Pemilik Bika Ambon Zulaikha Rasanya Enak Halal

Profil Pengusaha Hajjah Mariani


 
Sudah 20 tahun lamanya, di Jalan Mojopahit, Medan Sumatra Utara, menjadi sentranya jajanan khas yang bernama bika ambon. Namun tau kah kamu ada bikan Ambon spesial. Baru berjualan lima tahun saja nama Bika Ambon Zulaikha melejit menjadi salah satu yang terpopuler. Lima tahun sudah pengusah paruh baya ini berjualan.

Kue bika Ambon Zulaikha terkenal seantero Sumatra. Bahkan namanya merambah sampai ke pasar negara tetangga. Alkisah pengusaha pemiliknya adalah mantan apoteker. Hajjah Mariani mantan asisten apoteker salah satu perusahaan farmasi nasional. Sudah 35 tahun kenapa dia tidak berhenti dan membuka usaha saja.

Berawal dari toko kue biasa bernama Zulaikha, nama putri pertamanya dan satu- satunya. Nama anak itu adalah Ira Zulaikha Ray. Sejak 2003 usahanya berkembang fokus berbisnis kue bernama ATI atau Acay atau sekarang namanya bika ambon. 

"Tapi sekarang yang favorit adalah Zulaikha, milik Hajjah Mariana," tutur seorang.

Menurut sejarahnya memang makanan ini aslinya buatan orang China di Medan. Berkat cita rasanya makan nama kue ini menjadi khasnya Medan.

Bisnis pasaran


Memulai bisnis bika Ambon bukan perkara mudah bagi Mariani. Wanita berkerudung ini menyebutkan hal istimewa tentang bikanya ada di rasa. Tidak terpikir sama sekali dirinya akan menjadi wirausaha. Hanya ia merasa butuh melakukan sesuatu ketika pensiun. Selepas bekerja 35 tahun, Mariana memilih berjualan bika Ambon.

Dalam kurun waktu enam tahun namanya sudah dikenal. Ia mampu menyaingi usaha bika Ambon lainnya yang sudah eksis duluan. Kiat sukses Mariani menurutnya terletak pada kemampuan menebak pasar. Dia mampu menyuguhkan bika Ambon dengan tujuh varian rasa.

Selain bika Ambon, makanan seperti bolu gulung, brownis, manisan jambu, sirup markisa, dimana resepnya bikinan keluarga sendiri. Bahan alami menjadi andalan Mariana, meski akhirnya cuma bertahan 3 harian saja.

Nastar juga menjadi andalan Mariana. Dulu sih pengusaha bika Ambon kebanyakan warga Tionghoa. Dia menambahkan mungkin lantara itu pulalah bikanya menjadi terkenal. Karena memiliki gelar haji tentu bika dibuatnya menjadi lebih menarik oleh masyarakat Indonesia mayoritas muslim.

Selain itu kualitas bika bikinan Mariani terjaga. Dia juga mengambangkan aneka rasa. Seperti bika Ambon warna hijau berbau pandan. Istri Bapak Ismeth Fuad Rangkuty Al- Haj ini memiliki tujuh varian rasa yakni ada bika biasa, pandan, pisang ambon, durian keju, dan pandan keju.

Guna mendukung usahanya Mariani melengkapi usahanya dengan sertifikasi halal. Mariana mengaku mampu menghabiskan 200 liter gula nira. Dalam sehari bika Ambonnya mampu terjual sampai 500 kotak. Bahkan sampai 1.000 kotak ketika musim liburan. Harganya dari Rp.35.000 sampai Rp.65.000, menjadi 15 iris atau 40 iris.

Membuat aneka varian rasa baru hukumnya wajib. Selain itu dia memberikan kemasan menarik dengan warna dan kualitas bahan. Bika Ambon miliknya memiliki varian rasa yang berbeda dibandingkan bika sebelumnya.

Ada cara unik setiap pembelian bika Ambon. Pembeli tinggal ambil bika kemudian membayar ke kasirnya ketika akan keluar. Konsepnya seperti minimarket khusus jajanan. Akan ada kasir siap sedia menerima pembayaran dari wisatawan. Nama bika Ambon memang sudah dikenal dan bika miliknya menjadi salah satunya.

Bisnis pensiunan


Dia hanya ingin bagaimana tidak menganggur. Ingin tetap bermanfaat dimasa tua mendatang. Maka ketika ia pensiun membuat kue menjadi pilihan. Dari kegemaran ternyata respon masyarakat sangat mengejutkan Dia mengaku sepanjang berbisnis jarang sekali merugi.

"Saya sudah biasa bekerja dan ingin waktu saya bermanfaat. Jadi saya tidak mau jadi pengangguran," tutur dia.

Motivasi lain ternyata adalah perasaan miris. Ketika Hari Raya, ia melihat banyak orang muslim berjuble buat mengantri membeli bika Ambon di tempat non- muslim. Dia ingin memberikan rasa nyaman bagi mereka. Jadi lelah mengantri terbayar dengan kenyamanan hati.
'
Sebelum membuka usaha bika Ambon. Mariani lebih dahulu belajar aneka membua kue. Salah satunya ya cara membuat bika Ambon. Bermodal Rp.10 juta dia mencoba peruntungan menjadi pelopor. Menjadi pengusaha bika Ambon muslim pertama. Marketing awal dijajakan ke teman- teman sewaktu dia bekerja dulu.

Ternyata kuenya disukai temannya. Kepercayaan diri Mariani meningkat dan mulai mencari celah. Dalam ketatnya persaingan bika Ambon, memberikan selain rasa nyaman juga inovasi. Alhasil ya dia kebanjiran orderan meski baru buka beberapa tahun saja.

Ketika Hari Raya usahanya akan dipadati pengunjung. Bahkan menurut penuturannya sudah seperti antrian sembako. Memang rasanya tidak meragukan. Itulah kenapa pernah satu kompi tentara datang pukul 01.00 pagi. Mereka datang cuma buat memborong bika Ambon buatannya.

Masuk tahun 2005, usahanya sudah memiliki dua gerai, dimana gerai keduanya dijalankan oleh anakanya, yaitu Ika Zulaikha dan suaminya.

