampu.

Sebelum memiliki kantor, Chesky lebih memilih tempat yang disewakan oleh aplikasinya. Dia tinggal di dalam Airbnb. Memang prinsip bisnis Chesky adalah merasakan sendiri layanan atau produk kita miliki dulu sendiri. Hingga ia menemukan arti penting sebuah kantor, terutama bagaimana informasi dapat masuk langsung.

Akan tetapi satu hal hilang. Dua orang lantas berangkat ke New York. Mereka mencoba strategi baru agar listing naik drastis. Lewat layanan door- to- door fotografi memberika perbedaan. Mereka memfoto tempat di berbagai sudut New York. Hasilnya pemesanan khusus kota tersebut naik 2x- 3x dari pemesanan biasa.

Dalam setahun, 2011 -an, perusahaan naik 800 persen untuk pemesanan malam, dengan jumlah pesanan yang tersebar di 89 negara. Sampai akhir 2011 telah menembus angka satu juta pemesanan. Airbnb lantas memberikan Social Connections, memberikan kamu tempat berbagi pengalaman menyewa di Airbnb.

Ini termasuk verifikasi tambahan buat penyewa dan pemberi sewa. Di titik inilah, perusahaan melaju pesat dan membuat Airbnb menjadi pilihannya. Airbnb melalukan akuisisi pertama dengan membeli situs yang sama seperti mereka di Jerman, Accoleo. Wow, Airbnb masuk ke jajaran perusahaan senilai $1 milair, dan terus naik.

Airbnb memang fokus membuat ekositem. Melalukan serangkain pendekatan ke kebutuhan. Bahkan ketika ada masalah kriminal di rumah Airbnb. Secara sigap Chesky membuat tim costumer service 24 jam, melepas beberapa staf dipindahkan menangani keluhan vandalisme, pencurian, atau masalah narkoba.

Tahun 2011, selebriti dunia, Ashton Kutcher bergabung dengan perusahaan sebagai penasehat.

Masalah utama Airbnb muncul. Ketika seorang pemilik tempat berinsial EJ mendapati rumahnya dirampok oleh penyewa. Semua hilang kosong tidak berbekas. Ia pun komplain ke perusahaan. Layaknya perusahaan yang sejenis seperti Uber, maka itu dianggap kesalahan sendiri oleh perusahaan Airbnb. Sayang ini malah berbalik.

Menolak membantu EJ malah berujung hujatan. Sampai perusahaan akhirnya meminta maaf kepada EJ dan mau membantu apapun agar hidupnya lebih mudah. Tidak berhenti hal serupa kembali terjadi. Dan, Airbnb akhirnya mengeluarkan dana $50.000 sebagai garansi bagi pemilik tempat agar tetap nyaman menyewakan tempat.

Airbnb membuat gebrakan lewat aplikasi Android. Waktu itu mereka sudah memiliki 2 juta pemesan telah menggunakan layanan mereka, dengan 120.000 pemesanan di situs.

Airbnb pun menjadi salah satu sponsor Olimpic musim panas di Londong, Inggris, pada 2012. Disaat yang bersamaan perusahaan melakukan akuisisi Crashpadder. Komunitas Airbnb juga tumbuh pesat hingga butuh pengamanan akhirnya lahir garansi pemilik tempat senilai $1 juta.

Ketika terjadi bencana angin topan Sandy, membuat ratusan rumah rusak, Airbnb meminta pemilik tempat sewa di New York menurunkan harga sewa. Tahun 2012, secara tertulis, Airbnb telah mengalahkan hotel berbintang lima Hotel Hiltons, dalam hal pemesanan mencapai 300.000 permintaan di 192 negara berbeda.

Saran untuk lulusan kuliah baru?

"Saya akan berkata, jangan dengarkan orang tua. Mereka adalah hubungan paling penting di dunia, tetapi seharusnya anda jangan mengambil saran karir mereka, dan saya menggunakan mereka menjadi jembatan untuk semua tekanan di dunia."

Satu hal lagi dia menjelaskan. Apapun karir kamu maka berasumsi lah kamu akan gagal total. Maka itulah, kamu tidak akan bekerja berdasarkan obsesi sukses, uang, dan karir cemerlang. "Kamu hanya akan lakukan itu berdasarkan apa kamu cintai."

Raja Mebel Indonesia Pernah Hutang Miliaran

Profil Pengusaha Frans S. Pekasa 



Kondisi gagal total dalam berwirausaha pernah dialaminya. Keterpurukan tidak menghentikan langkah pria ini, malah semakin bersemangat karena pengusaha adalah hidupnya. Gambaran nyata perjalanan hidup Frans Satrya. Dan dia mampu membalikan kegagalan menjadi kesuksesan berulang.

Pernah mengalami titik kebangkrutan total ketika memasuki tahun 2005. Frans, pria berkacamata ini punya hutang menumpuk. Waktu itu dirinya sempat terpikat oleh batubara. Padahal jiwa wirausaha dalam dirinya ya tidak lain hanya di mabel.

Alhasil dia tidak lagi fokus di furnitur. Ujungnya dia kehilangan perusahaan yang dulu telah ia rintis.

"Bisnis baru itu membuat saya tak lagi fokus pada furnitur," tuturnya. Makanya kamu harus fokus pada satu usaha dulu. Terkadang pengusaha bisa memilih untuk tidak berekspansi. Perhitungan matang harulah kamu lakukan jika di titik tertinggi.

Cermati usaha kamu fokuslah di ancaman mendekati mu. Bermodal nekat dan kuat ia kembali berbisnis di bidang sama.

