Profesional Muda Belia Venture Capitalist 19 Tahun

Profil Pengusaha Patrick Finnegan


 
Umurnya sih baru 19 tahun, tetapi Patrick Finnegan merupakan salah satu venture capitalist ternama. Nama pemuda kece ini menjadi buah bibir banyak media besar seperti CNBC dan CNN. Dia lah contoh wujud generasi Z, generasi termuda dari milenia.

Berawal dari keinginan mendirikan startup sendiri. Ia mulai fokus mengejar mimpinya menjadi pemodal. Dia pindah ke Manhattan dengan segala kesuksesan.

Drop out sekolah


Anak muda kelahiran Connecticut, dan tumbuh besar di kawasan Willaimstown, Mass -sebuah kota kecil di Berkshire. Dia bersekolah di sekolah asrama bernama Eaglebrook School. Itu merupakan sekolah khusus laki- laki sampai kelas enam. Sebuah pengalaman menyenangkan ujarnya. Selepas lulus hingga sampai kelas delapan dia berjalan dalam kebosanan perjalanan akademis.

Finnegan memiliki pandangan masa depan. Di umur 14 tahun, contohnya, bisnis pertama Finnegan dimulai dan ini tentang startup kupon. Itu loh, bisnis online yang menawarkan kupon aneka diskon baik makan atau traveling. Untuk mengakali umurnya dia terpaksa membuat identitas palsu.

Tidak buruk karena dia mengantungi untung $80.000, mengerjakan aneka proyek online. Dan banyak bisnis dijalankan tetapi tidak selalu berhasil. Ia tidak menjelaskan detailnya kenapa. Yang pasti membuat identitas palsu membuat Finnegan kecil khawatir.

Memang sampai lulus dia tidak pernah tertangkap guru. Tetapi ketika itu ibunya yang memergoki KTP palsu miliknya.

Semua bisnis dijalankan dari balik pintu kamar asrama. Selepas sekolah menengah pertama, Finnegan malah drop out ditengah jalan ketika menengah atas. Mungkin bagi orang tua atau orang tidak mengenalnya, ini menjadi keputusan paling menyedihkan, tetapi salah besar.

Beruntung dia diterima kerja di perusahaan periklanan, Wieden+Kennedy. Dimana merupakan perusahaan agensi yang menangani iklan terbaik Nike. Tidak cuma itu Finnegan juga mendirikan perusahaan sendiri yang bernama WorldState.

Perbedaan terbesar dari generasi milenia adalah brand. Dimana brand "kesusahan" mengenali demografi dari anak- anak jaman sekarang. Inilah kenapa bermunculan anak muda seperti Finnegan. Perjalanan karirnya kemudian melangkah dari satu firma, perusahaan marketing, dan pendanaan startup.

"Saya memiliki beberapa orang saya panggil, dan berkata, "bisakah kamu menaruh (investasi.red) $50 ribu?" atau beberapa $1 juta, sewaktu $2juta," ujar Finnegan bangga.

Meski membangun perusahaan kebanyakan berakhir gagal. Finnegan menemukan karirnya dibidang venture capital. Pengalaman bekerja dibidang periklanan dan diajari oleh para veteran. Nama Finnegan dipercaya oleh perusahaan bernama Studio.VC, untuk memahami bagaimana generasi baru kita dapat dipahami.

Alhasil dia menjadi yang termuda diantara VC di New York. "Patrick adalah networker yang menakjubkan, dan dia sangat cepata belajar mengenai apa orang akan sukai," puji Liam Lynch, pemilik Studio VC.

Pengusaha muda belia


Dia tidak menyebut berapa gajinya. Hanya Finnegan disebutkan mengerjakan proyek senilai $5 juta. Dia cuma menyebutkan pendapatan konsultasi antara $3.000 sampai $7.000. Totalnya dia mengaku sudah dapat mengantungi enam digit angka nol.

Kelebihan Finnegan adalah kegagalan terus menerus. Dari sinilah dia belajar bagaimana memahami tentang generasi kekinian.