Mulai dari nol


Dia bermodal uang Rp.10 juta. Usahanya berjalan statis tarus naik. Bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah dia merugi. Karena itulah banyak bank menawari pinjaman. Mariani mengaku tidak tertarik menarik pinjaman. "Saya mau berdiri di atas kaki saya sendiri," pungkasnya.

Dia tidak pernah menyangka usahanya akan besar. Memang rezeki sudah diatur oleh Tuhan. Meski banyak orang akan memilih ekspansi ke luar kota. Mariani memilih membuka gerai tetap di Medan. Alasannya itu simple karena bika Ambon miliknya merupakan khas Medan.

Mariani yang sadar telah diberikan rejeki berlimpah. Dia tidak pernah lupa berbagi. Dia selalu membayar zakat dan sedekah. Ia rajin menyumbang ke masjid dan kegiatan dakwah. Jika ada karyawan bujang maka akan diberika tempat tinggal dan mendapatkan pembinaan.

Hajjah Mariani juga menjalin kerja sama dengan tukang becak. Jika ada tukang becak mempromosikan tempat usahanya akan diberi hadiah: Kue bikan gratis. Terkadang tukang becak pengantar para pembeli juga dapat air minum gratis. Untuk mendukung usahanya sudah bersertifikasi Halal LPPOM MUI.

Usaha yang dijalankan sejak 6 Agustus 2003 ini tidak pernah sepi. Berawal menjual 8 boks lalu naik sampai 500 boks. Awalnya cuma fokus menyasar waktu lebaran. Ketika awal di buka, tempatnya hanya menjadi penampungan yang tidak kebagian antrian di toko lain. Berkat kualitas pengunjung dadakan malah datang lagi.

Lambat laun namanya malah lebih dikenal dibanding toko lain. Rupanya rasanya lebih cocok buat orang kita sendiri. Kini usahanya sudah mempekerjakan 50 orang karyawan. "Omzet agak rahasia," tutur Zulaikha, putri bontot empat bersaudara Hajjah Mariani.

Usahanya bukan main- main. Setiap bika dibuat dengan kurun waktu dua jam. Bahan niranya memakai nira divermentasi selama semalam. Kalau bika dibuat sore maka dijualnya besok sore. Bika bikinan mereka ini hampir setiap hari ludes dan tutup pukul 21.00. Saat Idul Fitri nanti penjualan naik 2 sampai 5 kali lipatan.

Selain bika Ambon yang best seller yaitu lapis legit. Penjualan mencapai 500 boks terjual. Selain menjual di toko juga menjual di online inilah kelebihan bika Ambon Zulaikha.

7 Tips Menggapai Mimpi Pengusaha

Artikel Bisnis Mimpi Pengusaha 



Apapun mungkin terjadi, jika kamu tetap mendorong diri mu jauh, menjauhi zona nyaman kamu sekarang ini. Inilah saran dari seorang atlit beralih profesi pengusaha. Dia adalah Lewis Howes memberikan saran juga pelajaran hidup bagaimana mencapai kesuksesan.

Beginilah bagaimana Lewis menemukan kesuksesan dalam dirinya.

1. Kamu tidak bisa bermain aman.

Ketika dia mencoba berbisnis baru. Dia harus mengorbankan bisnis sebelumnya. Menjual perusahaan yang sudah lama dia dirikan bukanlah mudah. Sebuah pengorbanan besar dilakukan Lewis. 

"Itu mampu membawa ku ke arah berbeda dengan brand pribadiku. Saya mampu merubah itu menjadi sesuatu yang saya minati. Saya tidak pernah melihat ke belakang," paparnya.

2. Menjadi entrepreneur memiliki fokus atlit

Dia sukses menjadi atlet. Bahkan ketika dia jatuh bangkit menjadi atlit kembali. Meskipun menjadi atlit sudah lagi bukan fokusnya, siapa sangka Lewis masih "berolahraga". Ya melalui entrepreneurship dia mampu jadi sosok pengusaha tangguh. Fokus Lewis sangatlah baik apalagi soal mengolah tangan.

Hal lainnya adalah fokus ke tujuan, menghempaskan gangguan, dan bertahan dengan rasa sakit. Melalu ini ia memiliki perbedaan ketika menjalankan bisnisnya.

Fokus saja tidaklah cukup loh. Menurutnya fokus membutuhkan kejelasan. Butuh tekat agar mencapai satu hal. Contohnya ketika kamu fokus menghasilkan untung lebih maka untung lah. "Tetapi jika kamu fokus ke kesendirian, maka sendirilah kamu."

3. Jagalah pikiran dan tubuh

Mencapai tujuan berarti tekun bekerja. Tetapi kamu tidak boleh lupa tubuh mu. Tetaplah kamu menjaga apa tubuh kamu. Lakukan lah seperti olah raga dan tidur baik, "itu sangat penting untuk menjaga pikiran kamu tetap tajam dan fokus."

Pikiran dan tubuh memiliki koneksi kuat. Jika kamu tidak sempat merawat tubuh maka sekarang perlakukan dia penuh hormat. Kamu tidak akan mencapai potensi tertinggi. Jika tidak menjaga tubuh walaupun kamu memiliki mental kuat tidak akan berhasil. Lewis belajar banyak tentang hal bisnis, hubungan, disalurkan lewat fitnes.

Lewis bermain handball dan basket. Dia melakukan olahraga teratur. Lewis mengatakan menjaga tubuhnya tetap fit apapun dia tengah kerjakan.

4. Percayalah akan kehebatan

Tidak jarang orang merasa depresi kemudian berhenti mengejar mimpi. Jika kamu ingat bagaimana proses sampai kamu punya mimpi. Ketika itu kamu melihat tumbuh kembang mu. Dan disanalah keberanian untuk bermimpi sudah merupakan kehebatan.

"Setiap orang memilik kehebatan dalam diri, sebuah tujuan hidup, dan satu cara unik talenta untuk disalurkan nanti," ujarnya.

Dunia dipercayanya akan berubah lebih baik. Jika saja, orang mau mengembangkan kemampuannya, dan mau mencari tema untuk pengabdian.