Bisnis keluarga


Berawal dari bisnis sang ayah yang terseok- seok. Hutang menumpuk membuat usaha konstruksi ayah jatuh bangkrut. Untuk itulah Frans menjadi sosok lebih prihatin. Cara membantu ayahnya adalah dengan ikut jadi pengusaha. Frans yang waktu itu masih duduk di bangku SMA, memilih menjadi makelar mebel.

Selepas lulus kuliah tahun 1998 usahanya semakin getol. Apalagi dia mendapatkan pengalaman langsung dari tempatnya bekerja. Ya Frans pernah menjadi pegawai perusahaan furnitur. Pekerjaan magang tersebut telah memberi gambaran tentang bisnis mebel.

Disisi lain perusahaan ayah diambil alih Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Secara bertahap ia ikut membantu hutang ayah yang masih menumpuk. Memulai usaha makeler mebel ternyata tidak terlalu sulit pikirnya. Usaha serius baru dirintis bersama teman bermodal Rp.25 juta. Hasil gadai mobil Honda Civic 1989 miliknya.

Menjadi makelar berarti dia menjadi agen furnitur. Fokus Frans kala itu adalah produk rotan dan kayu jati. Satu tugas pasti seorang makelar furnitur ala Frans ialah mencari order. Mencari pesanan kepada agen dan lanjut memberikan pesanan tersebut ke pengrajin. Ia harus turun tangan sendiri menyambangi sentra mebel.

Karena menjadi makelar itu sulit. Maka ia memutuskan membanting stir. Jika mencari orang membeli barang furnitur sulit, tidak untuk orang asing. Pasar itu ditangkap oleh jiwa muda Frans. Berbekal pemahaman akan internet dirinya mulai bergeriliya. Ia membuat puluhan situs menawarkan mebel rotan dan jati melalui situs.

Dia dibantu dua orang karyawan. Salah satunya teman SMA -nya sendiri. Perjalanan bisnis mereka cukup berjalan baik. Sejak 2001 berbekal jaringan dibangun mereka berbisnis sampai ke luar negeri. Bayangkan ia berhasil mengirim mebel rotan dan kayu jati sampai tiga kontainer setiap bulan. Maka hutang sang ayah pun lunas.

Bermodal kesukses besar membuat Frans percaya diri. Tahun 2004, dia berekspansi berbisnis properti dan batu bara. Sayangnya, malang tidak dapat ditolak, maka kedua bisnis tersebut bangkrut menyisakan hutang buat dia. Ditambah lagi, teman SMA -nya itu ternyata menusuk dari belakang, malah membawa kabur uang perusahaan.

"Saya dapat pinjaman Rp.11 miliar dari perajin yang dulu bekerja dengan saya," tutur dia. Rugi total tetapi untung dia menemukan jalan.

Menanggung utang besar membuat aset pribadi dinego. Baik mobil ataupun rumah tidak bersisa dia miliki. Ia akhirnya menumpang rumah di mertua. Enam bulan berselang Frans memutuskan untuk kembali berbisnis. Ia mendekati pengrajin patner kerjanya sebagai makelar. Hasilnya dia mendapatkan pinjaman miliaran rupiah.

Bermodal cuma nama baik membawa kebangkitan Frans. Mencoba berbisnis dari awal lagi selepas gagal total. Dia memiliki semangat pantang menyerah. Dalam dua tahun bisnis Frans kembali ke jalur semula yaitu di mebel. Berdirilah perusahaan bernama PT. Gading Dempar Kencana, yang meraup omzet miliara rupiah.

Pria asli Cirebon, Jawa Barat, mampu mengelola usahanya sampai menembus pasar ekspor. Oleh karena itu, ia mendapatkan penghargaan bernama Primaniyatra menjadi eksportir terbaik tahun 2012 dan 2013 silam.

Dia berpesan jangan terburu- buru berekspansi. Sukses Frans mampu mengapalkan 30 kontainer mebel di setiap bulan. Dia menjadi pengusaha furnitur pertama sukses membuka showroom di China. Frans sudah sangat "ngelotok" akan bisnis mebel. Sejak dia menjadi mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November.

Mengambangkan bisnis selama ini adalah internet. Pengusaha satu ini memang mengikuti perkembangan di dunia teknolgi. Memanfaatkan website untuk promosi. Termasuk ikut gabung dalam aneka portal usaha seperti Alibaba dan Indonetwork mempromosikan usahanya.

Total ada 45 negara tujuan ekspor Frans di 3 benua. Yaitu benua Asia, Eropa, dan Amerika. Negara tujuan ekspor meliputi Israel, Guatemala, Nigeria, Italia, Turki, Inggris, dan Australia, dan lain- lainnya. Ekspansi di China menjadi puncak kejayaan Frans berbisnis mebel, di sana berdiri toko mebel yang bernama Teak123.

Omzetnya mencapai $5 juta atau setara Rp.57 miliar. Produksi Frans dibantu oleh 136 pengrajin dan 400 orang karyawan bekerj di empat pabriknya di Jepara.

Kisah Pelukis Sangkar Burung Ratusan Juta

Profil Pengusaha Sukses Suliyanto 



Cuma lulusan SD bukan berarti berhenti berusaha. Rejeki Allah mengatur itulah prinspi dipegangnya. Ia berbekal kreatifitas menembus batas. Hanya warga Dusun Kedungmas, Kec. Kalitidu, Bojonegoro bukanlah siapa- siapa. Kini pengusaha sukses berbekal airbrush mengecat sangkar burung perkutut.