"Saya sangat naif. Menjadi muda, kamu bisa memanfaatkan saya," ujarnya. Ia mencontohkan ketika umurnya 16 tahun dia pernah bekerja. Sebuah perusahaan bernama MetricsHub yang kemudian dibeli Microsoft. Dan sebagai pegawai pertama perusahaan, dia tidak dapat apa- apa.

Pelajaran terpenting dalam hidupnya. Kekurangan pendidikan formal bukanlah masalah. Ini terjadi delapan bulan lalu ketika dia bertemu dengan salah satu mentornya di New York. Kehidupan sosial kota besar dan bekerja di banyak perusahaan membawanya bertemu orang hebat.

Waktu itu sang mentor sangat mempercayainya. Sayangnya, dia gagal, mengecewakan mentor padahal dia dianggap lebih tau tentang generasi sekarang. Karena orang telah percaya dengan dia, maka tidak ada waktu berpesta sekarang.

"Saya harus memberikan 150% saya setiap saat," jelasnya.

Bagi anak muda seperti dirinya tentang bersenang- senang tidak lepas. Tetapi sekarang baginya menjadi lebih besar merupakan aset. Mimpinya menjadi pengusaha mogul, sukses dalam hal merombak tatanan pengusaha sekarang dan menstabilkan bisnisnya.

Dia bukanlah lulusan Harvard. Namun Finnegan mampu melihat pola pasarnya anak muda. Para milenia lebih melihat perusahaan berbeda. "Apakah itu trendy? Apakah tahan lama?" jelas Finnegan. Berbicara mengenai tip sukses ala pengusaha muda 19 tahun. Maka tiga hal penting dapat kamu pelajari sebagai berikut:

1. Kamu harusnya mengikuti arus

Dia pindah ke New York dan merasa dikalahkan. Orang berhasil mengejar pengalamannya dulu. Karena dia waktu disana cuma berbicara tidak melakukan. Dan Finnegan menyadari bahwa jika kamu mau menjadi pengusaha besar, kamu membutuhkan penyaluran.

"Saya mau mangatakan bahwa hal paling penting ialah menyalurkan," paparnya.

2. Bicara kurang, mendengar lebih banyak

Menjadi pengusaha berarti berbicara. Tetapi meski kamu butuh menyalurkan lebih banyak, akan ada waktu lebih banyak buat kamu berbicara kurang dan mendengar. Tidak membicarakan semua progres kamu di sosial media lebih penting. Karena itu semua ucapan kamu ke publik, maka kamu tidak akan jadi spesial.

3. Selalu bekerja keras

Kita memiliki akses keluar lebih banyak ketika kita tidak ada internet dulu. Sekarang keluar lah dan kejar mimpi kamu. Yang mana penulis isyaratkan bahwa terkadang internet berarti membuang waktu. Perhatikan apa yang kamu lakukan dan dunia nyata lebih baik.

Nama Ratu Yuliana Pengusaha Aksesoris Selalu Optimis

Profil Pengusaha Ratu Yuliana Amaliyah 



Perjalanan hidup membawa mu ke banyak arah. Mungkin kini hidup kamu tengah diuji dengan kekurangan. Tapi jangan biarkan masalah membuat kamu terpuruk. Sebuah pesan singkat yang penulis tangkap dari kisah seorang Ratu Yuliana Amaliyah. Dulu dia bekerja sebagai waitress tetapi suka membeli banyak aksesoris.

Sampai aksesoris rusak diperbaiki sendiri. Kalau jaitan putus, Ratu perbaiki sendiri dengan tangan terampil itu. Wanita memang memiliki kelebihan dengan benda- benda kecil. Karena saking seringnya membeli aneka aksesoris, memperbaiki sendiri, dia dikenal oleh teman- teman, keluarga, dan rejeki kumpul dari sana.

"...akhirnya aku jual ke teman- teman dan berlanjut jualan hingga kini," ceritanya kepada pewarta.

Bersamaan Ratu berbisnis sambil bekerjalah dia. Usaha sampingan tersebut ternyata lebih menarik. Alhasil wanita asal Banten ini mengambil keputusan buat serius. Bisnis yang lantas diberinya nama Rumah Ratu. Ia mampu tidak cuma menjual tetapi membuat aksesoris dan memperbaiki kembali (daur ulang).

