Mengolah Limbah Kayu Pinus Hasilkan Fulus

Profil Pengusaha Retno Astuti dan Suami 


 
Pasangan suami istri ini dikenal sebagai pengusaha sukses. Keindahan hasil produk kayu milik mereka sudah dikenal sejak tahun 2013 silam. Awalnya mereka berbisnis menjual kebutuhan rumah tangga berbahan kayu. Kesini, usaha mereka meliputi membuat aneka pernak- pernik berbahan dasar limbah kayu.

Pasangan Retno Astuti (53) dan Heri Budianto (57) sudah berbisnis sejak tahun 1992. Heri sendir adalah seorang arsitek. Bermula dari banyaknya limbah kayu disekitar rumah mereka. Dimana Retno lantas minta pemilik pabrik buat limbah kayunya. "eh, dikasih. Ya, sudah kami berkreasi saja dengan kayu- kayu limbah itu."

Dari limbah kayu tersebut diubah menjadi aneka produk. Mulai produk tempat tisu, tempat pensil, gantungan kunci, gantungan pakaian, aneka souvenir, tempat sabun, sampai figura foto. Bahan mereka ya kayu bekas itu sendiri. Namun, paling menarik, ialah pasangan imenggunakan bahan kayu pinus tetapi bukan mudah loh.

Retno juga membuat garpu. Unik memang menjadi konsep bisnis mereka berdua. Retno lantas memasukan unsur wanita dengan aneka gambar bunga cantik ataupun buah- buahan. Ia suka gambar stroberi dan bunga matahari. Retno cukup melukiskan sendiri gambar tersebut menjadi anaka macam barang.

Untuk catnya cukuplah menggunkaan cat vernis biasa. Cuma masalah karena katu bekas maka terkadang ia mendapatkan potonga- potongan kecil. Awal- awal maka mereka cuma membuat barang kecil lalu lama- lama semakin besar.

Bisnis kreatif


Semakin lama usahanya semakin membesar. Dari cuma kotak- kotak kecil, bisnis mereka membuat seperti lemari, tempat tidur, meja, dan kursi kayu. Retno mulai melayani pesanan TK, ataupun buat permintaan dari pribadi. Agar tidak menganggu ekosistem Retno memilih membeli kayu dari PT. Perhutani, bukan kayu baru.

Walau telah dikenal bisnis GS4 Wood Craft tidak menarget luar negeri. Retno dan suami lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan lokal. Untuk pasar lokal saja sudah kwalahan dibuatnya. Mereka memproduksi untuk retail juga supermarket sejumlah kota di Indonesia.

"Sistemnya jual putus, saya tidak mau konsinyasi," tuturnya.

Karena belum berpengalaman jadi permintaan membludak. "...sampai 60 ribu pieces produk kerajinan kayu pinus," terang dia. Kalau ekspor kan kualitas barang lebih ketat haru sama kualitasnya. Memang ada harapan untuk berbisnis ke luar negeri tetapi belum.

Untuk sekarang Retno memilih menjual ke pasar lokal. Karena dari pasar lokal pun kwalahan karena terus berdatangan. Alasan kesulitan mengontrol kualitas namapknya masih menjadi alasan. Sekarang Retno tidak mau muluk- muluk. Tujuan utama mereka sekarang hanyalah bagaimana bisa menguliahkan anak- anak.

Lebih dari 20 tahun sudah bisnis mereka menarget pasar lokal. Faktor kualitas selalu ditingkatkanya. Apalagi tumbuh pesaing di usaha sejenis. Harga jual produk daur ulang mulai Rp.60.000 sampai Rp.125.000. Tidak termasuk produk kayu baru seperti lemari ataupun meja.

Workshopnya yang terletak di Jl.Gondosuli 4, Malang, atau Kota Malang, di Jl. Semeru 14, memenuhi pesanan dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Palembang, Aceh, Bontan serta kota lain di Indonesia Timur. Ibu tiga anak ini sekarang sudah mulai ekspor ke Jamaika dan Singapura sejak 2003.

Untung dikantungi oleh bisnis GS4 Wood Craft sampai Rp.20- 25 juta per-bulan loh. Untung besar buat satu usaha yang bermuara dari bisnis mengolah limbah. Kini, keduanya tidak cuma dikenal sebagai pengrajin tapi juga pembuat mabel handal dari kayu sisa.

Berbagi tugas


Ketika awal melihat daripada kayu dibuang percuma. Budi berpikir keras kenapa tidak kayu- kayu bekas disekitaran dimanfaatkan. Ia lantas meminta ijin ke pemilik pabrik, yang kebetulan temannya. Bolehkan dia membawa kayu bekas tersebut ke rumah. "Teman saya itu, memperbolehkan. Malah senang," kenang dia.

Pria berkacamata ini lantas membawa kayu tersebut ke sang istri. Tanggapan istri positif dan mulailah mereka berbagi tugas. Karena Budi merupakan arsitek, maka tugas dia adalah mendesain produk kecil- kecilan dulu. Sementara Retno bertugas untuk mewarnai dan menggambar. Keduanya bekerja sama sebagai pengusaha baru.

"Jadi, kami selalu berdua membuat hasil olahan kayu," tutur Retno. "Kalau tidak begitu, rasanya ada yang aneh dan hilang," imbuhnya tersenyum malu- malu.

Modal awal mereka berdua bisa dibilang nol. Karena mereka membawa dari sisa perusahaan mebel. Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Merdeka (Unmer) ini, juga meminjam peralatan dari kenalannya. Jadi semakin mengukuhkan usaha mereka bermodalkan nol rupiah.

"Kami juga tidak menyangka mendapatkan omzet sebesar ini," imbuh Budi. Memang berwirausaha tidak mengenal usia.

Contoh nyata ya pasangan suami istri Retno dan Budi. Dalam keterbatasan jangan berarti berhenti buat jadi kreatif. Siapa tau, nanti kamu bisa menghasilkan produk istimewa seperti usaha mereka. "Asal, usaha yang dikerjakan, benar- benar serius ditekuni." Jangan menyerah ketika penghalang datang seperti ketika mereka dulu.