Namanya Suliyanto pria 36 tahun bermula dari sekedar menekuni hobi. Bapak dua anak ini dengan penuh hati menjelaskan kisah suksesnya. Dikutip dari blokBojonegoro.com, dirinya mengatakan cuma berbekal keberanian saja.

Latar belakang pendidikan membuatnya cukup minder. Berawal dari dia bekerja di perusahaan pembuatan sangkar burung di Sepanjang, Sidoarjo dan daerah Pasar Turi, Surabaya. Ia mulai berpikir berbisnis sendiri mulai 2001 -an. Cukup lama dia bekerja yaitu tiga tahunan. Selepas cukup menimba ilmu maka dia memulai sendiri.

Untuk modal berbisnis dijual lah sapi peliharaan. Ditambah uang tabungan, hasil penjualan sapi tersebut mulai membeli sangkar setengah jadi di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura. Dari mulai membeli kemudian dilukis, Suliyanto belajar membuat sangkar sendiri.

Dengan bermodal cat dilukislah sangkar menjadi indah. Usahanya semakin berkembang karena memang dia minim persaingan. Pasaran meluas sampai Lamongan, Tuban, Gresik, Surabaya, Monjokerto, Cepu, Blora, Grobogan dan sekitar Purwodadi tentunya.

Pesanan naik maka omzetnya juga naik tinggi. Menurut penjelasannya dia telah mampu menghasilkan omzet mencapai Rp.100 juta seminggu. Menjadi pengusaha sukses membuatnya bisa membeli rumah sendiri, mobil pickup, dan dua motor. Apakah pernah ada masalah? Ternyata dia pernah hampir bangkrut karena dihutang banyak orang.

Ia sempat patah arang. Akan tetapi dia tidak mau patah justru semakin berkreasi melalui aneka teknik. Dia melukisa bak artis melukis di atas kanvas. Sempat diutang pemesan sampai hampir tidak balik modal. Ia lalu mengembangkan aneka pola baru.

Pria kelahiran 30 Desember 1979, menjual sangka karyanya relatif tinggi, ya karena memang memiliki nilai seni ya banyak pembeli berminat. Harga antara Rp.110.000 sampai Rp.210.000 per- sangkar. Ada 10 pola paling diminati pelanggan. "...tapi kalau pesan model berbeda akan tetap dilayani," ujar pengusaha sukses ini.

Pola andalan Suliyanto meliputi hewan, seperti ikan, burung, naga, adapula pola pewayangan. Cara membuat dia menjelaskan: Sebelum dilukis diberi palmir atau cat dasar putih. Dia lantas menjemur sangkar di bawah matahari sampai kering.

Untuk lukisan burung dia butuh waktu satu hingga satu setengah jam. Ia menyebut tergantung pada tingkat kesulitan. Terutama bentuk burung merak menjadi tersulit dikerjakannya karena detail. Keahlian melukis di sangkar didapatkan melalui seorang teman asal Kabupaten Sidorjo, Jawa Timur.

Kini dia mengerjakan dibantu oleh 15 orang karyawan. Dia menutup dengan mengajak kalian lulusan sekolah dasar ataupun yang minder akan pendidikan jadilah pengusaha. Bekerja keraslah seperti sosok Pak Sulis dengan bisnis lukis sangkar burungnya.

Semoga artikel ini menjadi pelajaran bagia siapapun dengan latar pendidikan berapapun.

Pelopor Wirausahawan Muda IT Ridwan eBdesk

Profil Pengusaha Ridwan Prasetyarto



Dia dikenal sebagai pengusaha era 2000 -an. Namanya sempat disebut sebagai pengusaha muda dibawah 35 tahun. Kala itu entrepreneurship masih dalam ketidak pastian. Menjadi pengusaha bukan pilihan utama, internet tidak melaju pesat seperti sekarang, maka inilah kisah Ridwan Prasetyo.

Tidak banyak kisah dapat ditemukan ketika dicari. File artikel diantara tahun 2000- 2009 ditelusuri. Yang pasti dia dikenal sebagai CEO eBdesk. Sebuah perusahaan software perintis bagi masyarakat Indonesia.

"Saya tidak bergaya seperti bos," tuturnya. Hanya orang biasa yang mengambil kesempatan. Berani kah kamu mengambil resiko. Juga bagaimana memasukan gaya berbisnis kamu. Dijamannya sudah menggunakan metode bisnis ala startup yang tidak terikat susunan hirarki.

Yang terpenting pekerjaan harus selesai tegas Ridwan. Sebaik mungkin bagaimana mereka mendeliver setiap produk mereka ke pasaran.

Bisnis software


Mendirikan perusahaan ketika umur 35 tahun. Dia bersama tiga kawannya sejak 1999. Barulah pada tahun 2001 mereka baru masuk ke ranah komersil. Bayangkan mereka memiliki banyak pelanggan besar, antara lain PT. Astra International, Telkom, PT. Rekayasa Industri, Satelindo, PT. Rajawali Nusantra Indonesia juga Pertamina.

Kebanyakan pelanggan dari Indonesia, juga Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Malaysia. Didirikan oleh anak- anak alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Kantornya sejuk karena berpusat di Bandung, dimana berhawa dingin sejuk, sebuah rumah dan perkantoran jadi satu memiliki pekarangan luas.