Bisnis kreasi


Dari koleksi aksesoris lantas dikombinasi jadi satu. Prospek bisnis aksesoris dianggap oleh Ratu memiliki prospek bagus. Banyak teman dan keluarga memesan aksesoris. Cuma bermodal Rp.250 ribu sudah dapat menjadi bisnis lumayan. Berangsur waktu bisnis miliknya berkembang sejalan kreatifitas Ratu.

Keluar dari bekerja menjadi waitress, bisnis Ratu sampai sekarang mampu menghasilkan 100 kalung lebih. Ia dibantu karyawan serta keluarga. Awalnya dia bekerja sendirian. Kemudian ada pacar membantu dia dan ada keluarga mulai membuat aneka aksesoris wanita. Total ada 12 karyawan yang semuanya paruh waktu.

Bermula di tahun 2010 uang segitu dipakai membali bahan baku dan peralatan di Pasar Jatinegara, Pasar Mangga Dua, dan Pasar Tanah Abang. Aksesori buatan Ratu ternyata mendapatkan respon positif. Sukses membuat dia mampu membuka toko Rumah Ratu di Blok M. Produksi aksesoris sudah mencapai 250 per- hari.

Tidak salah jika berbicara tentang Ratu Yuliana berarti aksesoris wanita. Bahkan nih Ratu dikenal menjadi sosok dibalik beberapa artikel DIY di majalah Vemale.com

Berbisnis menjadi pengusaha ternyata lebih menjanjikan. Dia mengaku semua kebutuhan tercukupi dari cara berwirausaha. Sebagai tulang punggung keluarga dirinya bangga. Di jalan sukses, maka tidak mengejutkan, kalau Ratu sudah mampu membeli mobil sendiri.

Pasar wanita memang sangat luas. Agar tetap berhatan ditengah persaingan ketat. Maka Ratu selalu bersiap membuat desain baru setiap bulan. Satu model untuk satu desain. Ia menawarkan produk dengan pesanan khusus -customized sesuai permintaan juga bisa. Produk handmade -nya menjadi produk tidak pasaran di jalan.

Produknya tidak cuma kalung, ada cincin, dan gelang. Produk buatan Ratu juga terjangkau semua kalangan. Ia mulai menawarkan dari Rp.25 ribu sampai Rp.75 ribu untuk kalung, gelang seharga Rp.15 ribu sampai Rp.55 ribu, dan untuk cincin seharga Rp.15 ribu per- item.

Tumbuh bisnisnya kini sudah mampu berproduksi mencapai 800 sampai 1.000 pcs. Aksesoris buatannya selalu memiliki model variasi baru. Ketika masuk Lebaran dan Natal, permintaan bisa naik melebih rata- rata biasanya sampai 100%. Omzet per- bulan menurutnya antara Rp60 jutaan dengan margin untung sampai 50%.

Strategi jitu pemasaran melalui sosial media. Dari pemasaran mulut ke mulut sampai online lewat Facebook, Twitter, Instagram. Pemasaran juga sudah tidak cuma mencapai sekala lokal, nasional, tetapi sampai manca negara. Agar menaikan pendapatan ia menggunakan bantuan reseller, dimana ada diskon Rp.10 ribu per- pcs.

Rumah Ratu sudah punya reseller di Jakarta, Bandung, Bogor, Aceh, Lampung, Balikpapan, dan Padang. Ia juga punya reseller dari Malaysia, Kanada, Swedia, sampai Asutralia. Kendala menurut Ratu adalah soal tenaga kerja. Butuh orang tepat buat memegang pembuatan aksesoris. Butuh kriteria khusus diminta oleh nya sendiri.

Untuk masalah harga dibanding aksesoris lain Rumah Ratu bersaing. Apalagi model ditawarkan tidaklah monoton. Untuk meningkatkan brand awareness, Ratu juga getol mengikuti aneka bazar, tujuannya agar ia bisa bertemu dengan orang- orang berbeda. Agar mampu menyerap pengetahuan dari sesama pengusaha disana.