5. Dapatkan pencerahan

Mungkin akan mudah masuk kedalam perasaan bersaing. Menjadi begitu terkungkung dalam kehidupan yang menutupi siapa kamu. Kamu harus benar memiliki kerjenihan melihat apa kamu sebenarnya inginkan. Jika kamu tidak mengetahui tujuan akhir, maka tidak akan ada jalan kemana kamu pergi.

Itulah kenapa dari 40% sampai 90% pengusaha akan gagal.

"Mungkin ini akan butuh beberapa waktu, tetapi itu esensial untuk mendapatkan kejelasan apa visi kamu ke depan," ujar Lewis lagi. Jika kamu tidak tau kenapa kamu bersemangat mendorong diri. Kamu hanya akan energi terbakar habis atau keluar dari kesempatan.

6. Mulailah dari tempat sebuah keaslian

Mempromosikan sendiri merupakan apa pengusaha butuhkan untuk keluar dari zona dan mencapai tujuan. Ia menambahkan namun harus jujur. Orang akan menyadari siapa berpura- pura. Siapa yang tidak datang dari satu tempat kejujuran.

Mungkin beberapa orang berbeda dengan cara Lewis. Namun inilah tempatnya, sebuah identitas keaslian, dimana dia mempromosikan dirinya sendiri. "...dari sebuah hasrat untuk melayani banyak orang," ia tambah lagi. Niat inilah yang merambat sampai ke tindakan dan ucapan.

7. Biarkan mimpi mengarahkan mu

Dia mengakui banyak meninggalkan mimpinya. Diantaranya terlihat sudah tidak mungkin dapat. Tetapi dia tetap mengejarnya. Dia belajar untuk mengikhlaskan satu mimpi pergi. Bedanya Lewis selalu mengejarnya dan biarkan mimpi menentukan dirinya. Tidak mengejar sama sekali hanya akan menimbulkan penyesalan.

Justru tidak mengejar mimpi akan meninggalkan kebodohan, dan menyadarkan satu kesakitan terbesar ia tidak berkembang. Dia terus mengejar tujuan. Memupuk lebih banyak mimpi lagi. Dan akhirnya dia sudah menemukan mimpi besarnya yaitu membantu banyak orang menemukan mimpinya juga.

Artikel ini ditulis oleh Deep Patel, contributor Entrepreneur.com, penulis buku A Paperboy's Fable: The 11 Principle of Success.

Membuat Gaudi Menjadi Fasion Ikon Dunia

Profil Pengusaha Nathalia Napitupulu dan Janet Dana



Berbisnis bareng sahabat emang asik. Inilah kisah Nathalia Napitupulu dan Janet Dana. Keduanya sepakat buat berbisnis bersama membangun brand fashion. Mereka adalah pemilik brand butik Gaudi sejak 2004. Mulai perencanaan desain, pemilihan bahan, serta melayani pelanggan dimulai dari keduanya sendiri.

Hingga sekarang nama Gaudi sudah terkenal. Bagi penikmat fasion, terutama wanita aktif di Jakarta sudah tidak asing buat nama Gaudi.

Inspirasi internasional


Bukan rahasia fasion asing menjadi inspirasi pengusaha muda ini. Namun tidak disangkal pemahaman mereka mengenai Indonesia lebih baik. Istilahnya semua yang berbau asing belum tentu cocok. Mereka membidik masuk diantara brand lokal dan internasional. Hingga kini mereka sudah memiliki 29 gerai Gaudi tersebar.

Ada celah fasion ketika keduanya memilih berbisnis. Mereka menciptakan keluwesan, gaya stylish, namun harga terjangkau. Dua pengusaha muda ini lantas memberi namanya Gaudi.

Natha sendiri sudah akrab dengan garmen. Ia sempat terjun di bisnis garmen. Melalui usaha dijalankan sang ayah. Nathalia membantunya berjualan pakaian grosir. Ketika produk- produk asing mulai bercokol di pusat perbelanjaan, maka keduanya masih bukanlah siapa- siapa.

Natha dan Janet kemudian meminjam uang ke orang tua. Keduanya sepakat membangun gerai busana. Yang mereka beri nama Gaudi -merujuk nama arsitektur dunia-, yang mana pertama kali ada di Plasa Semanggi, Jakarta, pada 2004 -an. Cuma berdua mengerjakan gerai mereka sendiri semuanya!

Mereka mengincar wanita remaja dan pekerja muda. Dari formal hingga santai dikerjakan Gaudi, dimana dari mendesain baju, memilih bahan, menentukan konveksi, dikerjakan mereka. Tidak cuma itu juga mereka mendekorasi gerai mereka sendiri. Dua kepala bersama ikutan terjun mengurusi semua soal pelayanan pula.

Akhirnya mereka memiliki pegawai sendiri, yakni ada empat orang di bagian produksi dan seorang penjaga gerai. Respon masyarakat terhadap produk Gaudi bagus. Lebih bagus lagi karena Janet membekali pegawai aneka pengetahuan fasion. Tujuannya agar mereka juga menjadi konsultan fasion kepada pelanggan.

Penjualan Gaudi juga mulai bagus. Kemudian Janet dan Nathan sepakat membuka beberapa gerai lagi di Jakarta. Masuk tahun kedua, Gaudi sudah memiliki tempat di tiga pusat perbelanjaan di Jakarta.

"Justru, pemilik mal yang memburu kami," jelas Janet bersemangat. Pengembangan tidak perlu capai mencari tempat. Karena pihak mal sudah mengakui akan kualitas Gaudi.

Tidak perlu repot mencari tempat baru. Memasuki tahun ketiga mereka sudah membayar utang. Hutang dari kedua orang tua terbayar lunas dari bisnis mereka. Bisnis Gaudi berjalan mengalir layaknya sungai. Mereka makin update soal fasion. Tidak cuma remaja, wanita karir, juga termasuk aksesoris, sampai tas sendiri.

Pertembuhan bisnis mereka membawa nama Gaudi mulai merambah kota lain, seperti Medan, Semarang, Denpasar, Palembang, Makassar, dan Balikpapan. Tidak patah semangat meski persaingan berjualan di mal sangat ketat. Setiap kota pilihan mereka memiliki nilai beli baik.