Dari Amerika Serikat, pelanggan bonafitnya adalah Interim Healthcare, jasa outsourcing kesehatan. Kinerja mereka baik dan mampu mengantungi pendapatan Rp.4,5 miliar. Pada tahun 2002 membukukan laba bersih sampai 30%.

Perusahaan software yang melaju mengikuti perkembangan jaman. Dimulai dari perusahaan bernama Optima Infocitra Universal (OIU). Perusahaan perangkat lunak berbasis Microsoft dan Oracle. Dimana mereka ini mengembangkan software costumized. Fokus menangani bisnis khusus, maka eBdesk melepas diri dari OIU.

Sejak pertengahan 1997, Ridwan bersama kawan fokus membangun eBdesk, dimana merupakan jawaban atas ketidak puasan akan perusahaan software kala itu. Perusahaan dimasanya berorientasi proyek dan jasa konsultasi saja.

"Ini menjadikan kita pemakai software bikinan pemain besar dari luar," ujar M. Iqbal Noor, Chief Strategic Alliance eBdesk.

Dorongan memisahkan diri tersebut membuat mereka fokus. Mengerjakan software masal komersil pertama mereka. Namun tidak mudah mendesain perangkat lunak menjadi produk siap pakai. eBdesk butuh waktu sampai satu tahun sebelum akhirnya memasarkan produknya ke halayak.

Mereka bekerja melalui trial and error. Ridwan selaku CEO, mengaku pernah mengalami "salah" desain, yang terjadi karena tidak mampu mengikuti perubahan pasar. Ketika arah pasar berubah maka Ridwan juga harus mengarahkan perusahaan harus berubah. Padahal perusahaanya itu tengah giat mengerjakan software pertama.

"Kami pun terpaksa mengubah lagi desain yang telah kami buat sehingga investasi yang telah dilakukan kami stop," Ridwan menambahkan.

Analisa pasar tajam dilakukan oleh perusahaan. Belajar lewat keselahan mengakat hasil software mereka ke ranah internasional. Akhirnya produk pertama mereka jadi pada tahun 2001 dan telah terjual sampai 500 lisensi lebih. Sebuah software hasil rekayasa seharga $1.000 buat 25 pengguna, atau $40 per- pengguna.

Banyak pelanggan mengakui software mereka memang cost effective. Lebih rendah biaya dibandingkan hasil perusahaan lain. Produk bernama Corporate Portal Software versi 3. Dimana kamu bisa menggabungkan semua aplikasi perusahaan dalam satu interface atau layar. Sifatnya costumized dan gampang digunakan oleh siapapun.

Inilah kelebihan software karangan anak negeri ini. Berbasis internet membuatnya terkoneksi melalui sistem komunikasi per- komputer. Ridwan menyatakan faktor harga juga menjadi penentu penterasi produknya ke pasaran.

Sukses tanpa sorotan


Tentu tidak banyak orang Indonesia sadar akan keberadaan eBdesk. Lewat konsep matang serta harga yang bersaing, padahal, perusahaan ini telah sampai ke pasaran luar negeri. Nama Ridwan Prasetyo sempat ikut naik menjadi berita di media masa online.

Generasi pengusaha muda Indonesia pertama ini menjelaskan. "Produk kami memang tidak bisa menutupi semua kebutuhan suatu perusahaan, tapi produk kami buat ini mencukupi kebutuhan mereka, simple tapi efektif," jelas Ridwan.

Harga yang baik didukung kualitas baik. Ingat bukan menjual murah tetapi menjadikan terjangkau. Software bikinan eBdesk berbasis Linux membuatnya tidak terikat lisensi. Perusahaan mampu menciptakan perbedaan merebut pasaran. Cakupan pasar pun diperbatasi agar tetap unggul. Mereka menyasar perusahaan ukuran menengah.

Rata- rata pengguna adalah 25- 500 orang. Segmen tersebut memang sudah sejak awal. Jika dalam negeri sudah diserbu produk asing, maka eBdesk memilih pasaran luar negeri. Kecondongan ini memang sengaja mungkin menurut kami karena tradisi kita (mencintai produk asing.red).

Menembus pasar luar negeri memang tidak memudah. Tetapi mereka lebih menghargai value sebuah produk dibuat. Bukan soal branded nya tetapi kualitasnya. Meski begitu kualitas produk Indonesia khusus dibidang teknologi masih sederhana. Oleh karena itu dia meyakinkan kekuatan pelayanan agar dipercaya konsumen.

Untuk itu mereka membentuk jaringan di luar negeri. Sebuah kerja sama dalam hal teknologi, pemasaran, dan konsultasi.

Visi Ridwan serta pendiri eBdesk lain memang besar. Menjadikan perusahaan Software Corporate Portal yang memimpin pasaran di luar. Bukan sekala lokal tetapi sekala dunia. Mereka bahkan berani menargetkan negera- negara seperti Eropa, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Mereka memasarkan melalui distributor independen. Produk mereka didistribusikan melalui para vendor hardware, konsultan software, dan pihak ISP. Melalui mereka lah produk milik eBdesk mencoba memasuki pasar dengan lebih dipercaya.

Uniknya mereka mendanai sendiri, dengan jumlah keryawan 27 orang, yang 23 diantaranya adalah ahli IT. Ridwan mengatakan investasi awal senilai $500.000- 1 juta. Dialokasikan untuk riset dan pengembangan produk. Jika untung maka akan langsung diinvestasikan kembali ke pengembangan produk.