Tips sukses ala Ratu maka tetap konsisten. Bertahan dengan apa kecintaan kamu, dan jadikan itu bisnis yang menjanjikan. Usahakan tetap tenang ketika menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan. Sukses Ratu dalam bisnis aksesoris wanita termasuk penggabungan unsur etnik, corak warna, serta kualitas dengan harga pas.

Biografi David Si Tukang Permak Jean JJH

Pengusaha Muda Muh. David Octavian



Menjadi muda jangan cuma foya- foya. Mulailah berbisnis mungkin dari hal paling sederhana. Ini kisah David atau nama panjanganya Muhammad David Octavian. Pengusaha muda dibidang permak jean. Usaha yang dinamainya Jakarta Jean House (JJH), merupakan salah satu usaha permak jean premiusm di Indonesia.

Sejak kecil rajin menabung memang untung. Itulah kunci sukses David. Dimana ia bermodal uang tabungan sejak dulu kala. Memiliki langganan kelas atas dimana menghasilkan Rp.35 juta setiap bulan. Memang sajak duduk di bangku sekolah dasar sudah terlihat jiwa wirausahanya.

Pemuda Betawi ini membiasakan diri menyimpan uang ketika itu. Putra dari pasangan Wawan Wahyudi dan Kokoh Rukoyoh ini, menyasar jean khusus milik brand ternama dunia. Bukanlah perkara mudah loh. Karena bisa- bisa nanti apa bedanya dengan permak biasa? Perjuangan dimulai ketika ia berjualan gelang rajutan.

Kemudian David pernah berjualan jaket sampai melayani jasa percetakan buku. Di masa sekolah menengah lah merupakan masa tersulit. Dimana dia menyadari pentingnya kesuksesan. Ia waktu itu merasakan minder ketika temannya berkecukupan. Bayangkan masa itu teman- temannya asik nongkrong minta uang mama.

"...pergaulan dengan teman- teman yang cukup tinggi taraf ekonominya. Kadang- kada saya ingin seperti apa teman- teman saya, ingin minta uang sama mama untuk jajan dan nongkrong bareng teman- teman," kenang David.

Tetapi dia menyadari bahwa harus bekerja keras. Hanya semakin bekerja keras, David menyadari bahwa meminta uang ke orang tua tidak baik. Makanya dia malah semakin asik berbisnis sendiri. Hasratnya lebih ke passion berwirausaha dibanding mencari uang buat bersenang- senang.

Maka dia bertahan tetap berbisnis membuat brosur, panflet, poster atau sepanduk. Bisnisnya menyasar acara yang diselenggarakan oleh sekolah.

Tidak mau kuliah


"Saya mulai belajar berbisnis sejak masih duduk di bangku SD," tutur David.

Dia tidak mau membebani orang tua. Sudah dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. David kecil yang mendapatkan uang saku Rp.700. Uang tersebut dianggap tidak mencukupi bagi kelas lima. Naik angkot pun butuh uang Rp.200. Dibanding teman- temannya yang punya uang saku Rp.1.200 setiap hari.

Ia tidak mau merengek. Maka mencari akal melalui barang bekas sekitar. David kecil mulailah menjual aneka barang bekas. Kebetulah nih, sang ayah, yang juga montir banyak mengepul barang- barang sisa mesin. Seperti kabel diutak- atik menjadi ornamen manik- manik.

"Itulah bisnis pertama saya, berjualan gelang di kelas," kenangnya. Maka gelang tersebut dijual Rp.200- 250 setiap gelang. Pertama kali mencoba ternyata langsung laku. Sejak saat itu, bisnisnya ekspansif sampai nanti ke sekolah dasar lain, disekitar Ciputat.

Untuk pemasaran kemudian diserahkan ke teman di SD lain. Ia memberikan bonus khusus bagi penjualan terbanyak. Entah disadari atau tidak David kecil menerapkan strategi bisnis kelas dewasa. Usaha itu ternyata terkenal dikalangan anak seumuran. Usaha gelang tersebut dijalani sampai enam tahun atau sampai kelas 6.