Bisnis update


Harga jualnya antara Rp.88 ribu hingga Rp.250 ribu. Pelanggan juga akan selalu dimanjakan. Keduanya siap menghadirkan 40 item baru setiap bulan. Konsep gerai juga dibuat unik. Gerai didandani menurut tema yang akan dikonsep setiap tiga tahun sekali. Tujuannya agar pelanggan tidak bosan akan kehadiran Gaudi.

Masalah tetap ada meski mereka telah sukses. Suatu ketika mereka pernah memindahkan gerai. Mereka jadi harus mendekor ulang semuanya. Padahal keduanya mengaku tidak pernah telat bayar sewa. Semuanya karena pihal mal tidak mau mendukung. Padahal gerai keduanya selalu ramai didatangi pengunjung selalu.

Walaupun begitu keduanya tetap berusaha. Memastikan bahwa gerai mereka tidak kalah. Dengan brand dari luar negeri yang lebih dahulu bercokol. Natha bercerita bahwa mereka sempat tidak laku. Produknya tidak terjual dan menumpuk ketika awal usaha.

Mereka harus bekerja keras menghabiskan stok. Namun pengalaman tersebut mengajari bagaimana caranya mengatur stok. Kini mereka menyetok buat 26 gerai, berisi 700 item barang setiap produknya. Mereka menggaet konveksi Hong Kong tetapi tidak lupa akan konveksi lokal.

"Sering kali buat warna- warna tertentu belum bisa diproduksi di Indonesia," jelas Natha.

Pengerjaan konveksi Hong Kong juga dikenal rapih. Agar produk tetap berkualitas, sampai sekarang saja Janet memilih bahan sendiri yang dipakai Gaudi. Janet juga ikutan mendesain motif pakaian. Juga termasuk rajin mengganti label pakaian dan tas pembungkus Gaudi.

Mereka mempekerjakan 300 karyawan. Menghasilkan omzet mencapai Rp.50 miliar. Walaupun sudah bisa dibilang sukses. Brand lokal ini masih memiliki ambisi. Mereka ingin menyamakan brand mereka dengan brand luar negeri. Kedua sahabat ini berambisi mengibarkan bendera Gaudi ke kancah internasional.

"Kami mempunyai mimpi seperti Zara," ujar Natha. Target mereka sekarang membuka di Bangkok dan juga Singapura tiga tahun kedepan. Mempelajari bagaimana pasar Singapura yang akan menjadi sasaran pertama. Untuk mendukung mereka juga lahir brand baru yakni Heiress.

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

Biografi Pengusaha Sally Giovanny


 
Hidup memang memilik pilihan. Bagi pengusaha muda pilihan adalah resiko terbesar. Contohnya yaitu wanita cantik bernama Sally Giovanny. Bayangkan sejak umur 18 tahun, Sally sudah dihadapkan pilihan mau usaha sendiri atau berhenti sekolah. Lulus SMA karena biaya Sally sempat galau mau melakukan apa nantinya.

Sally terlahir dari keluarga broken home. Kedua orang tuanya cerai ketika umurnya 6 tahun. Dia tinggal sama ibunya, yang setiap pagi buta pergi ke pasar. Ibu Sally membeli aneka sembako buat dijual kembali. Hidup dia memang penuh keprihatinan. 

Apakah dia mau kuliah atau membuka usaha. Ternyata tidak memilih kuliah sambi bekerja. Sally memilih fokus berusaha buat membantu keluarga. Alasan membiayai adik di bangku sekolah dasar memang kuat. Disisi lain gadis 18 tahun itu sudah memiliki cita- cita menjadi pengusaha mandiri.

Keputusan terbesar ialah ketika dia memilih menikah muda. Tentu kalau satu ini, keluarga sempat protes ya, namun keinginan tersebut dipastikan bukan keinginan sesaat. Dia menikah dengan Ibnu Riyanto, pemuda yang seumuran dia, dan justru karena menikahlah usahanya mampu dirintis sampai sekarang.

Ibnu bukan orang kaya. Bukan pula keturunan orang kaya berwarisan banyak. Banyak orang mencibir tapi mereka tetap menikah. Dari uang amplop bisnis mereka dimulai. Berkah setelah menikah justru dirasa Sally membawa angin segar. Ibnu sendiri sosok bertanggung jawab. Dia juga tidak takut memberi makan Sally.

Bisnis amplop


Awal berbisnis beneran, Sally butuh waktu beradaptasi hingga benar- benar berbisnis batik. Yah Sally adalah pengusaha batik Trusmi yang terkenal itu loh. Diawal dia mengaku bisnis batik bermodal Rp.35 jutaan. Yang mana merupakan hasil sumbangan pernikahannya dulu.

Ia merasa beruntung karena menikahi lelaki hebat. Sosok Ibnu meski 18 tahun, memiliki visi juga dibidang kewirausahaan. Keduanya kemudian berbisnis jualan kain mori. Inilah cikal- bakal bisnis batik Sally dimulai dari menjualkan kain mori kepada pembatik. Langsung dibawanya dari pabrikan kain ke sentra- sentra batik.

Sally menjadi suplier buat pengrajin batik Cirebon. Kain putih tersebut memang dijadikan kain batik. Namun dia menyadari menjadi suplier mori cuma gitu- gitu aja. Dia melihat banyak kain mori tersisa tidak terjual. Ia dan Ibnu lantas mendekati pengrajin batik tersebut.

Keduanya memintakan seorang pengrajin membatikan. Tolong dibuatkan desain di sisa mori jualan mereka. Ia sendiri kemudian menjajakan batik Cirebon tersebut. Melihat peluang di kota Jakarta lebih besar. Sally memutuskan memasarkan batik Cirebon ke Pasar Tanah Abang.

Dia pergi bersama suami ke Jakarta bermodal nekat. Bayangkan agar menghemat akomodasi, keduanya itu sepakat berangkat jam 12 pagi, sampai di Jakarta istirahat di pom bensi ataupun masjid. Ketika pasar buka, bukannya menyewa porter, Sally meminta sang suami mengangkut berkarung batik Cirebon sampai ke atas.

Dia meminta Ibnu sendiri memanggul berkarung batik. Masuk ke Tanah Abang, mereka harus menelan satu kekecewaan; batiknya tidak laku! Alasan penjual disana karena sudah memiliki suplier besar. Bukan seperti mereka yang baru saja berbisnis sendiri. Untuk membalik keadaan mereka membuat desain lebih unik.