Ridwan lantas bercerita kembali tentang perusahaanya. Pernah mereka memasarkan produk, eh ternyata, di luar sana ada perusahaan yang lebih dulu memasarkan produk sama. Sebuah "kecolongan" ujarnya kepada pewarta. Inilah pengusaha, masalah akan selalu menghadang tetapi harus dilewati karena kita belajar.

Target keuntungan tahun 2001 adalah $1 juta, dimana target penjualan 25.000 lisensi. Walau ia dan kawan- kawan telah sukses ekspansi masih dibidang sama. Mereka berprinsip berbisnis di ruang lingkup teknologi industri. eBdesk fokus mengembangkan perangkat lunak. Kunci sukses menurutnya adalah fokus di satu bidang.

Biografi Kadek Eka Citrawati Pemilik Bali Alus

Pemilik Brand Bali Alus Kisahnya 



Wanita peramu aneka produk kecantikan ini berasal dari Bali. Meski memiliki ijasah Arsitek, faktanya justru dari satu hobi meramu itulah dia menghasilkan uang. Namanya Ni Kadek Eka Citrawati. Menjadi pengusaha menembus pasar ekspor tidak pernah terpikir dalam benak Ni Kadek.

Eksotisme Bali terpancar dalam racikan ramuan Ni Kadek. Wanita kelahiran 18 Agustus 1977. Merupakan putri seorang petani. Seorang petani rempah hasil kebun sendiri. Ia melihat setiap hari sang ayah mengirim produk rempah- rempah ke luar negeri, dari India bahkan Thailand. 

Kata ayah sih rempah itu akan dijadikan kosmetik. Nah, terbersitlah pemikiran Ni Kadek, apasih yang mereka lakukan dengan rempah milik sang ayah. Mulai dari cengkeh, temulawak, jahe, semuanya masihlah mentah dikirim, jadi kita tidak tau.

"Kok, kenapa bahan asli Indonesia dipakai untuk produk merek luar yang berarti akan ditempeli brand asing pula?" pikirnya.

Pemikiran tersebut baru muncul setelah sekian lama. Kadek kecil cumalah gadis kecil biasa kala itu. Namun dia sudah terbiasa mengolah aneka jamu dari rempah.

Berkenalan dengan bisnis


Kadek kecil dikirim ke berbagai sanggar kesenian. Namun jiwanya malah ada di rempah asli Indonesia. Ia memang pandai menari tetapi tidak membuat jamu. Ia berkisah dia sering mogok menari, ya ia kan sudah pandai menari seperti dua kakaknya. Hari- hari lalu diisinya dengan kegiatan meramu jamu meniru nenek.

Sejak usia empat tahun dia memang kagum akan sosok nenek peramu jamu. Neneknya yang membawa dia hobi membuat aneka sampo, sabun, lulur, dan lainnya. Dia takjub melihat sang nenek masih berjalan sampai ke sungai untuk memetik dedaunan.

Kadek lantas mencatat resep apa ramuan membuat aneka produk tersebut. "Semua produk yang saya buat, gagal," kenangnya. Kadek kecil penasaran lantas bertanya kembali ke nenek. Ya dia catat lagi, tulis lagi, dan dia lakukan lagi. "Namun, tetap saja saya gagal. Terus begitu."

Hingga dia sadar agar tidak bergantung resep tertulis. Sang nenek bekerja lewat naluri serta passionnya akan ramuan kecantikan. Inilah tidak dimiliki Kadek kecil kala itu. Ia lalu mulai menulis tetapi melalui pengamatan bukan dari ingatan nenek utarakan.

Ketika nenek mengambil ramuan, Kadek mencatat, dan begitu seterusnya tanpa bertanya. Jika diharuskan ia bila resepnya apa, maka sang nenek justru gagal kosentrasi dan malah tidak menyebutkan sempurna. Itulah ia tetap menulis tanpa berkata sepatah apapun.

Akhirnya Kadek menemukan takaran sempurna. Melalui cara itulah dia berhasil membuat produk kecantikan sendiri. Meski baru satu produk yakni boreh, yah, Kadek kecil sudah sangat senang sekali. Apalagi banyak orang tertarik memakai borehnya, mulai keluarga, teman- teman, katanya sih kekentalan dan hangatnya pas.

Tentu berbeda produk kecantikan miliknya sekarang. Keahlian keluarga apalagi nenek dalam hal ramuan perjamuandikenal sekampung. Lulur, boreh, cem- ceman, merupaka produk tradisional yang ahlinya nenek buat. Nenek Kadek sangat mendetail soal meramu ramuan tetapi sering terganggu oleh ulah cucunya ini.

Produk miliknya yang bernama Bali Alus mampu menyasar pasar modern. Bukanlah perkara mudah apalagi sepanjang perjalanan orang tua mengarahkan Kadek jadi orang kantoran.

Memulai usaha


Bukan perkara mudah sekali lagi menjadi pengusaha. Setelah dewasa, tidak berdaya, negeri tercinta kita ini tidak memiliki pendidikan dibidang bahan- bahan alami. Sepanjang ingatan hidupnya berkutat dengan aneka rempah.

Waktu itu dia tidak berpikir akan menyaingi kakaknya di bidang pendidikan.Tetapi bukan itulah masalahnya. Kakak Kadek berhasil kuliah keluar negeri dan mendapatkan suami orang luar Bali. Ibu Kadek tidak mau Kadek kuliah keluar negeri dan berakhir sama. Alhasil dia tidak bisa lanjut berkuliah dibidang botani.

Malah Kadek nyasar masuk Arsitek, Faktultas Teknik Universitas Udayana.