Semakin besar usahanya semakin besar juga. Dia mulai berbisnis garmen lewat almameter sekolah. Ia juga pernah menjadi tenaga pemasaran produk jam dan kacamata lewat online. Pengalaman didukung naluri alami sampai kesuksesan bisnis permak jean. David memiliki segudang pengalamana untuk membidik kesempatan.

Dia tidak berpikir akan kuliah. Selepas masa SMA, ia tidak mau menambah beban orang tua dan memilih berwirausaha. Namun, keinginan orang tua tidak terbendung, mereka ingin anaknya sampai ke jenjang yang tertinggi yaitu universitas. Demi memenuhi permintaan tersebua maka David mengiyakan maju kuliah.

Ayah David adalah seorang pekerja bengkel mobil, sementara sang ibu bekerja sebagai penjaga toko. Ibu David sangat menginginkan anaknya menjadi sarjana. Sebagai anak berbakti, David melihat jelas dimatanya tidak ada hal paling membanggakan selain gelar sarjana. Ibu David rela bekerja lebih keras agar dirinya bisa kuliah.

Akhirnya David berkuliah disalah satu universitas swasta mengambil jurusan IT. Ketika masuk semester 2, ia menyadari bahwa biaya kuliah merupakan hasil jualan gelang sang ibu. Buat membiayai kuliah ibunya rela menjual barang berharga turun- menurun. Maka semenjak itupula lah, David memutuskan harus lebih bekerja keras.

Bisnis cerdas


Menyadari ibunya berkorban banyak. Sejak berkuliah, dia mulai berpikir bekerja dan menambah uang saku sendiri. Mulailah dia menggunakan uang tabungan sejak kecil. Uang tersebut lantas dijadikannya pakaian yang dijual kepada teman- temannya. Total Rp.3 jutaan dibelikan pakaian pria maupun wanita ke Mangga Dua.

Setiap harinya harus bangun pukul 5 pagi. Dia naik busway ke Mangga Dua, membeli pakaian pria maupun wanita. Pemuda kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1989 ini, maka saban hari mententang dua tas penuh berisi pakaian siap jual. Seorang pedagang yang akhirnya menemukan titik jenuh. David ingin jadi entrepreneur sejati.

Dia ingin punya tempat bisnis sendiri. Ingin membantu orang banyak, membuka lapangan pekerjaan, punya karyawan sendiri. Disaat itu, tahun Oktober 2009, ketika usianya 20 tahun mengalirlah masuk serbuah aneka brand jean asing; Lee, Levis, Tsubi, LeeCoper, Imperial, Ksubi, Cheap Monday, Truly Legend, April 77, Iron Heart.dll.

Banyak brand jean masuk tetapi sedikit permak jean. Meskipun banyak di jalanan tidak banyak yang khusus menangani brand khusus asing. Inilah pasar disasar oleh David ketika ingin punya usaha sendiri. Menyasar jean ukuran besar karena tidak sesuai badan orang Indonesia.

Selama itu sebenarnya banyak permak jean tersebar. Hanya, kebanyakan pemilik brand jean mahal itu tidak mau sembarangan mempermak jeannya. Sayang kan mahal- mahal ktalau hasilnya ternyata tidak memuaskan. Oleh karena itulah lahir Jakarta Jean House, menjawab kegundahan pemilik jean mahal impor tersebut.

Diibaratkan David bahwa jean mahal seperti mobil mewah. Kalau sampai pemilik salah mengganti oil maka akan berabe. Alumni Universitas Bina Nusantara tersebut akan meyakinkan hati pelanggan. Maka dia belajar keras soal jean impor mahal tersebut. Dia juga mendatangkan mesin chainstitch khusus jean dari Jepang.

Bayangkan jean berbagai merek tersebut harganya sampai Rp.3 juta- Rp.6 juta per- potong. Berkat niat tulus memperdalam pengetahun tentang jean itulah; David dipercaya pelanggan mampu. Hingga dia menggaet pelanggan dari pejabat, selebriti, mahasiswa, pengusaha, dan profesi lainnya.