Perlu kamu tau keduanya pernah hampir bangkrut. Tahun 1998, karena krisis moneter keduanya sempat mau bangkrut karena harga cat naik. Padahal orderan dengan harga awal ditetapkan dulu. Dengan rasa tidak menyerah membuat mereka bangkit. Maka disaat ekonomi aman seperi sekarang, mereka sudah siap sedia.

"Tidak berpengaruh, malah penjualan meningkat," tukas Retno. Dan ia dan suami menyarankan buat kalian para pemuda jangalah takut berwirausaha kelak.

Jual Buah Sayuran Sisa Tetapi Masih Segar

Profil Pengusaha Evan Lutz 



Masalah Amerika adalah membuang- buang makanan. Fakta meski masih banyak orang kelaparan, negara besar masih banyak membuang- buang sayuran dan buah dengan berbagai alasan. Sudah banyak pengusaha mencoba untuk mendobrak tradisi ini mulai tran organik dan jus buah.

Salah satunya, Evan Lutz, pengusaha muda berumur 23 tahun yang masuk acara Shark Tank. Itu loh acara seperti Berani Jadi Miliarder. Bisnisnya bernama Hungry Harvest yang fokus mendistribusikan kembali buah dan sayuran sisa -tetapi masih layak dimakan orang. 

Masalah mereka, buah dan sayur itu, terlalu jelek buat dimakan, kok bisa?

Bisnis unik


Tradisi untuk selalu mengambil produk terbaik. Ketatnya pemilihan sayuran membuat buah dan sayur tidak cantik akhirnya terbuang tidak terjual. Petani menjadi pemilih karena memang distributor diharuskan untuk memilah sayuran dan buah- buahan berfisik bagus, selain tidak ditumbuhi penyakit.

Alhasil petani tidak akan mendistribusikan buah jelek. Tradisi ini pula yang menyebabkan tidak mudah bagi pebisnis agro dari negara seperti kita masuk ke Amerika. Susah karena sangat ketat. Sementara itu aneka makanan fast- food mudah didapatkan. Aneh.

Kembali ke Evan Lutz, pengusaha muda asal Baltimore, dengan bangga menunjukan bisnis miliknya yang kita bisa bilang sederhana. Setiap bok buah dan sayuran jelek maka akan disisihkan satu bok buat disumbangkan ke orang kelaparan. Visi -nya tidak ada lagi makanan terbuang dan orang kelaparan di Amerika Serikat.

Fokus mengambil makanan jelek, dirinya dan beberapa tim Hungry Harvest mampu mendistribusikan sampai 1,2 ton produk untuk dipasarkan. "Kenapa mendonasikan jika kamu tidak menghasilkan?" ujar salah satu juri Shark Tank, Kevin O'Leary.

Memang Kevin terdengar tidak memiliki fokus mengolah. Ia lebih memilih mendistibusikan makanan jelek itu kembali. Hitungan 40% makanan Amerika tidak dimakan sebenarnya cukup. Itu karena distributor mall tidak mau menjual buah atau sayur dengan warna kurang segar, tidak berbentuk bagus, padahal kalau dimakan ya aman.

Model bisnis Hungery Harvest ialah membeli langsung ke petani dan juga distributor besar. Dimana satu bok akan dihargai Evan $15- $55 per- minggu (tergantung ukuran) dan itu sudah termasuk aneka bahan- bahan bumbu. Sebuah perusahaan fokus mengurangi makanan terbuang sia- sia di tempat sampah.

Dalam seminggu penjualan, Hungry Harvest mampu menjual $37.000 sampai $104.000. Sayangnya, jika kita hitung Hungry Harvest sama sekali tidak untung bersih. Bahkan tekor $20.000 padahal kala itu jumlah pelanggan sudah 500 orang. Salah satu juri Shark Tank lantas mengomentari lebih dalam tentang bisnis ini.

Barbara Corcoran mengkritik dia terlalu mencintai ide dan tidak rakus. Maksudnya bisa penulis jelaskan ia terlalu menikmati menjadi orang sosial, bukan pengusaha. Sosok yang terlalu menikmati mengurangi jumlah makanan terbuang dan kelaparan, tetapi disisi lain tidak mempedulikan keberlangsungan perusahaan itu.

Evan dalam acara tersebu sebenarnya hampir kalah. Karena ia menunggu Kevin O'Leary agar mau memberi modal. Dalam proposal diajukan ia menawarkan 5% saham atau senilai $50.000. Dan beruntungnya salah satu juri yaitu Robert Herjavec tertarik, dan memberikan $100.000 atau senilai 10% saham perusahaan.

Bisnis sosial


Sejak awal dia memang ingin menjadi pengusaha. "Saya ingin menjadi seorang pengusaha sepanjang hidup saya," katanya. "Tapi lebih dari itu, tujuan saya adalah untuk menjadi pengusaha sosial, untuk memberikan kembali kepada masyarakat dalam beberapa cara."

Sebelum masuk masa senior kampus University of Maryland's Robert H. Smith Business School, Evan sudah dikenal dengan aktifitas sosial, termasuk menjadi pekerja di organisasi Food Recovery Network. Dia mengambil makanan sisa di tempat makan kampus dan mendonasikan itu ke penampungan.

Dimana kemudian organisasi tersebut mengadakan dana CSA, mereka menciptkan tempat berjualan yang menjual aneka makanan sisa. Sepuluh hari berlalu, 500 mahasiswa membeli dari sana, dan inilah awal ide ia miliki sekarang.

" Saya menyadari ini adalah jauh lebih besar dan dapat ditingkatkan ke model bisnis untuk -profit," katanya. " Toko kelontong akan menolak seluruh produk jelek di truk, dan itu gila karena mereka penuh dengan hal fantastis, buah- buahan segar dan sayuran."

Memang sudah banyak perusahaan mengambil cara berlangganan. Seperti ada BirchBox buat kosmetik dan StitchFix untuk pakaian. Hungry Harvest akan memberikan tiga bok dengan aneka buah dan sayur langsung ke depan pintu. Tiga bok akan dipilih pelanggan satu bok berisi buah dan sayuran.

Perusahaan akan menawarkan apa yang ada. Karena itu pelanggan akan dapat memilih buah dan sayur jika tidak sesuai bisa bilang. Sayur atau buah yang membuat alergi tentu bisa ditolak. Untuk satu bok pembelian maka ada dua pound untuk diberikan ke masyarakat lewat organisasi Moveable Feast dan Maryland Food Bank.