"Ya ampun, ada yang mau sama saya saja udah bagus," kenangnya sambil tertawa. Baginya kakak- kakak itu berbeda, mereka tinggi, langsing, seperti model, sementara dia kecil begini.

Justru melalui kakak perempuannya lah produk kecantikan Kadek dikenal. Melalui mereka dipasarkan ke teman- teman mereka. Waktu itu dia membuat produk tanpa merek. Dari teman kuliah dan teman- teman sang kakak menerima perawatan tubuh racikan Sarjana Arsitek ini.

Kadek bahkan rela tidak dibayar ketika merawat mereka sebelum menikah. Ini sekedar hobi bagi Kadek jadi tidak terpikir untuk berbisnis.

Ia malah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Akhirnya dia menikah, mempunyai anak, dan semakin sibuk tidak terpikir hal lain. Sampai keinginan menambah uang lewat bisnis sampingan. Ide usaha apa yang tidak akan menyita waktu. Untuk itulah Kadek keluar dari perusahaan mencari pekerjaan yang lebih tidak menyita waktu.

Tahun 2001 usaha bidang perawatan tubuh mulai bergeliat di Bali. Kadek menangkap sinyal kesempatan di dalam dirinya. Usaha spa dan kecantikan dilirik oleh istri dari I Putu Katra memulai usahanya. Tetapi belum dia mulai malah khawatir tidak sanggup membayar gaji karyawan.

Dia memang sudah belajar berbisnis sejak kuliah. Namun menjalankan usaha langsung berbeda dari apa yang dia pelajari. Uang tabungan Rp.10 juta dijadikan modal. Berbekal uang tabungan ketika masih bekerja sebagai pegawai perusahaan swasta dan untuk bahan baku cukup dari orang tua.

Berbicara tentang produk pertama ia kembangkan. Yaitu lulur scrub, kemudian merambah minyak esensial, sabun dan produk modern lainnya. Sambil berkuliah sebenarnya Bali Alus sudah berjalan meski tanpa ada modal. Sambil berkuliah, dia mengerjakan aneka produk, disela- sela waktu ia belajar.

Namanya mencoba sesuatu baru tentu banyak kegagalan. Butuh waktu riset sendiri baginya hingga mampu menghasilkan produk sekarang. Mulai mencari bahan, meramu, mencoba kembali, bahkan uji coba dia yang lakukan sandiri. Kadek berkeras hati bahan utama 100% alami tanpa kimiawi.

Untuk sabun misalnya, ia memakai minyak kelapa asli tanpa campuran kimia. Kadek menyebut lama waktu ia habiskan hingga lulus kuliah. "Saya enggak eksperimen membuat scrub saja, tetapi produk lainnya," tutur Kadek.

Karena cuma lulusan arsitek maka semua otodidak. Kadek mendapatkan banyak pengetahuan melalui ia mencari informasi sendiri. Berbekal rasa penasaran, rasa suka, tidak berpikir tentang komersialisme waktu itu. Sama sekali tidak, bahkan Kadek pada akhirnya malah menjadi arsitek beneran, bekerja di perusahaan swasta.

Hingga sang suami mendorong dia berbisnis sendiri. Pertengahan tahun 1999 menjadi tonggal awal berdiri resmi usahanya. Waktu itu dia belum memberi nama apapun usahanya. Ia cumalah membuka usaha lulur dan spa sendiri. Titik.

Usaha tertahap


Butuh waktu untuk pengusaha otodidak ini mantap. Dia terus mencari tau bagaimana mengaplikasikan aneka rempah menjadi produk kecantikan. Entah mengapa Kadek malah menjadi pegawai swasta. Tidak mau apa yang telah dimulainya hilang. Kadek bersepakat membuka usaha sendiri bermodal uang Rp.10 juta.

Dia bermodal diskusi dengan keluarga. Kadek mendiskusikan dengan kakak- kakaknya. Mereka empat orang kakaknya hidup di luar negeri. Anak bungsu dari lima bersaudara ini melanjutkan. Tidak cuma mereka, dia juga belajar melalui media internet membuka banyak pengetahuan.

"Basicnya saya sering memperhatikan orang tua dan nenek saya membuat ramuan lulur tradisional Bali yang berbentuk boreh," Kadek lanjutkan.

Ini menginspirasi olahan Kadek. Cuku memodifikasi itu dijadikan scrub, dimodifikasi berbahan bengkuang, dan dia menjadikan itu scrub ala Bali Alus. Kalau dulu nenek mamakai bahan utama beras, jahe, lengkuas, diulek menjadi pasta dan kini, Kadek menambahkan bengkuang untuk memutihkan.

"...saya murni otodidak," sebutnya. Baru selepas dari kuliah dan mengerjakan bisnis Bali Alus, Kadek mulai mencari pengetahuan lewat ahlinya. Ia bahkan mengontak guru sendiri asal Belanda. Lewat internet mereka lalu bertemu di Bali sekedar mencari informasi.

Dia memang pandai meramu tetapi urusan marketing lain cerita. Secara serius dia mempelajari khusus soal bagaimana mengemas produk. Untuk mendapatkan bahan baku, Kadek mendapat sokongan orang tua tapi sejauh dia berjalan maka dibutuhkan dukungan petani lain.

Melalui sistem pembinaan maka kebutuhan bahan baku terpenuhi. Kadek merasakan betul kebutuhan akan produk kecantikan meningkat. Ditambah kesadaran akan bahan baku alami menambah jumlah penjualan. Ia sadar untuk meyakinkan produk lokal butuh pendekatan berbeda.