Mereka membuat desain berbeda dari umumnya. Bersyukur batik karya Sally akhirnya dibeli meskipun tidak banyak. Ia lantas mengenang perlakuan salah satu penjual di sana, "saya coba dulu ya dan bayarnya pake giro, alias dibayar 3 bulan kemudian." Katanya sih begitulah cara pembayaran diterapkan di Tanah Abang.

Sally pun menego agar dibayar tunai. Namun sebagai catatan harga jual diturunkan Rp.1000 per- kainnya. Ia tidak putus asa malah semakin semangat. Bermodal untung sedikit diputarkan menjadi modal kembali. Dia lantas mengajak suami membuka toko sendiri.

Uang Rp.15 juta dibayarkan buat membuat toko sendiri. Ada dua pilihan membuka toko: Memilih buat toko besar namun masuk ke perkampungan. Atau membuka toko kecil di tempat strategis. Keputusan ini diambil dan kedua dipilih jadilah satu toko kecil di pusatnya keramaian.

Mereka membuka di kawasan sentra jualan batik. Mereka menyulap sebuah rumah di Jalan Trusmi Kulon no. 129 menjadi pusatnya. Sebuah rumah disulap menjadi galeri batik bernama Batik IBR. Wanita kelahiran 25 September 1988 ini, hanya memiliki dua karyawan awalnya, beruntung ketika batik lantas jadi booming besar!

Bisnis Trusmi


Berawal membeli kain mori di pabrik, Sally menjualkan ke pengrajin batik Cirebon. Dia membeli kainnya per- meter. Mana lagi kain mori dibeli Sally itu tipis. Alhasil untung dihasilkan Sally sangat sedikit dan punya resiko besar tidak laku. Membuat batik sendiri menjadi siasat ia mendapatkan untung lebih.

Salain itu, dia dan sang suami merekasakan ketertarikan akan pola batik. Keduanya setuju buat berguru ke seorang pengrajin batik. Mereka menjalin kerja sama mau dibuatkan batik Cirebon. "Saya banyak belajar. Kemudian bermitraan dengan pembuat batik," pungkasnya.

Perbandingan berjualan batik dan kain kafan keliatan. Bayangkan jika dia menjual 36 meter kain polos hanya untung Rp.10.000. Jika pengrajin sudah mengolah maka 2 meter untung Rp.5000. Dia mulai membuat desain batik sendiri. Pertama kali membatik dia membuat batik cap kemudian batik tulis khas Cirebon.

Profesionalitas Sally diuji bukan sekedar untung. Wanita mualaf berjilbab ini tidak mau setengah. Mendalami batik dia memproduksi cap dan batik. Melewati jalan panas, berdebu, keringat bercucuran, Sally mampu masuk ke pasar Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Toko batik dibuka dia dan Ibnu berukuran kecil. Dan "sialnya" mereka membuka didepan toko batik besar. Mereka terbiasa melihat banyak pengunjung datang ke depan. Tidak cuma orang tetapi mobil berjejer di depan toko tersebut. Mereka kalah dari luas toko bahkan jumlah koleksi batiknya.

Bukannya minder Sally malah penasaran, apasih kelebihan mereka?

Kelebihan batik miliknya adalah juga menyasar pasar anak muda. Dan ketika batik booming tidak salah jika usahanya makin diminati. Menurutnya semua karena Cirebon mulai menjadi kota wisata. Nama batik asli dari Cirebon menggema ke seantero Indonesia.

Sukses Sally selain melakukan diferentsiasi, adalah keputusan menggunakan nama Trusmi. Nama daerahnya ini diubah menjadi brand -nya sendiri. Nama Trusmi sendiri juga merupakan kepanjangan "Terus Bersemi". Yang meniru gaya Batik Malioboro, yang mana mengambil nama dimana tempatnya bertempat tinggal.

Mulai batik formal sampai buat santai. Nama Trusmi menjelma menjadi ikon Kota Cirebon. Sayangnya tidak semulus dibayangan ketika mulai naik daun. Dia pernah ditipu justru ketika tengah tenar. "Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya. Baginya setiap orang punya hak berusaha.

"Kita tinggal meningkatkan kualitas," imbuhnya. Sally lebih memilih dikomplain soal harga. Dibanding kalau dia dikomplain soal bahan.

Menjadi mualaf memberikan kesan berbeda. Menurutnya semenjak memakai hijab usahanya makin maju. Ia menyebut mendekatkan diri ke Tuhan merupakan cara. Salah satu cara ketika menghadapi kesulitan. Dia dulu pernah sempat depresi karena ditipu. Hingga dia mendekatkan diri ke Tuhan semua mulai membaik lagi.

Bisnis nol


Untung diraih, malang tidak dapat dihindari kata pepatah. Guna mengembangkan usaha. Dari sekedar punya satu toko menjelma menjadi tiga. Batik Trusmi belum berpuas berbenah. Hingga Sally memutuskan membeli satu pabrik bekas. Tujuannya ya buat memproduksi lebih banyak batik dibanding dulu.

Kebutuhan batik memang meningkat tajam. Masa tahun 2011 merupakan puncak kesadaran. Tidak cuma ia menawarkan ke pengoleksi batik kelas menengah atas. Tetapi mulai memasarkan ke orang menengah bawah yang lebih ke kebutuhan sandang. Mau membeli pabrik bekas, Sally malah ditolah si empunya berkali- kali.

Ia tidak patah semangat. Akhirnya dia membeli pabrik besarta mesin- mesinnya. Modal membeli pabrik itu pun tidak lepas dari pengorbanan besar. Ia menggadaikan rumah orang tua, kendaran pribadi, sampai ke rumah pribadi. Pabrik itu memiliki mitos, sudah banyak usaha gagal disana, mulai ban, kain, sampai mabel.

Sally dan Ibnu tidak peduli. Tekatnya kuat merubah pabrik bekas milik pengusaha Chinese asal Singapura itu. Dia sudah terbiasa menghadapi mitos, candanya. "Usaha itu harus berani melawan mitos. Mitos tahayul, mitos kalau anak broken home dan orang miskin enggak bisa sukses," kata Sally menggebu.