Hungry Harvest juga mengadakan pasar petani bebas di tempat seperti Barat Baltimore. Dimana perusahaan sudah naik 700 pelanggan. Hal tersulit baginya meyakinkan bahwa sayur dan buah dijual segar. Menurut dia alasan sayuran ditolak karena ukuran dan bentuk random sekali. Padahal bisa saja apa yang dijual Evan lebih segar.

Dia sendiri sudah sering ngomong dengan investor. Tetapi untuk berbicara dengan pengusaha sekelas juri di Shark Tank beda. Ini sama halnya seperti mengajukan proposal investasi, bahkan tanpa editing karena reality show, jadi butuh dramatisir. "Ini merupakan pekerjaan mereka untuk membuat dramatis," tutur dia.

Tas Bungkus Kopi Ebibag Berbisnis Lingkungan

Profil Pengusaha Edy Fakar Prasetyo 



Sampah menjadi masalah sekaligus berkah. Pasalnya mereka dibuang seenaknya di jalan. Siapa mau ambil mereka maka gratis. Dan salah satunya yang ikut mengambil mereka adalah Edy Fakar Prasetyo. Mengambil jurusan Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Pengusaha muda satu ini terobsesi akan masalah sampah. Sisanya Edy terobsesi akan UKM. "Saya, inginya menulis skripsi tentang pembiayaan UKM," paparnya. Maka tidak heran jika dirinya menjadi pengusaha. Ia kebetulan termasuk pemerhati lingkungan.

Ia ingin merubah sampah menjadi berkah. Ditangan kreatifnya bungkus kopi, teh, dan sampah plastik lain, ia rubah menjadi gantungan kunci, dompet, dan yang terindah dompet wanita. Tahun 2013, dimulailah ide bisnis tentang merubah sampah di sekitaran lingkungan kampus, bagaimana ya agar sampah bisa dijual.

Lantas pemuda berkacamata ini menemukan konsep upcycle. Jika sampah plastik dibuang maka akan dia rubah menjadi barang jadi. Daripada dibuang ke sungai, terus mengalir ke laut, sampah plastik bisa- bisa merusak ekosistem kelautan. Karena kamu tau sampah bisa termakan ikan atau menghalangi sinar matahari.

Edy jujur tidak mudah. Uang modalnya memang cuma satu jutaan. Tetapi dia tidak berkembang sampai di tahun 2014. Setahun sudah Edy mencoba merintih usaha pengolahan sampah, hanya kok sepertinya gagal. Ia tidak berputus asa dan terus berjuang.

Masalah dianggapnya adalah bagaimana meyakinkan orang. Edy berusaha bagaimana meyakinkan sampah plastik dapat diolah menjadi bahan bernilai jual. Anak muda kelahiran September 1992 ini terus berusaha ya dengan terus mengedukasi serta memberikan contoh.

Bisnis fasion sampah


"Prosesnya tidak gampang, kita awalnya tidak mendapatkan antusias," ujar dia.

Akhirnya dia mampu mengajak ibu- ibu sekitar berkreasi. Dengan ketekunan mampu mengajak keluarga di sekitar kampus masuk. Bersama mereka mengerjakan bisnis fashion sosial mereka.

Mereka membayar warga Rp.50- 80 persaset. Tidak sedikit cuma mau diberikan produk karya Edy. Total ada 10 orang ibu membantu. "Kami tidak menyebutnya pegawai," tegasnya. Prinsip bisnis Edy ialah Women Empowering untuk menuhi pesanan datang. Edy juga memberdayakan mereka menjadi trainer ketika sukses.

Sukses ia mampu menciptakan produk fasion. Produk terkenalnya mulai dompet, tas, dan souvenir dengan corak menarik. Siapa menyangka bahwa produk tersebut dulunya plastik bekas kopi. Dalam sebulan dia mampu memproduksi 30 sampai 50 item. Untuk menembus pasar maka ia rajin mengikuti pameran selain toko online.

Tidak cuma di dalam negeri, tetapi produknya sudah sampai ke luar negeri. Melalui berbagai ajang pameran termasuk di Malaysia. Produk bernama Ebibag memiliki selera fasion. Maka tidak salah jika menjadi satu produk laris hingga memenangkan penghargaan juara tiga kategori sosial.

Omzetnya dibilang lumayan sampai jutaan. Edy tidak menyebut angka pasti. Tapi dia memberi sinyal angka 14 juta mampu dikantongi.

Mungkin karena pasarnya masih terbatas. Jadi meski Edy membuat tidak dalam jumlah banyak hasil dari penjualan tinggi. Edy sendiri lebih memilih mengedukasi dibanding sekedar untung. Salah satunya lewat satu program bernama Petaka atau Pemberdayaan Tenaga Kreatif. Dia mengedukasi lalu memberi bantuan dalam pemasaran.

Harga murah untuk souvenir yakni Rp.5000, sampai Rp.350 ribu buat tasnya ukuran besar. Untuk penjualan lewat toko online www.ebibag.com. Walaupun khan berjualan di luar negeri besar, prinsip edukasi yang ia tengah tonjolkan. Jadi dia memilih mengedukasi pasar dan memasarkan produknya di dalam negeri.

Ambil contoh ada seorang mahasiswa Belgia, tengah melakukan kegiatan musim panas, dan memborong banyak sekali buat dijual kembali. Pasar internasional diakui olehnya memang masih besar.

Bisnis komunitas


Dia tidak berorientasi bisnis semata. Buktinya mahasiswa semester 7 ini mengajak teman sekampus. Lewat satu program bernama Eco Business Indonesia (EBI). Komunitas bisnis kecil berbasis lingkungan. EBI ialah bisnis hijau atau green business dimana memiliki konsep sendiri. Mengusung tema 3P, yaitu People, Planet, dan Profit.

Penjabarannya People berarti berbisnis pemberdayaan manusia. Tidak ada namanya pegawai tetapi semua orang bekerja bersama. Planet sendiri berarti fokus pada kepedulian akan lingkungan. Bagaiman upaya yang besar berkontribusi akan pelestarian lingkungan. Upaya mengurangi limah plastik memperpanjang daya guna.