Dia menggaet bahkan keluarga Cendana. Beberapa pemain bola nasional juga menjadi pelanggannya. Sudah dua tahun lebih berjalan, David telah memiliki dua gerai besar di mall terkemuka Jakarta. Pelanggan juga rela datang dari Yogyakarta, Medan, Pekanbaru, sampai luar negeri yaitu Singapura dan Australia.

Pelanggan datang langsung atau mengirim lewat ekspedisi. Permak ala Jakarta Jean House (JJH) mencapai Rp.15.000- Rp.120.000. Sehari pihaknya mampu mereperasi 50 jean impor. Bisnis ini juga telah merambah jin impor kustom Rp.538.000- Rp.688.000 per- potong. Kalau jasa baru ini David menerima tujuh pesanan sehari.

Anak montir


Otak bisnis pakaian sudah sejak kuliah. Dia menjual lewat memotret baju- baju di Pasar Tanah Abang. Tiap pagi rela mengantri membeli baju. Ke kampus maka kanan- kiri menenteng tumpukan baju. Bahkan sempat dia akan diskor lantaran berjualan. "Pak, bapak tahu enggak kenapa saya jualan? Untuk bayar kuliah," ujar David.

Dia lantas menambahi kalau dia tidak jualan maka tidak kuliah. Tidak kuliah berarti tidak membayar gaji para dosen. "Kalau saya tidak kuliah, bapak tidak bisa gajian karena gaji bapak berasal dari duit mahasiswa," ujar David menirukan.

Tren nudie jean memang tengah digandrungi. Selain karena brand tetapi juga karena mahal. Ini kesempatan tidak dibuang sia- sia. Kalau ayah David membuka bengkel otomotif, maka putranya membuka bengkel buat jean. Waktu itu ia sempat disepelekan teman- teman. Mereka masih asing menganggap kecil tukang permak jean.

Agar tidak disepelekan uang Rp.15 juta dikeluarkan sisa Rp.300 ribu. Uang hasil jualan pakaian selama berkuliah diputar kembali jadi bisnis. Memang permak jean dimana- mana tetapi bukan khusus jean mahal. Maka termasuk memberikan solusi menjaga kualitas jean.

JJH dibuka di Cipete berukuran 1,3 meter, membeli mesin, dan renovasi. Mesin permak impor dari Jepang tersebut menghasilkan jaitan berantai. Yang menghasilkan roping effect khas jean impor. Dia menyebutkan keasilian jean akan terjaga.

Ini membuat JJH menjadi permak jean terbaik se- Indonesia bahkan Asia. Enam bulan pertama perjalanan bisnis mampu membelik orang tua mobil.

"Saya cari tau masalah jean. Ketika dipotong ternyata tidak sembarangan dipotong," tuturnya. Omzet dapat dikantongi sampai Rp.35 jutaan. Berbeka keyakinan saja maka bisnis sepele mampu mendapatkan nilai jual lebih.

Strategi marketing terbaik tidak spesifik sih. Dia memanfaatkan sosial media, mulai dari Twitter, Facebook, Instagram, BBM, dan lainnya. Tidak ada terori khusus, seperti dana cadangan agar selama 3 bulan kemudian ada backup. Itulah David cuma bergerak berdasarkan insting akan sukses. Semua tinggal dijalankan sambil jalan.

Membidik Bisnis Fasion Wanita Lewat Rasa

Profil Pengusaha Edryan Kampua 


 
Prospek bisnis fasion selalu menjanjikan. Selain kuliner mungkin ini menjadi sumber utama. Buat kamu para pengusaha pemula jangan lewatkan. Begitu kira Edryan Kampua, atau lebih dikenal Ncek Gau yang sukses mencoba peruntunga di bisnis fasion. Pria nyentrik 32 tahun ini mencoba mengaplikasikan selera berbusana.

Dia menjual seleranya kepada khalayak ramai. Hasilnya ternyata mengejutkan karena taste -nya menggugah selera. Fokus dalam mengambil pangsar pasar sangat dianjurkan Edryan. Berkat itu sekarang uang mengalir layaknya sumur memberikan kehidupan. 