Pernah ditipu membuat usahanya hampir bangkrut. Ia pernah menyalahkan Tuhan. Menurutnya dulu Tuhan itu tidak menghargai usahanya. Pada saat itu, Sally menemukan jawaban, bahwa mereka ternyata kurang dari cukup memberi ke orang banyak. Bekerja sambil beramal moto keduanya kini 70% ibadah dan 30% nya bekerja.

Ibu dua anak tersebut kemudian membuka Yayasan Rizky Berlimpah Berkah. Yayasan tersebut sebagai satu penyaluran baginya atas nikmat Tuhan. Disisi lain dia juga membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Juga membagi ilmunya cuma- cuma, lewat banyak seminar, pengajian, pelatihan, dan pameran usaha.

Usahanya memberikan 850 orang pekerjaan sebagai karyawan. Lebih dari 500 pengrajin batik Cirebon ikut menjadi mitra binaan. Batik Trusmi makin laris dipasaran omzetnya mencapai 100 jutaan. Umurnya masih 26 tahun tetapi visinya masih luas buat membuka usaha. Kini kiosnya mencapai 1,5 hektar menjadi yang terluas di Indonesia.

Puluhan wisata datang mampi membeli batik. Meski cuma lulus SMA, dia memiliki gaji diatas mereka yang berijasah S-1 dan S-2. Ibu dari Faisal Annur dan Nayla Almahira ini tidak berprofit oriented. Maksudnya ia lebih memilih harga dinaikan biar kualitas terjaga. Tidak laku sudah menjadi hal biasa dalam perjalanan Sally.

Namun, siap sih, yang gak kenal nama Batik Trusmi. Nama brand yang sudah merambah ke pasar online juga lewat www.eBatikTrusmi.com

Biografi Restu Anggraini Desainer Hijab Muslim Internasional

Profil Pengusaha Restu Anggraini 


 
Berawal dari sosial media kemudian berlanjut sampai manca negara. Siapa sangka sosok mungil tersebut dulunya hanya seorang EO. Kini, siapa tidak kenal Restu Anggraini. Pengusaha muda kali ini memang mulai dari postingan Facebook. Waktu itu namanya sosial media dan blog happening banget buat anak muda.

Tidak mudah baginya menemukan jati diri. Terutama di bisnis fashion, beruntung dia memulai lebih awal dari pesaingnya berbisnis hijab. Tahun 2010 dia bekerja sebagi event organizer, bagian menawarkan produk jadi sudah pengalaman lah. Kreatifitas dituntut selalu dimiliki Restu sebagai EO, namun siapa sangka arah tujuan berubah.

Dia bersema tiga orang kawan memilih bisnis hijab. Perempuan Jakarta, 18 Maret 1987, memang hobinya segala sesuatu tentang fashion. Dia sering ikutan lomba fashion show dari RT sampai kelurahan. Pernah ia mengikuti lomba desain baju tetapi tidak menang.

Bisnis trendy


Siapa sangka dia yang belum pernah menang lomba desain sukses. Ini karena selama perjalanan dia selalu mengasah keahlian. Disela waktu dia mulai membuat baju kerja kepada rekan kerjanya. Teman kantor mulai merasa Restu memiliki kelebihan. Aliran pesanan mulai meluap membuat optimisme kepada Restu.

Tahun 2010, seperti penulisa tulis diatas, dia memutuskan keluar dari pekerjaan. Dia berharap nanti berbisnis fasion sendiri. Sadar bahwa keahliannya masih kurang Restu tidak buru- buru. Ia mengambil kursus desain dulu di Esmod, Jakarta.

Keputusannya tepat pada 2011 lahirlah brand RA by Restu. Wanita berhijab yang akrab dipanggil Etu ini lalu mulai memasarkan produknya online. "Awalnya itu aku jualan lewat teman- teman terus makin kesini sosial media lagi happening, Facebook, blog, dari situ terus meluas," paparnya kepada Dream.co.id

Bermodal uang Rp3 juta perjalanan Etu dimulai. Mereka mulai mendesain dress, outer, celana, sampai rok. Namun dia cuma membatasi tidak lebih 10 buah masing- masing. Kemudian diunggah ke Facebook lantas mendapatkan respon positif. Sebuah kepuasan bajunya disukai, apalagi desainer baju muslim belum banyak.

Ia sendiri sulit menyatuka tiga kepala. Selera tiga sekawan ini memang beda soal fashion. Beruntung konsep klasik hijab mereka usung disambut baik. Bisnis yang berawal sebagai sambilan ini dijalankan maki bersuka hati. Mereka mulai ikutan bazar di mal. Walau minoritas baju muslim mereka laris manis meski ketat.

Etu semakin yakin menekuni bisnis fashion. Kenekatan Etu didukung kemauan belajar terus. Alhasil sampai ke tahun 2014, dia meluncurkan brand lagi bernama ETU, antusias mengiringi tumbuhnya bisnis hijab yang diprakarsai Restu Anggreini ini.

Bisnis hijab


Memulai berbisnis ketika hijab belum seramai sekarang. Etu menemukan tujuannya dan terus berkembang lagi. Wanita yang berhijab sejak bangku SMP ini, mengakui hijab bukanlah sekedar fasion baginya. Bagi seorang desainer menjadi pembuat baju muslimah merupakan ladang syiar.

Kaedah baju sesuai syari seperti tidak ketat. Serta bagaimana menjadikan ini pakaian sehari- hari. Dia lebih mencontohkan ke dirinya sendiri sebagai wanita karir. Memang susah membuat pakaian kerja muslimah kala dia bekerja dulu. Inspirasi justru datang dari pakaian muslim pria dengan cutting enak, kancing, dan kupnat.

Kan pakaian muslim pria longgar. Namun dipadu padankan dengan warna- warna cerah. Etu mencoba untuk keluar dari kesan hijab monoton. Sayangnya, dalam perjalanan kedua teman Etu tidak dapat melanjutkan perjalanan bersama. Etu tetap mantab melanjutkan berbisnis hijab sendirian dan sampai ke titik tertingginya.

Titik puncaknya mungkin ketika memasuki Jakarta Fashion Week 2015. Namanya sebagai desainer pakaian muslim mulai diakui. Dia juga sempatkan belajar di Pale Art Studio. Berlanjut dia mengikuti program yang bertajuk Indonesia Fashion Forward. Brand ETU sendiri digadang sebagai brand utamanya ke pasar luar negeri.