Melalui daya upcycle menjadi kerajinan tangan, dari tas aneka ukuran, dompet, soft case, dan masih banyak lain.

Kalau Profit apalagi kalau bukan menghasilkan komersialisasi. Bagaimana memutar roda bisnisnya melalui pengembangan pemberdaya luas. Tidak sekedar menghasilkan keuntungan sebesar- besarnya. Tapi juga satu sinergi dengan Planet dan Peoplenya. Bagaimana melestarikan lingkungan serta membedayakan manusia.

Edy sendiri aktif memfasilitasi pelatihan pengusaha. Lewat GEO atau Green Entrepreneur Organizer bagi mereka pengusaha muda bidang lingkungan. Menjadi wirausaha merupakan jati diri seorang Edy. Meski ini bukanlah usaha beruntung tinggi. Tetapi dia menyadari bisnis hijau merupakan sebuah bentuk sedekah lingkusngan.

Dulu, sejak bangku sekolah dasar, menjadi wirausaha merupakan hal biasa. Ia pernah menjual stiker ketika bersekolah dasar. Masuk SMP, Edy tidak malu menjual kopi dan gorengan di sekolah. Ketika masuki ke masa SMA dia menjadi penjual nasi uduk di kelas. Maka di SMA dirinya didaulat menjadi siswa berprestasi berwirausaha.

Anak kelima dari enam bersaudara sempat tidak ingin jadi pengusaha. Orang tua tidak mendukung secara finansial. Jadi lepas SMA dia berharap menjadi pegawai bergaji biasa. Apalagi menjadi wirausaha banyak ketidak pastian. Ditambah dia masih punya banyak saudara. Hidup Edy mencoba lebih realitis dikedepan hidup.

Masuk Ujian Nasional, Edy mulai ikut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Dia mengaku tidak memiliki persiapan khusus. Selepas lulus SMA, perlu kamu tau dia sudah bekerja dan berniat masuk kuliah sambil kerja. Jadi dia tidak punya waktu buat seleksi masuk perguruan tinggi; Edy sibuk kerja.

Dia tidak ikut bimbel. Mengakali keadaan maka Edy belajar dari teman yang ikut bimbel. Bermodal itulah ia berharap bisa lulus. Agar peluang makin besar maka dia mengambil jurusan yang jarang. Menurutnya jurusan itu sangat jarang dilirik mahasiswa. Tidak disangka dia diterima di UIN Jakarta.

Tahun 2012, dia menyabet juara Bank Indonesia Green Entrepreneur. Tahun sama menjadi juara Wirausaha Mapan diadakan oleh Pemkot DKI Jakarta. Dia juga masuk dalam finalis Social Entrepreneur Academy tahun 2014. Walapun sukses begitu masalah SDM dan modal menghantui kinerja usahanya.

"Secara teknik, kami masih butuh tenaga ahli," ujar dia. Edy bersama empat rekan bersama sibuk juga soal pelatihan ibu- ibu PKK. Hingga berdirilah E- bi Institute dan kaderisasi ISIS (istri sukses idaman suami). Ia mencetak ibu menjadi kaum kreatif berwirausaha mandiri.

Untuk hitungan masih belum gaji. Ia menyebut upah, atau insentif berupa produk sama bagi hasil. Nilainya 30:70 merupakan penghasil beberapa produk. "...kita tambah upah," ujarnya. Insentifnya tergantung pada hasil produksinya. Dengan sumber bahan baku banyak dan tidak jarang gratis, maka omzetnya berlipat.

Mungkin masalah utamanya diedukasi bagaimana menjual. Penjualan memanfaatkan Instagram dan Twitter yaitu @Ebi-bag. Kemudian ada website edukasi bernama www.menebarmanfaat.com. Hasil karyanya tidak cuma produk, termasuk edukasi hijau, praktik prakarya limbah, "per-bulan 2- 3 juta," imbuhnya.

"Fluktualif, pemasukan lebih besar dari edukasi, sekitar 60:40," ungkap dia. Masalah pertama dia hadapi yaitu mencari bungkus kopi dan SDM buat produksi.

Ular Phyton Wanto Raup Jutaan Rupiah Sambil Beramal

Profil Pengusaha Wanto Goweng



Apa rasanya tinggal bersama puluhan ular phyton. Ternyata bisa menghasilkan jutaan rupiah loh. Sebut saja kisah hidup Wanto Goweng, pria 42 tahun asal Desa Kaliputih, Kecamatan Kutowinangun, Kebumen yang hidup bersama mereka penuh kasih sayang.

Wanto sudah suka dengan ular sejak umur 13 tahun. Total waktu itu ia memiliki 18 ekor ular phyton raksasa. Ia menempatkan itu di tempat khusus. Menurut sejarahnya sudah dimulai sejak ular masih kecil. Lelaki yang bertato ini menekuni budidaya barulah pada 1998.

Dimana dia pertama kali berjalan melewati hutan di desanya, lantas menemukan bayi ular phyton di semak- semak. "Ular itu saya ambil dan pelihara serta saya bawa kemanapun saya pergi," tuturnya.

Semula dia cuma memelihara satu ekor saja. Kini ada ratusan ular dipelihara olehnya di rumah. Ia merupakan pecinta binatang. Alasannya memelihara phyton karena prihatin ular ini diburu dan dipotong. Juga dikuliti lalu dijadikan kerajinan, ataupun jadi olahan masakan.

Ia menangkar ular phyton dibantu istri, Krisyul dan temannya, Julmanto buat memelihara binatang melata ini. Berkat ketelatenan maka ularnya berkembang makin banyak. Untuk hasil penangkaran dijual sedengkan ular yang dipeliharannya khusus tidak diapa- apakan.

Terlanjur sayang, itulah penjelasan Wanto ketika seseorang menawar ularnya sampai ratusan juta. Khusus ia menanggap ular- ular peliharannya sebagai keluarga. Ular peliharaan Wanto sendiri jinak. Warga sekitar juga tenang ketika bermain dengannya. "Ular ini sudah jinak," sembari berbaring bersama ular- ularnya.