Tidak mudah


Berbisnis kecantikan membutuhkan riset. Selain itu meyakinkan kualitas produk lokal setara internasional itu tidak mudah. Agar mendapat lebih banyak dukungan, terutama masuk ke pasar moden, Kadek sedar akan kebutuhan penelitian riset dari badan terpercaya -melalu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Konsumen akan percaya akan kualitas produknya nanti. Nilai kualitas produk- produk Bali Alus tercantum di dalam kemasan. Nah jika konsumen sadar dan puas maka akan lebih banyak konsumen. Selain itu Kadek juga menciptakan proses bagaimana agar produknya awet tanpa kimiawi.

Awal berusaha dia "meminjam" bahan mentah dari keluarga tanpa uang jaminan. "Saya meminjam apa saja, seperti sekarung beras atau sekeranjang lidah buaya kepada mereka," tuturnya. Akhirnya Kadek memasang nama Bali Alus.

Produknya mulai dari produk perawatan wajah, perawatan tubuh, perawatan rambut, dan aromaterapi. Dia memasarkan produk mulai ke konsumen langsung ataupun tempat usaha. Ia lantas memberikan sampel ke pelanggan. Walau terlihat sukses kendala selalu hadir dalam bisnis Bali Halus, Kadek tetap berusaha.

Contoh kendala ialah tentang pegawai. Kadek menyadari wanita Bali memiliki banyak tugas. Termasuk harus menyediakan canang setiap sore untuk keperluan upacara. Makalah Kadek lebih banyak mengambil orang dari luar Bali sebagai pegawai.

Untuk karyawan kebanyakan Bali. Mereka biasanya membuat produk cepat laju penjualannya, seperti dupa. Total 30 karyawan sebagian merupakan warga kampung sekitar rumah produksi. Bahan baku pun diambil dari kampung sekitar sana.

Sukses memopulerkan produk inilah dia mendapatka penghargaan. Ambisi seorang Kadek juga tidak cuma berhenti soal bisnis. Omzet perusahaan PT. Bali Alus sudah mencapai Rp.100 juta per- bulan. Tetapi dia punya ambisi lain yakni menuliskan resep warisan nenek dan dirinya menjadi warisan budaya Bali.

"Pokoknya, ingat spa ingat bali," Kadek menambahkan.

Arsitek jadi pengusaha


Kadek sempat bekerja sebagai pegawai sambil kuliah di tahun 1998. Setelah menikah memutuskan untuk banting stir jadi pengusaha. Modal awal Rp.10 juta, kemudian Rp.30 juta, sampai Rp.40 juta tetapi semua dilakukan tanpa perhitungan. Alhasil banyak kendala justru dihadapi Kadek soal keuangan dan marketing.

Sempat gulung tikar karena ia sakit. Karena belum mempunyai usaha kuat, ditambah keuangan belum juga mapan maka perusahaannya sempat kolap. Bali Alus waktu itu sudah berhasil menembus pasaran lokal di Bali. Untunglah suntikan modal Rp.30 juta mengalir dari sebuah Bank. Harapan baru mengangkat nama Bali Alus.

Agar tidak jatuh lagi, Kadek menerima bantuang pelatihan kewirausahaan dari pihak Bank, mulai pelatihan manajemen, membuat website, maka Bali Alus makin berkembang.

Kini, dia sudah menghasilkan 15 jenis produk, dimana omzetnya sampai- sampai Rp.375 juta per- bulan. Ia memang pandai menyasar konsumen termasuk kebutuhan spa, hotel, salon dan pribadi seluruh penjuru Bali. Ada 80% bahan alami merupakan hasil alam Indonesia asli. "Produk kita suka dikrubutin semut," candanya.

Bali Halus sendiri didukung teknologi modern. Memiliki bahan alami tanpa efek samping. Dia dibantu oleh tenaga ahli beauty clinic. Kadek menekankan wanita butuh bahan alami. Pemasaran melalui situs balialus.com mendorong penjualan sampai ke luar Bali.

Bicara tentang marketing awal sekali tidak jual langsung. Mau dijual di jalan siapa mau beli? Kadek haruslah fokus dalam produksi, pengemasan, lalu mengembangkan nama brand. Hal pertama dilakukan ialah masuk ke hotel, salon, serta spa di penjuru Bali. Ia kasih gratis. Tentu sebagai bentuk promosi meski dia harus rugi.

Tetapi melalui itupula dia mendapatkan informasi tanggapan konsumen. Semacam survei tetapi tepat sasaran ke konsumen langsung. Hampir semua hotel dan spa mengaku puas akan produk Bali Alus. Sekali lagi dia butuh waktu bahkan meyakinkan hotel dan spa memakai produknya meski gratis itu sangat sulit.

"Harus saya rayu dulu. Ini wajar, kulit manusia kan sensitif. Salah-salah, produk baru bisa membuat iritasi atau alergi," tuturnya.

Menjual ke hotel bukan hal mudah. Bali Halus harus rela menjual tanpa merek. Karena pihak hotel yang akan menempelkan brand mereka. Walau begitu hubungan bisnis ini masih berlanjut meski lewat suplier atau tidak lagi langsung ke Kadek.

Memang semenjak nama Bali Alus makin bersinar banyak orang datang. Mereka menawarkan diri menjadi pengecer. Meski awalnya dia tidak membidik pasar tersebut. Kadek mengaku bukan orang yang kaku. Dia dengan senang hati membuka peluang orang menjualkan produknya. Berbagi rejeki itulah maksudnya ketika itu.