Etu lantas tampil di ajang bernama Virgin Australia Melbourne Fashion Festival 2016. Namanya didukung segenap lapisan masyarakat dan pemerintahan, seperti dari Perusahaan Gas Negera.

Tidak mudah berbisnis hijab


Dia memulai pusat produksi di Bandung. Begitu permintaan meningkat, dia memindahkan produksinya ke Jakarta. Pengalaman dijiplak sudah menjadi hal biasa. Saking seringnya, maka Etu disarankan buat langsung mendaftarkan hak cipta. Jangan setengah- setengah mengurus ijin usaha kamu dafatarkan merek di Dirjen HAKI.

Agar memperlancarkan usahanya dibidang fasion. Ia mengangkat pegawai asal Malang dan Pekalongan, yang dianggapnya baik soal menjahit. Sekarang sudah gampang karena sudah kenal satu sama lain. Inilah kenapa usaha Etu semakin berkembang karena prinsip kekeluargaan diusung soal perekrutan pegawainya.

Kan enak kalau penjahit satu sama lain sudah kenal. Konsep kasual diangkat Etu melalui brand RA, buat formalnya maka ETU menjadi cakupan. Inti desainnya tidak bertumpuk- tumpuk. Siluet penampilan dibikin minimalis namun sesuai kaidah Islami.

Jika melihat kesuksesan Etu sekarang pasti kedua temannya sayang. Andai saja keduanya memilih melepas pekerja. Andai mereka tidak ikut pindah kantor. Namun, justru ketika seorang Etu "terpaksa", cita rasanya semakin tergali lebih dalam berekspolrasi dibanding ketika dia bekerja bertiga.

Dia juga ikutan Hijabers Community. Nah melalui itulah, dia membukan toko pertama yakni di Muse 101 FX Plaza Sudirman, Jakarta Selatan. Enaknya memiliki toko asli ketimbang toko online: Dia lebih leluasa buat berpromosi dari mulut ke mulut. Juga ada cross costumer dari dua brand bikinannya saling melengkapi.

Konsep hijab diberikan Etu adalah tidak cuma hijaber. Tidak cuma mereka yang sudah berhijab. Tetapi bagi mereka yang mau berhijab sudah dia sediakan. Tidak cuma toko sendiri, ia menyulap halaman belakang rumahnya, menjadi tempat produksi dari penjahitan dan finishing dikerjakan puluhan karyawan.

Fasion masa depan


"Pebisnis itu harus satu tujuan dengan para pegawainya," ungkapnya. Ia tidak memposisikan sebagai atasan mereka. Mereka dianggap Etu menjadi patner kerja. Ibu dua anak ini dibantu sang suami memperbesar lagi pasaran bisnis.Ia selalu meriset market place Indonesia serta trend kekinian.

Bahkan sudah mempunyai rencana bisnis hingga ke 2030 mendatang. Ia tidak mencari uang semata. Tetapi bagaimana mengembangkan masyarakat dalam bidang fasion. Terbukti dia tercatat melakukan kerja sama dengan perusahaan Jepang, mengembangkan produk berbahan daur ulang plastik atau ultra sweet.

Berkat visi go internasional, dia pernah mengikuti Tokyo Fashion Week 2015 dan Mercedez- Benz Fashion Week Tokyo (MBFWT). Seperti dilansir dari gomuslim.co.id dia menampilkan 10 busana dari 12 busana dia siapkan. Tidak cuma berbisnis dia juga fokus merubah fasion itu sendiri secara keseluruhan bukan cuma hijab.

Contohnya ETU bekerja sama dengan Toray Industries asal Jepang. Ia memanfaatkan teknologi mereka buat membuat pakaian muslim. Nama Ultrasuede adalah bahan kulit sintetis yang menyamai kulit asli. Dia sungguh beruntung mendapatkan akses ke teknologi dan event di Jepang waktu itu secara keseluruhan.

Tetapi disayangkan, untuk masalah desain, dia terkendala akan penjiplakan model. Kualitas barang pun aspal karena harganya murah. Awalnya dia sebal tetapi mau bagaimana lagi. Dia menganggap saja bahwa produk bikinannya disukai masyarakat semua. Meski kini sukses mendapatkan dukungan dia sempat jatuh bangun sendirian.

Ia sempat dipandang sebelah mata ketika akan go internasional. Hanya kepercayaan bahwa produk miliknya serta Indonesia pada umumnya layak mendapatkan tempat. Inilah modal Etu tetap berusaha menggapai visi bisnisnya sampai ke luar negeri. Ia menyadari sifat meremehkan justru milik orang Indonesia sendiri.

Alhasil terciptalah pemikiran pesimis dikalangan pengusaha muda sendiri. Etu sendiri memiliki keinginan lebih dari sekedar menciptakan. Dia ingin menggelar fashion show sendiri ke luar negeri. Perasaan ini dibawah jadi dia bisa menghilangkan pesimisme sendiri dan masyarakat terhadap kualitas produk dalam negeri.

Ia menghimbau masyarakat buat percaya kepada karya anak bangsa. Lebih lanjut dia memberikan wejangan buat pengusaha muda seperti kita bahwa potensi bisnis fasion masih luas. Janganlah cepat puas akan hasil, dan beranilah mengambil keputusan mendalami kewirausahaan bukan sekedar want to be entrepreneur.

Menjahitkan Rok di Instagram Chandra Annisa

Profil Pengusaha Chandra Annisa 


 
Sukses jualan rok Chandra Annisa bukan biasa. Karena pengusaha muda satu ini menciptakan rok custom. Usaha ber- brand HDCK ini mampu merebut perhatian masyarakat. Padahal tuturnya bahwa usaha ini mulai dengan bermodal minimalis. Yaknilah apapun selama kamu bekerja keras meski modal minim tidak masalah.

Dia berkisah bermodal Rp.35 ribu. Awal Annisa merasa berjualan rok punya prospektif. Lebih- lebih bisa membuat rok sendiri. Kelihatan mudah dan bahannya sederhana. Sejak 2014, dia lantas menawarkan bisnis berkonsep rok custom, yang mana rok dipesan sesuai keinginan, dari ukuran, bahan, dan modelnya.