Untuk ular dirawat sejak kecil tidak dijual. Tetapi ia tidak menolak buat hasil penangkaran. Yang mana bisa laku jutaan rupiah dibeli para pecinta binatang. Meski bekerja serabutan, ia menyempatkan diri menyisihkan uang buat membeli puluhan ayam.

Para tetangga tidak segan ikut urunan. Jadilah rumah Wanto semacam tempat rekreasi warga. Banyak anak bermain bersama tidak takut. Mulai anak SD, SMP, SMA pecinta binatang datang setiap hari melihat aksi Wanto dan ular- ularnya.

Ular hasil penangkaran Wanto beratnya bisa mencapai 500kg sampai 1 kuintal. Tidak jarang para komunitas hewan reptil berbagai daerah berkunjung ke rumah Wanto. Mereka asik berdiskusi tentang keberadaan hewan melata tersebut di alam liar.

Mereka termasuk membeli anakan milik Wanto. "...harga mulai dari Rp.400 ribu sampai Rp.500 ribu per- ekor," tambahnya. Anakan ularnya mampu terjual 15- 20 anakan ular.

Perlua dijelaskan kenapa mereka para pecinta ular membeli. Mereka memang sengaja tidak membeli dari pemburu karena mencegah kepunahan. Justru ular dari Wanto merupakan trobosan agar menjaga ekosistem di hutan. Mereka membeli ular Wanto agar ular phyton tidak punah.

Ular anakan juga masih liar. Mereka pasti bisa bertahan hidup di alam liar. Ular- ular tersebut lantas dilepas ke alam liar.

Wanto bercerita bagaimana dia belajar otodidak menangkar ular. Dia belajar bagaimana mengawinkan ular miliknya. Ular betina bertelur dipisahkan dengan ular jantan. Ular itu disendirikan agar tidak terganggu ketika mengerami. Telur tersebut kemudian menetas, penetasan akan terjadi selepas 3 bulan sampai 4 bulan.

Selepas itu ular kecil dipisahkan kembali bersamaan dengan seukuran. Untuk ular peliharaan Wanto sendiri memegang 20 ular indukan.

Butik Sampah Yogya Modal Bungkus Mie Instan

Profil Pengusaha Hijrah Purnama Putra 


  
Dia memang peduli akan lingkungan. Dari pendidikan saja, putra asli Aceh ini, lebih memilih jurusan Teknik Lingkungan. Kepeduliannya pun tidak terbatas akan ras ataupun lingkungan. Hijrah Purnama Putra memilih untuk merealisasikan kepedulian justru di Yogyakarta.

Berkuliah di Universitas Islam Indonesia, Putra sudah peduli lingkungan bermula dari hal kecil. Hingga Putra begitu sapaan akrabnya menemukan konsep bank sampah. Lantas berlanjut membentuk apa namanya butik sampah sebagai media promosi.

Butik sampah layaknya seperti butik pakaian. Bedanya apa dipajang di etalase merupakan hasil daur ulang. Ia membuat aneka produk seperti tas bungkus makanan. Jangkauan produk butik sampah milik Putra sudah merata ke suluruh Indonesia. "...yang belum kita sampai Papua dan Maluku," ujarnya.

Ada keinginan kuat tidak cuma berhenti di Yogyakarta. Maka Putra berjuang keras agar mampu membawa konsep sampah modern ini menjadi nyata.

Sampah jadi jualan


Bermula aksi sederhana seperti mengumpulkan sampah di sekitar. Dia mulai dari warung bubur kacang ijo atau burjo dan angkringan. Aksi sederhana sejak tahun 2008 sampai menemukan butik sampah. Agar tidak cuma peduli lingkungan tetapi memberikan manfaat, maka Putra mulai membeli sampah dari masyarakat.

Ia mulai membeli sampah. Bersama seorang rekan sampai tahun 2009, sudah menggunung lah itu sampah. Ia mulai kebingungan mau diapakan sampah tersebut. Kemudian muncul ide tentang daur ulang sampah. Putra mulai memilah sampah serta memikirkan mau dijadikan apa.

Produk mereka pertama adalah seminar kit dimana dijual Rp.25.000. Perlengakapan itu menjadi booming dalam waktu seketika. Putra melihat peluang lebih besar maka terbangunlah bank sampah. Orderan seminar kit berbahan daur ulang melonjak sampai produksi 250 buah.

Bank sampah ini sudah dipilahkan jenis sampah bukan sembarangan. Fokus utama ialah sampah- sampah bungkus sachet makanan atau minuman.

Sosialisasi terus dilakukan agar bank sampahnya mendapat perhatian masyarakat. Terus terjual laris produk karya Putra, sampai terkumpul 205 kelompok petugas sampah sendiri. Masing- masing kelompok terdiri dari enam sampai delapan orang.

Dalam pengumpulan sampah terbilang mudah. Kelompok tersebut akan bersama mengumpulkan sampah. Dan nantinya ada tim yang melakukan penjemputan kelompok tersebut. Jika diibaratkan mereka adalah cabang bank sampah milik Putra. Harga satuan per- sampah mulai Rp.10- 70 dimana tergantung besar atau kecilnya.

Sebulan saja sudah dapat mengumpulkan 4.000 bungkus sampah. Putra pun mendapatkan penghargaan atas jerih payahnya sebagai wirausaha muda sosial juara pertama.

Bukan bisnis biasa


Tahun 2011, dibuka butik daur ulang, yang mana menurut Putra fokusnya memasarkan produk- produk dari hasil daur ulang. Utama produk karya Putra dan kawan- kawan. Produk karya Putra antara lain seminar kit, tas sekolah, goodie bag, dompet, tas laptop, bros dan lainnya.

Putra menyebut sudah ada 90 jenis produk berbeda. Butik daur ulang didirikan di Jalan Sukoharjo No 132 daerah Condongcatur, Sleman, Yogyakarta.

Tidak berhenti di produk lama, Putra terus berkreasi termasuk salah satunya produk tas lipat. Masyarakat sendiri meminati produk macam dompet, tas, dan map. Untuk harga jualnya relatif murah mulai Rp.6.000- Rp.275.000. Proses pembuatan terbilang cukup memakan waktu, tetapi mudah dipraktikan.