Suplier akan mengambil dari Bali Alus. Kemudian mereka akan menjual ke konsumen miliknya. Untuk satu ini dia tidak mengikat dengan harga khusus. Alhasil berapa harga jual suplier tidak diketahuinya persis. Dia yakni brand -nya tidak terusak karena harga. Suplier dengan harga termurah ya akan lebih laku.

Kadek juga menjual secara eceran. Pikirnya pembeli datang tidak cuma dari Bali lagi. Bahkan dia memberi kesempatan mereka menjadi agen. Hasilnya brand Bali Alus semakin terkenal, melompat, menyebar tidak cuma ke penjuru Bali tetapi penjuru Indonesia.

Untuk beriklan Bali Halus memilih belum. Dia lebih fokus dengan kualitas produksi. Memulai berbisnsi, dia tidak berjalan sendiri. Total modal dikeluarkan sampai Rp.100 juta dimana dia dibantu koperasi. Selain itu bersyukur karena dia mendapatkan perhatian dari dinas terkait.

Beryukur karena sejak 2005, Bali Alus telah mendapatkan regulasi dan ijin dari BPOM. Waktu itu padahal dia cuma mengantungi ijin prinsip sejak 2000. Beruntung ini tidak berpengaruh dalam lajunya bisnis yang ia jalankan.

Tidak sia- sia eksperimen selama 4 tahun tersebut. Di tahun 2001, dia sendirilah karyawannya, lalu menjadi dua orang bersama dia. Dimana satu orang mengaduk adonan, kemudian satunya lagi yang mengurusi hal kemasan. Sekarang, Bali Halus sudah memiliki 30 orang karyawan, dimana 3 orang melayani tamu atau agen di workshop.

Sang suami sangatlah mendukung bisnis Kadek. Kedua putrinya, Putu Kay Kiandra (3,5 tahun) dan Kadek Kasahwa Keano (1,5 tahun), sering dibawanya ke workshop dan mereka senang. Mereka senang dengan segala rempah serta melihat mamahnya bekerja.

Bisnis masa depan


Satu dekade sudah perusahaan PT. Bali Alus menjalankan usaha. Kadek mampu membawa ramuan asli kita menjadi naik kelas. Jika pada sebelumnya orang lebih percaya akan produk luar, kini, berkat usaha yang telah dirintisnya produk kecantikan asli Indonesia dapat diterima. Apalagi produk natural seperti milik Kadek ini.

Boleh dibilang Bali Alus merupakan pelopor. Pada tahun 2007, mereka sampet kwalahan karena ijin dari Balai POM belum siap. Pasalnya baik Dinas Kesehatan dan BPOM belum memiliki aturan jelas tentang apa itu obat atau kosmetik buatan industri rumahan.

Beruntung karena Bali Alus sudah menggandeng BPOM sebelumnya. Melalui beberapa rangkaian penilitian bersama LIPI dan BPOM. Perusahaan sudah mengantungi sertifikasi layak pakai. Meski begitu nasib dari usahanya kurang jelas tanpa surat ijin usaha. Tahun 2007 akhir barulah peraturan resmi diperkuat diterbitkan.

Ketika dinas tengah menggodok peraturan tentang fenomena baru ini. Bali Halus telah bersiap- sedia dulu dalam melengkapi usahanya. Termasuk serangkaian standar opersional khusus, termasuk juga menggandeng apoteker ataupun ahli farmasi.

Sejak SMP, Kadek sebenarnya sudah menjual ramuan karyanya. Waktu itu masih dikalangan sendiri yakni ke teman- teman dekat. Mereka percaya akan kemampuan Kadek mengolah ramuan. Pesanan seperti untuk paket pernikahan pernah dibuat oleh Kadek. Pokoknya dia sudah dikenal dulu dikalangan orang dekat.

Masuk SMA sampai kuliah cakupan produknya meluas. Termasuk cakupan konsumen ditanganinya. Hanya kalau bicara menjual ke khalayak ramai nanti, Kadek tidak berani tanpa sertifikat kualitas dulu dari BPOM. Jadi belum dia jual ke orang asing sebelum mendapat sertifikat layak konsumsi -aman dari kimia berbahaya.

Soal bahan baku didapatkan dari petani Bongkasa, Petang, Plaga dan Bedugul. Tidak hanya rempah saja ia butuhkan tetapi termasuk aneka buah- buahan. Adapula bahan inpor seperti lavender atau minyak olive yang ia tidak dapat di Indonesia.

Produk dijualnya mulai harga Rp.10 ribu sampai Rp.300 ribu. Kreasinya benar diolah dengan bahan alami. Ia memberi jaminan 99% bahan organik bukan kimiawi. Kenapa tidak seratus persen? Dengan bijak Kadek menyebut tidak mungkin kita terhindar kimiawi meski itu cuma kecelakaan atau unsur ketidak sengajaan.

Permintaan ekspor diakuinya mencapai 80 persen ekspor dan sisanya dijual di dalam negeri. Namun, kian percayanya masyarakat atas kualitas produk lokal, membawa angin segar bagi Bali Alus hingga mencapai nilai 70 persen lokal dan sisanya impor.

Hasrat lain Kadek, selain bisnis, mencatatkan ramuannya sebagai warisan budaya, ialah ikut membangun sekolah spa. "Sekolah ini gratis, karena saya sudha mendapatkan sesuatu yang baik, sehingga saya juga ingin memberikan sesuatu yang baik pula kepada orang lain," ujarnya, yang telah terealisasikan di sepetak tanah.