Bukankah strategi tersebut bukan hal baru. Kebanyakan wanita pasti sudah terbiasa menjahitkan sendiri ke tukang jahit. Strategi Annisa ditambah memanfaatkan internet mempermudah transaksi.

Bisnis internet


Uang Rp.35 ribu dibelikan bahan sifon. Kemudian kain dijahitnya dan itulah rok contoh buat dipamerkan ke sosial media. Contoh rok dipamerkan ke teman- teman. Mereka tertarik lantas memesan. Lantaran awalnya tidak ada modal, Annisa mengakali dengan mengisyaratkan uang muka 50%, dari harga satuannya itu Rp.55 ribu.

Rok ber brand HDCK memiliki kepanjangan hope, do, create, dan keep alive. Inilah visi dari bisnis yang ia jalankan sampai sekarang. Konsep open order diberikan beserta periode waktu tertentu. Rok dibuat sekitar 2 hari sampai 5 harian. Pemesanan pun meningkat drastis ketika memasuki masa Ramadhan.


Sukses Annisa bukan tanpa sebab. Dia mencoba mempermudah jasa menjahitkan. Model contoh kemudian ia kembangkan menjadi 15 model. Bahan digunakan mulai kain sifon Jepang, kain satin valvet, satin Jepang, atupun kain jersey, katun, tutu, sandwash dan wedges.

Harga rok sudah jadi berkisar Rp.45 ribu sampai Rp.120 ribu. Untung diperoleh Annisa lumayan mencapai 40% -nya. Pemasaran paling utama melalui Instagram @hdckhardware, juga melalui aneka bazar seperti hal di car free day Malang. Atau kegiatan lainnya, yang bertujuan menonjolkan brand miliknya itu.

Dalam event tertentu ia memberikan potongan khusus. Diskon termasuk buat pemesanan 3 potong rok yang khusus dijahitkan ini. Meski permintaan membludak, Annisa mengaku masih terbatas memproduksi. Patut disayangkan, namun dia optimis mampu mengembangkan bisnisnya.

Ia pun bertekat memperbanyak produksi lewat mesin baru. Annisa tengah mengumpulkan modal. Dia kelak berharap mampu memproduksi rok satu stok aneka ukuran. Jadilah pelanggan tidak butuh waktu lama buat menunggu jahitan. Dalam sebulan dia bisa membuat beberapa kemudian diupload ke sosial media internet.

Persaingan terbilang super ketat buat bisnis rok. Itulah kenapa dia menghadirkan rok custom. Memiliki satu dimensi berbeda soal desain. Pelayanan konsumen juga diperhatikan Annisa. Peluang masih terbuka karena orang butuh pakaian terutama wanita. Produk fasion memang tidak pernah akan mati jika ke depan.

"Kuncinya harus mengikuti perkembangan fasion," ujarnya. Carilah celah diantara keinginan konsumen ke depannya.

Situs Penyewaan Perlengkapan Bayi Inspirasi

Profil Pengusaha Rinastuti Trapsila Putri 


 
Bisnis penyewaan apa belum banyak. Mungkin jawabannya bisnis penyewaan perlengkapan bayi. Ini kisah seorang pengusaha bernama Rinastuti Trapsila Putri. Yang berbisnis penyewaan perlengkapan bayi lewat media internet. Dia membaca dilema ibu rumah tangga memenuhi kebutuhan sang bayi.

Bukanlah bohong harga kebutuhan bayi lebih mahal. Harga perlengkapan bayi bahkan lebih mahal dibanding harga susu formula. Sebut saja boks bayi, kereta dorong bayi, atau tempat duduk bayi buat mobil, alat bantu belajar bayi, atau meja bayi tinggi, kesemuanya itu mahal kan.

Dilema tersebut dibaca Rina melalui bisnis ini. Tambahan lagi, padahal kalau beli baru, usia pakai juga sudah tanggung tidak lebih dari dua tahun. Kan dibanding keluar banyak uang dan sia- sia, mending kita menyewa ke Rina begitulah kiranya.

Bisnis jarang


Selain menggerus kantong juga makan tempat. Apalagi kalau sudah tidak dipakai mau ditaruh dimana nanti. "Solusi ya sewa perlengkapan bayi! Jauh lebih ekonomis," paparnya. Kalau harga sewa dijamin lebih murah. Kalau sudah tidak terpakai lagi ya tinggal dikembalikan ke Rina.

Dilema ibu muda mengilhami Bunda Rina. Target awal Rina adalah masyarakat Kota Surabaya. Lewat satu situs bernama www.sewaperlengkapanbayisurabaya.com, dirinya menyiapkan sewa perlengakapan mulai dari baby walker, baby bouncer, boks bayi, boks bayi oval, buggy walker, carseat, high chair, stoller juga.

Dia mengatakan tinggal telephon saja. Barang nanti akan diantarkan. Kalaupun sudah habis masa sewa kan tinggal telephon memperpanjang. Rina juga mengatakan pihaknya akan datang sendiri. Kalau sudah waktu menyewa habis akan ada orang mengambil ke rumah, mudah kan?

Berbagai perlengkapan tinggal ditaruh di website. Kontak buat dihubungi juga sudah ada. Kalau ditanya apa kiat sukses pengusahanya: Mengalir saja mengikuti usaha. Tidak ada kiat khusus. Hal terpenting menurutnya justru di pelayanan. Haruslah supel dan ramah kepada pelanggan yang bertanya.

Tidak cuma menghubungi buat menyewa. Terkadang pelanggan malah ikutan curhat rumah tangga. Dengan senang hati Bunda Rini mendengarkan. "Syukur- syukur bisa memberi jalan keluar," tambahnya. Hubungan kekeluargaan menjadi landasan bisnis Rini. Kehangatan Bunda membawa promosi baik dari mulut ke mulut.

Promosi sederhana tersebut ternyata ampuh. Dia sendiri enggan berkata soal keuntungan. Namun, yakinlah bahwa usaha ini terbilang masih luas pasarnya. Dan masih dapat dikembangkan ke kota- kota lain. Lumayan buat ibu lain membantu suami agar dapur keluarga mengepul.