Pertama kali, Putra mengumpulkan sampah bungkus makanan atau minuman. Lantas dia berhitung berapa jumlah sampah terkumpul. Kemudian masuk tahap pencucian, dikeringkan, dan disortir kembali. Proses itu selesai sampah plastik akan masuk gudang dulu.

Kemudian sampah plastik tersebut dijahit, dibentuk, dan masuk ke tahap pengontorolan kualitas. Semua itu menjadi tahapan wajib sebelum barang siap dibentuk.

Sayangnya, masih banyak orang ragu untuk memakai produk karya Putra. Selain karena faktor kebersihan juga faktor malu menjadi kendala. Mereka malu kalau harus menjinjing tas hasil daur ulang sampah. Padahal Putra meyakinkan tahap desain sudah dibentuk sedemikian rupa.

Keawetan juga terjaga karena sistem quality control diterapkan. Putra sendiri masih memiliki banyak mimpi yang belum dicapai dari bisnisnya. Yakni bagaimana agar masyarakat yang menabung di bank sampah juga memakai produknya. Harus tidak ada keraguan memakai produk daur ulang sampah.

Untuk bank sampahnya, dia sedang menyiapkan sistem cek saldo lewat SMS. Bank sampah besutanya juga diharapkan mampu mengurangi sampah di Yogyakarta pada umumnya. "Kami dapat mengurangi jumlah sampah per hari di Yogyakarta mencapai 16,90%," tuturnya.

Selain dijual melalui butik, Putra juga menjual melalui berbagai pameran kewirausahaan Expo Wirausaha Muda Mandiri contohnya. Sambutan pengunjung expo juga baik tertarik akan kreasi Putra. Memang Putra tidak sekedar mendaur ulang tetapi terus berkreasi. Banyak tidak menyangka kalau produk tersebut dari limbah.

Sekilah memang tidak terlihat seperti sampah. Konsep selalu kreatif serta mengikuti mode membuat butik sampah berasa benar- benar butik. Kreasinya unik dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan daur ulang serampangan.

Bersama kawan Dosen UII ini hobi mengumpulkan bungkus mie instan. Terutama ketika mereka nongkrong di warung burjo. Sejak 2005 bersama kawan teknik UII menyambangi warung- warung mie instan yang buka 24 jam. Sebagai anak kos hobi mereka memang nongkrong dan menikmati malam di Yogyakarta.

Sejak 2009 mereka merubah bungkus plastik menjadi tas seminar. Pertama terjual 25 seminar kit dipesan oleh mahasiswa UGM. Tumbuh semakin banyak, Putra bersama kawan mulai rajin menyambangi warung ke warung. Di tahun 2012 barulah ide tentang toko khusus didirikan bersama penjualan yang terus meningkat.

Perbulan 300 bungkus sampah plastik bekas makanan dan minuman terkumpul. Berkat bank sampah yang dia gagas maka TPA Piyungan kehilangan sekitar satu ton sampah. Usahanya diharapkan semakin maju dan siap ekspansi membangun cabang di berbagai daerah.

Meski berstatus dosen sekarang, Putra mengaku bisnis sosialnya tidak mengganggu, karena dia dibantu oleh banyak orang. Banyak orang termasuk mahasiswanya mendukung Putra. "...tidak hanya memberikan teori tetapi mampu menujukan praktik," tutup Putra.

Aplikasi Berbagi Makanan Pengusaha Uber

Profil Pengusaha Komal Ahmad 




"Saya tidak berpikir saya akan mampu berpikir bahwa sebuah makan siang mampu merubah hidup saya selamanya, tetapi itulah yang terjadi," ungkap Komal Ahmad, 25 tahun, ucapnya kepada majalan People.

Tahun 2012, dia sekembali dari pelatihan musim panas untuk Angkatan Laut tahun seniornya di Universitas of California, Berkeley. Lalu dia berjalan melewati trotoar utama kampus, sampai melihat pria tampak pucat. Pria itu meminta sedikit uang buat makan sandwich.

Daripada memberikan beberapa dollar Ahmad malah mengajak makan. Bukannya memberikan beberapa dollar dan dia terus akan mengemis. Orang itu mau diajak Ahmad makan di sebuah restoran. Dia lalu mulai bercerita kepada Ahmad tentang kisahnya.

Ternyata dia adalah veteran perang Irak. Ketika dia berharap akan mendapatkan tunjangan. Faktanya dia malah dapat tidak ada. Maka dia tidak mempunyai uang dan dia tidak mempunyai makanan.

Jadi Ahmad sedang berbicara dengan seorang veteran. Sosok pengabdi negara hebat, yang seharusnya dia mendapatkan penghargaan. Padahal dia telah berkorban diri sebagaik mungkin. Komal Ahmad sendiri juga berminat menjadi seorang angkatan laut -jadi dia tau tugas seorang tentaran penuh tanggung jawab.

"Dan orang ini sekarang malah diam- diam di jalanan meminta makanan," Ahmad terkejut. Dalam waktu itu sekaligus dia terbuka matanya bahwa dunia itu bodoh.

Bodohnya kita mengalami masalah makanan. Lalu, ketika itu, wanita 21 tahun tersebut tergugah untuk aktif membuat perubahaan. Dia ingin menghilangkan kelaparan. Ahmad memulai dengan mendirikan program buat donasi makanan dari kampus ke jalanan.

Aplikasi sosial


Menemukan program hebat di kampus malah membuat "masalah". Pada suatu ketika dia menumak titik yang merubah hidupnya. Manajer makan- kampus mengundang dia datang berkenjung. Ternyata dia harus siap diri menyambut 500 makanan sisa -tidak dimakan, masih utuh- butuh disalurkan ke orang membutuhkan.

Dia lalu menyewa Zipcar -perusahaan rental online- berkendara dari ruang makan kampus sendiri. Sekitar 30 menit mengangkut makanan sisa berbentuk sandwich itu. Lalu dia mencari organisasi penyalur makanan itu ke orang tidak mampu.

Ada tiga yaitu Shelters, Boys and Girls Clubs, dan juga Salvation Army, pada akhirnya mereka tidak bisa menjawab. Dua pertama berkata mereka sudah punya cukup makanan. Yang terakhir cuma mau menerima 15 buah sandwich saja.