"Alhamdulillah hasilnya dari bisnis ini. Istilahnya sekarang sudah punya sumur alternatif lah buat mandi," tutur Edryan.

Awal memulai tahu 2013, pria yang hobi memakai topi ini, memulai karena inspirasi teman sejawat. Melihat kenyataan mereka banyak mengeluarkan uang. Tapi dalam berpakaian mereka sangat biasa tidak memiliki taste. Inilah doronganya mendandani mereka lewat bisnis fasion. Mantan wartawan tabloid remaja ini punya khan.

Pria kelahiran Jakarta, 22 Oktober 1979, yang tidak memiliki latar belakang pendidikan fasion. Tidak lah menyurutkan semangat bapak dua anak ini. Malah dia semakin bersemangat mencari tau secara otodidak. Ia mengikuti tren tanpa membatasi diri. Menjadi orang hobi berdandan memberikan kelebihan soal selera.

Akhirnya dia mencoba menjalankan bisnis fasion tersebut -yang kemudian dinamai Lusky Waer- dimana sudah terlihat manis untungnya.

Coba coba berbisnis


Ia sebenarnya mengadu peruntungan di bidang fasion. Menurut Wartakota, menyebutkan biaya dikeluarkan olehnya cuma Rp.5 juta, dimana rincian Rp.2,5 juta dibelikan bahan Pasar Kain Cipadu, Tangerang, dimana sisa uangnya dijadikan ongkos jahit serta pembelian perlengkapan lain.

Lewat bahan tersebut jadilah beberapa produk, seperti t- shirt, sweater, rok, cardigan, ataupun pakaian luar. Nama Lusky Wear sendiri berasal dari dua nama anaknya, Luna dan Skyka, Ncek begitu orang memanggil namanya, memulai berbisnis fasion.

Debut pertamanya ya di acara bernama Jakarta Clothing Expo atau Jackcloth. Sebuah langkah jitu dalam memperkenalkan produk seketika. Mengikuti acara seperti ini memang baik bagi pengusaha pemula. Barang disini tidak cuma produk baru tetapi juga brand ternama -makanya pasti banyak diminti oleh masyarakat.

Pertama mengikuti acara tersebut respon langsung positif. Soal pasar ditargetkan awal, jujur Ncek fokus ke pasar wanita, alasannya wanita doyan berbelanja pakaian. Disisi lain adalah acara Jackcloth sebenarnya lebih condong ke acara pria. Pasalnya lebih banyak distro dibanding produk pakaian wanita.

"Responnya bagus dan sampai sekarang jadi lebih membidik pasar cewek," celetuknya. Ditanya soal omzet, mengikuti acara seperti ini mampu mendongkrat omzet sampai Rp.100 juta.

Jika dihitung acara seperti Jackcloth rutin dijalankan satu tahunan. Dalam setahun bahkan mencapai tiga kali acara. "Jadi lumayan hasilnya," tuturnya. Apalagi kalau ditambah penjualan offline dan online. Melalui acara Jackcloth saja sudah ratusan juta.

Tambahan acara Jackcloth bersifat conyasi. Jadi dia menitipkan barang, tentu resikonya kalau tidak laku ia tidak mendapatkan apa- apa. Untuk penjualan offline tersebar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, dan juga Bekasi, Jawa Barat.

Meski sederhana dia mempekerjakan 5 orang karyawan. Produknya juga mulai bervariasi bahkan meliputi tanktop, long vest, celana panjang wanita, celana pendek, rok, pasmin dan bahkan aneka aksesoris wanita seperti kalung. Produk andalan Encek ialah pakaian luar dan aneka aksesoris buatan tangan.

Produk tertentu juga dibuat limited edition cuma pas acara saja. Nah, kalau sudah begitu, pembeli tidak akan menemukannya di toko online miliknya. Cara tersebut terbukti ampuh menaikan penjualan seketika. Harga perbuah dibandrol murah yakni Rp.35.000 sampai Rp.250.000.