Ahmad pada akhirnya termenung di pinggir jalan mengangkut 485 makanan sisa. Akhirnya mereka rusak dan terbuang sia- sia. Satu dari enam orang mengalami kelaparan. Satu dari empat anak di Amerika Serikat itu kelaparan. Sayangnya Ahmed tidak mampu menemukan mereka dalam waktu sekejap.

"Jadi saya di dalam mobil di pinggir jalan sambi menangis," kenang Ahmed. "Saya sangat frustasi karena saya mencoba melakukan suatu kebaikan. Itu seharusnya tidak sesusah ini kan melakukan kebaikan. Itu sangatlah membuat frustasi dan sangat sulit mencari orang membutuhkan makan."

Akhirnya dia sadar akan satu hal: Bahwa banyaknya makanan sampai 356 juta (menurut penelitian) makanan sisa Amerika tidak tersalurkan bukan karena pelit. Bukan pula karena orang tidak pedulia membuang- buang makanan atau membuat orang kelaparan. Cuma saja, mungkin mereka kesusahan menyalurkan seperti dia.

Tiga tahun kemudian dia menjadi pendiri dan CEO Feeding Forward. Yaitu perusahaan sosial yang memiliki aplikasi menyalurkan makanan. Mereka mengkoneksikan para pemilik usaha dengan makanan sisa mereka dengan banyak organisasi sosial pemberi makan orang kelaparan.

Bisnis sosial


Berbicara tentang berbisnis sosial bukan soal untung. Bukanlah soal menghamburkan uang untuk brand milik kamu. Setidaknya hal itulah yang dipikirkan Ahmed. Feeding Forward telah mampu membantu pengusaha mendonasikan hasil usahanya berupakan makanan kepada orang membutuhkan.

Ahmed berhasil menyalurkan 722.000 pound makanan segar, kualitas tinggi restoran yang mungkin saja akan terbuang sia- sia.

"Saya tidak berpikir tentang branding atau menunjukan apa yang kami lakukan, saya berpikir pendekatan kami ialah melalui membuat segalanya jadi mudah," jelas lagi Maen Mahfoud, manajer opersional perusahaan Feeding Forward.

Pendekatan termudah adalah merubah lingkupan mereka. Bagaimana kita memudahkan mereka agar dapat solusi tepat bersosial.

Mereka menawarkan solusi berbasis internet. Semua proses donasi cuma butuh dua menit. Kamu tinggalah masuk ke halaman. Membuat akun, tulis nama kamu, berapa banyak sandwich kamu punya akan dijadikan sumbangan. Lalu kamu bisa menaruh dimana Feeding Forward bisa ambil cukup taruh kontak info disana.

Algoritma khusus merancang bagaimana menentukan jenis makanan, kuantitas, serta dimana tempat paling dekat untuk menerima makanan kamu. Lalu ada pengemudi yang akan mengambil makanan serta menaruh itu kepada orang yang tepat. Agar terpercaya Feeding Forward menaruh foto dan juga testimoni langsung.

Salah satu organisasi yang bekerja sama dengan Feeding Forward. Menyatakan bahwa perusahaan sosial ini memberikan makanan sisa berkualitas. "Mereka memberikan kami makanan yang sangat bagus kualitasnya," ujar Eric Venable, Direktur City Team, organisasi menaungi orang- orang kelaparan dan tidak punya rumah.

Kepada majalan PEOPLE menerangkan bahwa perusahaan semacam ini berbeda. Sebuah bisnis startup berbasis makanan sisa -dan disalurkan kepada orang membutuhkan. Uniknya karena diambil dari restoran ataupun hotel maka layanan Feeding Forward menyuguhkan makanan bergizi tinggi.

Ketika orang seperti ini mendapatkan uang sedikit. Dimana lagi mereka bisa makan kalau tidak di tempat- tempat makan junk food. Semacam burger atau hotdog tentu tidak sebanding dengan harga makanan milik Feeding Forward meski sisa bisnis.

Perusahaan ini benar membantu orang buat makan setiap hari, bahkan sampai dua kali dalam sehari. Dalam hal perkembangan perusahaan masih dalam fase boothstrap. Perusahaan berharap akan banyak orang yang mau meniru gerakan mereka.

"Seperti halnya Uber yang dipuja, anda seharusnya dapat mendonasikan makanan secara beberapa menit," Ahmad menambahkan. Mimpi Ahmad ialah menyebarkan Feeding Forward tidak cuma ke seluruh Amerika. Bahkan seluruh kontingen harus merasakan hidup tanpa kelaparan.

Baju Plastik Kresek Bekas LKP Bu Nandang

Profil Pengusaha Erni S. Nandang 



Fenomena kantung plastik berbayar nampaknya harus berkaca kepadanya. Sosoknya pendiri Lembaga Kursus Pelatihan (LKP) Bu Nandang. Adalah Erni Suhaina Ilham Fadzry, atau orang kenal jika memanggil namanya Erni S. Nandang. Sosok dibalik kesuksesan memanfaatkan barang bekas termasuk kertas kresek.

Perjalanannya sudah lama sejak 2008, memberdayakan masyarakat agar hidup lebih kreatif. Caranya ialah memanfaatkan barang bekas disekitar. Termasuk kertas kresek yang dijadikan aneka kerajinan. Mengolah sampah menjadi kerajinan menjadi satu- satunya solusi kita sekarang.

Total tiga kecamatan dirangkul Erni, dari Cilacap Tengah, Utara, dan Cilacap Selatan. Dalam metodenya ia memberikan pembelajaran entrepreneurship. Bagaimana cara berpikir di luar kotak menghadapi tumpukan sampah.

Prinsipnya harus merubahnya menjadi barang indah. Nilai seni akan mendongkrak barang bekas mempunyai nilai jual. "Slogan kami merubah sampah menjadi berkah," papar Erni. Menjadikan sampah menjadi indah dan juga menghasilkan pundi- pundi uang tentunya.

Pelatihan termasuk aneka workshop, seminar, serta sosialisasi langsung. Sebagai LKP, Bu Nandang tidak mau mematok peserta disetiap acaranya. Pada prinsipnya mereka bekerja untuk sosial entrepreneurship. Ia juga memberikan kursus reguler. Dimana pesertanya menurut artikel kami baca mencapai 700 -an orang.

Dia bersama mengarahkan warga menjadi wirausaha. Lantas mereka bersama bisa membangun kelompok sendiri yaitu kelompok bina usaha (KBU). Tujuannya adalah bersama mengerjakan bisnis daur ulang aneka sampah termasuk sampah kresek bekas.

Ada enam KBU terbangun berkat Bu Nandang. Usaha mereka mengerjakan aneka kerajinan sampah. Jika berbicara anggota maka kebanyakan merupakan ibu rumah tangga dan pemuda pengangguran.

Bekerja bukan bicara


Produk olahan sendiri dibagi menjadi dua jenis, yakni limbah dan non- limbah. Khusus non- limbah maksud dari itu adalah produknya bukan dari bahan bekas. Dimana variasinya kecil dibanding yang limbah. Kalau produk limbah antara lain dari limbah plastik kresek, kertas bekas, pecahan kaca, sampai elektronik jadi.

Produk jadinya meliputi hantaran pernikaha, tempat tisu, keranjang, ataupun aneka pernak- pernik souvenir. Ia menambahkan harga bervariasi mulai Rp.1.500 sampai Rp.100.000. Semuanya dijual melalui toko sendiri yang dikhususkan. Dua toko tersebut dimiliki langsung oleh LKP Bu Nandang.

Nantinya setia KBU tidak lagi pusing menjual. Mereka cukup menitipkan ditempat Erni. Pendapatan rutinnya mencapai rata- rata Rp.250.000 sampai Rp.2.000.000 per- bulan setiap KBU. Omzet LKP Bu Nandang sendiri mencapai Rp.100 juta sampai Rp.200 juta.

Lulusan Sastra Bahasa Inggris dari Universitas Padjajaran ini menyebutkan. Walau omzetnya besar tetapi ia menggunakan uang tersebut untuk perputaran modal. Termasuk digunakan untuk aneka kegiatan sosial dari Bu Nandang sendiri. Dana operasi pendidikan operasional selalui disiapkan untuk melatih warga sekitaran Cilacap.

Tidak cuma berhenti di Cilacap, Erni sudah merambah tempat lain termasuk sampai ke Jakarta. Melalui cara datang ke aneka pameran kewirausahaan ataupun seminar. Erni juga membuka kemungkinan buat kamu bisa masuk menjadi sponsor.

Pakaian kresek


Gebrakan terbaru LKP Bu Nandang ialah pakain pengantin. Loh, maksudnya? Usaha yang digagas Erni ini bagaimana merubah plastik kresek menjadi pakaian pengantin. Dibantu kreatiftas hal mustahil menjadi hal nyata. Baju pengantin dari bahan plastik tersebut bahkan dibandrol jutaan.

Erni mengaku mengantungi omzet Rp.10 juta setiap bulan. Ide pembuatan aneka pernak- pernik pernikahan sudah lama dijalankan Erni. Namun, di tahun 2010, ide gila muncul bagaimana menghadirkan plastik kresek hadir dalam pernikahan. Waktu itu salah satu anak didik LKP Bu Nandang ada yang mau menikah.

Dia merupakan murid terbaik LKP. Maka Erni berniat memberikan hadiah lebih dari sekedar aneka produk plastik kresek biasanya. Erni memutuskan membuat souvenir ditambah pakaian pengantinnya. Diluar apa ia maksud untuk produknya, banyak tamu malah tertarik hasil karya LKP Bu Nandang ini.

Semenjak itu permintaan akan aneka keperluan pernikahan berbahan kresek makin berdatangan.

Kesadaran akan lingkungan agak banyak mendorong penjualan. Ini membuat usaha kertas kreseknya maju pesat. Dia meyakinkan baju kresek tidak gampang robek. Tidak pula menimbulkan alergi kulit. Erni sudah memiliki cara mengatasi tingkat kebersihan plastik.

Bahan baku dikumpulkan Erni dari warga sekitar LKP Bu Nandang. Ada tempat khusus buat mengepul itu di tempat. Termasuk juga pemberian anggota LKP sendiri dari rumah masing- masing. Meski disoroti, Erni menolak kalau ia harus memakai kresek baru. Meski murah tetap Erni memilih kresek bekas karena alasan khusus.

"Kalau memakai kresek baru, nilai penyelamatan lingkungan tidak ada sama sekali," jelasnya. Prosenya itu memang panjang tetapi demi menjaga kualitas.

Pertama kresek dibersihkan lalu dipilah. Pilihlah platik tebal yang kuat karena memang ada kresek tipis. Lalu dia menggunakan alat khusus mengubah kresek menjadi lembaran. Kemudian kresek digulung diikat gelang karet. Ia lalu menyatukan itu menjadi bentuk segitiga. Kemudian baru ditempel dipola yang telah disiapkan Erni.

Setelah itu dijahit layaknya kain pada pakaian biasa. Pola kecil disatukan sedikit- demi sedikit menjadi satu bentuk baju pengantin. Ia menambahkan gliter berbahan kabel bekas agar lebih manis. Erni dibantu oleh para muridnya di LKP Bu Nandang

Dibutuhkan 1.000 lembar plastik kresek untuk sepasang pakaian pengantin. Agar menjaga bahan baku tetap tersedia, Erni bahkan rela membangun tiga gudang khusus. Gudang penyimpanan ini sempat diprotes oleh sang suami. Tetapi enteng Erni menjawab itu akan menjadi uang. Memang betul akhirnya ini menjadi bisnis unik.

Harga jual pakaian pengantin kresek menembus juta rupih. Nilai nominalnya tidak disebutkan, tetapi dapat ia sampaikan mencapai jutaan rupiah. Untuk aneka souvenir seperti replika candi Borobudur djual Rp.35.000 per- unit. Kecil- kecil dijual antara Rp.500 per- unit. Mereka dijual Erni dalam bentuk paket hantaran pernikahan.

Semakin banyak pesanan untung semakin besar. Pasalnya margin untung besar karena bahannya dari plastik bekas. Berbagai pelatihan masih dijalankan LKP Bu Nandang selain membuat fasion dari kresek.